
Derap kaki meretakkan kesunyian, menggetarkan pijakan di tanah lembab, dan menggedor detak jantungku, yang baru sesaat tadi dalam kendali. Tenang berubah gelisah.
Jelas, kebisingan berirama yang datang dari barat desa, dihasilkan oleh gerak serentak ratusan orang.
Gemerisik dedaunan tersibak, gemeretak patahan dahan, dan ribut teredamnya penghuni hutan, menjadi indikasi mereka sudah dekat dengan ambang jalan masuk desa.
Suara derap semakin keras, dan hanya dalam sepuluh hitungan, ujung dari barisan itu sudah terlihat.
Batalion tempur itu dipimpin oleh seseorang bertubuh kurus, yang walaupun dari kejauhan bercahaya remang, dengan mata tajam Margo ini, sudah dapat mengenali siapa dirinya.
Juan di sana. Memimpin ratusan orang dengan gaya angkuhnya. Menghentikan langkah, sebelum memasuki jalanan utama desa. Dia pasti sadar, jauh di seberangnya, sudah bersiap para penembak yang menodongkan senjata.
"Hei, Brewok!" panggil Kapten Sando, yang posisinya terpisah satu orang dariku.
Aku menoleh dengan mata terpicing. Bagus benar dia memanggilku brewok.
"Kau tahu pemimpin mereka kan? Apa pangkatnya?" Pria bermuka parut itu menggeser paksa orang yang berada di antara kami.
"Setahuku mayor. Kenapa memangnya?"
"Tidak mungkin! Pangkat mayor tidak mungkin akan diberikan fasilitas kapal Giyeni, dan mengomandani pasukan sebegitu banyak. Kalau kau hitung, jumlah mereka ada lima ratus orang lebih! Paling tidak, dia harus berpangkat letnan untuk mendapatkan itu semua!"
Sepertinya apa yang dikatakan Kapten Sando ada benarnya. Lapangan luas di depan desa sudah penuh berdesakan prajurit lawan. Dan, itu pun masih tidak mencukupi untuk menampung mereka semua.
Dikarenakan hal itu pula, Juan memerintahkan anak buahnya, untuk bergerak memasuki hutan di sisi timur. Sementara di barisan terdepan sedang sibuk mengangsur, lalu menumpuk buntelan karung--berisi pasir--yang mereka bawa. Guna membangun barikade perlindungan.
Aku menjadi was-was melihat pergerakan mereka. Bisa jadi, barikade apik desa ini akan tertembus, karena faktor jumlah lawan yang begitu banyak dan terlatih.
Bahkan, mungkin sekali mereka akan menerjang masuk, dalam ruang lingkup yang lebih luas. Menggerebek di blok perumahan, dan menerobos barikade hutan, dengan serombongan besar yang minim kemungkinan tersesat, juga solid saling melindungi.
Alamat kami akan dikepung dari dua sisi, sementara bagian tengah, kewalahan diberondong tembakan lawan.
Sial! Seandainya jumlah kami bisa lebih banyak lagi, tentu kekosongan pos bisa diatasi.
Sayangnya, jumlah penduduk lelaki yang bisa bertarung di suku ini, tidak lebih dari dua ratus orang.
Juan maju selangkah. Mengambil corong hitam, yang memiliki pegangan di tengah badannya. Mendekatkan bagian pangkalnya yang lebih kacil, lalu mulai menarik napas panjang, sebelum mengeluarkan kata.
"Kalian sudah dikepung! Atas nama Negara Vajal, dan kedaulatannya di pulau Talse, kami memerintahkan kalian untuk menyerah! Lakukan itu sebelum kami memutuskan untuk menyerang!" Juan meneriakkan ucapan bernada ancamannya, dengan dibantu corong pengeras suara.
Si pria besar berotot, yang di hutan tadi mendampingi Tetua Perota, mundur setengah langkah dari balok kayu, tempatnya mengacungkan senjata. Ditariknya napas panjang, hingga dada bidang itu mengembang.
"Tak ada urusan Vajal di sini! Pulau Talse berikut desa Lasete, merdeka di bawah kekuasaannya sendiri! Milik Suku Tastal! Kalian aku perintahkan pergi dari wilayah kami, atau terima sendiri akibatnya."
Menakjubkan! Teriakan pria itu, bahkan terdengar sekeras suara Juan, yang berbicara menggunakan alat bantu.
__ADS_1
"Peringatan terakhir! Atas tuduhan telah menyembunyikan buronan besar, dan memproduksi obat terlarang! Kalian mempunyai waktu lima menit, untuk menyerah baik-baik, sebelum penyerangan aku perintahkan dimulai!" Juan mengeluarkan jam sakunya yang terkait rantai perak kecil.
Melihat itu aku jadi ingat jam antik milik kakek. Jam ajaib dan unik, yang tidak menggunakan batrei dalam pengoprasiannya. Cukup diputar bagian atasnya, dan jam itu akan bekerja selama beberapa hari. Mirip seperti mobil-mobilan mekanik cara kerjanya.
Kapten Sando mendecap. "Kalau bukan karena menyelamatkanmu, tentu hal ini tidak perlu terjadi! Vajal tidak akan berani menyerang kalau bukan karena kejadian malam itu di pelabuhan Lapalasa!"
Aku membalas tatapan si Kapten Muka Parut. Jelas kesal, karena dijadikan kambing hitam.
"Hei! Mau bagaimana pun juga, ini bukan seluruhnya kesalahanku! Ingat tadi dia bilang soal obat terlarang!?" balasku, yang juga mengucapkan kalimat dengan suara teredam.
Kapten Sando mendengus. "Kau pikir mereka tidak tahu di sini terdapat pabrik retnap? Sudah sejak lama mereka mengetahuinya! Vajal tidak berani menyerang ke sini, semata-mata karena kerajaan Andapala melindungi pulau sengketa ini! Karena kejadian di pelabuhan itu, mereka jadi punya alibi untuk menyerang!"
Jujur, aku terlalu susah untuk mencerna omongannya. Tapi tidak penting juga. Toh hal itu tidak akan mengubah fakta kalau kita akan berperang sebentar lagi.
"Bersiap! Mengikuti aba-abaku!" perintah si pria berbadan kekar, dan lebih tinggi dari kebanyakan pria di suku ini. Tangannya terangkat, untuk kemudian menyentak ke depan, beriring komando tegas. "Tembak!"
Sahut bersahutan moncong senjata memuntahkan semburan api, yang mendorong timah tajam. Meluncur sangat cepat menuju saran.
Aku dan Kapten Sando, yang belum lama teralihkan oleh debat kami, jadi melewatkan gempuran pembuka.
Kubu musuh terkejut dengan serangan tiba-tiba, yang berhasil menumbangkan setengah lusin pria berseragam biru tua. Membuat formasi mereka kacau balau, karena tidak siap sepenuhnya.
Serangan masih berlanjut saat aku membidik. Menatap jauh dengan sebelah mata, sejajar menyusuri laras senapan.
Aku diam tergugu. Tak sanggup menyentak pelatuk. Terpaku melihat gelimpangan mayat di seberang sana. Darah bersimbah di lubang, tempat peluru menembus badan. Mengalir membasahi tanah, hingga tergenang cairan merah.
Kalau mau ditelisik. Larangan dari ibunya, bukan alasan utama Margo tidak mau ikut ambil bagian, di Perang Sepuluh Tahun.
Semua karena ketakutan, yang mulai tumbuh saat usianya baru menginjak sebelas tahun. Waktu itu dia melihat ayahnya pulang bersimbah darah, setelah bertugas membekuk kelompok bandit yang meresahkan kota. Ayahnya memang selamat, tetapi ketakutan Margo akan darah dan kematian, berkembang lebih jauh lagi.
Kalau saja perang tidak berkecamuk, mustahil lelaki brewok ini akan angkat senjata.
"Merunduk!" pekik Yenz, sambil menekan keras pundakku. Menghindarkan aku dari menjadi sasaran tembak lawan yang beringas.
"Terima kasih," ucapku dengan tenggorokkan yang terasa kering.
"Kau kenapa tidak menembak!?" tanya Yenz, sambil mengisi amunisi.
Aku menggeleng. "Aku tidak bisa ...."
Yenz menghela napas. "Kau ingat apa kata Apak Lapo? 'Terkadang apa yang tidak kau suka harus dijalani. Lakukanlah walau berat, dengan tetap berpegang kepada norma kebenaran.' Ingat itu!?" Dia kembali berdiri melanjutkan peperangan.
Bayangan lelaki tua berwajah teduh, yang berjibaku demi keselamatan kami di Lapalasa, terasa tepat barada di depan mata. Dengan senyum lembutnya yang hangat, dia menepuk pundakku, dan menyentak kepalanya ke atas. Tanda yang seakan menyuruhku untuk masuk ke medan peperangan.
Semua hanya ilusi. Aku tahu. Tetapi, begitu nyata dan merasuk benar ke hati.
__ADS_1
"Hei, pengecut! Mau sampai kapan kau bersembunyi!?" hardik Kapten Sando.
Aku menoleh, dan menatapnya tajam. "Jangan panggil aku pengecut, sialan!" hardikku lebih keras.
Detik itu pula aku bangkit. Menahan napas panjang saat mulai membidik. Semua menjadi hening. Fokusku melonjak drastis, di dunia yang hanya ada aku, dan sasaran tembak di hadapan. Lebih hebatnya lagi, di kondisi seperti ini, diriku bahkan bisa melihat jelas jalur peluru, untuk sampai telak ke sasaran.
Beruntun aku tembakkan lima butir timah tajam, yang tersedia di dalam senapan. Semua tepat mengenai sasaran.
Tidak ada yang membawa kematian langsung. Hanya melumpuhkan, sehingga tujuh orang yang menjadi korban peluru senjataku, tidak lagi dapat berlaga di medan pertempuran.
Ya, tujuh orang. Kalian tidak salah baca, karena ada dua peluru yang mengenai sasaran ganda. Tentu saja bukan tidak disengaja. Itu sesuai dengan perkiraan jalur yang kulihat di dunia hening.
Aku langsung membuka slot lubang peluru, dan mengisinya tanpa membuang waktu untuk menunduk. Bahkan sisa paket peluru aku taruh di samping senjata yang kupegang. Di atas permukaan tonggak gelondongan kayu.
Sasaranku tetap. Bagian terdepan pasukan yang mencoba menerobos di jalan utama. Sudah melewati satu blok, dari total sepuluh blok yang ada.
Lima tembakan lagi tanpa jeda, yang hanya berhenti saat pengisian dilakukan. Itu pun, tidak sampai lima detik aku selesaikan. Untuk kembali memulai serangan lanjutan.
Barisan terdepan sudah menyurut. Terhalang gelimpangan tubuh rekannya yang terluka atau mati.
Kami berhasil memukul mereka mundur sementara. Membuat Juan menatapku dengan mata berkilat marah.
"Yang benar saja! Kau seharusnya menembak kepala atau jantung meraka, kalau memang bisa menembak seakurat itu, pengecut!" geram Kapten Sando. Dia sadar dengan apa yang tadi aku lakukan.
"Kau yang bodoh, Muka Parut! Seandainya dibunuh, mereka tidak akan ragu-ragu menjadikan rekannya alas pijakan saat melangkah, atau malah dijadikan tameng pelindung. Tetapi, karena Margo hanya melumpuhkannya, gerakan mereka terhambat, oleh tubuh rekannya yang melintang masih bernyawa!" balas Yenz, sebelum aku sempat angkat bicara. Membuat Kapten Sando mendecap kesal sambil membuang muka.
Tumben si cantik itu mau membelaku. Salah makan apa dia ini?
Serbuan dari pihak lawan mengendur. Kebetulan juga amunisiku sudah habis, jadi tidak masalah aku beristirahat sejenak, sambil menunggu datangnya aminusi, kiriman seksi pasokan di belakang.
Sejenak aku memperhatikan sekitar. Ada beberapa pejuang yang sudah tumbang. Terkonsentrasi di bagian tengah--jalan utama--karena di sisi blok, pasukan Juan belum memulai pergerakan.
Setidaknya sampai perintah mundur dan bertahan diteriakkannya, melalui corong pengeras suara.
"Peringatan terakhir! Menyerahlah, atau di serangan berikutnya, kalian akan benar-benar kuratakan!"
Sesaat hening, sebelum kor tawa membahana di kubu kami. Aku hanya bisa bengong menontonnya. Kenapa mereka bisa sangat percaya diri?
Lupakah mereka kalau kita memiliki kelemahan fatal di sisi medan tempur? Sementara, perang ini baru saja dimulai. Jumlah prajurit musuh masih ada banyak di seberang sana.
"Pasukan sayap! Bersial memulai serangan kalian! Jangan beri ampun para barbar idiot itu! Ratakan mereka semua!"
Skenario terburuk yang aku takutkan, akhirnya sebentar lagi terjadi! Apa yang bisa kami lakukan? Aku tidak mungkin kabur, kan? Selain tidak tahu harus ke mana, calon istri Margo juga ada dalam Rumah Junjung di belakang sana.
Namun, aku merasakan kejanggalan. Tidak satupun ekspresi khawatir terpancar di wajah para penduduk desa. Malah beberapa terlihat menyunggi senyum melecehkan.
__ADS_1
Ada apa gerangan? Apakah aku melewatkan suatu detail, yang dapat mengubah arah peperangan?