Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 70


__ADS_3

"Stop! Jangan diteruskan," ucap Rubby pada istrinya. Khanza menggigit kecil telinga Rubby, sampai Khanza berhasil membangkitkan sesuatu di dalam celana yang Rubby kenakan.


Khanza menyatukan kedua alisnya, ada apa dengan suaminya? Bukankah Rubby senang jika Khanza yang memulainya lebih dulu. Rubby ingin membuatkan susu untuk Khanza. Dia bukan menolak, justru Rubby ingin memberikan tenaga pada istri kecilnya itu. Agar Khanza lebih kuat lama melayaninya di atas ranjang.


Apa lagi, sekarang ia bebas mau berdurasi sesukahati pun tidak akan ada yang mengganggu.


"Kamu tunggu di sini, Mas tidak akan lama," kata Rubby. Rubby pamit hanya sebentar, ia buru-buru turun dari kasur. Rubby tidak ingin Khanza kehilangan moodnya untuk melakukannya.


Karena sudah ada asisten di rumahnya, Rubby menyuruh asistennya itu untuk membuatkan susu untuk Khanza.


"Bi, tolong buatkan susu rasa cokelat untuk istriku. Susunya ada di lemari dapur," kata Rubby pada asisten yang baru datang malam tadi.


Asisten yang bernama Inah pun langsung bergegas ke dapur membuatkan susu sesuai perintah majikan barunya. Lima menit kemudian, bi Inah kembali menemui tuannya dengan segelas susu di tangan. Bi Inah langsung memberikannya pada majikannya itu.


"Ini, Tuan." Kata Inah seraya memberikan gelas yang berisi air susu tersebut.


Rubby mengambilnya. "Terimakasih, Bi," ucap Rubby.


"Sama-sama, Tuan." Bi Inah kembali ke tempatnya, ia mengerjakan pekerjaan yang lain.


***


"Za, Mas bawakan susu untukmu," kata Rubby setibanya di kamar.


Khanza langsung mendudukkan tubuhnya di sandaran ranjang. Rubby menghampirinya dan langsung memberikan susu itu pada Khanza. Khanza meneguk susu itu hingga tandas.


"Terimakasih, Mas." Khanza memberikan senyum termanisnya pada Rubby, sampai gairah Rubby kembali on.


Tanpa aba-aba, Rubby merebahkan tubuh istrinya di kasur. Rubby pun menindihnya, namun ia masih menyisakan jarak di antara mereka, Rubby tidak ingin mengganggu kenyamanan calon anaknya itu.


Hingga Rubby berhasil mendaratakan bibirnya di bibir Khanza. Ciuman itu memanas kala mereka berdua sudah dibakar api gairah.


"Mas ...," lenguh Khanza, entah sejak kapan pakain mereka sudah terlepas. Rubby benar-benar dalam mode on, ia sudah siap menunggang kudanya.


Perlahan, Rubby melakukannya. Ia begitu sangat hati-hati, takut melukai janin yang ada dalam kandungan istrinya. Hingga mereka berdua bermandikan keringat di pagi hari ini.

__ADS_1


"Za, Mas mau mengajakmu honeymoon. Kita kan belum pergi bulan madu, Za," kata Rubby seusai melakukan adegan panasnya. Kini mereka tangah terbaring di atas kasur dengan selimut sebagai penutup tubuh mereka yang masih polos.


Tapi bagi Khanza, selama ia bersama suaminya mau di mana pun melakukannya, Khanza menganggap itu bulan madu. Ia tidak pernah meminta lebih pada suaminya.


"Anggap saja babymoon," kata Rubby lagi.


"Aku terserah Mas saja, kalau itu tidak mengganggu pekerjaan Mas, aku ok-ok saja," ucap Khanza.


Rubby pun tersenyum mendengar jawaban istrinya. Jawaban Khanza selalu membuat hatinya tenang, Khanza gadis lembut dan penurut, Rubby benar-benar bersyukur akan hal itu.


"Baiklah, Mas akan atur jadwal keberangkatan kita. Untuk pekerjaan, 'kan ada Bayu yang mengurus semuanya," ujar Rubby.


Mendengar nama Bayu, Khanza jadi teringat pada pria itu. Bagaimana kabarnya?


"Oh iya, bagaimana kabar Mas Bayu? Apa istrinya sudah hamil?" tanya Khanza pada suaminya.


Rubby hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Ia memang tidak tahu akan rumah tangga sekretarisnya, karena Bayu begitu tertutup mengenai masalah pribadinya.


"Sudah ah, Mas mau mandi dulu. Mas harus segera ke kantor." Rubby beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa menggunakan apa pun untuk menutupi tubuhnya yang polos. Khanza hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.


***


Dion dan Mawar sudah siap untuk kembali ke Bandung hari ini. Karena cuaca mendung, Laras tidak mengizinkan Dion dan Mawar pulang hari ini. Apa lagi, Laras senang adanya Mawar di sini, ia tidak lagi kesepian.


Laras tetap mengira kalau Mawar itu pacar Dion, namun Dion masih menyembunyikannya karena Mawar umurnya masih sangat belia.


"Yon, kapan kamu meresmikan hubunganmu dengan Mawar?" tanya Laras.


Dion sampai tersedak karena mereka tengah sarapan pagi ini.


"Uhuk, uhuk." Dion batuk-batuk. Mawar yanf peka akan hal itu langsung mengambilkan air minum untuk Dion.


"Lihat, Pa. Mereka cocok 'kan?" tanya Laras pada suaminya.


"Mawar lebih cocok jadi adenya, Ma," jawab Anggoro tanpa menoleh, pria paruh baya itu tetap fokus pada makanannya.

__ADS_1


"Ish ... Papa ini." Laras pun memukul lengan suaminya, ia kesal. Kenapa suaminya itu tidak mendukung ucapannya, padahal Laras ingin Dion segera menikah. Dion sudah cukup umur, Rubby saja sudah menikah sampai dua kali.


"Yon, Mbak gak mau kamu jadi bujang lapuk. Sungguh memalukan! Kamu itu cukup tampan, masa gak ada yang mengajakmu menikah," celetuk Laras. Ucapan wanita itu begitu menusuk di hati Dion.


Mawar saja sampai melihat ke arah wajhah Dion, gadis itu ingin melihat ekspresi pria itu. Bener apa kata Dion, mbaknya itu ucapannya sangat tajam, bahkan lebih dari tajamnya silet.


Dion tidak terima dikatai bujang lapuk. Saking emosinya ia sampai berkata akan menikahi Mawar.


"Aku akan menikahi Mawar secepatnya," kata Dion.


Mawar begitu terkejut mendengar ucapan pria yang kini duduk di sampingnya.


Seketika wajah Laras berseri-seri, ia setuju kalau Dion menikah dengan Mawar. Walau Laras belum tahu bobot bebetnya Mawar, tapi Mawar terlihat dari keluarga baik-baik. Gadis itu tidak banyak tingkah.


Karen sarapan sudah selesai, Anggoro beranjak lebih dulu karena ia akan ke kantor pagi ini, di antar oleh Laras sampai depan rumah.


Kini hanya menyisakan Dion dan Mawar di meja makan itu.


"Mawar, saya minta maaf dengan ucapan saya tadi. Saya tidak bermaksud begitu, saya hanya ingin Mbak Laras diam dan tidak mengatai saya bujang lapuk lagi."


"Iya, gak apa-apa, Mas. Saya juga ngerti, semoga Mas Dion cepat bertemu dengan pasangannya."


"Terimakasih, Mawar."


Mawar kira, ucapan Dion tadi serius. Pada kenyataannya, itu hanya ucapan semu.


"Saya sudah selesai," kata Dion. Ia pun beranjak meninggalkan Mawar sendirkan di ruang makan.


Mawar kini sendirian, ia jadi tak berselera makan. Ingin pulang, tapi gak dibolehin. Mawar jadi kesal sendiri, kenapa dia jadi uring-uringan? Apa karena kata-kata Dion tadi? Entahlah, hanya Mawar yang tahu perasaannya.


Akirnya, Mawar pun selesai dengam sarapannya. Ia langsung membereskan itu semua sendiri, karena bi Nani pergi ke pasar seusai memasak tadi.


Mawar sampai mencuci piring, gadis itu memang rajin karena sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.


Gerak-gerik Mawar tak luput dari pandangan seseorang. Ya, Dion yang memandanginya dari kejauhan. Semenjak tadi malam, tepatnya ketika Mawar menatap wajahnya. Malam tadi, Dion sampai susah untuk tidur.

__ADS_1


Apa yang dirasakan Dion, apa jangan-jangan ia mulai goyah dari pendiriannya?


Bersambung


__ADS_2