Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 60


__ADS_3

Mata Khanza terbelalak ketika Rubby mendaratkan bibirnya secara tiba-tiba. Suaminya itu memang sudah kebiasaan selalu sesuka hati. Karena mendapat serang secara mendadak, reflek Khanza langsung memukul dada bidang suaminya.


"Mas ...," keluh Khanza selepas bibir suaminya terlepas.


Rubby langsung mendekap tubuh istrinya, bahkan Khanza duduk di pangkuan sang suami. Rubby menyentuh perut istrinya penuh kasih sayang, ia masih merasa mimpi akan segera menjadi ayah.


"Za, kamu mau anak laki-laki apa perempuan?" tanya Rubby sembari mengusap-ngusap perut istrinya sampai Khanza merasa geli.


"Laki-laki atau perempuan sama saja, Mas. Aku tetep sayang, aku gimana sedikasihnya aja, Mas."


"Kalau Mas pengennya sih, laki-laki. Biar bisa diajak berantem," canda Rubby.


"Ish ...," desis Khanza. "Masa diajak berantem sih, Mas," kata Khanza.


"Canda, sayang ... Masa iya, Mas ajak berantem. Tentu, Mas pasti sayang sama anak kita."


Mereka berdua tengah menikmati masa berdua setelah beberapa minggu terpisah. Apa lagi sekarang, Khanza merasa bebas. Ia tidak lagi merasa bersalah pada Jihan, istri pertama dari suaminya. Disaat Rubby mengatakan sudah resmi bercerai, disaat itu pula Khanza merasa lega.


Mereka berdua masih tidak menyangka dengan kisah yang mereka jalani sekarang. Khanza sama sekali tidak kepikiran akan berdampingan dengan Rubby, pria matang yang lebih cocok sebagai omnya. Begitu juga dengan Rubby, ia terpikat dengan gadis belia namun mampu mengoyak isi hatinya.


"Mas, aku ngantuk. Tidur yuk?" ajak Khanza kemudian, karena waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


"Iya, sayang. Tidur saja kalau ngantuk," kata Rubby, tapi pria itu tidak mengijin Khanza turun dari pangkuannya. Tubuh Khanza yang masih ringan karena kandungannya belum cukup besar jadi tak membuat Rubby merasa keberatan. Malah ia suka dengan posisi seperti ini.


"Aku mau tidur, Mas. Bukan minta di pangku seperti ini," keluh Khanza. Ia merasa pegal karena terlalu lama dengan posisi yang membuat perutnya sedikit tidak nyaman.


Tahu Khanza sedikit mengeluh, akhirnya Rubby pun melepaskan istrinya dan membiarkan Khanza merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hingga kini posisi mereka tertidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


Di kamar lain pun sama. Hazel memeluk Zira, sampai Zira merasa susah untuk bergerak. Bahkan napasnya terasa sesak karena Hazel memeluknya begitu erat. Sedikit-sedikit, Zira menggeserkan tubuhnya agar sedikit bisa bernapas dengan lega. Namun Hazel tak membiarkan itu terjadi.


"Ma ... P**lease! Jangan ngehindar terus," ucap Hazel.


Zira terus mencoba melepaskan diri, ia merasa malu dengan posisinya yang begitu int*m dengan suaminya. Pasalnya, ia merasa sudah lama tidak seperti ini dan ini membuatnya sedikit kaku.


Hazel menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Diusianya yang tak lagi muda, Zira masih terlihat bagitu cantik di mata Hazel sampai ia merasa gemas. Apa lagi Zira terlihat malu-malu.


Dari dulu sampai sekarang, Zira masih seperti dulu. Sikap gengsi yang ditunjukan istrinya membuat Hazel semakin terkekeh, ia merasa tertantang untuk lebih memperjuangkan hubungannya. Hazel yakin kalau Zira masih menyimpan cinta untuknya.


Karena Hazel tak patah arang, ia terus mencoba dan mencoba. Pada akhirnya, benteng yang dibuat Zira sedikit roboh karena Hazel terus menelusuri jari-jarinya disetiap jengkal tubuh istrinya.


Sampai Zira berdesir karena Hazel menghembuskan napasnya tepat di telinganya. Umur tak jadi masalah, bagi Hazel selama ia masih bisa dan cukup mampu membuat Zira tak berdaya di atas ranjang ia masih perkasa.


Hingga menit berikutnya, Zira benar-benar luluh. Hazel tak ada hentinya sampai membuat Zira semakin terbuai akan cinta yang diberikan suaminya padanya.


Tak ingin membuang waktu, dengan cepat Hazel menuntaskan permainannya. Keduanya tengah menikmati panasnya malam ini, sekian lama Hazel menahan hasratnya. Selama berpisah dengan Zira, Hazel tak lagi menyentuh wanita lain. Hanya Zira yang mampu membuatnya tersadar akan rasa cinta dan kesetiaan.


Hazel membuat Zira terbang ke awan-awan setelah sekian lamanya. Zira kembali merasakan cinta dari suaminya, selama hampir tiga belas tahun Zira memendam rindu pada suaminya. Dan akhirnya, rasa rindu itu tuntas terbayarkan oleh sikap hangat yang diberikan Hazel padanya.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan menjadi suami yang baik untukmu," bisik Hazel setelah mereka melakukan olahraga malam mereka. Hazel merasa mengulang malam pertamanya lagi bersama Zira. Milik Zira masih begitu sempit, setelah melahirkan Khanza, ini pertama kali bagi Hazel melakukannya lagi dengan istrinya.


Karena sudah meresa lelah, mereka pun terlelap bersama.


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Zira terbangun lebih dulu, wanita itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setibanya di kamar mandi, Zira langsung melihat tubuhnya yang terlihat di dalam cermin. Ia melihat bayangnya sendiri, sekujur tubuhnya menyisakan beberapa tanda kepemilikan suaminya di sana.


Bibir Zira mengulas senyum, ia teringat akan kejadian semalam. Merasa puas memandang tubuhnya dengan beberpa tanda merah di area leher dan tubuh yang lainnya ia langsung mengguyur tubuhnya di bawah shawer. Rambut basah menjadi saksi bahwa ia telah bertempur dengan suaminya malam tadi.


Seusai mandi dan berpakaian, Zira melihat ke arah suaminya yang masih terlelap. Wajar saja masih tertidur, ia baru memulai tidurnya dari satu jam yang lalu. Puas memandang suaminya yang masih terlihat tampan dan gagah, Zira langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kali ini ia sendiri yang turun tangan untuk membuat sarapan untuk keluarga, apa lagi ada Rubby, menantunya.


Keluarga mereka sudah lengkap kembali, bahkan kebahagiaan Zira sudah kembali dan malah bertambah akan kehadiran cucu pertamanya. Ketika Zira sedang berada di dapur, tiba-tiba Hazel datang.


Bahkan pria itu mengusir pembantunya yang kini sedang membantu Zira yang sedang membuatkan sarapan. Zira masih belum tahu akan kehadiran Hazel yang kini berada di belakangnya. Hazel langsung memeluk Zira dari belakang sampai Zira terperanjat.


"Ish ... Papa, bikin kaget saja," kata Zira. Walau tanpa menoleh, ia tahu bahwa yang memeluknya adalah suaminya.


Zira memasak ditemani Hazel, sampai waktu begitu serasa cepat berlalu. Masakan Zira sudah siap dihidangkan di atas meja. Ketika Zira akan meletakkan hasil masakannya di meja, ia melihat Khanza tengah duduk di sana bersama suaminya.


Zira menjadi kikuk, apa anaknya itu sudah sejak tadi berada di ruang makan? Kalau itu benar, berarti Khanza melihat semuanya. Zira semakin malu, bahkan pipinya sudah merah merona.


"Sepertinya ada yang lagi kasmaran ya, Mas?" cibir Khanza. Ucapannya pada Rubby, namun tatapannya pada kedua orang tuanya.


Hazel juga ikut malu, karena Khanza ia jadi tidur satu ranjang kembali dengan istrinya.


"Ada yang mandi basah juga, Mas." Khanza tak henti-hentinya menggoda orang tuanya.


Sementara Rubby, ia juga merasa tersindir akan ucapan istrinya sendiri.


"Za ... Kamu juga begitukan?" Hazel tak mau kalah oleh putrinya itu. Akhirnya suasana di ruang tamu itu menjadi kikuk. Mereka semua terkekeh jika teringat akan kejadian semalam. Gelak tawa pun terdengar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2