
Setelah membereskan semuanya, Mawar pun meninggalkan dapur. Ia ke depan rumah, hanya ingin melihat cuaca di luar. Langit bukan mendung lagi, air hujan pun sudah turun membasahi bumi.
"Kamu mau ke mana, Mawar?" tanya Laras setibanya Mawar di luar.
Bukannya menjawab, Mawar malah tersenyum ke arah Laras. Akhirnya dua wanita itu mengobrol santai di teras.
"Sudah lama, kamu pacaran dengan Dion?" tanya Laras.
Glek, Mawar menelan ludahnya. Harus jawab apa dia? Bahkan Dion saja mengakui akan menikahinya. Apa Mawar jujur saja dengan yang sebenarnya?
"Sa-saya ti-tidak pacaran sama Mas Dion," jawab Mawar dengan terbata.
"Jadi tadi Dion bohong?"
Mawar mengangguk.
"Dasar bocah gembleng, bisa-bisanya berbohong pada orang tua!" kesal Laras.
"Mungkin, Mas Dion belum siap menikah. Pernikahan bukan untuk main-main, Nyonya."
Kata Mawar ada benarnya juga, tapi masa iya Dion belum siap? Jangan-jangan, Dion masih mengharapkan Jihan? Ini tidak boleh dibiarkan, apa kata publik kalau Dion hanya ingin menikah dengan Jihan? Jihan 'kan manta Rubby, lagi pula Laras tahu wanita seperti apa Jihan itu.
Rubby saja sampai berpaling dan lebih menceraikan wanita itu. Laras tidak ingin percerain dialami oleh Dion.
Mawar melihat Laras melamun, apa wanita paruh baya itu kecewa pada Dion karena sudah membohonginya? Pikir Mawar.
"Nonya kenapa? Nonya baik-baik saja 'kan?" tanya Mawar.
"Saya hanya ingin melihat Dion menikah, ikut menjadi saksi di pernikahannya," jawab Laras dengan Lirih.
Percakapan mereka didengar oleh Dion sendiri. Ternyata kakak iparnya itu hanya mengharapkan sebuah pernikahan dan itu membuat Dion teeharu. Karena Laras Dion menjadi seperti sekarang, mungkin kalau Laras tidak ada dalam hidup Dion, Dion menjadi gelandangan. Akhinya, Dion pun ikut memikirkan nasib hidupnya dan melamun di ambang pintu depan.
Karena cuaca di luar cukup dingin, Mawar pamit pada Laras untuk ke dalam. Gadis itu tidak tahan dengan cuaca seperti ini.
"Nonya, saya permisi dulu," kata Mawar.
Tapi Laras menahannya dengan cara menarik tangan Mawar untuk tidak beranjank dari tempatnya.
"Sebentar, Mawar. Saya tidak suka kamu memanggil saya Nyonya. Panggil Tante saja," pinta Laras.
"Baik, Tante. Saya permisi dulu." Mawar pergi dan meninggalkan Laras seorang diri. Ketika Mawar hendak masuk ke dalam, langkah Mawar tertahan di ambang pintu karena adanya Dion yang menghalangi jalan.
"Mas." Dion masih tak bergeming. "Mas Dion." Panggilan kedua kalinya, baru Dion tersadar kalau ia sedang melamun.
__ADS_1
"Ah iya, Mawar." Dion terkesiap.
"Mas kenapa berdiri di sini? Mas nguping pembicaraan kami?" duga Mawar. "Maaf ya, Mas. Saya jujur sama Mbaknya Mas Dion kalau di antara kita tidak ada hubungan apa-apa. Saya gak mau membohongi orang tua."
"Iya, gak apa-apa, Mawar."
"Permisi, Mas. Saya mau ke dalam," kata Mawar.
Dion pun menggeserkan tubuhnya, memberi jalan pada Mawar agar gadis itu bisa masuk. Setelah Mawar masuk, Dion menghampiri Laras yang sedang duduk sendirian di teras depan. Pria matang itu mendudukkan tubuhnya di samping Laras.
Laras menoleh ke arah Dion sembari menghela napas. Mereka duduk bersamaan di sana tanpa ada yang bersuara. Mereka berdua hanya mendengar suara gemircik air hujan, memandang lurus ke dapan, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
***
"Za, tolong carikan dasi yang warna sepadan dengan baju Mas ini," pinta Rubby ketika ia sedang memakai kemejanya.
Khanza yang masih menggunakan jubah handuk kimono itu pun berjalan sambil mwngeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu mencari dasi sesuai keinginan suaminya.
Setelah berhasil mendapatkan dasi yang sepadan dengan baju yang dikenakan suaminya, Khanza pun memberikannya pada Rubby.
"Bantu dong, Za. Kamu gak lihat kalau Mas lagi sibuk." Sibuk mengancingkan di bagian lengan.
Tanpa membantah, Khanza pun memakaikannya. Ketika sedang memasangkan dasi di leher suaminya, tiba-tiba Khanza bersuara.
"Mas, aku pengen ke rumah Mama, nanti kita berangkat bareng ya? Mas anterin aku dulu," kata Khanza.
"Bukan, aku mau ke rumah Mama Laras."
"Iya, Mas nanti antar ke sana."
"Mas duluan saja sarapannya, aku mau pakai baju dulu."
Rubby mengangguk karena ia sudah selesai dengan penampilannya, pria itu mencium kening istrinya terlebih dulu sebelum pergi meninggalkan. Rubby pun pergi ke ruang makan, di meja makan sana sudah terhidang berbagai makanan.
"Makannya banyak bener, Bi," kata Rubby.
Bi Inah hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan majikannya itu, karena Zira yang menyuruh itu semua pada bi Inah. Zira ingin Khanza sehat dengan kehamilannya.
Tak lama, Khanza datang menghampiri suaminya. Karena ia baru bertemu dengan asisten rumah tangganya, Khanza pun menyapanya.
"Pagi, Bi. Kenalin nama saya Khanza," ucap Khanza memperkenalkan diri.
"Si Non, sudah besar. Bibi kangen loh, Non." Bi Inah memeluk Khanza, terakhir kali Bi Inah bertemu dengan Khanza, gadis itu berusia tiga tahun. Karena Bi Inah membantu Khanza sewaktu bayi.
__ADS_1
"Non pasti tidak mungkin ingat Bibi, dulu Non masih sangat kecil," kata bi Inah lagi.
"Oh ya, Bi." Khanza pun membalas pelukan bi Inah. "Bibi semalam datang jam berapa? Maaf ya, Bi. Bibi datang sayanya gak tahu."
"Iya, Non." Karena Zira memberi kynci cadangan pada bi Inah, agar bi Inah tidak mengganggu Rubby dan Khanza akan kedatangannya.
"Sini, Bi. Ikut sarapan," ajak Khanza.
"Iya, Bi. Makanannya banyak banget, ini tidak mungkin habis kalau cuma di makan berdua," timpal Rubby.
"Bibi sudah sarapan, Non, Tuan," tolak bi Inah dengan halus. "Bibi ke belakang dulu, masih banyak pekerjaan di belakang." Bi Inah pun undur diri dari hadapan Rubby dan Khanza.
Akhirnya, Khanza dan Rubby sarapan berdua. Seusai sarapan mereka langsung berangkat menuju tujuan mereka.
"Bi, saya mau ke rumah Mama," pamit Khanza kepada bi Inah.
"Iya, Non. Hati-hati di jalan," kata bi Inah.
Setelah pamit, Khanza dan Rubby pun berangkat. Rubby mengantar Khanza dulu ke rumah orang tuanya.
Satu jam kemudian mereka pun sampai.
Laras yang sedari tadi bersama Dion di depan rumah, mereka bedua melihat kedatangan Rubby dan Khanza.
"Mama," sapa Khanza yang turun dari mobil. Bumil itu berpayung, karena hujan masih belum benar-benar reda.
Laras dan Dion berdiri, menyambut kedatangan mereka. Rubby menyatukan kedua alisnya ketika melihat ada Dion di sana.
Laras memeluk dan mencium menantunya itu, sementara Dion dan Rubby, pria itu saling memandang satu sama lain.
"Biasa aja kali, By lihatnya," cibir Dion. '"Bukannya salam, ini malah seperti melihat hantu!" kesal Dion.
"Kok, ada di sini sih?" tanya Rubby kemudian pada Dion.
"Iya, kemarin ketemu klien. Jadi mampir ke mari," jawab Dion.
"Kebetulan kalau begitu, kamu jangan balik dulu 'lah ke Bandung. Bantu Bayu di perusahaan, aku mau pergi sama Khanza," kata Rubby.
"Pergi ke mana, By?" tanya mamanya.
"Liburan, Ma. Aku 'kan belum ngajak istriku berlibur," jawab Rubby.
Karena di luar terdengar rame. Mawar pun keluar, ingin melihat ada siapa di luar sana.
__ADS_1
Khanza dan Rubby saling pandang ketika melihat seorang gadis muncul dari pintu utama.
Bersambung.