Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 23-1] Di Titik Nadir Terakhir


__ADS_3

Dulu waktu masih di sekolah dasar, Ayah pernah bertanya tentang cita-citaku. "Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti?" begitu tanyanya.


Tidak perlu waktu lama untuk berpikir. Rentetan keinginan aku ucapkan waktu itu. Pilot, pemadam kebakaran, programer, artis terkenal, atau juga penulis keren seperti ReKun.


Ayah hanya tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Tidak mengoreksi ocehanku, sampai akhirnya aku sendiri yang berkata, "Tetapi kan tidak mungkin ya aku menjadi itu semua? Harus memilih salah satu."


Ayah kembali tertawa. Kali ini sambil menekan dan memutar-mutar pipiku. Kebiasaannya saat sedang gemas kepada anak-anaknya. Setelah kutepis tangannya karena kesal--hei, siapa pula yang suka diremas-remas macam adonan kue begitu? Yah, walaupun aku sering melakukannya kepada Chiya--Ayah kemudian berkata, "Bercita-citalah dan bermimpilah sesukamu, karena nanti saat kamu lebih dewasa, kamu akan tahu apa yang benar-benar menjadi keinginanmu. Di saat itulah kamu harus berjuang keras demi mencapainya."


Aku percaya kepada nasihat ayah, walau tidak tahu kapan waktu "lebih dewasa" itu sampai. Tetapi, seperti katanya lagi, "Nikmatilah prosesnya, karena nanti yang sering kau kenang bukanlah hasil akhir, tetapi proses perjuanganmu untuk menggapainya." Aku tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataan ayah. Hanya saja, aku yakin tidak ada yang sia-sia di kehidupan ini.


Tapi nampaknya aku tidak akan pernah bisa sampai di momen "lebih dewasa" seperti yang Ayah katakan. Begitu pun menikmati prosesnya untuk nanti dikenang.


Kini tubuhku kaku membatu di atas tanah hutan yang telah gosong. Dihantam ledakan bola plasma listrik ungu misterius. Mengejang dilecuti oleh energi elektrik yang bagai pecut panas berduri. Teramat sakit, hingga untuk berteriak dan mengerang pun aku tidak sanggup.


Dari mana asal serangan itu? Siapa yang melakukannya? Lalu, yang paling ingin aku cari tahu adalah kondisi Woofy, Shege, Kord dan terutama Putri Asaru. Dengan tubuhnya yang tidak sekuat dan sekekar seorang pria. Apakah dia bisa bertahan disiksa kesakitan gila yang merajalela di sekujur tubuh ini?


Ya Tuhan. Sampai kapan kesakitan ini berlangsung? Jantungku berdetak tak karuan. Isi perutku bergejolak serasa mau meledak. Otakku kosong, namun terus-menerus terpacu mengirimkan sinyal rasa sakit. Mataku semakin kabur, hidungku hanya membaui aroma gosong. Entah bersumber dari rumput dan pepohonan yang ikut tersambar, atau dari tubuhku sendiri yang mulai terpanggang. Sementara, telingaku hanya bisa mendengar dengungan ribuan lebah.


Tunggu! Bukan hanya dengung. Ada sayup-sayup terdengar suara tawa keras yang kutangkap. Entah di mana dan siapa. Bisa jadi dia dalang pembuat bola listrik, yang membuat kami terkapar tak berdaya.


Aku menyerah! Kesakitan ini sudah di luar batas kemanusiaan. Akhiri saja sekarang. Aku mohon.

__ADS_1


Di sengal napas berikutnya, tiba-tiba saja ada cahaya menyilaukan menutupi pandanganku yang kabur. Serangan susulan untuk menghabisi kami kah?


Tidak. Sepertinya tidak, karena aku merasakan kehangatan dari cahaya putih itu. Kehangatan nyaman yang meredakan sakit dan panas terbakar di sekujur tubuh.


Cahaya itu semakin mendekat dan benderang, seakan turun dari langit. Tidak ada sinar membakar kulit, atau terang yang menusuk mata. Sebaliknya, malah memulihkan perlahan-lahan. Lembut.


Tak lama. Angin kencang membumbungkan tubuhku. Semua rasa sakit yang tersisa kemudian hilang, bagai tersapu oleh hembusan angin. Aku merasakan bagai terapung di udara untuk kemudian diturunkan lembut di atas permukaan tanah.


Tenang. Inikah surga? Begitu damai dan ringan. Tak ada lagi kesakitan, bahkan beban di dalam kepala pun hilang tiada berbekas.


"Bangunlah, Nak. Mau sampai kapan kau berbaring di situ?"


Suara familiar itu. Aku tahu siapa pemilik suara ringkih namun berwibawa tersebut. Aku mengerejap, lalu menoleh dengan pandangan mata yang belum sepenuhnya pulih. Artapatu di sana. Kakek tua kurus berjanggut putih yang menyambung ke rambut tipisnya, berdiri dengan sebelah tangan mengeluarkan cahaya terjulur ke depan, dan sebelahnya menggenggam sebatang tongkat panjang. Tongkat kayu yang di puncaknya melebar seperti mangkuk. Berisi batu bundar. Persis seperti kembang kol.


Aku bangkit terhuyung. Sebisa mungkin sambil terus mengerejapkan mata--orang yang melihat kondisiku sekarang pasti berpikir kalau aku kena cacingan. Sampai silau yang menggantikan gelap menjadi sirna sepenuhnya.


Sesaat. Aku melihat sesosok wanita langsing bergaun ungu panjang, dengan manik-manik hitam yang berkilauan bagai bintang menghiasi. Sedang terikat kencang oleh sulur cahaya yang keluar dari tangan Artapatu. Itulah "dia" yang dimaksudkan Artapatu tadi.


Di kepalanya, terangkai mahkota dari sisik hijau bagai zamrud yang di sekeliling puncak hingga bagian belakangnya, dihiasi bulu-bulu burung hitam berkelap-kelip sepanjang satu meter yang dibiarkan terjuntai. Terlihat seperti burung merak.


Kalau mau jujur, dia wanita yang cantik. Walau ada aura menyeramkan di sekeliling wajah tirus pucatnya. Alis tebalnya menegaskan garis wajah yang penuh kebencian. Mata celik yang di kelopaknya tumbuh bulu mata lentik, menatap tajam ke arah Artapatu penuh dendam. Sementara, bibir tipisnya yang berwarna merah terang, bergerak lama-lamat seakan sedang merapalkan mantra.

__ADS_1


"Tunggu apalagi, Nak? Bergegaslah! Aku sudah kepayahan menahannya." Dia berkata sambil menggeram.


Aku melesat. Menuju Putri Asaru yang masih terbaring di lantai hutan. Langkahku tergopoh-gopoh. Napasku tersengal-sengal. Sampai di sisinya aku menjatuhkan diri. Bersimpuh.


"Putri, Putri Asaru," panggilku.


Matanya mengerejap, dan mulutnya berdecap. Seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa. Masih lemah. Rohnya belum balik semua, kalau kata Mama.


"Putri, berpeganganlah kepadaku. Aku akan membawamu menjauh." Sepertinya permintaanku didengarkannya. Lamat dia mengangkat tangannya, yang langsung aku sambar untuk kulingkarkan di leher. Membopongnya pergi.


Kalau kata tante Ema, adalah hal yang tidak sopan membahas soal berat badan wanita. Tetapi, jujur saja, tubuh Putri Asaru begitu ringan. Aku dengan tubuh Sam ini bisa dengan mudah membopongnya walau bukan dalam kondisi yang fit benar.


Pyar!


Gelombang cahaya menerjang kami yang sedang dalam pelarian. Menembus tubuhku dengan meninggalkan jalaran hawa hangat.


"A-apa yang ter-terjadi?" tanya Putri Asaru dengan mata yang sayu. Dia tersadar karena gelombang cahaya tadi.


"Itu ... Artapatu." Aku menjawab seadanya.


Mata Putri Asaru membelalak lebar dengan ekspresi berbinar penuh kelegaan. Dia menyorongkan kepalanya melewati tubuhku. Seketika, di suasana yang hening mencekam itu, selenting suara kaget tercekat keluar dari lisannya.

__ADS_1


Hah!? Kenapa? Ada yang salah?


__ADS_2