
"Kenapa sering telat makan? Kamu boleh mengabaikan suamimu, tapi kamu jangan mengabaikan kesehetanmu, Jihan." Rubby sengaja berkata seperti itu agar Jihan tahu di mana letak kesalahannya, Rubby ingin Jihan benar-benar memperhatikan kesehatannya.
"Maafkan aku, Mas. Aku sudah putuskan untuk tidak terjun lagi ke dunia model, aku akan mengurus rumah tangga kita," jelas Jihan.
Bukankah itu memang keinginan Rubby kalau istrinya berhenti. Tapi kenapa Rubby seakan berat menerima itu? Ada wanita lain yang pasti tersakiti. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan semua ini sekarang pada Jihan.
Melihat kondisinya yang seperti ini tentu akan membuat Jihan bertambah parah. Ia juga harus memikirkan perasaan istri pertamanya, Rubby jadi dilema. Hatinya sudah bulat bahwa ia akan memilih Khanza dan menceraikan Jihan.
Namun keadaan yang membuat Rubby harus mengundur waktu. Jihan mengeratkan genggaman Rubby, wanita itu menaruh harapan agar rumah tangganya kembali harmonis seperti dulu.
"Mas, sekarang aku sudah siap untuk hamil. Aku mau memberikan keturunan padamu, aku juga memaafkanmu yang sudah tidur dengan wanita lain. Aku harap wanita itu tidak hamil anakmu, Mas." Walau berat Jihan tetap harus mengatakan itu.
"Kamu utamakan kesehatanmu saja dulu, jangan mikirin yang lain." Rubby melepaskan tangan yang sedari tadi di genggam oleh Jihan.
Perasaan Jihan sedikit sakit ketika Rubby melepaskan pegangan tangannya. Namun, ia masih berpikir positif. Suaminya tidak mungkin sampai meninggalkannya bukan? Pikir Jihan.
"Mas, boleh aku minta tolong?" ucap Jihan.
"Ya, apa yang kamu inginkan?" tanya Rubby.
"Aku mau makan, aku ingin cepet sembuh biar kita bisa berkumpul kembali, Mas." Jihan tersenyum ke arah suaminya.
Rubby pun menyuapi Jihan makan, makanan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Ketika sedang menyaupi Jihan, mama Jihan datang.
Wanita paruh baya itu mengembangkan senyum di bibirnya, tidak mungkin kalau menantunya itu akan meninggalkan anaknya. Terlihat jelas bahwa Rubby masih perhatian pada Jihan. Tapi sayang, pemikiran mama Jihan meleset jauh. Rubby lakukan itu agar Jihan lebih semangat untuk sembuh.
Setelah sembuh, mungkin Rubby akan mengurus percerainnya dengan Jihan. Hingga tak terasa, Rubby selesai menyuapi istrinya makan, saat itu juga ia pamit.
"Jihan, Mas keluar sebentar. Nanti Mas kembali lagi, mungkin agak malam. Mas harus ke kantor."
"Tapi, Mas ... 'Kan ada Bayu yang mengurus semuanya. Aku mau Mas tetap di sini." Jihan menunjukkan ketidak inginannya.
"Bayu sudah cuti, sebentar lagi dia akan menikah. Jadi Mas sibuk di kantor, Jihan."
Mau tak mau, Jihan merelakan kepergian suaminya.
__ADS_1
"Ma, aku titip Jihan," kata Rubby pada ibu mertuanya. Mama Jihan pun mengangguk.
"Mas," panggil Jihan. Rubby pun membalikkan tubuhnya kembali menghadap istrinya.
"Hati-hati ya, Mas." Rubby mengangguk, lalu melangkahkan kakinya kembali.
Pria itu benar ke kantor, ia hanya akan mengecek laporan saja. Setelah itu selesai, ia akan menemui Khanza terlebih dulu. Apartemen yang jaraknya tidak jauh dengan kantornya mempermudah Rubby untuk menemui istri kecilnya.
***
"Malam ini Mas tidak bermalam di sini ya? Mas harus menemani Jihan, dia di rumah sakit," jelas Rubby pada Khanza.
Ya, seusai dari kantor Rubby langsung ke apartemen.
Khanza pun mengangguk, wanita itu tidak mengatakan apa pun lagi. Khanza juga tidak bisa egois, Jihan sedang membutuhkan suaminya di sana.
"Setelah Jihan sembuh, Mas akan segera menceraikannya." Rubby katakan itu dengan sungguh-sungguh.
"Kasian Mbak Jihan, Mas."
"Aku terserah Mas saja. Apa pun keputusan Mas, semoga itu jalan yang terbaik."
"Terimakasih Khanza atas pengertianmu, semoga Jihan bisa menerima ini semua. Dia juga berhak bahagia, begitu pun juga dengan kita." Rubby mencium mesra istrinya.
Hingga ciuman itu berakhir di atas ranjang. Khanza benar-benar jadi candu bagi Rubby, cintanya pada istri kecil itu sangat besar.
Waktu begitu cepat berlalu, Rubby harus meninggalkan Khanza malam ini karena hari semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 22.30. Rubby mencium kening Khanza.
Wanita itu tengah terduduk di sandaran ranjang, hanya menggunakan selimut untuk menutup tubuhnya yang dalam keadaan polos. Pergelutan kali ini, mereka lakukan dengan lembut. Rubby yakin bahwa sebentar lagi calon anaknya akan segera hadir di rahim Khanza.
"Sayang, kamu hati-hati di sini. Hubungi Mas kalau ada sesuatu." Khanza mengangguk patuh pada suaminya.
"Mas pergi sekarang." Sebenarnya berat bagi Rubby meninggal Khanza. Tapi di sisi lain, Jihan juga masih istri sahnya. Ia tak bisa mengabaikan Jihan, apa lagi wanita itu tengah sakit.
***
__ADS_1
Jihan yang belum terlelap hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas branker. Wanita itu sangat gelisah karena sudah larut suaminya masih juga belum datang.
Melihat sang mama begitu lelap, mama sedari tadi menemani Jihan. Wanita paruh baya itu akan pulang jika menantunya sudah kembali.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dari arah luar. Jihan yang tadinya terjaga, wanita itu memejamkan matanya seolah tertidur dengan pulas. Rubby masuk ke dalam, suara pintu tertutup membuat ibu mertua Rubby terbangun.
"Sudah pulang kamu, By?" tanya mama.
"Iya, Ma." Rubby melihat Jihan yang tertidur, tak ingin mengganggu, pria itu langsung mendudukkan tubuhnya di sofa.
"By, kamu 'kan sudah kembali, Mama pulang ya? Kasian Papa di rumah sendirian."
"Iya, Ma. Mama pulang saja."
Mama Jihan pun keluar dari ruangan itu. Kini hanya menyisakan Rubby dan Jihan di sana. Karena Rubby tahunya Jihan sudah tidur, pria itu pun langsung memejamkan matanya tanpa menemui Jihan lebih dekat. Pria itu sangat kelelahan apa lagi dengan kejadian barusan dengan Khanza.
Rubby langsung tertidur dengan lelap.
Jihan membuka matanya, wanita itu merasa aneh. Kenapa suaminya tak menghampirinya? Tak terasa cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Rubby sedikit berubah, dan itu membuat Jihan yakin bahwa ada wanita lain di dalam hati suaminya.
Jihan tidak bisa membiarkan itu, Rubby suaminya, pria itu miliknya. Tidak ada yang berhak atas Rubby selain dirinya.
Jihan turun dari branker tanpa melepaskan jarum inpus yang menempel di tangannya. Jihan menghampiri Rubby, melihat wajah itu lekat-lekat.
Tak ada kesan romantis lagi dari Rubby untuknya, kesalahan patal yang dilakukan Jihan membuat sikap Rubby berubah drastis. Tak ada lagi sambutan hangat dari Rubby, bahkan disaat ia lagi sakit pun Rubby lebih memilih pergi ke kantor.
Padahal, Rubby belum pernah melakukan itu padanya sebelumnya. Mungkin agak sulit bagi Jihan mengembalikan keadaan rumah tangganya, namun ia akan mencobanya walau ia berjuang sendirian. Jihan tidak ingin berpisah dengan suaminya.
Jihan mencium kening suaminya, lalu beralih pada bibir yang selalu memanjakan dirinya dengan kecupan suaminya.
Rubby terbangun dari tidurnya, ia sangat terkejut melihat wajah istrinya tepat di hadapannya.
"Aku kangen, Mas."
Bersambung.
__ADS_1