
Armada Vajal terdiam melihat tandingannya datang dari seberang. Hilang sangar yang tadi ditunjukkan saat menggempur kapal hitam. Menanti ketidakpastian akan kondisi medan perang.
Hanya beberapa menit berselang. Tujuh kapal besar dengan meriam teracung mengancam, mengepung kami tanpa memberikan celah untuk kabur di perairan.
Dari kapal putih, terlihat bendera berwarna kuning dan biru bersisian, tengah dikibarkan. Perlahan kemudian, mereka bergerak mendekat, hingga jarak keduanya tersisa kurang dari satu meter.
Seorang pria berjenggot putih, berbadan tegap, berpakaian seragam kemiliteran--dengan tanda pangkat di pundak--berjalan sampai ke pagar pembatas geladak.
Dengan gerakan pasti, orang setengah baya itu memanjat pagar pembatas, lalu melompat tanpa ragu, menuju kapal biru di seberangnya. Mendarat mulus dirinya, di atas geladak bahtera Negara Vajal.
Walau tidak terlalu jelas di kondisi malam yang gelap, tetapi aku yakin, di kapal giyeni ketiga yang menghadang kami itu, Juan keluar dari ruang komando, bersama seorang berseragam biru muda, yang aku yakin adalah kapten kapal tersebut.
Mereka menemui si pria paruh baya, dan terlibat obrolan seru, yang sesekali menunjuk-nunjuk ke arah kapal hitam tumpangan kami.
Terlihat benar emosi Juan meledak, saat perundingan kedua kubu mendekati akhir. Dirinya hendak menerjang si pria berjenggot putih, yang dengan cepat dicegah oleh sang kapten kapal Negara Vajal. Digenggamnya erat pundak bidang lelaki tersebut.
Sang pria berseragam putih, melompat kembali ke kapalnya, setelah saling bertukar hormat dengan kapten armada Vajal.
Rombongan kapal putih bergerak merenggangkan kepungannya. Memberikan jalan bagi tiga kapal bercat biru, untuk lewat dan berlalu. Meninggalkan kami tanpa tersentuh.
Apa yang sebenarnya terjadi?
***
Menjelang fajar, kami sampai di pelabuhan Sunkalopa. Tempat berlabuh banyak kapal dagang, yang hendak memasuki ujung Barat Kerajaan Andapala.
Kami tidak berlayar menggunakan kapal hitam untuk sampai ke sini. Sangat tidak mungkin pula, karena banyak bagiannya sudah rusak dilantak meriam.
Dengan suka rela, seluruh awak pindah ke salah satu kapal bercat putih, yang ternyata armada perang Andapala.
Kami diantarkan sampai ke sini. Ke tujuan semula yang diinginkan Kapten Sando, tetapi ditentang oleh Yenz. Disambut bagai tamu penting, dan diberikan fasilitas penginapan bagus yang ada di pelabuhan.
Penasaran memang, akan sebab musabab semua ini dapat terjadi. Tetapi, sepanjang perjalanan hingga sampai di Sunkalopa, tidak ada seorang pun yang mampu menjawabnya.
Tentang alasan, kenapa tiba-tiba saja Armada Andapala datang membantu, sampai nekat memasuki perairan sengketa. Bahkan tidak keberatan menarik kapal hitam, hingga ke galangan. Berikut kebaikan lain yang loyal mereka berikan di sini.
Apakah karena bom asap tiga warna milik Yenz? Tetapi mengapa bisa?
Pertanyaan itu tetap tak terjawab, karena pria bermata hijau tersebut, berada di ruang kapten sepanjang perjalanan, dan tidak aku temukan saat kami berlabuh tadi.
Rasa lelah yang terakumulasi, dari banyak kejadian besar beruntutun, akhirnya sukses mengantarku tidur di tempat nyaman ini, setelah di kapal tadi, sempat menyantap ransum yang disediakan.
Aku terbangun saat sudah lewat tengah hari. Terpaksa beranjak dari ranjang, karena gedoran di pintu kamar, yang dilakukan oleh seorang prajurit Andapala.
Pemuda berseragam putih itu, memberitahuku untuk segera bersiap. Katanya, ada jemputan yang telah menunggu di bawah.
Semakin heran aku dibuatnya. Jemputan apa? Dan ke mana kami akan dibawa?
Pun, ternyata hanya aku, Leo, dan Kapten Sando, yang diperintahkan menaiki kereta kencana hitam berpelitur, dengan arsitektur pahatan mewah di badan gerbong penumpang.
Kerera itu ditarik oleh dua pasang kuda berkualitas tinggi, dengan seorang kusir berpakaian mentereng. Aku yakin harga setelannya jauh lebih mahal, dari pakaian yang aku gunakan.
Dalam perjalanan, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Kepada si Muka Parut, yang dari awal perjalanan terlihat begitu tenang. Seakan mengetahui tentang semua ini.
"Yang sanggup melakukan ini semua hanyalah Gubernur Barretty Falcoa. Orang paling berkuasa di pulau Sunkalopa. Jantung negara Andapala. Kalau mau tahu lengkapnya, kau tanya saja ke teman sialanmu itu, yang sekarang entah ada di mana keberadaannya."
Walau mengesalkan, tapi aku berterima kasih atas jawabannya. Setidaknya, ada satu pertanyaan yang terjawab. Meskipun, turut pula menimbulkan banyak pertanyaan lain.
__ADS_1
Hanya setengah jam perjalanan, sampai kami di depan gerbang besi besar setinggi lima meter lebih. Memasuki jalan yang membelah taman luas tertata apik. Berhias air mancur, kolam angsa, deretan pohon apel, gazebo, dan segala pernak-pernik lainnya, yang kalau dijual, pasti harganya mampu untuk membuat kaum rebahan, menikmati sisa hidupnya secara maksimal.
Kami turun di depan rumah berlantai tiga, yang hampir keseluruhannya, terbuat dari batu granit beraneka tekstur.
Di depan teras telah menunggu seorang pelayan tua berambut tipis. Mengenakan setelan jas berekor, yang membungkus tubuh kurusnya. Posisi berdirinya tegak membusungkan dada, dengan dagu terangkat sesenti, yang sejujurnya membuat dia terlihat konyol, alih-alih gagah.
"Selamat datang, tuan-tuan. Silakan ikuti aku," ujarnya singkat. Berbalik lalu melangkah dengan sikap bak prajurit. Menuntun kami melewati pintu ganda besar, berwarna coklat tua mengkilap.
Aku menganga melihat ruang depan rumah ini. Begitu luas, dengan banyak patung dan guci, juga hiasan lain mengapit jalan, menuju lorong di depan kami. Seperti galeri seni, dengan barang pajangan berharga mahal.
Setelah melewati lorong dengan lukisan dan beberapa baju zirah terpajang, akhirnya kami sampai di ruangan dengan sofa berukir, yang mengelilingi meja besar terbuat dari bonggol kayu utuh.
Ruang tamu aku tebak. Tetapi, ternyata bukan di situ tempat kami berhenti. Si pelayan terus berjalan menuntun kami ke ujung ruangan, untuk menaiki tangga menuju lantai dua.
Meniti anak tangga berlapis karpet beludru merah, yang setengah jalan terbagi ke dua arah.
Dari sana, kami mengambil jalan ke jalur kiri, untuk dilanjutkan berbelok ke kanan, saat kaki menginjak puncak anak tangga. Memasuki lorong yang mengantar kami ke sebuah pintu di ujungnya.
Pelayan tua itu bergeser dari hadapan pintu bercat coklat di hadapan kami. Memegang knop besi, untuk kemudian menekannya, sambil berkata, "Silakan masuk tuan-tuan."
Begitu terbuka, terpampang ruangan dengan dua pasang jendela lebar di seberang kami, yang di kedua sisinya berdiri rak buku menutupi dinding.
Sebagai alas di lantai ruang baca mewah ini, terhampar karpet hitam dengan motif bunga merah tersusun diagonal. Disegarkan suasananya oleh keberadaan tanaman berdaun lebar, yang bersemayam dalam pot, di keempat pojok ruangan.
Sebentangan meja panjang menempati bagian tengah ruangan. Tempat sepasang pria mengenakan kemeja putih duduk berseberangan, di atas kursi kayu yang diberikan bantalan tebal, pada alas duduk dan penyangga punggungnya.
"Yenz?" gumamku, melihat pria berambut pirang panjang dikuncir, sedang asik menekuri buku di atas meja. Tidak terusik dengan kedatangan kami.
Aku tahu pasti itu dirinya, karena walau pakaiannya berganti, tetapi tas selempang yang bagian talinya disimpul mati--waktu itu putus disabet golok Manika--tetap tersampir melintangi badan.
"Selamat datang, Tuan-tuan. Anggap saja sebagai rumah sendiri. Silakan bergabung dengan kami." Pria berperawakan berisi dengan perut membuncit, menyorongkan tangannya, untuk mempersilakan kami duduk di kursi kosong yang banyak tersisa.
Aku dan Leo menyusul. Mengambil tempat di kedua sisi Yenz. Sesaat aku menatapnya dengan alis bertaut. Sampai dia sadar sedang diperhatikan, dan menutup bukunya.
"Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanyaku dengan suara berbisik.
Yenz balas menatapku. Menghela napas berat. Alih-alih menjawab, dia justru mengambil minuman di cangkir porselin, yang tersaji berdampingan dengan teko bundar berbahan sama, dan mangkuk besar berisi biskuit coklat. Berada di hadapannya.
"Aku yakin sepupuku tidak menceritakan lengkap tentang dirinya, kan? Dan pastinya tidak memberitahu kalian nama aslinya. Weylan Arhope ...." Ucapan sang tuan rumah bermata coklat itu terpotong, karena suara keras cangkir yang diletakkan kasar di atas tatakannya.
"Bisa kau tidak menyebut nama terkutuk itu, Sepupu Fal!" geram Yenz dengan tatapan tajam.
"Tenang Sepupu. Aku hanya bercanda. Lagi pula aku juga lebih suka memanggilmu Yenz, seperti yang Bibi Gyana berikan." Falcoa tersenyum lebar.
Jujur aku terkejut begitu mengetahui, kalau si Raja Tega itu, masih memiliki hubungan kerabat dengan Barretty Falcoa. Gubernur di Pulau Sunkalopa, Kerajaan Besar Andapala.
Berikut pula soal nama aslinya, yang sepertinya harus aku tanyakan nanti.
Memang sih, gubernur berambut pirang itu sepertinya menyebalkan, dan seandainya aku mempunyai sepupu macam dia, diriku akan malas untuk bertemu dengannya. Tetapi, sepertinya bukan itu yang menjadi dasar alasan Yenz, sangat tidak ingin singgah ke tempat ini.
Ada hening canggung sesaat, sewaktu Yenz menyesap minuman dari cangkir di tangannya. Sampai akhirnya, Kapten Sando membuka suara.
"Haha ... tidak aku sangka, tuan muda terhormat menaiki kapalku. Mohon maafkanlah aku, karena sebelumnya sudah berani kurang ajar membentakmu, Tuan ...."
Kapten Sando terdiam melihat Yenz mengacungkan telunjuk ke mukanya. "Akan aku tambah carut di wajahmu, jika masih berani melanjutkan ucapan!"
Kapten bungkam, tetapi sepertinya bukan karena takut. Lamat-lamat aku melihat di mulutnya yang terkatup, ada selarik senyuman tertahan. Sadar aku, maksud omongannya tadi adalah bentuk ledekan kepada Yenz.
__ADS_1
Tapi perkara apa? Aku benar-benar bingung dan tak mengerti dibuatnya.
"Baiklah. Sudah cukup basa-basi dan perkenalannya. Bagaimana kalau kita langsung masuk ke inti pembicaraan. Secara, permintaanmu untuk mengundang Tuan Margo dan Leo sudah terpenuhi, bukan?"
"Ya. Kau benar. Tetapi aku tidak pernah meminta kau, mengundang si muka parut itu untuk datang," ketus Yenz berujar.
Falcoa tertawa. "Ya, tetapi dia adalah tamuku. Dan, kita perlu keahliannya soal lautan, untuk membahas juga melajutkan perjalanan ini, kan? Menuju Sakonde, pulau yang hilang."
Aku jelas kaget mendengar itu. Menatap Falcoa dengan mata membelalak. Sakonde yang tadi diucapkannya, sepengatahuan ingatan Margo, adalah sebuah pulau kuno berisi gelimangan harta karun, yang selalu diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur.
Di dongeng itu, Sakonde diceritakan musnah dikarenakan peperangan besar, yang terjadi karena keserakahan. Lalu, apakah hal itu ada hubungannya dengan misiku sebagai Margo di dunia ini?
Jika benar begitu, tidak bisa tidak, aku harus terlibat di dalamnya.
Pun, dugaanku waktu itu berarti benar. Selama ini Yenz yang memegang peran sebagai kunci cerita. Aku yakin berhubungan dengan kotak kayu, yang dia ambil dari gudang bandit gurun.
"Sepertinya kau juga tidak mengatakan perihal itu kepada temanmu ya?" sindir Falcoa.
"Bukan urusanmu! Sekarang kita bahas soal perjanjian. Kau menjamin keamanan dan kehidupan Margo juga Leo. Sebagai gantinya, aku antar dirimu ke Sakonde. Bisa aku pegang janji itu?"
Eh ... apa maksudnya ini? Menjamin keamananku dan Leo?
"Kau tahu aku kan. Tidak perlu kau ingatkan. Untuk Tuan Margo dan Leo, telah aku sediakan tempat tinggal nyaman, dengan segala fasilitas mewahnya. Mereka tidak akan kekurangan di sisa hidupnya. Pun, tangan hukum Vajal tidak akan bisa menjangkau sampai ke sini. Aku jamin itu semua."
"Tunggu sebentar! Kau memutuskan ini sendiri? Sesuatu tentang diriku, kau yang memutuskannya? Memang siapa dirimu, hah!?" protesku. Merasa Yenz sudah kelewatan.
"Kenapa memangnya? Aku tidak merugikanmu dengan perjanjian itu. Kau malah mendapat keuntungan. Dengan hidup makmur, dan tidak lagi khawatir karena status sebagai buronan. Lagi pula, bukankah itu tujuan awalmu? Seperti yang sudah direncakan pula oleh Apak Lapo."
"Kau seharusnya membicarakannya dulu denganku! Kenapa seenaknya saja memutuskan, setelah hilang tidak ada kabar. Bagaimana dengan Leo?" tukasku. Kesal.
"Aku tidak masalah. Lagi pula kalau diteruskan pun, tujuan kita nanti akan berbeda. Jadi tidak ada salahnya jika tinggal dulu di sini sementara waktu." Leo menjawab dengan nada riang. Tidak terpengaruh dengan suasana yang mulai memanas.
Omongan Leo jelas membuatku mati langkah. Yah, memang sih dengan menerima tawaran itu, satu misi untuk mencari kebebasan bagi Margo terselesaikan, tetapi bagaimana soal mencari kebenaran?
Jujur, ada banyak misteri di dunia ini yang membuatku penasaran. Walau sadar juga, dengan berusaha menguaknya, berarti aku harus siap menghadapi banyak rintangan nantinya.
"Sepertinya kalian butuh waktu untuk membicarakan perkara itu. Kalau begitu, biar aku dan Kapten Sando pergi ke ruangan lain. Kebetulan ada bisnis pula yang harus aku bahas dengan dirinya. Tuan-tuan, nikmatilah waktu kalian." Falcoa beranjak bersama Kapten Sando, yang mengekor di belakang.
Selepas pintu kembali tertutup, kami bertiga yang tersisa di ruang baca ini, terdiam membatu dalam pikiran masing-masing. Bahkan enggan menyentuh hidangan kecil, yang masih tersisa hangat di atas meja.
"Bagaimana kalau aku tidak mau tinggal di sini?" tanyaku, membuka keheningan.
"Itu terserah kepadamu. Aku tidak akan menghalangi. Hanya saja, sudah aku bilang jauh-jauh hari. Jalan kita akan terpisah nantinya. Dan, di sinilah poin itu terjadi. Suka atau tidak suka."
Brak!
Aku menggebrak meja hingga cangkir terjungkal dari tempatnya.
"Baiklah kalau itu maumu. Toh aku memang sejak lama tidak suka kepadamu. Terserah kau mau pergi ke mana. Terima kasih atas perhatianmu. Akan aku nikmati semua kemewahan yang kau berikan. Sekali lagi ... terima kasih banyak."
Sebelum aku sempat beranjak, Yenz telah terlebih dahulu bangkit. "Kalau begitu sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku permisi," ucapnya dingin. Melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Aku terpekur. Gamang sendiri. Apakah keputusan yang terdorong emosi ini benar-benar tepat? Bisakah aku kembali ke dunia nyata, dan menyelesaikan cerita ini dalam kondisi antiklimaks?
Kalaupun bisa, apa aku tidak akan penasaran, jika seandainya cerita di buku ini, nanti tidak tertulis lanjutannya.
Tapi, aku pikir lebih baik begini. Toh aku tidak perlu takut dikejar bahaya lagi, di dunia gila ini.
__ADS_1
"Tuan Margo. Boleh aku bungkus kue coklat itu? Rasanya enak ternyata," sela Leo sambil mengunyah.
Dasar tidak tahu situasi!