Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 42-1] Duel Jalanan di Tengah Perayaan


__ADS_3

"Hahaha! Kalian kira aku datang ke sini tanpa persiapan? Asal kalian tahu. Sebelum kalian mampu mengayunkan senjata, aku sudah menghajar para begundal di kota ini dan menjadikannya bawahanku." Mog mengangkat sebelah tangannya lalu mengambil napas panjang sebelum berteriak, "Hoi, para baji**an! Mengamuklah kalian sepuasnya!"


Hanya hitungan detik dari panggilan itu, gerombolan bersenjatakan pisau, pedang pendek, kayu balok, dan berbagai macam alat perkebunan, datang membubarkan kerumunan. Berdiri siaga di belakang Mog, dengan kuda-kuda siap tempur. Terlihat sangar dengan seringai di setiap wajahnya. Seakan mereka benar-benar mengharapkan pertarungan itu.


"Aku peringatkan pada kalian para prajurit! Walau mereka hanya para berandalan, tetapi untuk perkelahian seperti ini, mereka siap menukar nyawanya demi kehormatan! Kuberi kalian kesempatan mundur, sebelum terjadi pertumpahan darah yang sia-sia! Pun, sebenarnya aku hanya ingin menghajar pecundang penipu yang bersembunyi di belakang kalian itu!" Mog menunjuk lurus ke arah Arson. Banyak pasang mata mendelik mengikuti arahan telunjuknya.


Mendengar itu, para prajurit menjadi ragu. Itu adalah tantangan duel, yang mungkin bagi mereka adalah hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sangat dihormati keberanian petarungnya seperti di film-film kolosal yang pernah aku tonton.


Tantangan itu ternyata ampuh. Arson maju menyibak barisan prajurit. Dengan sikap angkuhnya dia berdiri menantang di hadapan Mog yang memiliki perawakan lebih besar.


"Kotor sekali mulutmu dengan memanggilku yang seorang bangsawan sebagai pecundang dan penipu. Sepertinya kau harus aku ajari sopan santun dengan sabetan pedang, Sialan!"


"Oh ya? Lalu apa lagi panggilan yang lebih pantas untuk orang sepertimu? Banci pengecut?"


Derai tawa terdengar dari setiap mulut anak buah Mog. Membuat muka Arson menjadi merah legam dibakar amarah.


"Kau akan menyesali semua ini!" ancam Arson. Mencabut pedangnya.


Menclos hatiku melihat pendar ungu dari pedang besar yang baru saja dihunus. Bukankah itu pedang sihir yang berhasil aku patahkan dengan menggunakan pisau batu? Dan kini dia memilikinya lagi? Aku kira benda terkutuk itu hanya ada satu saja. Atau jangan-jangan dijual di toko online secara bebas? Keluar dari sini akan aku periksa. Kalau ingat itu juga.


Wuk!


Arson yang pertama kali menyerang, tapi bisa dengan mudah dihindari Mog. Sudah kuduga pria besar itu memang jago bertarung. Walau aku masih ada keraguan dia bisa memenangkan duel itu, mengingat kesaktian pedang ungu.


Srat!


Dengan entengnya Mog membelah baju besi yang dikenakan Arson.


Jujur. Aku merasa kasihan dengan bangsawan sialan itu. Bukan apa-apa. Dia benar-benar dipermainkan oleh Mog. Serangan Arson dengan mudah dihindari, lalu diberikan balasan dengan ayunan ringan pedangnya. Seakan tanpa niat. Seperti sedang meladeni seorang anak kecil.


"Sialan!" hujat Arson. Dengan sebelah tangan dia melepaskan baju besinya. Menampakan tubuh bagian depannya yang berlumuran darah dari luka dangkal yang ditorehkan Mog.


"Kau kira dengan melepas baju besimu, kau akan menjadi lebih hebat, begitu?" ledek Mog.

__ADS_1


"Kita lihat saja, Sialan. Kau atau aku yang akan menjadi pecundang di duel ini!"


Mereka memulai ronde kedua. Kali ini, Arson tidak asal menyerang. Dia memasang kuda-kuda dan bergerak memutar demi mendekati sekaligus mencari celah untuk menyarangkan serangan.


"Mati kau!" pekik Arson. Menerjang maju.


"Cetek!" balas Mog sambil mengangkat pedangnya.


Arson semakin mendekat. Mog mulai mengayunkan pedanganya menghujam ke bawah. Semili detik semua berubah. Kemenangan yang seharusnya bisa diraih oleh si pria besar itu tiba-tiba berbalik 180°. Si bangsawan bere***ek itu melempar sesuatu dari tangannya yang tergenggam tanpa senjata--selanjutnya aku tahu kalau itu adalah pengait baju besi yang dia ambil dan disembunyikan saat melepaskannya. Mengenai pelipis Mog dan membuat serangannya kacau.


Srat!


Serangan Mog meleset, yang kemudian dimanfaatkan Arson dengan membabat dada lawannya.


Aku kagum dengan pria besar itu. Dia dapat meminimalisir serangan yang mengenainya dengan melompat ke belakang. Jatuh keras dengan punggung menghantam lantai.


Luka yang tidak terlalu dalam sebenarnya. Akan tetapi itu adalah luka dari pedang jahanam yang memberikan korbannya kutukan. Terbukti. Mog bersimpuh tidak mampu berdiri. Napasnya memburu kencang, dan luka di dadanya terus mengucurkan darah. Tumbang bagai seekor macan yang terluka parah.


Para bawahannya terheran-heran melihat bos mereka bertekuk lutut di hadapan lawan yang jauh lebih lemah darinya, padahal hanya terkena satu serangan, yang sebenarnya tidak fatal. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajah para begundal itu. Mereka tidak tahu kalau yang digunakan si baji**an Arson itu adalah senjata berisi kutukan, yang aku pikir sudah ditingkatkan saat ini.


"Hah ...? si pecundang ini berani-beraninya menghinaku. Baiklah, kalau begitu kau, bhabi gendut, yang akan menjadi tumbal pertama bagi pedangku."


Sialan! Apa mulutnya itu tidak bisa membaca situasi? Lihat! Sekarang dia yang menjadi sasaran baji**an itu.


Masa bodo dengan rencana. Aku mengambil pedang yang tergantung di pinggang. Menghunusnya, lalu memicingkan mata. Mencari celah di mana aku bisa menerjang dan memberikan serangan kejutan kepada Arson yang sedang berjalan mendekati Kord.


Di sisi lain, entah sadar atau tidak, Kord mengeluarkan belati yang tersarung di pinggangnya. Gemetaran menghadapi kematian yang datang mendekat. Langkahnya surut ke belakang tanpa sadar. Menjadi bahan tertawaan Arson.


"Hei, bangsawan busuk! Pertarungan kita belum berakhir! Tinggalkan dia, dan lawan aku sampai salah satu dari kita mati!" ujar Mog dengan napas terengah-engah.


"Kau? Cih .... Pesakitan sekarat sepertimu bisa menunggu nanti, sementara aku menyiapkan daging bhabi segar untuk makanan anjhing liar." Arson tertawa terbahak-bahak. Melanjutkan langkahnya.


Kord terus mundur sampai ke pagar manusia, dari barisan para bawahan Mog. Mereka dengan kesal mendorong tubuh gendut itu hingga melaju ke depan tanpa kontrol. Menghampiri kematian yang sedang mengangkat sabit pencabut nyawanya.

__ADS_1


Aku yang melihat itu tidak bisa tinggal diam.


"Hei!" pekikku tanpa sadar.


Sialan. Dia menoleh. Raut wajahnya makin beringas dan dipenuhi aura membunuh. Aku yakin dia masih dendam karena peristiwa di hutan, saat aku mempecundanginya.


Dia mengganti sasarannya ke padaku. Didorong nafsu membunuh yang begitu kuat. Lupa kalau Kord masih terus melaju mendekatinya, tanpa kontrol dengan senjata terhunus.


Jreb!


Pisau Kord menancap penuh masuk ke perut Arson. Hening. Dia menoleh dan mendapati kalau orang yang diremehkannya membuat luka fatal bagi dirinya. Menembus tubuhnya yang tanpa perlindungan.


"Bhabi ... sialan!"


Kord melompat ketakutan. Dia terjatuh ke belakang. Membuat pisau yang dia genggam erat tercabut. Semburan darah mengucur deras mencipratinya. Pria gendut itu menjerit histeris.


Tangan Arson terangkat tinggi. Ancang-ancang untuk mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Didorong kemarahan memuncak, demi dapat menebas Kord. Sahabatku dan Sam.


Jelas tidak akan aku biarkan!


Wuk!


Tangan itu terus mengayun tidak terbendung demi menuntaskan niatnya. Tetapi kosong. Kord tetap terduduk gemetaran di jalan dalam kondisi utuh. Dia selamat, karena aku telah terlebih dahulu menebas tangan Arson yang sedang mengayun.


"Huwa! Tanganku! Sialan kau, baji**an!" teriak Arson sebelum jatuh terjengkang sambil terus menjerit kesakitan.


Tidak mau membuang waktu, aku mengambil pisau batu pemberian Artapatu. Menghujamkannya ke bilah pedang yang masih tergenggam di potongan tangan Arson.


Pedang itu hancur lebur. Mog tersentak, lalu bangun sambil tersenyum. Mengepalkan tangannya yang diangkat serong ke arahku sambil bersorak. Diikuti oleh bawahannya. Mungkin itu adalah tanda penghormatan bagiku dan Kord yang sudah berhasil menumbangkan Arson.


Kami diselimuti euforia kemenangan. Hanya sisa para prajurit yang sudah gentar sebagai lawan.


Begitulah pikir kami sampai langit yang cerah tanpa awan, seketika berubah hitam diselimuti mendung dengan orkestra kilat dan guntur yang menyeramkan.

__ADS_1


Sialan! Aku tahu arti dari keganjilan alam yang merundung langit kota. Rencana kami resmi gagal!


__ADS_2