Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 30


__ADS_3

Laras merasa bosan di rumah sakit, harusnya ia pergi arisan hari ini bersama teman-temannya. Tapi sang menantu malah berulah, akhirnya ia putuskan untuk pergi saja. Lagian sedari tadi Jihan asyik dengan benda pipihnya itu.


"Jihan, sebaiknya kamu istirahat. Mama mau pulang saja, Mama gak betah lama-lama di sini," ujar Laras.


Karena tak ada solusi dari ibu mertuanya, Jihan pun mengizinkan. Tak ada gunanya juga bagi Jihan adanya Laras di sini.


Laras pun pergi dari rumah sakit. Sebelum pergi ia melihat Jihan senyum-senyum sendiri dengan ponselnya itu.


"Sakit masih bisa senyum-senyum," batin Laras.


Dalam perjalanan menuju mobil, Laras menghubungi Rubby lewat ponselnya.


"Hallo, By. Mama pulang dari rumah sakit, Mama bosan di sini," kata Laras pada sambungan telepon.


"Lalu bagaimana dengan Jihan kalau Mama pulang?" tanya Rubby mengenai istrinya.


"Sepertinya Jihan tidak apa-apa, Rubby. Kamu jangan terlalu khawatir, dia sedang asyik sama ponselnya. Bahkan Mama diacuhkan," Laras mengatakan yang sebenarnya.


"Ya sudah, kalau Mama mau pulang, pulang saja."


Sambungan pun terputus, Mama Rubby segera pergi dari rumah sakit.


***


Di kantor Rubby.


Rubby yang belum sarapan, perutnya meminta diisi. Ia rindu dengan masakan istrinya, Rubby pun menghubungi Khanza. Pria itu menyuruhnya istrinya untuk datang.


Rubby mulai menghubungi Khanza melalui vidio call. Tapi Khanza tidak mengangkatnya, kemana Khanza? Rubby teringat akan keberadaan Khanza tadi pagi. Apa Khanza belum pulang? Pikir Rubby.


Akhirnya Rubby pun kembali meletakkan ponselnya. Akhirnya ia menghubungi OB menyuruhnya menyiapkan makanan untuknya.


Beberapa menit kemudian, OB datang mengantar makanan sesuai keinginan Rubby. OB itu pun meletakkan nampan di meja, setelah itu OB pun pamit.


Si OB ingin melapor akan kejadian tadi pagi. Akhirnya ia menghentikan langkahnya.


"Maaf, Tuan. Saya mau bilang kalau tadi pagi ada seorang gadis mencari, Tuan," kata si OB tersebut.

__ADS_1


Rubby pun menghentikan aktivitasnya yang sedang menatap layar laptopnya.


"Mencariku? Siapa?" tanya Rubby sembari menatap wajah si OB.


"Untuk namanya, saya kurang tahu, Tuan. Ciri-cirinya saya masih ingat," jawab OB.


"Ciri-cirinya seperti apa, Pak? Rubby penasaran.


Si OB menceritakan ciri-ciri Khanza.


"Rambutnya panjang, agak bergelombang. Wajahnya imut-imut, warna kulitnya sawo mateng, Tuan. Matanya kecil," jelas OB.


"Ciri-cirinya seperti Khanza." Rubby melambaikan tangan, mengisyaratkan si OB untuk keluar, OB pun keluar dari ruangan Rubby.


Penasaran akan cerita si OB, Rubby membuka laptop, ia arahkan cctv. Rubby ingin tahu jelas siapa yang dimaksud OB itu. Rubby mulai mengotak-atik laptopnya.


Bibirnya mulai tersenyum ketika tahu siapa yang datang ke kantor pagi tadi. Menit berikutnya, senyum itu mulai hilang. Rahangnya sedikit mulai mengeras. Rubby memang harus gerak cepat agar semua orang tahu bahwa Khanza itu sudah menjadi miliknya.


Setelah tahu kebenarannya, tak ada lagi curiga pada diri Rubby terhadap istrinya itu. Pantas, Khanza tidak menerima telepon darinya, ternyata gadis kecilnya itu sedang merajuk padanya. Pikir Rubby.


Tak peduli dengan pekerjaan yang menumpuk, Rubby langsung saja siap-siap. Tak lagi ia pedulikan pada perutnya yang mulai keroncongan, yang ia inginkan sekarang menemui Khanza istri tercintanya.


Tapi sayang, tak ada balasan senyum dari Rubby, yang ada Rubby menatap dua orang itu dengan tatapan sinis. Karena waktu yang tidak memungkinkan, Rubby segera meninggalkan kantornya.


Rubby sudah ada di dalam mobil, ia langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Tidak perlu berjam-jam Rubby sampai di apartemennya, cukup lima belas menit bagi Rubby untuk sampai sana.


Setibanya di apartemen, Rubby segera masuk ke dalam gedung itu. Dengan tergesa-gesa ia langkahkan kakinya, saking buru-buru Rubby sampai menebrak seseorang.


Bugh.


Tubuh Rubby dan tubuh seseorang itu bersentuhan.


"Maaf," ucap Rubby. Menit berikutnya, Rubby menatap tajam pada orang itu.


"Dia 'kan orang tadi, sedang apa dia di sini?"


Ya, orang yang ditabrak Rubby adalah Niko. Rubby hapal betul wajah Niko.

__ADS_1


Sedangkan Niko, ia santai saja dengan kejadian itu. Ia malah langsung pergi ketika ia tahu siapa yang menabraknya. Pikir Niko, Rubby datang ke apartemen pasti akan menemui istrinya. Ada sedikit luka pada diri Niko, karena Niko menaruh hati pada istri orang itu.


Setelah kepergian Niko, Rubby langsung teringat Khanza. Jangan-jangan orang itu sudah mengantarkan istrinya, pikir Rubby. Rubby jadi salah paham.


Lalu, Rubby melangkahkan kakinya kembali. Kini ia sudah ada di depan pintu apartemen miliknya ia gunakan pasword seperti biasa.


Ia tak melihat keberadaan Khanza, apartemen sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Rubby terus mencari keberadaan istrinya tanpa memanggi-manggil nama istrinya.


Hingga ia melihat pintu kamar sedikit terbuka, Rubby langsung masuk ke dalam sana. Ia bernapas lega, ternyata pikirannya salah. Khanza sedang tidur siang, pantas di telepon tak diangkat, ternyata gadis itu sedang terlelap.


Perlaha, Rubby merangkak ke atas kasur. Ia menyibakkan selimut yang sedang di kenakan istrinya. Rubby menelan salivanya, tak di sangka Khanza tidur hanya menggunakan bikini. Jelas Rubby langsung menyosor bibir ranum Khanza.


Khanza langsung terperanjat, ia terkejut mendapati sosok suaminya yang kini tengah berada di atas tubuhnya. Mata Rubby penuh *****, ia bahkan sudah menjajakkan tangannya menyentuh tubuh istrinya.


Dengan tautan bibir yang tak ia lepaskan, Rubby terus menjelajah tubuh mungil istrinya itu, sampai terdengar lenguhan Khanza karena kenikmatan yang di berikan oleh Rubby lewat sentuhan.


Rubby melepaskan tautan bibirnya, ia kehabisan napas. Napasnya tersengal, begitu juga dengan Khanza.


"Mas," ucap Khanza sembari ngos-ngosan.


Rubby kembali mencium Khanza, kali ini ia sembari membuka pengait bra yang dikenakan istrinya. Rubby membalikkan posisi, sehingga Khanza berada di atasnya.


Bra sudah terbuka, hingga gunung kembar milik Khanza menggantung tapat di bagian dadanya. Rubby merosotkan tubuhnya, ia mensejajari wajahnya dengan gunung kembar itu.


Ia langsung saja, mencumbunya. Hingga Khanza semakin melenguh, hisapan itu memberi kenikmatan sendiri bagi Khanza.


"Mas ..." Sepertinya Khanza sudah tidak tahan.


Rubby pun menarik diri, ia segera membuka bajunya. Tanpa menunggu lagi, ia langsung saja menyatukan tubuhnya dengan tubuh istrinya.


Dengan semangat yang membara, Rubby terus memaju mundurkan pinggulnya. Yang awalnya pelan, kini ia menambahkan kecepatannya. Sehingga tak butuh lama bagi Khanza mencapai puncaknya.


Tak lama dari situ, Rubby pun menyusul. Pria itu mengerang, sampai ia ambruk di atas Khanza. Penyatuan masih belum terlepas, Rubby menetralkan napasnya terlebih dulu.


Karena memang lapar, perut Rubby pun berbunyi sampai Khanza tertawa.


Rubby menarik tubuhnya, ia rebahkan tubuh itu di samping Khanza sambil menahan malu karena perutnya tak bisa diajak kompromi.. Sementara Khanza, wanita itu langsung beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri, dan meninggalkan suaminya di sana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2