
Terdiam sejenak, lalu melihat kalender.
"Sial!" rutuk Dion.
Tanpa permisi, Dion langsung berlari keluar dari ruangannya dan langsung menuju parkiran. Tak peduli dengan kakinya yang tersandung dan hampir terjatuh. Dion harap, ia tak terlambat. Semoga saja Mawar masih ada di rumah kakak iparnya, ia langsung mengendarai mobilnya, bak pembalap liar yang mendahului mobil yang lain.
Hingga terdengar mobil polisi yang kini ikut mengejar mobilnya karena menerobos lampu merah. Dion melihat ke belakang lewat kaca yang menggantung di tengah. Sayang, mobil Dion terpepet oleh mobil polisi sehingga mobil yang ditumpangi Dion akhirnya menepi.
Pria itu kena tilang, STNK miliknya di tahan oleh polisi. Dion lebih memilih STNK-nya ditahan dari pada ia harus mengulur waktu dan berurusan dengan polisi. Karena surat kendaraannya sudah ditilang, Dion pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Pria itu akhirnya sampai di kediaman Anggoro.
Laras yang sedang berada di taman depan melihat adik iparnya itu sudah pulang. Dion berlari mencari Mawar.
"Mawar ... Mawar." Dion membuka pintu kamar yang di tempati oleh Mawar. Kamar itu kosong tak berpenghuni, lalu ia mengetuk pintu kamar mandi yang tersedia di sana. Sayang, tak ada sahutan dari dalam sana.
Klek
Pintu ia buka, kamar mandi pun terlihat kosong. Dion sudah panik tak terkira, penarasan, Dion membuka lemari baju yang dipakai Mawar. Lagi-lagi terlihat kosong.
Tubuh Dion seketika ambruk berlutut di depan lemari itu, wajahnya tertunduk. Begini rasanya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Kehilangan Mawar tak seperti kehilangan Jihan. Sewaktu Jihan menolak dan menyuruh Dion untuk berhenti mengejarnya itu semua terasa biasa saja.
Tapi kenapa? Ditinggal pergi oleh Mawar, dunianya serasa hancur. Kini Dion menyesal, menyesali sudah berbuat semena-mena terhadap Mawar.
"Mawar ...," teriak Dion. Pria itu tersungkur di lantai.
Laras yang mendengar Dion berteriak sambil menyebut nama Mawar pun langsung menghampiri Dion di kamar itu.
Bukannya iba, Laras malah mencibir Dion.
"Kamu itu pria atau bukan, hah? Baru tahukan gimana rasanya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita?" ucap Laras.
Dion mendongakkan wajahnya melihat ke arah Laras, Dion berjalan menggunakan lututnya ke arah kakak iparnya itu. Ia memeluk kaki Laras.
"Kenapa Mbak membiarkan Mawar pergi? Kenapa Mbak tidak bilang padaku?" Dion terisak di lutut kakak iparnya.
__ADS_1
"Makanya kalau cinta ya jujur, jangan membuat Mawar takut dengan caramu yang menyakiti hatinya."
"Maksud, Mbak?" tanya Dion sembari mengongakkan wajahnya.
"Mawar itu cinta sama kamu, Dion! Jadi lelaki gak peka banget!" Akhirnya, Laras pun ikut kesal pada adik iparnya itu.
"Apa Mbak yakin kalau Mawar memiliki perasaan padaku?" Dion berdiri mensejajari tubuh Laras. "Mbak tahu dari mana kalau Mawar cinta padaku?" Dion mengguncangkan tubuh Laras melalui kedua pundaknya.
"Coba ingat-ingat, betapa perhatiannya Mawar padamu? Bahkan dia sampai rela kehujanan dan memilih pergi dari kantor sewaktu dia mengantarkan makanan untukmu."
Dion jadi teringat akan kue yang dibawakan Mawar waktu. "Jadi kue itu ungkapan perasaannya." Bodoh, bodoh! Dion memukuli kepalanya sendiri dan merutuki dirinya.
"Kejar cintamu, jika kamu memang gak mau kehilangannya. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali," kata Laras.
Akhirnya, Dion pun berniat menyusul Mawar ke kota kembang.
"Mbak, aku pergi dulu." Dion langsung keluar dari rumah itu dan bergegas memasuki mobilnya. Pria itu langsung menuju kota Bandung.
***
Belum kata cinta itu terucap, namun Mawar lebih dulu merasakan dengan yang namanya kecewa. Mawar kecewa karena lelaki yang ia cintai ternyata mencintai wanita lain.
Gadis itu terisak di tengah derasnya air hujan. Hujan itu tiba-tiba turun membasahi kota kembang. Mawar lama berada di tepi danau, sudah hampir tiga jam ia berada di sana.
Sementara Dion.
Pria itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga ia tak memperhatikan bahwa mobilnya kehabisan beahan bakar. Tiba-tiba mobil itu terhenti di tengah jalan, jauh dari POM. Bahkan jalanan terlihat sangat sepi.
"Aarrgghh ..." Dion memukul stir mobilnya sendiri, akibat kecerobohannya kini sudah merugikan dirinya sendiri.
Mobil mogok, hujan deras. Lengkap sudah penderitaan pria itu, tak ada pilihan, Dion pun turun dari mobilnya. Ia memilih untuk jalan kaki menuju rumah Mawar, untung dia tahu di mana alamat rumah gadis itu. Jarak pun tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekita satu jam jika ditempuh dengan jalan kaki.
Ketika Dion melewati danau, tak sengaja ia melihat seorang gadis tengah terduduk di tepi danau. Ia mengenali gadis itu.
"Mawar," ucap Dion.
__ADS_1
Dion langsung menghampiri Mawar, tapi sayang langkahnya terhenti kala seorang pria menghmapiri Mawar dan membawakannya payung untuk gadis itu.
"Ayok pulang," ajak pria itu pada Mawar. Mawar tak mengeluarkan suaranya sedikit pun.
Takut diketahui Mawar, Dion langsung bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana. Dion terus memperhatikan Mawar dengan pria asing itu.
Entah siapa nama pria itu, yang jelas pria itu tangah merangkul Mawar dan mengajak Mawar menjauh dari tepi danau.
"Apa pria itu kekasihnya?" tanya Dion sendiri. Dion langsung patah hati, pria itu benar-benar merasakan sesak di dadanya. Karena Mawar sudah tidak ada, Dion pun pergi dari sana. Dengan langkah gontai ia meninggalkan danau.
Sementara Mawar.
Sasampainya di rumah, Mawar langsung diomeli oleh neneknya. Mawar hanya tinggal berdua dengan sang nenek, kedua orang tuanya telah tiada sewaktu Mawar masih kecil.
"Ya Allah, Neng. Sudah tahu alergi dingin, masih saja bandel. Kamu itu sudah besar, Mawar. Kenapa main ujan-ujanan," omel nenek Mawar.
"Iya, Nek. Marahin saja tuh si Mawar, dia begini tuh gara-gara bosnya. Mawar patah hati, Nek," kata pria tadi yang menjemput Mawar. Pria itu adalah sepupu Mawar yang bernama Khalid.
Mawar langsung menginjak kaki sepupunya itu, bisa-bisanya Khalid memberitahukan neneknya. Khalid sampai mengaduh, pria itu mengangkat satu kakinya yang diinjak oleh Mawar.
"Sakit, Mawar!"
Mawar mendelikkan matanya ke arah sepupunya itu.
"Apa yang diucapkan Khalid itu benar, Mawar?" tanya nenek Mawar, nenek itu hanya memastikan apa benar yang diucapkan Khalid yang masih sama-sama cucunya.
"Bohong, Nek. Jangan percaya apa kata Khalid." Setelah mengatakan itu Mawar bergegas meninggalkan neneknya.
"Kamu tahu dari mana kalau Mawar patah hati sama bosnya?" tanya sang nenek pada Khalid.
"Gak sengaja melihat poto bosnya yang dijadikan profilnya, Nek. Mawar tadi sebelum ke danau memandangi poto pria itu," jawab Khalid.
"Nenek tidak akan membiarkan pria mana pun mendekati Mawar, Nenek sudah memilihkan calon untuk Mawar," kata Nenek.
Bersambung.
__ADS_1