
Fajar menyingsing saat mereka melangkah keluar dari mulut goa. Kembali ke Rimba Gelap. Keduanya berpelukan erat sebagai salam perpisahan. Dua saudara kandung menempuh jalannya masing-masing demi mencari senjata, yang akan mereka gunakan sebagai alat pembalasan. Tura ke arah Selatan, sementara Pata melangkah ke Barat.
Langit yang menjadi saksi terus menggilir mentari dan rembulan bergantian. Menjadi penonton setia perjalanan dua bersaudara menghadapi marabahaya di setiap helaan napasnya.
Menghadapi penyamun, pembunuh, alam liar yang ganas beserta isinya, dan godaan yang sering kali memaksa mereka urung untuk melanjutkan perjalanan. Namun, sebesar apa pun halangan yang menghadang, keduanya terus melaju. Berbekal tekad kuat di hati, hingga akhirnya mereka mendapat apa yang dicari.
Di sisi lain. Kekuasaan sang raja lalim makin meluas. Daerah dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya dapat ditaklukan dengan begitu mudah. Hanya perlu hitungan bulan sampai seluruh benua bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.
Sang raja lalim begitu jumawa dengan pencapain yang berhasil dia raih. Setidaknya sampai peramal wanita kepercayaan sang raja membawa berita buruk tentang dua pemuda yang hendak menggulingkannya dari singgasana. Mereka pemegang sepasang pusaka benua yang kekuatannya setara dengan permata lazarus.
__ADS_1
Perintah diturunkan, sayembara diumumkan. Tangkap kedua pemuda pemilik tombak taring perak dan pedang cakar merah. Jabatan tinggi dan hadiah uang yang besar diberikan kepada siapapun yang mampu membawa mereka berdua, baik hidup ataupun mati. Begitu titah sang raja lalim disebarkan.
Prajurit kejam, pembunuh haus darah, dan orang-orang yang tergiur harta serta jabatan segera berlomba-lomba memburu kedua pemuda itu. Walhasil, membuat jalan Pata dan Tura untuk kembali bertemu di tempat yang sudah dijanjikan, menjadi terhambat. Lebih sulit malah dari pada awal keberangkatannya.
Namun, takdir yang dihampari jalan terjal penuh onak duri tersebut, justru membawa mereka ke titik awal mula cerita. Di lembah tempat mereka dilahirkan, dan ibunya dimakamkan.
Awal hari sebelum matahari bangkit. Sudah tumpah darah para prajurit dan penyamun di tanah berpermadani rumput basah. Menyerang dari delapan penjuru mata angin, menyerbu Pata dan Tura yang berdiri bersisian di samping makam ibunya. Tusukan tombak di tangan Tura, dan sabetan pedang milik Pata, membabat habis para penyerang. Membuat lembah itu bagai mangkuk berisi mayat dan darah, saat matahari sudah naik sepenggalan.
Tombak yang dipegang Tura, pegangannya terbuat dari pilinan tambang perak yang sangat lentur namun kuat. Bermata tajam berwarna senada sepanjang dua puluh lima centimeter, dengan bagian tengahnya berhias motif ulir emas. Sebagai penyempurna, diantara gagang dan ujung tombak tertanam hiasan bulu putih yang terjuntai bagai surai singa.
__ADS_1
Pedang milik Pata tidak kalah indahnya. Bilah bermata dua selebar dua puluh senti, dihiasi tulisan rune kuno berwarna merah. Sebuah sajak tentang keberanian. Pegangan pedangnya dibuat dari tembaga disepuh emas, yang pembatas di pangkalnya berbentuk rentangan sayap.
Keduanya saling pamer senjata masing-masing. Tertawa, dan menceritakan sekilas kisah perjalanan saat berpisah jalan.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, benak Tura terganjal perasaan buruk saat Pata memperkenalkan seorang gadis. Mirala namanya. Cantik dengan wajah tirusnya, ramah dan riang sikapnya, tetapi dari tatapannya terpancar sorotan dingin nan sadis. Membuat siapapun yang menatapnya akan meremangkan bulu kuduk.
Awalnya, Tura tidak terlalu mempermasalahkan keganjilan dari gadis yang diselamatkan adiknya saat perjalanan pulang tersebut. Mungkin hanya rasa cemburu, karena Tura telah memiliki tambatan hati dan sedikit berjarak dengannya. Akan tetapi, perasaan itu enggan tumbang, dan malah semakin menguat saat dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan Mirala berbicara dan merapalkan mantra kepada seekor kadal di tengah hutan. Saat mereka sedang bermalam.
Kecurigaan itu akhirnya tidak lagi bisa terbendung di paruh akhir perjalanan mereka menuju kastil sang raja lalim. Akibat Tura menyaksikan bagaimana si gadis mengalahkan satu pleton prajurit dengan rapalan sihirnya. Kedua bersaudara itu bertengkar hebat untuk pertama kalinya. Hampir mereka saling bunuh dengan senjata yang harusnya menjadi sabit kematian bagi si raja lalim.
__ADS_1
"Aku mohon berhentilah. Jangan jadikan perjuangan kalian sia-sia karena aku. Aku akan mengatakan yang sejujurnya." Ucapan Mirala di tengah perkelahian dua bersaudara itu. Sukses menghentikan baku hantam keduanya. "Ya, benar aku adalah penyihir suruhan sang raja lalim. Akulah yang meramalkan tentang kalian akan membunuhnya untuk mengakhiri kekuasaan kejam pria bengis itu. Tetapi, itu semua aku lakukan semata-mata demi dapat lepas dari genggamannya. Demi dapat bersama Pata yang menjadi cinta pertamaku."
Pertengkaran dua bersaudara itu berakhir. Tura mengalah walau sebenarnya dia masih menyimpan ganjalan di benak akan tujuan Mirala sebenarnya. Namun, demi adik dan tujuan mereka, rasa itu dia kubur dalam-dalam.