Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 24


__ADS_3

Rubby langsung bergegas pergi, tak ada pilihan lain selain ia menemui Khanza. Tak peduli dengan jarak yang harus di tempuh. Hampir satu jam ia dalam perjalanan.


Waktu juga sudah mendekati adzan shubuh, lelah, ngantuk, itu yang dirasakan Rubby. Kantung mata sudah terlihat seperti mata panda. Ia lajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia cepat sampai di vila.


Mobil terparkir di halaman vila dengan sempurna, kali ini ia tak memakai jasa supir. Rubby bergegas langsung menemui Khanza. Ia melihat istrinya tidak berubah dengan posisinya.


"Sayang." Rubby menyentuh Khanza, namun gadis itu tak bergeming. Tubuhnya terasa lemas, dan ternyata Khanza tidur. Rubby menggendong istri kecilnya itu, dan membawanya ke kamar. merebahkan tubuh itu secara perlahan, ia mengganti baju Khanza terlebih dulu karena tubuh Khanza sangat dingin. Mungkin karena tempat ini dekat dengan pantai sehinga udara di sana cukup dingin.


Setelah itu selesai, ia pun ikut tidur. Tak membutuhkan waktu lama bagi Rubby untuk tidur karena ini hari sangat melelahkan baginya. Rubby memeluk tubuh mungil itu supaya tubuh Khanza menghangat.


***


Jihan masih menangis, matanya sembab. Lama dalam keadaan seperti itu akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya.


Hingga pagi pun tiba, sang mentari mulai menerangi bumi. Jihan terjaga dari tidurnya, kepalanya masih terasa pusing karena tidur hanya sebentar. Ia pun turun dari kasur bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya terlebih dulu. Selesai itu, ia menuju dapur.


Melihat Santi sang asisten sudah berada di sana.


"Mbak, buatkan saya teh," ucap Jihan. Dan Santi pun mengangguk lalu membuatkan teh sesuai pesanan majikannya.


Jihan menunggu di ruang makan dan mendudukkan tubuhnya di sana. Ia tahu kepergian suaminya karena ia sempat mendengar deru mobil milik suaminya.


Jihan membiarkan itu sesaat, karena ia juga merasa ia sudah salah. Duduk melamun memikirkan rumah tangganya yang mulai kacau. Lamunan itu buyar dengan kedatangan Santi.


"Ini tehnya, Nyonya." Setelah itu, Santi pun melepir.


Jihan menikmati tehnya dengan sendu, ia melihat kursi di mana biasanya Rubby duduk di sana, Jihan tersenyum kecut. Dan tertawa menertawakan kisah rumah tangganya sendiri.


***


Khanza terjaga dari tidurnya, ia melihat sekeliling langit-langit. Seingatnya, semalam ia tidak berada di sini. Lalu, Khanza pun merubahkan posisinya.


Ia terkejut dengan keadaan Rubby sang suami yang tertidur di sampingnya. Khanza ingat betul kalau semalam suaminya itu tidak ada di sini. Ia melihat, Rubby begitu pulas dengan tidurnya. Tidak ingin menganggu sang suami, Khanza beranjak berniat membersihkan tubuhnya. Tunggu, semalam bukan baju ini yang ia kenakan, lalu Khanza melirik ke arah Rubby sembari tersenyum.


Ia pun berpikir bahwa ini pasti Rubby yang menggantikan bajunya. Tak ingin menunggu waktu, Khanza segera turun dari kasur lalu menuju kamar mandi, ia memulai ritual mandinya dengan air hangat. Karena di sana sangat dingin sekali.


Beberapa menit kemudian Khanza selesai mandi, ia kembali ke kamar dan melihat Rubby masih terlelap. Ia buru-buru memakai bajunya kembali, lalu menghampiri Rubby.

__ADS_1


Berniat untuk membangunkannya karena ini sudah pagi, inginnya ia pergi ke pantai pagi ini menghirup udara segar di sana.


"Mas, bangun ..." Membangunkan tanpa menyentuhnya, tak ada respons, Khanza mengguncangkan tubuh suaminya.


"Mas, bangun Mas ..." Khanza merasa suhu tubuh Rubby sedikit panas. "Mas, kamu sakit?" Khanza mengecek tubuh Rubby, menyentuh kening pria itu. Iya, Rubby ternyata demam. Mungkin karena kejadian semalam membuatnya kelelahan.


Tak tinggal diam, Khanza bergegas ke dapur mengambil alat untuk mengompres suaminya.


"Mas, semalam kamu kemana?" Khanza rasa suaminya itu sakit karena kepergian Rubby semalam. Khanza mengompres suaminya menjaga pria itu dengan baik. Rubby masih belum terjaga.


Sambil menunggu Rubby bangun, Khanza membuatkan bubur untuk suaminya. Gadis itu sangat cekatan menanggapi masalah seperti ini. Khanza pun selesai membuat buburnya. Ia kembali ke kamar dan melihat Rubby sudah terjaga dari tidurnya.


"Sudah bagun, Mas?" tanya Khanza pada Rubby yang sudah duduk bersandar di sandaran ranjang.


Rubby merentangkan kedua tangannya, ia meminta agar Khanza masuk ke dalam pelukkannya. Khanza pun menghampirinya, sebelum mendaratkan tubuhnya dipelukkan Rubby, ia menyimpan bubur di atas nakas dan setelah itu, baru Khanza memeluk suaminya.


"Mas, jangan sakit," ucap Khanza.


"Siapa yang sakit? Mas gak apa-apa juga."


"Tubuh Mas tadi panas, kalau bukan sakit, lalu apa namanya?"


"Semalam kemana? Tega ninggalin aku sendirin di sini, aku 'kan takut, Mas."


"Iya, maaf," sesal Rubby. "Mas janji tidak akan mengulanginya lagi, Mas mencintaimu, Za. Apa pun yang terjadi kamu tetap milik, Mas!"


"Apa semalam Mas pulang?" tanya Khanza, kali ini gadis itu serius.


"Iya," jawab Rubby masih dalam keadaan memeluk istrinya.


Khanza mencoba melepaskan pelukkan Rubby, ia ingin menatap wajah suaminya. Tapi Rubby tak membiarkan itu terjadi.


"Apa Mbak Jihan sudah pulang?"


Rubby terdiam sejenak, tak lama ia pun mengangguk.


"Kenapa tidak bilang dulu kalau semalam Mas pulang menemui Mbak Jihan, aku pasti mengerti, Mas."

__ADS_1


"Maaf ya, Mas tidak mau mengganggumu. Tadi bawa apa?" tanyanya kemudian.


"Bubur, Mas makan dulu ya?" Khanza menyuapi suaminya, Rubby tak menyangka gadis sekecil Khanza bisa memperhatikan dirinya. Lalu, ia teringat kembali akan sikap Jihan selama ini.


Rubby tidak bisa berada dalam posisi seperti ini terus menerus. Ia harus memberikan kepastian kepada kedua istrinya. Apa pun keputusannya nanti, ia harus tegas. Tak bisa menyakiti salah satu istrinya lebih lama lagi.


"Aaa ..." Khanza mulai mengarahkan sendok ke arah mulut suaminya, namun Rubby tak kunjung membukanya. Rubby malah melamun.


"Mas ...," panggil Khanza.


Rubby pun terkesiap, ia membuka mulutnya menerima suapan dari Khanza. Mereka begitu romantis.


***


Jihan yang merasa bosan di rumah, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya. Mencurahkan segala kelah-keluhnya pada sang mama.


Tak peduli dengan keadaanya yang masih kumel, ini bukan Jihan. Biasanya Jihan selalu tampil cantik paripurna, kini ia seakan tak peduli. Cantik pun percuma, suaminya sudah berpaling. Kini hanya penyesalan yang tersisa pada diri Jihan.


Jiiiiuuuuusss ...


Mobil yang dikendari Jihan melesat bak roket. Hatinya begitu sangat kacau.


Rumah kedua orang tuanya memang tak terlalu jauh dengan kediaman rumah Jihan dan Rubby. Beberapa menit kemudian, Jihan sampai di rumah sang mama.


Ia turun dari mobil, di depan rumah ada sang mama yang sedang menyirami tanaman. Mama Jihan sedikit terkejut melihat keadaan putrinya.


Sang mama pun dengan cepat menghampiri Jihan.


"Kamu kenapa, Ji,?" tanya mama langsung.


Bukannya menjawab Jihan malah menangis di pelukkan mamanya.


"Ma ... Mas Rubby, Ma." Jihan semakin terisak.


Mama Jihan tidak begitu terkejut, karena ia sudah memastikan kalau ini pasti terjadi di rumah tangga anaknya. Mama Jihan tahu betul akan rumah tangga yang dijalani Rubby dan Jihan.


Jika sesuatu terjadi pada rumah tangganya, Mama Jihan tak menyalahkan Rubby. Karena ini pasti ada sangkut pautnya dengan sikap Jihan.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis. Ayo masuk?" ajak Mama.


Bersambung.


__ADS_2