Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 29-1] Pertarungan Belum Berakhir


__ADS_3

Kabut hijau itu mengembang cepat, dan menghancurkan benda apa pun yang disentuhnya. Melelehkannya, bagai terbuat dari zat asam.


"Ghraw!" Pekik itu menggema keras sampai ke ujung kerajaan. Menggetarkan tanah dan mengguncang langit.


Di saat itu pula gumpalan kabut hijau, yang hampir mengenai Pata dan Tura, terhisap kembali ke intinya, sebelum kemudian terhempas ke segala arah. Meledakkan apa saja yang terkena hantamannya. Menyibak sosok monster setinggi dua meter lebih yang menguarkan nafsu haus darah dan pembantaian.


Sosok raja lalim yang perkasa tidak lagi tersisa di wujud monster menjijikan itu. Berkulit hijau dengan banyak garis-garis tipis sambung-menyambung seperti busik. Kepalanya yang berbentuk oval telor, dihiasi dengan sepasang mata lalat. Lebih menyeramkan lagi tampangnya, saat mulut dengan garis hingga ke tepi wajah itu terbuka lebar. Mulut tanpa bibir dengan deretan gigi kecil tajam, yang sanggup mencaplok kepala manusia dalam sekali telan.


Monster itu berdiri bongkok dengan tubuh bagian atas yang besar, seukuran tiga orang dewasa. Mengecil ke ukuran normalnya manusia, sampai di kakinya yang melengkung ke dalam. Persis seperti kaki rusa. Lengkap dengan kuku tebalnya yang sekeras baja.


Tubuh besarnya itu memang tidak bisa ditopang kedua kaki lincah yang terus berderap mengelupas lantai kastil. Sebagai gantinya, sepasang tangan kekar berotot, dengan tonjolan urat besar, menopang seluruh berat tubuhnya. Berukuran sebesar kayu gelondongan.

__ADS_1


Tangan itu menjulur sepanjang tiga hasta sampai telapak tangannya yang memiliki empat jari berujung tajam menekan tanah hingga amblas. Bukan hanya sebagai pilar tubuhnya saja. Tangan dengan telapak selebar meja kafe itu, bisa juga meremukkan tiga orang dewasa dalam sekali remas.


"Groaw!" jerit si monster hijau ke arah Pata dan Tura. Lidahnya yang bercabang dua menjulur dan mencipratkan air liur berbau bangkai.


Dengan satu hentakan kuat, yang membuat lubang besar di lantai, monster itu menerjang Pata yang berjarak sepuluh meter. Mulutnya terbuka lebar hendak mencaplok mangsanya. Cepat dan kuat, hingga membuat Pata yang belum siap hampir menjadi santapannya.


Pata jatuh terguling ke belakang karena hilang keseimbangan saat menghindar.


Belum ada satu tarikan napas, monster itu kembali menerjang. Dia melompat dengan kedua tangan terangkat tinggi ke atas. Siap menghujam tanah demi meremukkan tubuh lawannya.


Blam!

__ADS_1


Remuk tanah yang dihantam si monster hijau bagai terkena ledakan puluhan ranjau darat. Entah bagaimana nasib Pata jika tidak berhasil diselamatkan Tura. Mungkin sudah lebur menjadi bubur.


Tura terpelanting bersama Pata dalam dekapan. Dihempas sisa energi besar yang dipakai si monster untuk menyerang. Keras tanpa dapat menahan lagi, tubuh keduanya menghantam pilar kastil. Terjatuh saling tumpang tindih, untuk kemudian berusaha selekasnya bangkit, karena sadar sang marabahaya bengis tidak akan menunggu mereka sampai siap.


Mengerang keduanya, memaksakan setiap kerat otot untuk bergerak. Walau, urat syaraf rasa sakit menjerit kencang.


Sang monster bengis melompat dari lubang dalam yang dia ciptakan sendiri. Meluncur dengan sehempasan ayunan tangan, menargetkan kedua mangsa untuk dihantam dengan kedua kaki rusanya.


Blar!


*Bersambung*

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komen ya, Readers. komen membangun dari kalian, akan memberikan saya asupan semangat untuk terus berkarya lebih baik lagi ke depannya.


Happy Reading!


__ADS_2