Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 40-2] Iblis Raksasa Merah Lautan


__ADS_3

Sinyal diberikan kepada kapal lain, menggunakan bendera yang dikibarkan di tiang layar tertinggi. Dalam waktu yang relatif singkat, setelah tanda diterima, kelima armada laut mulai membentuk formasi--kapal hitam menyingkir dari alur yang akan dibentuk. Terlihat benar kru kapal sangat terlatih dan profesional.


Armada Andapala, membentuk formasi "V" dengan kapal kami berada di tengah dan paling belakang dari posisi. Sementara, kapal hitam surut ke belakang. Keluar dari formasi yang dikomandoi kapten Guter Hargo.


Sudah seharusnya dilakukan, karena kapal penyelundup itu, pastinya tidak tahu bagaimana caranya bergerak, dalam formasi militer terlatih yang sudah diatur.


Berselang tak lama. Dari kejauhan, aku melihat raksasa yang mengambang di air. Kapal berwarna merah marun, yang di bagian depannya terukir sosok sang Dewi Air, berparas penuh amarah. Berbanding terbalik dengan yang terpasang di anjungan kapal kami.


Sosok bahtra misterius itu, berukuran dua kali lebih besar dari armada Andapala. Menjulang bertingkat lima, yang di setiap lantainya berderet meriam besar.


Memberi kesan menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Margo, kita ke dalam. Tidak ada gunanya berada di sini. Justru malah bisa menghambat pergerakan kru."


Tanpa pikir panjang, ajakan Yenz aku berikan anggukan. Menuruni tangga ke geladak tengah yang menuju kamar kami masing-masing. Tetapi, belum jauh melangkah, teriakan Leo menahan kami.


"Tuan, kalian disuruh untuk mengungsi ke kamar Tuan Besar Falcoa. Katanya di sana lebih aman."


Aku dan Yenz bersitatap. Mengangguk bersama, lalu pergi dituntun Leo. Berjalan sampai di ruangan berbentuk kubus, dengan empat tiang besar di setiap sudut. Tepat berada di tengah geladak dalam kapal.


Pintu lekas terbuka setelah ketukan tadi terdengar, dan langsung dikunci begitu kami semuanya sudah berada di dalam. Ke ruangan luas, yang dibangun dari beberapa lapis papan, yang diperkuat dengan panel-panel besi sebagai pengokoh sambungan.


Jelas kenapa dia bilang kalau tempat ini lebih aman. Satu tembakan meriam, pasti tidak akan mampu menembusnya. Entah kalau berturut-turut.


"Duduklah. Jangan terlalu cemas. Armada laut Andapala sangat terlatih. Jadi kalian tenang saja."


Jelas sekali dia mengatakan hal itu untuk menguatkan dirinya sendiri. Tangan dan kaki gempal Falcoa, jelas terlihat gemetaran kencang.


"Tidak begini ... seharusnya tidak seperti ini!" gumamnya saat menduduki ranjang lebar, yang berada di samping meja berpelitur. Tidak jauh dari tempat aku berada.


"Itu kapal Nokhtra kan?" celetuk Yenz.

__ADS_1


Falcoa menatap kami dengan mata membulat sempurna. Pupilnya gamang bergerak. Tidak fokus menatap objek di hadapan.


Bisa dipastikan. Nokhtra yang diucapkan oleh Yenz, adalah kapal besar di luar, yang jelas akan menjadi lawan Armada Andapala.


"Tidak ... tidak mungkin! Hei, gondrong, kau yakin kalau itu kapal bajak laut Hovler?" Si Buncit itu makin seenaknya saja memanggil Leo.


"Bisa dipastikan kalau itu benar adalah Kapal Nokhtra, Tuan Besar Falcoa. Aku yakin sekali, karena selama di Lapalasa, aku sudah sering mendengar ceritanya dari para pelaut, bahkan melihat langsung gambar dari kapal darah, Nokhtra." Leo mengucapkannya tanpa melepas senyum terkembang di wajah.


Tak tahu aku bagaimana dia bisa seperti itu, di tengah kondisi seperti ini, dan lagi kalimat terakhirmu itu menyiratkan arti yang menyeramkan, dan kau masih bisa tersenyum? Dasar Jamet Penjilat!


Ah, lepas dari itu, aku kembali penasaran soal Nokhtra dan nama Holver. Kenapa mereka bisa setegang ini? Padahal, kita menang jumlah melawan raksasa lautan itu. Walau tidak di ukuran sih.


"Pasti kau salah! Kapal terkutuk Kapten Holver, selama ini tidak pernah jauh meninggalkan Perairan Wahrus, yang menjadi batas antara Utara dan Selatan! Kau pasti salah!"


Sumpah aku tidak mengerti. Sebegitu menakutkan, kah, kapal itu? Tapi mengapa?


"Sepertinya hanya aku yang tidak mengerti. Tolong jelaskan kenapa kapal itu bisa begitu menakutkan? Kenapa mesti takut? Rombongan Andapala, kan, memiliki kapal yang lebih banyak, lalu kenapa harus gentar menghadapi satu kapal saja?"


Semua perhatian teralih kepadaku. Seperti sedang menuding tajam, karena aku salah bicara. Apakah memang harus seperti itu? Aku hanya bertanya, hoi!


Aku menelan ludah mendengar penjelasan Leo--yang tetap berkata dengan senyum menjengkelkannya. Terpikir kalau kami tidak akan mungkin bisa menang, melawan kapal yang begitu superior. Bisa jadi, Armada Andapala akan dilumat dengan mudah tanpa ampun.


"Jangan meremehkan mereka. Setelah hilang di pertengahan masa perang, kapal pembajak itu kembali. Membawa rekor lamanya yang berisi kekejaman dan pembantaian." Falcoa menelungkupkan tangannya di kepala. Terlihat depresi dan putus asa.


Dentum menggelegar dari luar. Susul menyusul dari banyak arah. Entah siapa yang menyerang, dan ke mana bola menyasar ditembakkan. Membuat laut bergejolak. Menciptakan rentetan gelombang, yang membuat kapal ini terombang-ambing. Turut pula membuat orang di seisi ruangan, melonjak tak jelas ke mana.


Sumpah, tidak bohong. Berada di dalam kapal yang beberapa kali menghentak, oleh dorongan giyeni, di tengah gelombang perang, benar-benar membuat perutku mual.


Tanpa bisa ditahan lagi, isi perutku termuntah keluar. Langsung di atas karpet kamar, saat kapal ini menyentak bermanuver, setelah terdengar sederetan ledakan meriam. Membuatnya oleng, dan hampir saja terbalik.


Sialan! Seandainya saja ini adalah pertarungan menembak, tentu keahlian Margo akan sangat berguna. Laut ini bagai menyegel kemampuannya, sehingga aku tidak lebih berguna dari lukisan gurun dengan dua matahari, yang bingkainya sudah hancur terjatuh akibat peristiwa tadi.

__ADS_1


Bagaimana ini akan berakhir? mungkin sudah jelas jawabannya. Tidak perlu melihat langsung. Dari gempuran yang lebih banyak membuat kapal kami oleng saja, aku tahu kalau armada Andapala sudah kewalahan.


Tinggal menunggu waktu saja, sampai tumpangan kami ini karam. Kecuali, ada sesuatu yang bisa membuat kedudukan di medan perang lautan berbalik. Sehingga, aku tidak harus menyanyikan lagu Tiktoknik, saat kapal ini tenggelam.


Bicara soal membalikkan keadaan. Aku tahu satu orang yang bisa, dan hampir selalu melakukannya.


Dengan kepala yang masih pusing dan perut mual, aku merangkak mendekati Yenz yang meringkuk di pojok ruangan.


"Hei! Bisakah kau memikirkan sesuatu, sehingga kita tidak perlu jadi makanan ikan? Misalnya kau buat bom yang mampu membuat kapal itu berlubang besar?"


"Mau bom seperti apa pun yang dapat kubuat sekarang, kalau untuk meledakkan kapal sekuat itu, hasilnya tetap saja nihil. Kau dengar, sudah berapa kali tembakan meriam dilakukan, dan kapal itu masih bisa membalasnya. Seakan gempuran penuh Armada Andapala, yang mendapat peringkat pasukan laut terkuat kedua di Utara, sama sekali tidak berpengaruh." Yenz menjawab dengan napas memburu.


"Lalu kita hanya bisa pasrah dan menunggu mati saja?" Kecewa, karena jawabannya tidak seperti yang aku harapkan.


"Bisa iya, bisa tidak. Kita punya kesempatan hidup, kalau Kapten Hargo memutuskan kabur. Itu pun dengan persentase yang kecil, mengingat kemampuan besar kapal lawan."


Lagi-lagi kapal oleng. Kami hampir kembali terhempas, kalau saja tidak sigap mencari pegangan. Belajar dari pengalaman, agar tidak terjungkal menghantam lantai, yang pastinya berakhir nyeri.


"Jadi menurutmu, kita hanya bisa selamat dengan cara kabur dari bajak laut itu?" Yenz berteriak sambil mengangguk untuk menjawab pertanyaanku. "Kalau begitu, kau buat saja bom asap seperti kemarin. Dengan jumlah yang banyak, tentu bisa tercipta tabir asap untuk menghalangi pandangan mereka!"


Ide jenius itu terlintas, karena aku teringat game perang di komputer. Bom asap biasa aku gunakan untuk kabur, atau menghalangi pandangan musuh yang menyerang.


"Kau gila. Akan butuh banyak bahan dan waktu yang panjang, untuk dapat membuat bom asap seperti omonganmu. Itu pun belum tentu memberikan kita waktu yang cukup untuk kabur."


"Lalu harus bagaimana? Berharap akan ada pertolongan dari Dewi Air, yang membuat pusaran lautan, sehingga akhirnya kapal besar itu tertelan dan karam? Tidak mungkin, kan. Apalagi setahuku, mereka memiliki dewi yang lebih besar di kapalnya."


Yenz menatapku dengan mata terpicing. Menyusul senyum sebelah bibir yang terkembang.


"Sepertinya kau benar! Hanya pusaran hasil putaran badai saja, yang mampu membuat kita lolos dari serangan ini." Yenz merayap berdiri. "Tetapi, tidak perlu bantuan seorang dewi, untuk sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri!"


Eh ... apa maksudnya? Dia mau membuat badai, begitu? Jangan-jangan dia itu Apantar, yang menguasai keempat elemen, tetapi menghilang saat negara petromak menyerang!

__ADS_1


Beda server, kan!


Lalu sebenarnya apa!?


__ADS_2