
Aku berjanji sepenuh hati, jiwa, dan raga. Akan benar-benar memukuli Yenz hingga babak belur, jika ada kesempatan nantinya!
Sumpah, emosi aku naik sampai ke ubun-ubun karena kelakuan serampangannya. Hitung saja, sudah berapa kali dirinya membuatku masuk ke dalam bahaya.
Yah, memang sih, dia berakhir dengan menyelamatkanku. Tetapi, bisakah dirinya melakukan itu, dengan sedikit saja ada kelembutan?
Contohnya kejadian yang masih segar belum lama ini. sewaktu dia mengobati lukaku, dari pertarungan habis-habisan di pelabuhan.
Tanpa rasa belas kasihan, dia menyuruh empat orang ABK (anak buah kapal), berotot besar dan beraroma kecut, untuk memegangi kaki dan tanganku.
Aku menjerit dan ingin berontak, karena tanpa ada dosa sama sekali, dia menekan-nekan keras bagian sekitar luka di dada dan lengan, yang tertembus peluru, untuk kemudian menyayat panjang dan dalam, segaris daging di bawah ketiak, juga lengan di seberangnya. Menggunakan pisau yang sudah dibakar, untuk disterilkan.
Harus dilakukan katanya, karena kedua peluru itu menembus begitu dalam, dengan jalur yang melenceng.
Dokter gadungan itu dengan santainya, melakukan operasi penuh kesakitan, tanpa membiusku terlebih dahulu. Sudah begitu, dia juga menamparku berkali-kali, dengan alasan agar aku bisa terus tersadar.
Kebarbaran itu tak henti dia lakukan, hingga akhirnya dua butir peluru yang kudapat dari pertarungan di pelabuhan, berhasil dikeluarkan.
Setelah semua kekejaman tak berperikemanusiaan itu, dengan entengnya, dia masih bisa berkomentar kalau ketekku beraroma bacin.
Sialan memang! Lihat saja nanti, bakal aku jejali segumpal bulu ketiak keriting, yang tadi dia cukur!
Kalau mau sok tahu--berbekal pengetahuan medis dari film Dokter Bagus--operasi seenak jidatnya tadi tidak akan bisa menyelamatkanku, malah mungkin membuatku lebih cepat mati atau makin memperparah lukanya. Dengan menggunakan peralatan medis ala kadar, tanpa diberikan bius sebelumnya, dan tidak pula ada proses transfusi, untuk menggantikan darahku yang banyak hilang, sungguh hanya keajaiban saja yang bisa membuatku tetap hidup.
Untungnya, keajaiban itu tersimpan dan dibawanya di dalam keliman jubah, yang selalu dia gunakan saat perjalanan.
Cairan ajaib itu diberikan lagi untuk mengobati lukaku. Tidak seperti sebelumnya yang langsung sembuh, luka parah yang kudapatkan kini perlu waktu agak lama untuk sepenuhnya pulih. Begitu kira-kira yang dikatakan Yenz.
Mengikuti anjurannya, aku beristirahat penuh di atas ranjang. Untuk soal pelayanan makanan, dan membantuku ke kamar mandi, Leo dengan suka rela membantu. Bahkan tidak bosan dia memeriksa keadaanku.
Dirinya mengaku kagum akan keberanianku, yang mau menghadapi para petugas seorang diri. Memberi mereka kesempatan sampai ke goa karang, tempat persembunyian kapal hitam milik Kapten Sando bersandar.
Kapal yang seluruhnya dicat hitam ini, sengaja datang untuk menyelamatkanku. Menembakkan meriam pertama yang sedikit meleset dari Juan, dan malah mengenai tong garam.
Mendengar itu, entah aku harus merasa kesal atau senang. Karena, jika "sedikit meleset" itu bergeser beberapa jengkal lagi, tentu aku yang gepeng terkena bola logam sebesar kepala.
Tembakan kedua atas prakarsa Yenz, berhasil menjebol dinding pembatas dok kering, yang memisahkan lubang besar tempat menaruh kapal, dengan lautan bebas. Membuat air asin dalam jumlah besar, secara sporadis masuk dan menerjang setengah dermaga dengan gelombang ganasnya. Menjelaskan, kenapa bisa sampai muncul air yang membuat lukaku bertambah sakit. Lagi-lagi itu disebabkan oleh Yenz, kan!
__ADS_1
Perlu diralat di sini adalah, Kapal Hitam kepunyaan Kapten Sando bukanlah seperti yang dikatakan Juan. Memang, profesi mereka adalah sebagai penyelundup, tetapi sama sekali bukan bajak laut yang pekerjaannya merompak.
Kapten Sando, sang pemilik sekaligus pemberi komando di kapal. Sekali waktu aku sempat melihatnya.
Dia orang yang berperawakan tinggi besar. Lebih besar dari Margo malah. Wajahnya banyak dipenuhi bekas luka sayatan benda tajam juga luka lainnya, dan saat membuka mulut pun, terlihat barisan gigi kuningnya sudah banyak yang tanggal. Cukup menjelaskan tentang kerasnya kehidupan di lautan.
Dialah yang membawa kami mengarungi samudra. Terhitung sudah sepekan, dengan di lima hari awal, adalah masa pemulihan penuhku.
Akhirnya benar-benar pelayaran. Sesuai dengan judul buku, "Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang." Dan, itu baru dimulai di bab ini, bab ke dua puluh lima, setelah sebelumnya harus berpetualang di gurun, yang memberikanku banyak masalah!
Berani bertaruh, alasan penulis melakukan itu, agar ceritanya semakin panjang, sehingga dapat tembus target tulisan.
Sialan memang! Karena nafsu keserakahan si penulis, aku yang malah menjadi korbannya!
Bosan berada di dalam kamar sempit, dengan ranjang dari susunan peti kayu beralas tipis, aku berusaha beranjak. Tidak bisa langsung berdiri, karena kepala ini terasa nyeri berikut pusing, ditambah berkunang-kunangnya pandangan mata. Efek kelamaan berbaring dan kondisi diri yang belum benar-benar pulih.
Sejenak aku duduk di tepi ranjang dengan mata terpejam. Teringat mimpi beberapa hari belakangan, tentang Margo dan Juan, atau mungkin lebih tepatnya ingatan masa lalu om-om berbulu ini. Saat dulu masih unyu-unyu.
Sebagaimana umumnya bocah yang senang bermain dan bertualang. Margo dan Juan, sangat akrab, juga selalu saling berbagi, dalam setiap kesempatan.
Juan awalnya adalah anak yang pemurung dan sombong, juga suka menyendiri. Begitu pikiran Margo kecil saat itu. Sampai di suatu hari dia melihatku menembak sasaran menggunakan ketapel.
Dari situ kami mulai akrab. Aku membuatkannya ketapel, dan bersama-sama bermain menjadi penegak hukum. Terkadang juga berlomba, dengan cara menghitung bergantian, lalu adu cepat, siapa yang paling banyak menjatuhkan sasaran.
Ya, hampir sama caranya, seperti waktu kami adu senjata di dermaga.
Semua berjalan lancar, dengan kami yang bercita-cita sebagai petugas hukum. Seperti ayahku yang saat itu berpangkat kapten.
Sampai di usia kami menginjak masa remaja. Waktu di mana perang dunia dimulai. Saat satu dunia geger oleh ledakan medan laga saling bantai. Fase di mana kami seharusnys meneruskan petualangan indah, di lembaran baru sebagai remaja, tetapi justru dipaksa menderita di tengah medan peperangan dunia.
Aku dan Juan sekeluarga, berusaha bertahan hidup di gejolak yang seringnya tak berprikemanusiaan. Mengungsi dari satu tempat ke tempat lain, demi mencari aman, dengan diiringi banyak kesusahan. Bertahun-tahun dikejar kengerian.
Di tahun keempat peperangan, Kota kecil tempat kami mengungsi, digempur pihak lawan dan hancur.
Ayahku dan kedua orang tua Juan, mati saat bersama warga lain, berusaha menahan serangan itu. Demi kami bisa lari sembunyi dan selamat dari kebengisan peperangan.
Berhari-hari tinggal di dalam goa yang gelap. Dipenuhi atmosfer ketakutan bercampur kesedihan. Sampai sepekan, kami baru bisa keluar, saat pasukan Vajal merebut balik wilayah jajahan.
__ADS_1
Juan yang paling terpukul atas kejadian tersebut. Kedua orangtuanya mati diberondong peluru pasukan lawan.
Masih kuingat kobaran api dendam di mata coklatnya. Membuat dia terdorong tanpa bisa dibendung lagi, mendaftarkan diri sebagai relawan. Prajurit perang yang angkat senjata di medan laga.
Di situlah kami berpisah. Aku dan ibu melanjutkan pelarian, dengan dirinya yang selalu memberi peringatan, agar aku tidak bergabung ke dalam gejolak peperangan. Karena baginya, peristiwa besar itu adalah tragedi, yang dipicu dan ditunggangi oleh setan.
Walau begitu, bukan berarti aku tidak ikut mengangkat senjata. Demi mempertahankan hidup di tengah krisis, beberapa kali revolver tua warisan ayah, terpaksa aku gunakan. Tetapi, kebanyakan hanya untuk menakuti orang yang bertindak macam-macam. Tidak lebih.
Singkat cerita, perang berakhir. Kami memulai kehidupan baru, dalam sebuah rumah, di atas lahan kosong pinggiran kota.
Bekerja menjadi buruh pabrik, sambil membantu ibu mengurus peternakan kecilnya. Begitu damai, sehingga aku merasa cukup dengan itu semua.
Sudah lama aku melupakan soal cita-cita untuk menjadi petugas. Akan tetapi, diriku masih rutin latihan menembak di dalam hutan. Semata demi mengenang lagi masa lalu bersama sahabat lama.
Jalan hidupku berbeda dengan Juan, yang memilih meneruskan mimpinya. Menjadi seorang petugas berprestasi, yang di usia terbilang muda, sudah bisa mencapai pangkat mayor.
Begitu yang aku tahu, saat kami bertemu kembali setelah belasan tahun terpisah. Waktu dirinya dipindahtugaskan ke kota tempat aku dan ibu menetap.
Akan tetapi, pertemuan kami setelah sekian lama, bukanlah sebuah reuni yang mengharu biru. Dia datang dengan mandat dari Gubernur Rose, untuk menggusur komplek hunian di pinggir kota.
Aku dan warga lain, berusaha bertahan. Mencoba berbicara kepada Juan, yang malah diberikan hardikan kasar. Dirinya seakan tidak pernah mengenal diriku. Bahkan, saat itu hanya kulihat kebekuan yang kejam di kedua matanya.
Empat bulan usaha kami kerahkan, untuk mempertahankan hak atas tempat tinggal dan penghidupan. Diserang oleh banyak teror dan ketakutan dari sang gubernur baru, demi menciptakan tekanan kepada warga, agar segera hengkang dari tanah sengketa.
Satu per satu penduduk pergi dan menyerah. Tidak kuat setiap hari dipaksa kasar, oleh petugas dan orang suruhan, untuk menjual huniannya dengan harga murah.
Di usia ibu yang sudah sepuh, hal itu ternyata sangat menekan mental dan kesehatannya. Beliau meninggal dunia terkena penyakit jantung, setelah kunjungan tak beradab para penuntut biadab.
Dari sanalah, muncul dendam di sanubariku, kepada sang Pejabat Tak Berhati. Begitu pula teruntuk Juan, yang tiada lagi menganggap kami--aku dan ibu. Berujung pada rencanaku, untuk membakar kediaman Gubernur Rose, sebagai bentuk perlawanan dan balasan atas kesewenang-wenangannya.
Begitulah rangkuman hidup Margo, yang sukses membawanya sampai ke sini. Seorang pengecut yang hanya bisa berlari, tanpa dapat berpaling lagi. Menuju arah tujuan tak tentu, yang entah akan menuju ke mana.
Kepikiran jadinya aku tentang nasib Juan. Bukan apa-apa. Sejujurnya, walaupun menyimpan dendam, tetapi bagi Margo, dia tetaplah teman yang sudah seperti saudara kandung sendiri.
Tak tahu akan seperti apa cerita ini berlanjut. Biarlah, lagi pula tidak ada gunanya juga memikirkan itu. Aku lebih baik keluar dari ruangan sumpek ini, dan mencoba mencari udara segar. Menghilangkan bosan yang sudah mengakar.
Siapa tahu juga, aku bisa bertemu putri duyung. Berharap sih, toh ini di dalam dunia buku ajaib, kan.
__ADS_1