Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 91


__ADS_3

"Sayang, bangun," kata Dion pada Mawar, istrinya.


"Hmm." Mawar menggeliat, wanita itu kembali menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang polos. Gadis yang kini tak suci lagi itu merasa malu karena tubuhnya terekspose oleh suaminya sendiri.


"Bangun, yuk? Kita mandi," ajak Dion.


"Mas duluan saja, setelah Mas selesai aku akan segera mandi," jawab Mawar yang masih bersembunyi di bawah selimut.


"Ish ..." Dion menarik selimut itu hingga menampakan bayi besar tanpa pakain. Sontak membuat Mawar terkejut dan langsung menutup gunung kembarnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa ditutupi? Mas sudah lihat semuanya bukan?" Dion terkekeh melihat wajah polos itu, sungguh menggemaskan. Pria itu kembali menjamah tubuh istrinya di pagi ini.


"Mas," panggil Mawar. Ia sudah sakit dan perih, ia tak lagi bisa menggerakan langkahnya, selangkangannya begitu sakit.


Dion beranjak dari tempat tidurnya, lalu membopong tubuh mungil itu ke kamar mandi.


"Mas tadi sudah bilang, sebaiknya kita mandi bareng. Ngeyel sih, 'kan begini jadinya. Coba tadi nurut." Dion mendudukkan tubuh Mawar di bath up, lalu mengisi bath up itu dengan air hangat. Mawar benar-benar seperti bayi, wanita itu dimandikan oleh suaminya.


"Maaf ya, sayang. Membuatmu kesakitan seperti ini." Dion terus mengusap lembut punggung Mawar dengan sabun.


"Sini, gantian. Aku juga mau mandiin kamu, Mas." Mawar terima apa pun yang dilakukan suaminya padanya, pria itu memang menyakitinya. Tapi itu sudah kewajiban Mawar sebagai istri, lambat laun rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Pikir Mawar.


Mereka pun mandi bersama, hanya mandi karena Dion tak tega melakukannya lagi walau ia masih ingin. Tunggu hari esok, ia pasti akan menjamah kembali tubuh itu. Pria itu pun menyeringai, senyumannya penuh arti.


Seusai mandi, mereka hanya rebahan di kamar. Tidak tega melihat Mawar yang berjalan seperti pinguin. Bermanja dan bersendau gurau di dalam kamar hotel. Sesekali Mawar tertawa mendengar cerita sang suami semasa kecil bersama Rubby keponakannya.


Saling bertukar cerita, kini mereka tahu jati diri masing-masing. Seperti halanya, Dion yang penasaran akan orang tua Mawar. Dan dugaannya benar, istrinya memang keturunan arab. Ayah Mawar memang orang arab.


Mereka tertawa bersama-sama, sedari tadi Dion tak melepaskan tubuh istrinya. Mawar duduk di pangkuan suaminya yang bersandar di sandaran sofa. Hingga tawa itu berhenti karena bel pintu berbunyi, Dion meminta pelayan untuk mengantarkan makanan untuknya dan juga istrinya.


Disaat Dion membuka pintu, disaat itu juga ia melihat Rubby dan Khanza. Sepertinya keduanya hendak meninggalkan hotel, tapi Dion tak memanggilnya ia sengaja karena takut mengganggu kebersamaannya dengan Mawar.

__ADS_1


Dion kembali masuk sambil mendirong troli yang berisikan makanan. Ia sengaja meminta makanan yang banyak, sepertinya ia akan berada di hotel hingga esok. Sembari menunggu istrinya sedikit sembuh dan berjalan normal seperti biasanya.


Dion dan Mawar bahagia dengan malam pertama mereka. Tapi tidak dengan Bayu dan Jihan, meski mereka sama-sama melakukannya tidak ada rasa nikmat dari percintaan itu. Apa lagi bagi Jihan, wanita itu kini terisak di dalam kamar mandi.


Wanita itu melihat sekujur tubuhnya di cermin.


"Kotor, kotor ... Aku wanita kotor!" teriak Jihan.


Teriakan itu di dengar oleh Bayu sendiri. Ketika Jihan tersadar, Bayu langsung meminta maaf pada Jihan. Tapi Jihan memintanya keluar dari kamar. Bayu pun akhirnya keluar, ia mengintip dari balik pintu dan melihat Jihan masuk ke kamar mandi tanpa melepaskan selimtunya.


Ia pun kembali masuk ke kamar, berniat menyiapkan pakaiannya. Untung masih ada pakaian Alisia di sana, setelah meletakkan baju di atas kasur. Bayu mendengar isak tangis, ia menghampiri pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya tepat di depan pintu.


"Aku minta maaf, Ji," sesal Bayu. Kini apa yang harus ia lakukan? Bahkan ia sendiri belum bercerai dengan Alisia istrinya. Tapi Jihan?


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" umlat Bayu. Pria itu mendengar gemircik air dari dalam sana, sudah dipastikan bahwa Jihan pasti sedang mandi. Buru-buru, Bayu pun kembali keluar kamar.


Karena tidak ada asisten, pria itu memasak sendiri untuk menyiapkan sarapan untuk Jihan.


Sementara Jihan, ia baru selesai mandi dan keluar dari sana. Wanita itu bingung, harus memakai baju mana? Seingatnya bajunya telah hancur seperti dirinya yang ikut hancur berkeping-keping.


"Dia menyiapkannya untukku." Jihan pun terpaksa memakai baju itu. "Ini pasti baju Alisia." Berjalan pun ia masih tertatih karena ia belum begitu pulih akibat insident semalam. Tubuhnya remuk redam, apa lagi di pergelangan tangannya. Bekas ikat pinggang itu meninggalkan bekas di kulitnya yang putih.


Ia harus segera pergi dari sini. Saat ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan ruangan itu cukup dekat dengan dapur, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Dan itu didengar oleh Bayu. Bayu segera menghampiri sumber suara.


Ia pun melihat Jihan tengah berdiri yang hendak pergi. Dengan cepat Bayu berlari menemuinya.


"Kamu mau kemana, Ji?" tanya Bayu.


Jihan sedikit mundur, kejadian semalam membuatnya takut. Takut itu terulang kembali, ia juga masih ingat kata dokter yang mengatakan dirinya harus mencoba melakukannya lagi untuk mayakinkan bahwa pria itu sembuh dari impotennya.


"Ji." Bayu melangkahkan kakinya menghampiri Jihan.

__ADS_1


"Stop di situ! Biarkan aku pergi, aku mohon!" Wanita itu kembali terisak.


"Ok, aku minta maaf untuk semalam. Itu di bawah kendaliku, kamu tahu aku mabuk, bukan?"


Iya, ia tahu pria itu mabuk. Apa mabuk itu harus dimaklumi? Apa pria itu tidak salah sepenuhnya? Rasanya ingin ia berteriak, mengatakan bahwa laki-laki dihadapannya lelaki itu sungguh meninggalkan rasa takutnya akan yang namanya laki-laki.


Jihan cukup trauma.


"Biarkan aku pergi," lirihnya dalam isakan.


Bayu menghela napasnya, ia langsung berlutut di depan wanita itu dan memeluk kaki Jihan.


"Maafkan aku, Ji. Aku akan tanggung jawab," ucap Bayu.


"Apa? Tanggung jawab? Kamu itu memiliki istri, Bayu. Aku tidak mau dimadu. Kamu tahu kalau aku pernah berada dititik itu, dan itu membuatku sakit." Jihan sedikit berteriak, ia tidak ingin di madu, apa lagi di cap sebagai wanita penghancur rumah tangga orang.


"Ku mohon, biarka aku pergi, lepaskan aku!" teriaknya lagi.


"Jangan pergi, setidaknya aku bertanggung jawab setelah apa yang aku lakukan. Kamu sedang sakit, biarkan aku mengobatimu." Bayu mendongakkan wajahnya karena posisinya masih berlutut di bawah sana.


Lalu, ia pun berdiri. Meraih tangan Jihan, dan mengajaknya duduk. Jihan tidak berontak, karena keadaanya memang belum begitu pulih. Jihan duduk, sementara Bayu. Pria itu bergegas mengambilkan makanan dan mengambil obat untuk wanita itu.


Bayu kembali. "Aku suapi ya?" Bayu menyodorkan sendok yang berisikan makanan.


Jihan menerima suapan itu, tubuhnya butuh asupan. Ia benar-benar lemas.


"Bayu memang baik, tapi ..."


"Ini minumnya dan ini obatnya. Aku harus memastikan keadaanmu, karena semua ini salahku."


Setelah minum obat, Jihan meminta pulang. Dan Bayu pun mengantarnya. Disaat Bayu membuka pintu, terlihat seorang wanita tepat menatap ke arahnya, ia juga melihat Bayu bersama wanita.

__ADS_1


"Kalian ..."


Bersambung.


__ADS_2