Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 68


__ADS_3

"Siapa dia, Pa? Apa wanita itu selingkuhan Papa?" tuduh Laras.


Yang dilihat Laras di kamar itu adalah seorang perempuan. Laras pun menghampiri wanita itu lebih dekat, wanita itu tengah memejamkan matanya. Sepertinya dia lagi sakit, Laras menyentuh kening wanita itu dengan punggung tangannya.


Tapi ia tak mengenalnya, melihatnya pun Laras tidak pernah. Lalu, Laras pun bertanya kembali pada suaminya.


"Jawab, Pa ... Apa dia selingkuhan, Papa? Jawab, jangan diam saja!" desak Laras kembali.


Anggoro bukannya tidak menjawab, ia sedang menelisik wajah gadis itu. Sepertinya ia pernah melihatnya, tapi di mana? Anggoro berpikir keras mengingat siapa gadis ini?


Tak lama dari situ si bibi datang, ia membawakan minuman jahe untuk Mawar yang sedang demam.


"Nonya, Tuan," sapa si bibi.


Kebetulan ada si bibi di sini, Laras langsung mengintrogasi asistennya.


"Dia siapa, Bi? Saudara Bibi?" tanya Laras. "Apa selingkuhan Papanya Rubby?" tanya Laras lagi, tapi matanya mengarah ke arah suaminya.


"Kenapa Mama nuduh Papa terus? Mana buktinya kalau gadis itu selingkuhan Papa?" Anggoro tidak terima, walau dulu ia pernah main-main dengan wanita, tapi Anggoro tidak berani membawanya ke rumah. Ia hanya main-main saja, tidak berniat selingkuh.


"Dia Mawar, dia datang kemari bersama Den Dion, Tuan, Nyonya." Si bibi pun menjelaskan bagaimana ceritanya Mawar bisa sampai demam seperti ini.


"Lalu di mana Dionnya, Bi?" tanya Laras. Mereka bercakap dengan pelan, karena takut mengganggu gadis itu. Laras bukan orang yang kejam, ia kasihan melihat orang sakit seperti Mawar.


Si bibi menggelengkan kepalanya, karena ia memang tidak tahu kemana Dion pergi. Si bibi pun menghampiri Mawar, lalu memberikan minuman jahe yang sudah ia buatkan untuknya.


Mawar mendudukkan tubuhnya, lalu membuka matanya. Mawar melihat keberadaan dua orang asing di hadapannya. Karena sadar ia tamu di sini, walau sedang sakit Mawar pun menundukkan wajahnya memberi hormat.


"Cepat minumlah," titah Laras.


Mawar pun meminumnya dibantu oleh si bibi.


"Kamu istirahat saja," kata Laras lagi. Laras pun pergi dari kamar itu sembari menyeret tangan suaminya. Setelah di luar kamar, Laras kembali mengomel. Ia merutuk adik iparnya itu.


"Si Dion, bisa-bisanya bawa anak gadis orang ke sini, jangan-jangan adikkmu sudah berbuat yang nggak-nggak lagi!" tuduh Laras.


"Mama kalau bicara jangan asal! Mama tahu sendiri kalau Dion tidak pernah membawa perempuan lain selain Nadine," kata Anggoro. Nadine adalah tunangan Dion yang dulu batal nikah.

__ADS_1


"Lalu, dimana anak itu?" Laras tidak suka akan sikap Dion yang menelantarkan anak orang, apa lagi gadis itu sepertinya seumuran dengan Khanza.


"Coba Papa telepon Dion, suruh dia pulang!" geram Laras.


Anggoro meraih benda pipihnya yang ada di dalam saku celananya, lalu menghubungi adiknya itu.


Sambungan teehubung, tapi Dion tak kunjung mengangkat ponselnya.


"Angkat dong, Yon!" Anggoro pun jadi kesal sendiri, karena istrinya terus menatapnya dengan tatapan tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Karena Anggoro takut dengan tatapan istrinya.


"Gak diangkat, Ma." Bahkan Anggoro memperlihatkan layar ponselnya, agar istrinya itu percaya kalau ia sudah mencoba menghubungi adiknya itu.


***


"Kenapa gak diangkat?" tanya Jihan pada Dion.


"Gak penting," jawab Dion. Padahal hatinya sudah deg-degan. Pasti kakaknya itu menghubunginya karena sudah bertemu dengan Mawar.


Bisa berabe juga kalau ia tidak cepat-cepat pulang, apa lagi kalau sampai kakaknya itu tahu kalau ia berada di tempat Jihan. Akhirnya, Dion pun pamit.


"Ji, sebaiknya aku pamit. Sudah malam juga," kata Dion.


Akhirnya Dion pun pergi dari rumah Jihan, ia langsung bergegas naik ke mobilnya dan langsung menyalakan mesinnya. Dion menancapkan gasnya, ia harus sampai lebih cepat. Dion sudah membayangkan bagaimana ekspresi kakak iparnya jika sedang marah. Dion pun bergidik ngeri.


***


"Itu pasti Dion, Pa!" Laras langsung menghampiri Dion, bahkan ia sendiri yang membuka pintunya. Laras sudah membuka pintu, dan ia melihat Dion yang baru turun dari mobilnya.


Laras bersedekap tangan di dada, ia sudah siap meluncurkan omelan-omelan yang pedas buat adik iparnya tersebut.


Dion menghela napas dan memejamkan matanya sejenak ketika melihat kakak iparnya yang berdiri diambang pintu. Dion hapal betul akan sikap kakak iparnya itu.


Dion bersiul seolah menghilangkan ketegangan di dirinya sendiri. Ia nampak tak ada salah di sini, bahkan Dion tidak tahu kalau Mawar tengah demam akibat kecebur tadi.


"Dari mana saja? Kenapa pergi meninggalkan anak gadis orang, hah?" Laras nampak kesal di sini. "Dia sakit kamu malah pergi!" kata Laras.


Dion yang tadinya tertunduk, kini ia mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"Siapa yang sakit, Mbak?" tanya Dion.


"Pacarmu, siapa lagi wanita lain selain Mbak dan Bi Nani di sini? Kamu itu bener-bener keterlaluan, Dion!" omel Laras.


"Ish ... Dia bukan pacarku, Mbak. Dia anak magang di kantor," jawab Dion.


"Anak magang yang kamu anggap spesial, iya 'kan?" duga Laras.


"Dia bener anak magang, Mbak. Aku terpaksa mengajaknya karena sekretarisku sedang cuti."


"Alasan!"


"Sudah-sudah ... Jangan ribut! Malu didenger tetangga," timpal Anggoro yang baru saja tiba. Karena suara Laras terdengar tangah mengomeli adiknya itu.


"Papa diam saja, jangan ikut campur! Kalau bukan Mama yang tegas di sini mau siapa lagi? Bahkan Papa saja tidak bisa diandelin!" celetuk Laras.


Laras menganggap Dion itu bukan hanya sekedar adik ipar. Dion seumuran dengan Rubby, bahkan mereka tumbuh sama-sama. Laras yang sudah merawat Dion, karena ibunya Dion meninggal ketika melahirkannya.


"Maaf, Mbak. Iya aku yang salah di sini," sesal Dion.


"Udah sana! Temui pacarmu!" Laras tetap menganggap kalau Mawar itu pacarnya Dion bukan anak magang yang Dion ceritakan. Itu hanya akal-akalan Dion saja, agar gadis itu bisa ia bawa menginap di sini. Pikir Laras.


Dion pun menemui Mawar, ia melihat Mawar tengah tertidur. Dion pun menyentuh kening Mawar, ternyata benar, Mawar demam. Keningnya panas, Dion mengambil alat untuk mengompres Mawar.


Dion sudah kembali menemui Mawar, lalu mulai mengompresnya. Dion begitu merasa bersalah, andai ia tak memaksa Mawar untuk pergi menemui klien pasti ini tidak akan terjadi pada gadis ini.


"Mas ..." Sepertinya Mawar mengigau. Tap, Mas siapa yang dipanggil Mawar?


Dion tak menghiraukan itu, ia terus fokus pada handuk kecil yang menempel di kening Mawar. Ia harus tanggung jawab, karenanya Mawar jadi begini.


Karena memang sudah sangat larut, Dion pun mengantuk. Ia merebahkan kepalanya di sisi ranjang, karena posisi Dion tengah duduk di kursi menghadap ke arah Mawar.


Sampai Dion pun tertidur di sana.


Tengah malam, Mawar terbangung. Ia merasakan haus, demamnya pun sudah turun. Mawar belum menyadari adanya Dion di sisinya. Mawar baru tersadar kala ia menyentuh keningnya yang terdapat sebuah kain di sana.


Tahu akan hal itu, Mawar pun menoleh ke arah samping.

__ADS_1


"Mas ..."


Bersambung.


__ADS_2