Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 32


__ADS_3

Khanza melihat ke arah toko, tadinya ia akan memberitahukan kejadian barusan. Namun Khanza tidak melihat siapa-siapa di dalam toko tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya Rubby ketika melihat istrinya celingak-celinguk matanya memindai ke arah toko perhiasan.


"Gak apa-apa, Mas. Mungkin perasaanku saja," jawab Khanza bohong, ia tak ingin membuat suaminya jadi kepikiran. Ia juga bingung, untuk apa orang tadi mengambil gambarnya lewat camera.


"Apa kita masih lama di sini?" tanya Khanza kemudian, wanita itu jadi khawatir. Takut ada yang berniat jahat padanya atau pun pada suaminya.


"Kita 'kan baru sampai, Mas mau mengajakmu ke tempat lain, ayok?" ajak Rubby sembari menarik tangan istrinya agar Khanza mengikuti kemana langkahnya pergi.


Hingga mereka sampai di sebuah toko baju, mata Khanza terbelalak melihat baju-baju yang sangat cantik. Khanza terus masuk ke dalam toko baju itu, ia melihat-lihat baju yang terpajang di sana. Menyentuhnya bahkan ia menempelkan baju itu di tubuhnya.


"Kamu suka yang itu?" tanya Rubby.


Khanza masih belum menjawab, ia terlalu asyik dengan aktivitasnya yang melihat-lihat baju tersebut.


"Ambil mana saja yang kamu mau," ucap Rubby kembali. "Kamu berhak mendapatkannya."


Khanza tersenyum manis, baru kali ini ia dapat memilih baju yang di inginkannya. Khanza memilih beberapa baju, namun ada satu baju yang khusus dipilihkan oleh Rubby.


"Mas, ini terlalu mahal," kata Khanza setelah Rubby berhasil memilihkan baju untuknya.


"Mas mau kamu pakai ini di acara pernikahan Bayu nanti, Mas mau kamu yang menemani, Mas." Tak ada penolakan bagi Rubby, Khanza tetap harus menerima baju tersebut. Masalah harga ia tak peduli, berapa pun harganya ia pasti sanggup untuk menbayarnya.


Khanza pun menerima baju itu, kini mereka sudah selesai membeli baju. Dan kali ini, Rubby mengajak Khanza ke toko pakaian dalam wanita. Tentu Rubby ingin melihat Khanza tampil cantik di atas ranjang.


"Mas, untuk apa kita kesini?" Khanza sudah curiga dengan suaminya itu.


Rubby pun tersenyum nakal ke arah istrinya.


"Mas sudah memanjakanmu, apa kamu tidak berniat memanjakan, Mas?" bisik Rubby.

__ADS_1


Entah kenapa Rubby akhir-akhir ini jadi mesum jika berdekatan dengan Khanza. Tubuh Khanza benar-benar jadi candu bagi Rubby. Siapa yang tak senang jika seorang pria seumuran Rubby mendapatkan istri daun muda seperti Khanza?


Akhirnya, Khanza pun nurut saja. Ia harus berbakti pada suaminya bukan? Berbakti pada suami itu ibadah. Pikir Khanza.


"Mas saja yang belanja, aku tunggu di sini. Aku malu, Mas," ucap Khanza sembari melengos pergi. Gadis itu menunggu sambil duduk di kursi yang tersedia di sana.


Sedangkan Rubby, pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rubby juga malulah, masa seorang pria membeli kebutuhan wanita.


Akhirnya ia meminta tolong pada pegawai perempuan di sana, untuk memilihkan baju tidur yang aga terbuka sedikit. Malu, tapi ya mau gimana lagi? Itu jadi kebutuhan baginya.


Rubby kembali menemui Khanza, dengan beberapa paper bag di tangan.


"Banyak amat Mas belinya," kata Khanza setelah Rubby ada di hadapannya. "Mas beli berapa itu?" tanya Khanza kemudian.


"Gak tahu, bukan Mas yang pilihkan," jawab Rubby.


"Lalu?"


"Hmm, sudahlah. Mas tidak mau bahas ini di sini," jawab Rubby. Pasalnya Rubby tahu bahwa si pelayan tadi masih memperhatikannya dari kejauhan dan itu membuatnya malu tak terkiran.


Dan Robby pun mengangguk, lagian hari sudah berubah. Di luar sana sudah nampak mulai gelap. Dan akhirnya, mereka putuskan untuk pulang sekarang juga.


***


Drrtt, drrtt, drrtt.


Ponsel Robby bergetar dari dalam saku, ia menghentikan langkahnya yang kini sudah sampai di depan mobilnya. Dan Khanza pun ikut menghentikan gerak kakinya.


Robby merogoh ponsel dari dalan saku, melihat ID pemanggil di sana. Terlihat jelas nama Jihan yang tertera di layar, Khanza pun melihat ID pemanggil itu.


Tidak ingin mengganggu, Khanza lebih dulu masuk ke dalam mobil. Ia memberi waktu pada suaminya itu untuk berbincang dengan istri pertamanya. Entah apa yang dibicarakan Rubby dengan Jihan.

__ADS_1


Khanza hanya melihat dari dalam mobil tanpa mendengarnya. Tak lama dari situ, Rubby pun masuk. Pria itu tak bersuara, ia langsung menyalakan mobil dan melajukan kendaraannya.


Sesekali, Khanza melihat Rubby yang begitu fokus pada kendaraannya. Ingin bertanya mengenai hal barusan, tapi Khanza jadi enggan. Melihat expresi raut wajah suaminya saja Khanza tidak berani mengeluarkan suara.


Hingga sampai mobilnya berhenti di area parkir apartemen, Rubby masih diam seribu bahasa. Apa yang terjadi pada Rubby? Banyak pertanyaan dari hati Khanza untuk suaminya tersebut.


Sampai di dalam apartemen, Rubby langsung pamit. Tanpa memberitahukan apa yang terjadi padanya dengan perbincangan itu dengan istri pertamanya.


Sedangkan Khanza, ia pun tak bisa melarang kepergian suaminya. Jihan yang lebih berhak atas suaminya, pikir Khanza, kepergian Rubby itu pasti akan menemui istri pertamanya. Sampai saat ini Khanza belum tahu kepastian Rubby akan kisah rumah tangganya dengan istri pertamanya Rubby.


Rubby pun pergi dan tubuhnya mulai menghilang dari pandangan Khanza. Khanza pun menutup pintu, sungguh Khanza tak menyangka sikap Rubby akan berubah sedingin ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Rubby berubah pikiran dengan rencana perceraiannya dengan Jihan? Pikiran Khanza mulai berpikir yang tidak-tidak.


***


Di dalam mobil, Rubby melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hidungnya sudah kembang kempis menahan amarah.


"Jihan, awas saja kalau kamu berani berbuat macam-macam!" Rubby kesal dengan tingah Jihan. Diam-diam wanita itu mencari tahu siapa yang menjadi madunya.


Dengan uang, ia bisa melakukan apa pun yang ingin ia lakukan. Termasuk mencari jati diri Khanza, tanpa tahu wajah madunya, Jihan sudah mendapatkan informasi mengenai Khanza.


Yang jadi pertanyaan Rubby, dari mana Jihan tahu semua ini? Karena Rubby ngebut, jadi tidak butuh waktu banyak baginya sampai di rumah sakit.


Rubby langsung masuk ke dalam ruangan Jihan. Jihan yang tahu akan kedatangan suaminya, wanita itu langsung tersenyum manis ke arah pintu, dan benar saja Rubby yang muncul di balik pintu tersebut.


Dengan santai, Jihan menyapa Rubby dengan lembut. Wanita itu mulai menunjukkan jati dirinya.


"Apa mau Jihan? Awas saja kamu menyakiti Khanza!" Tanpa basi-basi Rubby langsung berucap.


"Oh ... Namanya Khanza, kenapa tidak sekalian jujur dengan pernikahan siri yang kamu lakukan, Mas." Jihan pun mengatakan itu dengan santai namun ada amarah dibalik itu semua.


Rubby dibuat terkejut dengan penuturan istrinya itu. Pernikahan Rubby tidak ada yang tahu selain Bayu dan orang tuanya Khanza. Siapa yang sudah memberitahukan semua ini pada Jihan?

__ADS_1


Sedangkan Jihan saja masih terbaring di atas branker rumah sakit. Rubby tidak menyangka, selama lima tahun berumah tangga dengan Jihan, ia baru tahu sisi kepribadian Jihan.


Bersambung.


__ADS_2