
Aku tidak mendapatkan jawaban pasti atas rencana "badai", yang tadi diujarkan oleh Yenz, karena pria pirang itu sudah terlanjur melangkah menuju pintu. Merayapi dinding kamar, demi dapat berjalan seimbang di tengah ombang-ambing kapal, yang masih saja membuatku mual.
Maunya sih, aku tetap meringkuk di sini. Selain karena perut masih bergejolak akibat goyangan gila kapal, aku juga tidak mau ambil resiko, dihantam peluru meriam yang nyasar.
Masih jelas di ingatanku, kejadian saat di dermaga Lapalasa. Bagaimana kuatnya seonggok bola meriam, meluluhlantakkan sebaris tong kayu berisi garam.
Seandainya aku kena tumbuk bola logam itu, mungkin rontok seluruh tulang di sekujur badan.
Aku tidak akan keluar, mengikuti Yenz, yang berniat pergi entah ke mana.
Tapi, jujur saja aku penasaran. Merasa akan kehilangan momen berharga, jika sampai melewatkannya.
Dikarenakan dorongan lak*nat itu, aku akhirnya mengekor Yenz. Merayap menuju luar ruangan berdinding solid ini. Tidak mengindahkan pula jeritan Falcoa, yang melarang kami untuk pergi.
Secara keseluruhan, banyak bagian kapal ini yang sudah rusak. Remuk redam, dengan beberapa lubang bekas hantaman peluru meriam.
Lantainya pun bersepah oleh puing-puing, dan banyak benda lain, yang sudah tidak jelas lagi wujudnya. Termasuk bola meriam yang menggelinding tidak karuan, sehingga salah satunya, hampir saja membuatku terjungkal.
Medan yang kulewati, dipenuhi halang rintangan, sehingga menjadi suatu usaha berat untuk dapat menyusul Yenz, menuju tangga ke geladak atas.
Semua itu masih ditambah lagi, dengan titian tangga, yang sudah hancur di banyak sisi. Jelas menyulitkanku untuk dapat melaluinya.
Apalagi untuk Margo yang berbadan besar. Harus ekstra waspada saat menaikinya, karena sekali saja aku salah memijak titian, sudah barang tentu akan terperosok. Jatuh ke lantai, yang berserakan banyak potongan benda tak bersahabat.
Dengan penuh perjuangan bercampur kehati-hatian. Aku akhirnya berhasil sampai di geladak atas. Walau harus mendapatkan banyak luka lecet di sekujur badan.
Aku terperangah, dengan mata membelalak yang susah dikatup. Gemetar bercampur merinding, saat melihat bagaimana kondisi geladak di tengah pertempuran.
Tubuh para anak buah kapal bergelimpangan. Terkapar tanpa daya di lantai yang bersepah, dan remuk di banyak bagian. Entah pingsan atau sudah tak bernyawa.
Benar-benar mencekam. Aroma udara pun telah berubah seratus delapan puluh derajat. Segarnya angin laut, tersingkirkan oleh bau mesiu bercampur anyir darah, yang pekat menyumpal indera penciuman.
Dan, benar saja seperti yang dikatakan Yenz. Kapal merah marun pembawa teror itu, sama sekali tidak terpengaruh, oleh gempuran intens Armada Andapala, dari berbagai macam arah. Serangan sekuat tenaga, oleh armada laut terkuat kedua, di bumi bagian Utara.
__ADS_1
Begitu kebal sang raksasa merah, menahan hantaman bola besi, yang terlontar kencang didorong ledakan membahana.
Benar-benar tidak ada harapan bagi kami, untuk dapat memenangkan pertempuran, melawan dominasi iblis lautan tersebut. Kecuali kami bisa balik melawan, menggunakan cara yang direncanakan oleh Yenz. Membuat badai di tengah lautan, yang sejauh mata memandang--melewati kepulan asap meriam--langitnya masih terpampang cerah, tanpa ada sedikitpun awan.
Bicara soal Yenz, pria cantik berambut pirang itu, ternyata telah menghilang entah ke mana! Meninggalkanku yang sesaat tadi tengah mengalami syok berat.
Bingung harus mengejarnya ke mana, akhirnya karena didorong perasaan iba, mendengar rintihan para korban, aku bergerak menolong para kru yang terkapar penuh luka.
Aku membawa mereka sampai ke bagian bawah anjungan. Dekat buritan menuju dapur giyeni, yang di sana sudah berjibaku beberapa kru kapal, demi menangani perihal medis darurat. Menolong sebisanya rekan satu bahtera yang mengalami cidera.
Napasku terengah-engah, walau baru dua kali bolak-balik memapah korban terluka. Bukan perkara membopong berat tubuh korban yang menjadi masalahnya, tetapi disebabkan oleh gerakan mengayun kencang kapal ini. Memaksaku memakai tenaga lebih, agar dapat menyeimbangkan badan, sembari terus membawa beban.
Setelah mengambil napas sejenak, aku mulai kembali melangkah untuk putaran ketiga. Saat itu, tanpa kusadari, bola meriam melesat, dan jatuh menukik di hadapan.
Aku terpelanting. Jatuh keras di lantai geladak berserakan puing, dengan bagian belakang kepala yang terantuk keras.
Sakit berikut pusing. Aku terkapar tanpa daya. Berdoa dalam hati, supaya tidak ada lagi bola logam sebesar kepaka, yang datang menyusul untuk menghantamku. Bisa-bisa tubuh berbulu ini, berubah bentuk menjadi dendeng kuah merah siap santap, kesukaan hiu.
Tak tahu berapa lama aku terbaring. Geladak mulai ramai oleh langkah-langkah kaki yang berlarian. Hilir mudik entah ke mana. Bersyukur tidak ada yang menginjakku secara kebetulan. Setidaknya tidak membuat badanku yang ngilu bertambah sakit.
Aku mematung. Tidak sanggup melihat ke arah panggilan, bahkan sakadar menjawab pun, lisan ini sudah kelu.
Sehentakan. Ada seseorang yang mengangkatku. Menyampirkan kedua tangan Margo di pundaknya, lalu membopongku pergi dengan langkah yang gegas.
Ah ... aku tahu siapa orang berambut panjang lurus ini. Kedua kalinya dia menggendongku di punggung kecilnya yang berotot oadat.
Hal yang lucu adalah, aku tidak menyangka, pemuda sepolos dia mempunyai tato di tengkuknya. Mungkin itu alasannya memanjangkan rambut. Agar tato itu tidak terlihat oleh Apak Lapo. Ada sisi badung juga dia ternyata.
Selanjutnya. Aku hanya bisa pasrah dibawa entah ke mana oleh jamet ini. Tidak mungkin kan dia melemparku ke laut, untuk dijadikan makanan ikan pesut.
Tapi tunggu. Walau pandanganku kabur, jelas terlihat orang ini tengah menaiki tepian kapal. Serius dia mau terjun dari ketinggian ini?
Gila! Bisa kembung minum air laut aku nanti!
__ADS_1
Selaras berselang. aku merasakan hentakan. Beberapa kali, yang membuat kesadaran ini sedikit pulih.
Ternyata kami memang turun dari kapal. Tetapi, bersama perahu kayu yang dikatrol oleh para kru, dari dalam kendaraan air darurat ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kita akan kabur dari iblis laut itu, menggunakan kapal kecil yang didayung ini?
Benar-benar tidak masuk logika. Bisa mati duluan kami sebelum sampai di daratan. Hancur karena dilindas, atau ditembaki meriam kapal merah.
"Kau tidak apa-apa, Tuan Margo?" tanya Leo. Tetap dengan senyum sumringahnya.
Aku hanya mengangguk, untuk mempercepat obrolan basi-basi si penjilat itu, yang tidak mungkin untuk ditanggapi sekarang.
Terserahlah. Saat ini, yang penting tolong kau jelaskan, kenapa kita kabur menggunakan perahu dayung begini?
Pertanyaanku itu mulai menemukan jawabannya. Bukan oleh penjelasan Leo yang duduk memapahku di sisi, dengan tas besarnya di pangkuan--ternyata tadi dia turut menyandang ransel itu di depan badan.
Dengan mata kepala yang mulai membaik, aku melihat beberapa belas meter di belakang perahu dayung ini. Sisa beberapa orang kru, di dalam kapal putih yang sudah ringsek itu, melompat langsung ke permukaan laut.
Beberapa detik kemudian. Knalpot besar giyeni menyemburkan angin kencang, yang menimbulkan gelombang udara membelah permukaan laut. Sukses menerjang dan membuat kami kebasahan air asin. Hampir pula terjungkal.
Kapal itu melaju lurus ke arah buritan kapal Nokhtra yang tanpa pengawasan. Sibuk para perompak itu, melawan armada putih lainnya, yang dibantu rentetan tembakan meriam Kapal Hitam.
Tabrakan keras terjadi. Lebih dari setengah badan kapal hancur berkeping-keping. Sebuah momentum yang seharusnya dapat memberikan dampak besar, tetapi ternyata hanya bisa membuat Nokhtra tersentak pelan.
Tak berselang lama. Ruang giyeni dari kapal yang kami tumpangi tadi meledak kencang. Sebuah dentuman, yang hanya mampu memberikan goresan tak berarti di lambung Nokhtra.
Dua kali serangan besar, gagal menumbangkan sang Monster Merah Lautan.
Akan tetapi, itu ternyata bukanlah akhir perlawanan si kapal putih. Nyatanya, rentetan dahsyat itu hanyalah pembukaan, dari anomali alam, yang sudah direncanakan sebelumnya.
Angin tornado melejit, dari pusaran di belakang kapal merah tersebut. Membentuk ulir berpusing, yang menyedot masuk segala materi, sebelum akhirnya pilar udara itu, sukses memelantingkan sosok raksasa sang iblis laut. Memaksa kapal anti karam itu, untuk terguling di tengah samudera.
Sadar aku apa yang dimaksud Yenz dengan menciptakan angin. Jelas dia mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Sebuah serangan jibaku pamungkas, yang memberikan kami peluang besar, untuk bisa kabur dari medan peperangan tak seimbang.
__ADS_1
Sadar ,kan, kalian, amukan angin ribut itu bisa terjadi, karena keberadaan jeli asin dan bijih angin, yang terpapar air laut secara langsung.
Oh iya. Harus kalian catat. Ide menakjubkan yang berhasil memasukkan si Iblis merah kembali ke dalam neraka, itu berasal dari otak brilianku.