
Bayu menyentuh bibir Jihan, mengusap dengan ibu jari, menghapus sisa air susu yang ia minum. Tatapan mereka saling bertemu, menatap satu sama lain dengan tatapan terkunci. Hingga keduanya terbawa suasana, wajah kedua mereka memiring. Nyaris bibir itu bersentuhan jika tak mendengar suara pintu diketuk dari luar.
Setelah mendengar suara pintu yang diketuk, keduanya saling menjauh. Jihan sendiri menjadi salah tingkah, ia menyelipkan rambutnya sendiri ke belakang telinganya. Lalu beranjak dari tempat.
"Aku buka pintu dulu." Ucapnya seraya bangkit dari tempat.
Bayu tersenyum sendiri, ia menyentuh dadanya yang tiba berdegub dengan kencang.
"Ya, Mira. Ada apa?" tanya Jihan setelah membuka pintunya. Sesekali ia melihat ke arah belakang yang terlihat ada Bayu tengah melihat ke arahnya pula.
Pria itu tersenyum manis padanya, sedangkan Jihan, wanita itu bingung sendiri. Ada perasaan aneh padanya, kenapa tiba-tiba ia suka melihat pria itu tersenyum padanya. Lalu ia menoleh ke arah Mira yang tengah melihatnya secara bergantian dengan Bayu. Mira pun sendiri tersenyum, ia merasa ada roman-roman cinta di keduanya.
"Tuan Bayu baik, Mbak. Apa Mbak tidak tergoda pada pria itu," goda Mira kemudian.
"Ish ... Ngomong apa kamu ini." Wajah Jihan terlihat memerah. "Ada apa?" tanyanya kemudian pada Mira akan maksud kedatangannya.
"Di luar ada orang tua, Mbak. Dia ingin bertemu," jelas Mira.
Entah bahagia atau tidak akan kedatangan orang tuanya, Jihan pun menemuinya.
"Ayok," ajak Jihan pada Mira dan meninggalkan Bayu di sana sendirian.
***
Plakkk
Tamparan keras mengenai wajah cantik Jihan.
Jihan sendiri pun terkejut tiba-tiba saja mamanya menamparnya. Ia menyentuh pipinya yang terasa kebas sambil menatap pada orang tuanya secara bergantian.
"Buat malu saja! Siapa Ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya sang mama dengan berapi-api. Mamanya mendengar anaknya hamil dari mulut tetangganya yang ember, tidak tahan dengan gosip yang menyebar, orang tuanya pun datang menemuinya untuk yang pertama kalinya.
"Apa peduli, Mama? Bukankah Mama tidak menganggapku lagi sebagai anakmu? Dan sekarang, Mama datang-datang langsung menamparku?" Jihan tak kalah emosi. "Inikah balasan Mama, bahkan aku selalu mengirimkan uang pada kalian. Mama lihat keadaanku sekarang!" Jihan pun menangis, ia menangis bukan karena tamparan yang ia terima dari sang mama. Jatuh bangun ia memulai hidupnya kembali.
__ADS_1
Jihan butuh dukungan dari kedua orangnya saat ia terpuruk, bukannya selalu disalahkan karena rumah tangganya sudah hancur karena. Isak tangis Jihan terdengar sampai ke telinga Bayu, pria itu pun lantas turun karena mendengar keributan.
"Oh ... Dia orangnya! Bukankah dia sekretaris mantan suamimu?" ujar papa Jihan. "Laki-laki brengs*k," ucapnya kemudian.
"Sebaiknya kalian pergi," usir Jihan. Ia malu tak terkira, untuk pengunjung sedang tidak begitu ramai.
Sedangkan Bayu, pria yang tidak tahu apa-apa kena semprot dari kedua orang tuanya Jihan.
"Kamu! Kamu pria beristri bukan? Kenapa berani bermain api dengan mantan istri bosmu, hah?" tanya mama Jihan dengan mata yang menyalak.
"Cukup, Ma ... Mama tidak perlu ikut campur dengan kehidupanku. Mama jangan menyalahkannya, dia tidak salah, Ma," jelas Jihan membela Bayu.
Tidak ada yang tahu kalau Bayu sudah resmi bercerai dengan Alisia, termasuk Jihan sendiri. Karena ia tak pernah menanyakan akan kehidupan Bayu seperti apa dengan istrinya. Yang ia tahu Alisia selingkuh karena Bayu pria tidak normal.
"Sejak kapan kamu jadi wanita murahan, Jihan? Kamu mengobral tubuhmu pada pria yang jauh di bawah Rubby? Mungkin mantan suamimu akan menertawakanmu jika dia tahu dengan hidupmu yang sekarang," kata mamanya lagi.
"Pergi! Aku bilang pergi!" teriak Jihan.
Bayu pun meraih tubuh Jihan, membantu wanita itu masuk ke kamarnya. Setelah Jihan benar-benar berada di kamarnya, pria itu baru menghadang kedua orang tua Jihan.
"Om, Tante. Saya mohon, jangan membuat Jihan tertekan dengan keadaan ini. Saya bukannya tidak mau bertanggung jawab, saya menunggu Jihan menerima saya dengan hati yang ikhlas. Bukan karena terpaksa, saya juga bukan pria beristri," jelas Bayu pada kedua orang tua Jihan.
"Saya minta sebaiknya kalian pergi, biarkan Jihan hidup dengan tenang. Lagian, Jihan tidak merepotkan kalian bukan dengan masalah yang sudah menimpanya? Bahkan Jihan masih bertanggung jawab pada kalian, memberikan nafkah pada kalian."
Tak lama dari situ kedua orang tua Jihan pun pergi, mereka menyadari akan sikapnya yang sudah menyakiti hati anaknya.
***
"Sudah ... Jangan menangis." Bayu mendekap tubuh Jihan yang sedari tadi menangis.
"Masalah datang bertubi-tubi, orang tuaku pun membenciku," ucao Jihan yang masih berada dipelukan Bayu.
"Ssuuttt, mereka tidak membenci. Mereka menyayangi, begitu pun aku."
__ADS_1
Jihan melepaskan diri dari pelukan Bayu, menatap wajah pria itu lekat-lekat. Benarkah dia menyayanginya? Apa dia menyayanginya karena ada anaknya dalam kandungannya?
Bayu menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya, dan pria itu pun menyatakan perasaannya padanya.
"Aku mencintaimu, Jihan. Aku merasa nyaman beberapa hari ini jika berada di dekatmu," jelas Bayu akan perasaannya.
Benarkah begitu? Jihan mencari keseriusan di mata pria itu, ia takut itu hanya ucapan semu. Ia juga takut perasaan itu hanya sebuah rasa yang sesaat, setelah anaknya lahir ia akan pergi begitu saja.
"Lalu, bagaimana dengan istrimu? Aku tidak ingin menjadi orang ketiga, menjadi perusak rumah tangga kalian. Aku juga tahu perasaanmu pada Alisia begitu besar, sampai kamu membiarkan dia selingkuh."
Bayu tergelak mendengar ucapan Jihan yang keluar dari mulutnya, berarti waktu itu dia tidak mendengar bahwa ia setuju dengan perceraian yang diinginkan Alisia yang kini sudah resmi bercerai dengannya.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu dengan ucapanku?"
"Hmm, kamu itu tidak peduli padaku. Bahkan kamu tidak pernah menanyakan rumah tanggaku dengan Alisia. Aku sudah bercerai dengannya, Jihan. Jauh sebelum aku bertemu lagi denganmu," jelas Bayu.
"Sekarang kamu maukan menikah denganku? Aku serius! Tapi aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak menginginkannya."
"Aku ...-,"
Cup.
Bayu mengecup bibir Jihan, sebenarnya ia tidak ingin mendengar penolakan dari wanita itu. Ia mencari jawaban lewat kecupan singkat yang ia berikan padanya. Jika Jihan marah, berarti dia tidak mau dengannya. Tapi jika, berarti wanita itu menerimanya.
Dan ternyata, Jihan tidak marah. Ia malah menatap kearahnya, hingga tatapan itu terjadi begitu lama. Dan ... Kecupan itu terjadi kembali. Dalam hati, Bayu tertawa. Ternyata diam-diam Jihan juga mencintainya.
Seringnya bertemu dan Bayu memberikan perhatian ekstra padanya membuat mata hati Jihan terbuka, ia juga merasa perhatian yang diberikan Bayu padanya bukan hanya karena anak yang di kandungnya.
Jika Jihan tidak menahan tangan Bayu yang ingin membuka kancing bajunya, kejadian itu pasti terulang kembali.
"Aku mau kita cepat menikah!" ucap Bayu.
Bersambung.
__ADS_1