Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 110


__ADS_3

Bayu menghampiri istrinya dan langsung mengambil alih piring yang sedang dipegang mama Jihan.


"Biar aku saja, Ma yang menyuapinya," ucap Bayu.


"Sebaiknya Mama pulang dan beristirahat, besok bisa kembali lagi ke sini," ujar Jihan.


"Hmm, baiklah. Mama sama Papa pulang dulu kalau begitu." Mama Jihan pun membangunkan suaminya yang tertidur di sofa, setelah terbangun mereka pun pulang dan kembali esok.


"Makan yang banyak biar cepet sembuh," kata Bayu sambil terus menyuapinya.


Jihan melihat kearah suaminya, betapa beruntungnya ia memiliki suami sepertinya. Kebaiknya dan kelembutannya membuatnya semakin mencintainya.


"I love you," kata Jihan tiba-tiba.


"I love you to," balas Bayu.


Hingga mereka saling menempelkan keningnya, menyatukannya seraya terus menatap bola matanya masing-masing.


"Aku bahagia, Mas. Bahagia sudah menjadi seorang ibu." Tak terasa air mata itu lolos begitu saja.


"Mas juga, sayang." Apa lagi dengannya, jangankan mengharapkan seorang anak, memiliki rumah tangga bahagia saja tak pernah ada dalam benaknya. Kekuasaan Tuhan, apa pun bisa terhendak. Ucap syukur dari keduanya.


Mereka pun melepaskan diri, ketika Bayu hendak menyuapinya kembali, Jihan menolak karena ia sudah kenyang. Suaminya pun meletakan piring itu dan mengambil air minum untuk istrinya.


"Mas, aku mau lihat anak kita. Apa dia cantik?" Jihan hanya baru tahu jenis kelaminnya bahkan ia tahu dari sang mama.


"Dia cantik sepertimu, sayang."


"Aku ingin bertemu dengannya, Mas."


"Iya, Mas akan menyuruh suster membawa putri kita kemari."


Bayu memencet tombol yang berada di samping branker, meminta suster untuk datang keruangan Jihan. Tak lama, suster pun datang.


"Iya, Tuan. Ada yang perlu dibantu?" tanya suster setibanya di sana.


"Apa putri kami sudah bisa dibawa kemari, sus?" tanya Bayu.


"Bisa, Tuan. Saya akan membawanya kemari." Suster itu pun melipir pergi dan ia kembali sembari mendorong box bayi yang di dalamnya ada anak Bayu dan Jihan.


"Mas, anaki kita," ujar Jihan. Ia kembali menitikkan air matanya, tentu itu air mata bahagianya.


"Dia cantik, bukan? Cantik sepertimu." Bayu memeluk keduanya dengan kasih sayang, menciumnya secara bergantian.


Suster pun jadi terharu melihatnya.


"Maaf, Tuan. Kalau sudah tidak ada yang dibutuhkan saya undur diri," kata suster, dan ia pun pergi setelah mendapatkan anggukan dari Bayu.


****


"Sayang, Mas mau melihat bayinya Bayu, katanya sudah lahir," kata Dion, dia minta izin keluar pada istrinya.


"Aku ikut, Mas. Aku juga ingin melihatnya," ujar Mawar.


"Baiklah," ucap Dion.


Dion mendorong kursi roda ke arah Mawar.

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" tanya Laras yang sedari tadi menggendong bayi itu, bahkan sampai tak melepaskannya sedetik pun.


"Ke ruangan Jihan, Mbak. Aku titip anakku sebentar, janji hanya sebentar," kata Dion.


"Ya sudah, jangan lama-lama. Kasian Mawar, dia butuh istirahat juga."


"Iya, Tante. Kita hanya sebentar," timpal Mawar.


Tok tok tok


"Siapa, Mas?" tanya Jihan.


Bayu mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Masuk," sahut Bayu kemudian.


Muncullan sosok yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.


"Dion, Mawar," kata Jihan. Pasalnya ia tidak tahu bahwa Mawar pun melahirkan di tempat yang sama. Melihat perut Mawar, Jihan pun langsung bertanya.


"Kamu sudah lahiran, Mawar?"


"Sudah, Mbak. Tadi siang," jawab Mawar.


"Laki-laki apa perempuan?" tanya Jihan.


"Laki-laki." Dion ikut menjawab. "Kalau anak kalian, laki-laki apa perempuan?" sambung Dion.


"Perempuan," jawab Bayu.


"Gak nyangka bakal lahir barengan, sepsang pula," celetuk Mawar.


"Siapa tahu mereka berjodoh, Mas," candanya.


Jihan tidak terlalu menanggapi ucapan Mawar, ia hanya tersenyum mendengarnya.


"Nama anaknya siapa, Mbak?" tanya Mawar.


Jihan menggelengkan kepalanya, ia dan Bayu memang belum memberinya nama, namun sudah menyiapkan nama yang cantik untuknya.


"Untuk saat ini belum, nanti saja kalau Jihan sudah keluar dari rumah sakit," kata Bayu. "Kalau nama anak kalian siapa?"


"Sama, anakku juga belum kuberi nama," Dion yang jawab.


Pada akhirnya mereka saling bertukar cerita, sampai lupa waktu, kalau bukan Mawar yang meminta untuk segera kembali, mungkin Dion masih betah berbincang dengan Bayu.


"Mas, aku ngantuk. Ke ruangan sekarang, ya? Kasian juga Mbak Jihan, dia harus banyak istirahat," kata Mawar. Dan akhirnya mereka pun kembali ke ruangannya.


"Lihat, Tante saja sampai tertidur di sofa," ujar Mawar setibanya di sana. Lalu ia pun melihat bayinya yang begitu anteng, tertidur dengan pulasnya.


"Sebaiknya kamu juga tidur, biar Mas yang jaga bayi kita. Jika dia haus, Mas akan membangunkanmu."


Mawar memgangguk, ia pun dibantu oleh suaminya untuk naik ke atas branker untuk tidur.


***


Di tempat lain.

__ADS_1


"Kamu itu sudah mandi belum sih, Mas?" tanya Khanza. Ia merasa suaminya itu masih bau.


"Sudah, kamu gak lihat kalau aku sudah ganti baju."


"Ganti, ganti bajumu! Jangan pakai farpum!"


"Kamu tuh kenapa sih? Hari ini aneh banget! Bukankah kamu suka wangi parfum ini?" tanya Rubby. Entah kenapa tiba-tiba saja istrinya tidak menyukai aromanya.


Mereka berdua pun akhirnya berdebat di meja makan, sampai mereka tidak menyadari akan kedatangam Zira dan Hazel.


"Kalian kenapa?" tanya Zira tiba-tiba.


"Mama," ucap Rubby dan Khanza secara bersamaan.


"Apa yang kalian debatkan?" tanya Hazel.


"Mas Rubby, Pa," adu Khanza.


"Kok, aku sih!" Rubby tidak terima disalahkan.


"Sudah, sudah! Jangan ribut. Ribut kalian itu gak jelas!" kesal Zira pada mereka yang berdebat tanpa alasan.


"Masa aku dibilang bau, Ma, Pa," kata.Rubby. "Padahal sudah mandi dan wangi begini," sambungnya lagi.


"Tapi aku gak suka aromanya," rengek Khanza yang seperti anak kecil.


"Sudahlah! Kamu mengalah saja sama istrimu." Tentu Hazel pasti membela Khanza. Sampai Rubby kemabali naik ke atas menuju kamar untuk mengganti bajunya kembali. Dan ia pun kambali bergabung di ruang makan.


Suasana kembali seperti biasa. Khanza pun tidak berkata bau lagi pada suaminya. Parfum yang menyengat membuatnya ingin marah, tidak suka dengan aromanya.


Mereka berempat pun makam malam bersama, menikmati makan malam itu dengan khidmat.


Makan malam pun selesai. Dengan manja, Khanza meminta suaminya mengupas buah apel untuknya. Rubby kembali dibuatnya bingung, padahal itu kebiasaannya istrinya.


Tanpa membantah, Rubby pun melakukannya dengan senang hati. Bahkan menyuapinya.


"Putra sudah tidur?" tanya Hazel.


"Sudah," jawab Khanza.


"Padahal Papa rindu sekali padanya."


"Besok saja kembali, Pa," sahut Rubby.


"Oh ya, Za. Mama bawakan ini." Zira memperlihatkan sesuatu pada anaknya.


"Untuk apa, Ma?" tanya Khanza.


"Untuk meyakinkan dugaan suamimu," jawab sang mama.


"Wah ... Kalau itu aku setuju, Ma," timpal Rubby.


Karena Hazel tidak tahu apa yang mereka bicarakan, ia hanya menjadi pendengar setia.


"Lakukan besok ya, sayang?" pinta Zira.


"Iya, Ma," jawab Khanza dengan lemas dan mengambil tespack tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2