
"Alisia," ucap Bayu, pria itu tidak menyangka bahwa istrinya datang. Bayu tersenyum ke arah istrinya.
Tapi sayang, Alisia berwajah dingin. Ditatapnya ke arah Jihan, ia tahu siapa wanita itu. Seorang janda bahkan mantan istri dari bos suaminya. Tidak ada rasa kesal pada Bayu, Alisia bersikap dengan santai.
Karena ia pikir, Bayu tidak mungkin selingkuh. Apa lagi ia tahu dengan kondisi suaminya, wanita mana yang akan mau dengannya? Pikir Alisia.
Alisia memberikan map cokelat pada Bayu.
"Apa ini?" tanya Bayu.
"Kita urus perceraian kita," jawab Alisia begitu santainya.
"Kamu tidak bisa menceraikanku begitu saja, Al. Sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi istriku!"
Jihan yang mendengar ucapan Bayu langsung merasakan sakit dihatinya. Bagaimana bisa, ia akan bertanggung jawab padanya sementara Bayu sendiri tidak akan melepaskan istrinya.
"Pokoknya aku ingin kita bercerai, aku tidak mau mempunyai suami yang tidak berguna sepertimu!" ucap Alisia.
Ingin rasanya Jihan membungkam mulut wanita itu. Kalau tidak memikirkan perasaan Bayu, ingin ia lontarkan betapa hebatnya suaminya itu. Tapi sayang, ia tahan itu karena tidak ingin memperkeruh keadaan.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikannya, Al. Aku masih mencintaimu!" kata Bayu dengan menggebu-gebu.
Disaat Bayu dan Alisia sedang cekcok, Jihan gunakan waktu itu untuk ia segera pergi.
"Hey, kamu ... Segimana pun kamu merayunya, dia tidak akan memuaskanmu," ucap Alisia pada Jihan yang sedang melangkahkan kakinya. "Lihat! Aku hapal itu, itukan bajuku." Tunjuk Alisisa pada baju yang dikenakan Jihan.
"Setelah menjanda, kamu haus akan sentuhan laki-laki, hah? Hmm, tapi sayang, kamu salah orang, Nona Jihan."
Alisia bukan cuma menghina Bayu, tapi ia juga menghina Jihan.
"Cukup, Al! Kamu tidak perlu membawa orang lain dalam rumah tangga kita. Dia jauh lebih baik darimu, kamu tidak sadar akan dirimu sendiri. Kamu sendiri butuh belaian, kamu mencari laki-laki lain demi memuaskan hasratmu, iya 'kan?" Bayu pun mulai geram akan sikap Alisia yang semena-mena terhadapnya juga Jihan.
"Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu. Kita ketemu nanti di meja sidang! Aku buktikan, kamu akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan terhadapku!" tegas Bayu.
Alisia tidak peduli, ia langsung pergi setelah mengantarkan gugatan cerainya pada Bayu. Setelah Alisia pergi, Bayu menoleh ke arah Jihan yang ia kira bahwa wanita itu masih berada di tempat. Setelah tahu Jihan tidak ada, Bayu langsung mencarinya ke luar, tepatnya di jalan.
Ia melihat Jihan naik mobil, dan sepertinya itu taksi. Ok, Bayu akan temui Jihan nanti. Ia berpikir, wanita itu butuh waktu untuk menerima semuanya. Meski tidak ada rasa cinta di hati Bayu, ia tetap harus bertanggung jawab.
Di dalam mobil, Jihan terus menangis. Menangisi hidupnya yang pahit. Tak lama, ia pun sampai dikediamannya. Rumah sewaktu bersama Rubby dulu, ia semakin menangis melihat bayang-bayang kebersamaannya dengan mantan suaminya.
Tidak ingin semuanya terkenang jelas dalam ingatannya, wanita itu pun bersiap-siap akan pergi meninggalkan rumah dengan sejuta kenangan terindah di dalamnya. Isak tangis menguar di dalam kamarnya, ia mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper.
__ADS_1
Ia menghapus semua luka yang ia alami, begitu juga dengan kejadian semalam. Kini wanita itu sudah pergi, tanpa tujuan yang pasti.
***
Satu bulan kemudian.
Di rumah sakit.
Rubby yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas bagaikan setrikaan, sampai Jira sang mertua dibuat tambah panik.
Mereka sedang menantikan anak Rubby dan Khanza. Semuanya hadir ikut menemani calon ibu baru itu di rumah sakit. Mawar pun berada di sana, karena kebetulan ia ingin memeriksakan kondisinya yang sering mual dan pusing.
Dokter keluar dari ruangan itu.
"Tuan Rubby," panggil dokter.
"Iya, Dok," jawab pria itu.
"Mari ikut ke dalam, istri Anda ingin Anda berada di sisinya," ajak dokter.
Rubby menghela napas sebelum masuk, ia begitu deg-degan. Rubby pun akhirnya masuk ke dalam ruangan bersalin.
"Mas." Khanza tengah meringis menahan dakit yang luar biasa.
"Tenang, ada Mas di sini."
Khanza tersenyum walau senyum itu dibuat terpaksa olehnya.
"Baik, Nyonya. Atur napas," kata dokter.
Khanza mengikuti saran dari dokter itu. Ia mengejan untuk yang pertama kalinya, wanita itu meremas tangan suaminya serta menjambak rambut Rubby. Bukan cuma Khanza yang mengaduh, laki-laki yang berada di sampingnya pun ikut mengaduh.
"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi," ucap dokter kembali.
Khanza sudah tidak kuat, ia terus menghela napas dan mulai mengancang-ancang mengeden kembali. Tapi sayang, Khanza begitu lemas. Diusianya yang masih sangat muda, wanita itu kehabisan tenaganya.
Rubby tidak tega akan keadaan sang istri, hingga ia menyarankan untuk operasi sesar. Khanza membulatkan kedua matanya, wanita itu kembali bersemangat.
"Aku tidak mau sesar, Mas. Aku bisa, aku yakin pasti bisa." Saking takutnya, Khanza terus berusaha sebisa mungkin untuk melahirkan normal. Ia ingin menjadi wanita sempurna.
Detik, menit, sampai satu jam kemudian. Akhirnya tangis bayi terdengar, menimbulkan kebisingan di ruangan itu. Tangis Khanza pecah, kini ia sudah menjadi seorang ibu.
__ADS_1
"Wah ... Selamat ya, Tuan, Nyonya. Anak kalian laki-laki," kata dokter itu yang di bantu dua suster di sana. Sang bayi langsung dibersihkan oleh perawat dan Khanza sedang ditangani dokter dan masih ada Rubby di sana.
Tak henti-hentinya, Rubby mendaratkan kecupanya di kening istrinya. Betapa bahagianya ia, selama penantian panjang kini ia memiliki keturunan juga.
"Terimakasih sudah melahirkan anakku." Pria itu kembali menciumnya bahkan mencium bibirnya sekilas di depan dokter.
"Mas," protes Khanza, ia malu di lihat dokter.
Sang bayi diserahkan di pangkuan Khanza.
"Dia tampan sekali, Mas," ucap Khanza.
"Siapa dulu Papanya," ujar Rubby dengan bangganya.
"Ish," decak Khanza. Suaminya itu selalu narsis, seakam-akan ia pria paling tampan.
"Sebaiknya kamu adzani dulu, Mas."
Rubby mengangguk, lalu ia pergi ke luar untuk mengambil wudhu.
"Bagaimana, Khanza?" tanya Jira ketika melihat menantunya keluar dari ruang bersalin itu.
"Keduanya selamat, Ma. Aku mau ambil wudhu dulu." Rubby kembali melanjutkan niatnya.
Sementara yang lain, mereka semua masuk untuk melihat keadaan Khanza serta cucu pertama mereka. Hingga Rubby pun kembali, ia langsung mengadzani anak pertamanya. Terdengar suara Rubby yang merdu.
"Lucu sekali ya, Mas. Aku jadi tidak sabar ingin memeriksanya," kata Mawar pada Dion sembari menyentuh perutnya sendiri.
"Mas yakin, kamu pasti hamil, sayang," ucap Dion. Bagaimana tidak cepat hamil, hampir tiap malam Dion melakukannya. Ia tidak boleh kalah dengan Rubby, karena pria itu sering mengejeknya.
Di ruang tamu itu menjadi ramai, apa lagi Laras begitu antusias menyambut cucu pertamanya. Hingga Jira dan dirinya saling berebut ingin menggendong sang cucu.
"Gantian, Ma. Kasihan anakku," ucap Rubby pada mamanya. Laras oun mengalah demi sang cucu agar tidak tersakiti.
***
Di tempat lain.
Hoek, hoek ...
Seorang wanita tengah muntah-muntah, ia merasakan pusing dan mual. Seorang diri tanpa ada yang menemani.
__ADS_1
Bersambung.