Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 37


__ADS_3

Sementara Khanza, gadis itu tengah berada di kamar ibu mertuanya. Laras memberikan sesuatu pada menantunya itu.


"Ini, ambil 'lah." Laras memberikan kotak berwarna merah pada Khanza.


"Apa ini, Ma?" tanya Khanza sembari meraih kotak persegi itu, ia membukanya secara perlahan. Dilihatnya sebuah kalung cantik yang diberikan kepada Khanza.


"Ini untukku, Ma?" Khanza tidak percaya bahwa mama mertuanya memberikan sebuah kalung padanya.


"Iya, itu untukmu. Mama gak mau pilih kasih, Jihan juga punya kalung seperti itu. Tadinya, Mama mau memberikannya pada Dion, adik Papanya Rubby. Tapi dia batal menikah karena tunangan Dion pergi meninggalkannya karena kesalahan yang Dion lakukan."


"Kalau boleh tahu, batal kenapa, Ma?"


"Rubby sama Dion, umurnya tidak jauh hanya selisih beberapa bulan saja. Dion dan Papa beda Ibu kandung. Dan Dion gagal menikah karena Dion mencintai wanita lain. Sampai saat ini kami tidak tahu siapa yang dicintai Dion," jelas mama Laras, dan Khanza hanya manggut-manggut.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur," kata mama kemudian. "Pakai kalungnya, jangan sampai hilang. Jaga baik-baik kalung itu, kamu jaga seperti menjaga pernikahanmu."


"Iya, Ma. Khanza ke kamar dulu kalau begitu." Khanza pun pergi sembari membawa kotak merah itu di tangan.


Setibanya di kamar, Khanza langsung meraih benda pipih miliknya. Ia nyalakan ponsel itu, dilihatnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya. Khanza pun menghubungi balik Rubby.


Sambungan sudah terhubung, tapi Rubby masih belum juga mengangkatnya.


"Mas, kamu kemana? Angkat dong," gerutu Khanza. Tak lama kemudian, Rubby pun mengangkatnya.


"Hallo, Za," jawab Rubby dengan suara seraknya.


"Mas sudah tidur ya?" tanya Khanza.


"Hmm, Mas cape jadinya ketiduran. Mas dari tadi menghubungimu, kamu kemana?"


"Oh, tadi lagi di kamar Mama. Mama memberiku kalung, Mas."


"Benerkan kata Mas, Mama baik cuma mulutnya aja yang suka ceplas-ceplos."


"Ya udah, Mas tidur lagi saja. Aku juga sudah ngantuk." Khanza pun berniat mengakhiri sambungannya, tapi keburu dicegah oleh suaminya.


"Eh, eh ... Tunggu! Main tutup saja. Mana kiss jauhnya?" Tentu Rubby tidak akan mengakhiri sambungannya begitu saja.


"Ih ... Apa sih Mas ini, kaya ABG saja main kiss-kissan. Sudah tidur sana!"

__ADS_1


"Kok, gitu sih ... Gak romantis, emang harus ABG saja yang begitu? Mas 'kan kangen, Za. Gak peka banget sih!" Disebrang sana Rubby nampak kesal, istri kecilnya itu masih jual mahal.


"Iya, iya ... Aku kasih kiss jauh. Mmuuaaaccchhhh ..."


Di sebrang sana, Rubby nampak sumringah. Akhirnya, ia pun membalas kecupan itu lewat ponsel. "Muach, muach, muach ..." Beberapa kali Rubby membenamkan bibirnya ke arah layar ponsel miliknya, ia anggap itu Khanza.


Sementara Khanza, geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Mas cepet pulang ya? Aku menunggumu, Mas."


"Iya, Mas akan pulang cepat jika urusan di sini selesai."


Sambungan pun berakhir. Khanza meletakkan ponselnya di atas kasur sembari ia membaringkan tubuhnya di sana. Karena memang sudah larut ia pun akhirnya tertidur, tak lupa ia memeluk kotak merah yang berisikan kalung tersebut. Khanza menyuakinya karena Laras memberikannya dengan tulus.


Sementara Rubby, setelah menerima telepon dari Khanza, ia juga merebahkan tubuhnya kembali beristirahat karena tadi sempat terganggu.


Kesokan harinya.


Rubby terbangun karena suara alaram yang begitu berbunyi dengan nyaring, Rubby bangun dan langsung memberishkan diri, ia akan ke kantor untuk memastikan perusahaannya sudah benar-benar kembali normal apa tidak, para karyawan harus sudah bekerja dengan semestinya.


Rubby sudah berada di kantor, karena hotel tempat ia bermalam tidak jauh dari letak kantor cabangnya. Karena urusannya di sini sudah selesai, Rubby pun segera kembali ke kota. Pria itu tidak betah lama-lama berjauhan dengan Khanza. Bahkan Rubby melupakan Jihan, istri pertamanya.


"By, kamu jadi pulang hari ini?" tanya Dion.


Rubby mengangguk. "Oh iya, apa Om akan hadir di acara pernikahan Bayu?" tanya Rubby.


"Tentu, Om pasti datang," jawab Dion. "By?" panggil Dion.


"Hmm,"


"Istrimu apa kabar?" tanya Dion.


Rubby menyatukan kedua alisnya bingun. Tumben Dion menanyakan kabar Jihan? Pikir Rubby.


"Baik, walau kemarin sempat terjadi sesuatu padanya, tapi Jihan sudah sehat," jawab Rubby.


"Jihan sakit, By?" Dion nampak khawatir, tanpa rasa curiga, Rubby mengangguk mengiyakan.


"Om ikut hari ini deh ke kota, Om sudah kangen sama Mas Anggoro." Anggoro itu papanya Rubby yang tak lain adalah kakak Dion. Saudara satu ayah beda ibu.

__ADS_1


"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja. Takut keburu macet," ajak Rubby. Akhirnya mereka kembali ke kota.


Di dalam perjalanan, mereka berdua masih saling diam. Rubby sibuk memikir Khanza. Sementara Dion, ia ke kota sekarang karena merindukan seseorang. Siapa yang dirindukan Dion?


Larut dalam lamunan masing-masing membuat perjalanan tak terasa sampai di pusat kota. Gedung tinggi menjulang sudah menampakkan diri, Dion rindu kota kelahirannya. Ia menatap ke arah luar lewat jendela, Begitu pun Rubby, pria itu terus tersenyum sendiri.


Belum sempat menghubungi Khanza, akhirnya Rubby menghubungi istri keduanya.


"Mas sebentar lagi sampai, kamu jangan kemana-mana," kata Rubby pada Khamza lewat via telepon.


Mendengar ucapan Rubby, Dion hanya diam. Pria itu berpikir yang di hubungi Rubby pasti Jihan. Taunya bukan. Rubby sengaja tidak memberitahukan omnya itu, pikir Rubby nanti juga tahu dia sendiri.


Tak lama, mereka pun sampai dikediaman Anggoro. Dion nampak heran, kenapa keponakannya itu ikut turun? Apa Jihan ada di sini? Seketika bibir Dion mengulas senyum.


Mereka pun akhirnya turun secara bersamaan. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga Anggoro. Papa Rubby memeluk Dion, sudah lama adik kakak itu tidak bertemu. Walau mereka bukan saudara sekandung, Papa Rubby menyayangi adiknya.


"Apa kabar, Mas?" tanya Dion yang masih ada dalam pelukan Anggoro.


"Kabar, Mas baik, seperti yang kamu lihat. Ayok masuk?" ajak papa Rubby.


Dion sudah tidak melihat Rubby, pasti pria itu langsung menemui istrinya. Pikir Dion. Dion pun langsung lemas, tubuhnya seakan tidak bertulang dan bersemangat seperti sebelum ia sampai di sini.


***


Rubby mengendap-ngendap bak seperti maling yang takut ketahuan. Ia menghampiri Khanza yang sedang duduk di sofa kamar, karena posisinya membelakangi pintu jadi Khanza tidak tahu akan kedatangan suaminya.


Pintu pun tidak tertutup sempurna, jadi tidak menimbulkan suara. Rubby langsung saja menutup mata istrinya dengan kedua tangannya dari arah belakang.


"Mas, jangan becanda. Aku tahu itu kamu." Khanza meraba tangan suaminya, dan benar saja itu adalah Rubby. Khanza hapal betul tangan suaminya.


Karena sudah ketahuan, akhirnya Rubby pun melepaskan kedua tangannya dari wajah istrinya.


Mereka saling berhadapan. Khanza langsung saja menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya.


Sementara di tempat lain.


Papa Rubby sedang berbincang dengan Dion, Laras pun ikut bergabung di sana. Namun, Dion kurang menanggapi perbincangan tersebut, pria itu terus melihat kesekeliling ruangan, siapa tahu ia melihat seseorang yang kini ia rindukan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2