Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 22


__ADS_3

Khanza menggerutu, ia melayangkan baju ke udara.


"Sudah dingin, dikasih baju kurang bahan," omel Khanza.


Tapi ia tetap memakainya karena tak ada pilihan dari pada tidak memakai apa-apa. Namun, gadis itu langsung berlindung di dalam selimut. Sudah bagai kepongpong, selimut itu ia balutkan pada tubuhnya.


Sampai Rubby keluar dari kamar mandi, Khanza masih setia di posisinya.


"Kamu kenapa, Za? Sakit?"


Rubby menghampiri Khanza, dan langsung menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.


"Tidak panas," ucap Rubby.


"Lagian siapa yang sakit? Mas tega, membiarkan aku memakai baju yang kekurangan bahan." Di balik selimut Khanza mengerucutkan bibirnya.


"Jangan menggodaku dengan bibir manyunmu itu."


Tapi Khanza malah mendelikkan matanya, ia serius. Tapi, suaminya malah becanda.


"Gak lucu, Mas!" Khanza semakin kesal.


Rubby pun berjalan, ia memakai baju di hadapan Khanza. Bertelanjang tidak ada malu sama sekali, Khanza membalikkan tubuhnya, ia tak ingin melihat suaminya dalam keadaan seperti itu.


Setelah itu, Rubby meraih benda pipihnya. Ia meyalakan ponsel tersebut, betapa terkejutnya ia melihat panggilan tak terjawab yang sudah puluhan kali dari Jihan. Rubby pun membaca pesan yang dikirim dari istri pertamanya.


"Mas, aku pulang malam ini. Nanti kamu jemput aku di Bandara, ya?"


Rubby menghela napas setelah membaca pesan dari Jihan, lalu ia melirik ke arah istri keduanya. Dilihatnya Khanza sedang meringkuk, ia tak bisa meninggalkan Khanza seorang diri di sini. Rubby harus mencari cara agar ia tak meninggalkan Khanza.


Rubby membalas pesan dari Jihan.


"Mas gak bisa jemput, sayang. Mas lagi di luar kota." pesan singkat itu ia kirim. Setelah itu, Rubby mematikan ponselnya.


Rubby menghampiri Khanza dan memeluk tubuh di balik selimut itu dari belakang.


"Sudah mau maghrib, jangan tidur," bisik Rubby.


Khanza yang tidak tidur langsung membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa yang tidur? Aku kedinginan, Mas." Khanza masih mengerucutkan bibirnya.


Gemas, Rubby langsung menyambar bibir mungil itu. Mendapat serangan tiba-tiba, Khanza pun terkejut. Ia memukul-mukul tubuh Rubby membabi buta.


"Ih .... Kebiasaan."


Rubby menghentikan aksi istri kecilnya itu. Ia memeluk tubuh Khanza semakin erat, perlahan Khanza pun tenang. Gadis itu ternyata kecil-kecil cabe rawit.


"Maaf, Mas gemas saja. Kamu jangan galak-galak! Mas semakin suka jika kamu seperti itu." Rubby pun semakin terkekeh.


Mereka becanda, bersendau gurau bersama. Khanza yang mulai nyaman dengan suaminya sepertinya perasaan Khanza mulai tumbuh pada Rubby.


"Apa Mas benar-benar mencintaiku? Bukan karena menginginkan anak saja 'kan dengan pernikahan ini?" tanya Khanza serius. Ia tak mau dicampakkan suatu saat, bagaimana pun Rubby memiliki istri sah secara agama dan Negara. Sedangkan ia, ia hanya istri siri yang suatu saat jika terjadi sesuatu pada rumah tangganya ia tak bisa apa-apa.


"Jangan berpikiran seperti itu, Za. Mas serius menikahimu, Mas memang ingin memiliki keturunan. Tapi Mas tidak berniat meninggalkanmu."


"Aku hanya istri siri, Mas. Bagaimana kalau Mbak Jihan tahu? Aku takut." Khanza menarik tangan Rubby untuk mengeratkan pelukkannya.


"Biarkan waktu yang menjawab, kamu bukan istri siri, Khanza. Mas akan daftarkan pernikahan kita ke KUA."


Tak lama suara adzan pun berkumandang. Khanza dan Rubby beranjak dari tempat tidur. Mereka akan menunaikan ibadah shalat maghrib berjamaah. Khanza yang hanya menggunakan baju kurang bahan itu selalu membenarkannya karena tali di bagian pundak selalu merosot.


Khanza meraih jubah handuk, ia balutkan pada tubuhnya. Suaminya itu benar-benar membuat Khanza merasa risih dengan bajunya, Khanza tidak nyaman sangat tidak nyaman.


Selesai shalat, Khanza mencium punggung tangan suaminya. Mereka nampak sangat bahagia.


***


Di tempat lain.


Jihan yang sedang kesal, ia membanting ponselnya. Sudah beberapa kali menghubungi suaminya tapi Rubby tidak mengangkat panggilan darinya. Jihan tidak tahu saja bahwa Rubby sedang menyelami lautan, bermandi keringat. Tentu, ia tak akan menghiraukan ponselnya yang terus bergetar.


Sekalinya ada kabar dari sang suami, Jihan semakin kesal. Tak biasanya Rubby seperti ini, Rubby selalu mengutamakan Jihan.


Jihan marah, sangat marah. Tapi sudah tahu bahwa Rubby tidak bisa menjemputnya, ia tetap pulang. Karena Jihan merasa sudah terlalu lama meninggalkan Rubby.


Akhirnya ia pulang sendiri tanpa ada yang menjemputnya. Sekarang, Jihan sudah ada di pesawat. Dan sebentar lagi ia sampai di tanah air, sampai di Bandara tepat pukul sembilan malam. Ia langsung pulang ke rumah.


Rumah itu nampak sepi, Jihan berjalan sembari menyeret koper menuju kamar. Ia meyimpan koper di sudut lemari, ia melihat koper yang biasa digunakan Rubby jika bepergian.

__ADS_1


Jihan rasa Rubby tidak pergi keluar kota, buktinya koper milik Rubby ada di sini. Karena penasaran, Jihan menghubungi Bayu. Karena Bayu pasti tahu kemana Rubby pergi, pikir Jihan.


Sambungan pun terhubung, tak lama Bayu pun menjawab panggilan Jihan.


"Bayu, kemana Mas Rubby pergi?"


"Mungkin masih di kantor." Bayu jawab seperti itu, karena ia tak mengkompromikan masalah ini dengan Rubby.


"Yang benar yang mana? Di kantor apa di luar kota!" Jihan menaikkan nada suaranya, ia merasa ada yang janggal di sini, Jihan merasa dibohongi oleh Rubby.


"Sebaiknya Nyonya hubungi Tuan saja." Bayu langsung mematikan sambungan itu, ia takut salah bicara.


Tahu sambungan itu terputus, Jihan kembali menghubungi Rubby.


***


Rubby sedang tidur bersama istri kecilnya, sehabis shalat tadi ia langsung makan, dan setelah itu Rubby dan Khanza menikmati kembali pertempuran season kedua. Karena lelah akhirnya mereka tertidur dengan pulas.


Beberapa kali Jihan menghubungi suaminya. Lalu, Rubby pun mengerejapkan matanya, ia mendengar getaran ponsel yang ada di atas nakas. Rubby meraih ponsel itu dan mengangkatnya dengan mata terpejam.


"Hallo." Suara serak Rubby has bangun tidur.


"Mas, kamu di mana? Kamu jangan bohong! Kamu gak keluar kota 'kan? Kopermu ada di sini. Aku sudah sampai rumah, kamu pulang sekarang aku tunggu!"


Belum Rubby menjawab, Jihan sudah mematikan ponselnya. Akhirnya Rubby pun beranjak, ia harus pulang. Tapi bagaimana dengan Khanza? Rubby jadi dilema.


Tapi Rubby putuskan pulang malam ini juga. Sebelum pulang Rubby mencium Khanza terlebih dulu.


"Mas pulang dulu, pagi-pagi Mas akan ke sini," bisik Rubby. Khanza yang nyenyak tak mendengar bisikan Rubby. Rubby pun bergegas pergi dari vila.


Supir selalu stan bay.


"Pak, pulang ke rumah sekarang."


Sang supir pun mengangguk patuh.


Jiusss ...


Mobil langsung melaju. Di dalam mobil, Rubby nampak risau. Bukan Jihan yang ia pikirkan, tapi Khanza, ia takut Khanza terbangun di malam hari. Nanti kalau Khanza mencarinya bagaimana?

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Rubby sampai di kediaman miliknya. Jihan yang mendengar suara mobil langsung keluar rumah, ia sudah bersedakap tangan di amabang pintu menyambut kedatangan Rubby dengan kekesalan.


Bersambung


__ADS_2