Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 17-2] Dari Oasis Menuju Lapalasa


__ADS_3

Boleh aku memaki?


Kalau boleh, ingin aku semprot si kurang ajar itu! Iya, si Yenz.


Bagaimana tidak kesal. Dia seenaknya menyiram mukaku yang sedang terlelap. Membuat gelagapan, hingga aku mengira sedang tenggelam di oasis, karena mengalami tidur berjalan.


Sudah begitu, bukannya meminta maaf, dia malah tertawa terpingkal-pingkal. Mengesalkan!


Di pagi buta gurun yang dingin, dengan tubuh bagian atas basah kuyup, tentu saja membuatku menggigil. Untungnya, Tuan Lapo berbaik hati memberikan segelas teh hangat, dan sepiring tumis daging kadal yang enak.


Setelah selesai kami sarapan dan bersiap, termasuk membereskan semua sisa berkemah semalam, walau dengan hati yang masih mendongkol, aku bersama Tuan Lapo dan si brengsek Yenz, pergi dari sana. Melanjutkan perjalanan ke Kota Lapalasa, yang tidak lagi jauh.


Kalimat "Tidak lagi jauh" yang diucapkan oleh Tuan Lapo, ternyata tidak seperti harapanku. Dua jam kami berjalan, dari mulai matahari terbit, dengan sekali istirahat, tetapi ternyata baru setengah perjalanan tertempuh.


Mungkin maksud Tuan Lapo, "Tidak jauh lagi jika pakai mobil, dan bukannya menggunakan kuda." Begitu pasti.


Selama perjalanan, aku tidak berbicara dengan Yenz, walau aku diboncenginya menggunakan kuda coklat. Masih kesal dengan keusilannya pagi tadi.


Bukan karena aku baperan orangnya, tetapi lebih disebabkan kelakuannya itu membuatku teringat dengan ibu. Ya, caranya membangunkanku, persis seperti yang ibu lakukan belum lama ini.


Memang sih, kalau menurut ucapan Wanara, waktu di dunia ini bergerak lebih cepat dari dunia asal kami. Tetapi tetap saja, aku sudah berhari-hari berada di sini, tanpa tahu arah tujuan sebenarnya yang harus diambil. Aku rindu ibu.


Bagai meledekku, tiba-tiba saja Yenz tertawa. Tapi, tidak mungkin, kan, dia bisa membaca pikiran.


"Kenapa kau tertawa?" tanyaku.


"Tidak apa-apa. Aku hanya teringat sewaktu kita berboncengan satu kuda seperti ini. Di gurun, setelah lolos dari sekapan Borex. Kau merengut terus sepanjang perjalanan. Persis seperti sekarang." Yenz terkikik.


"Sialan! Dasar orang menyebalkan!" makiku.


"Kau saja yang terlalu perasa," balas Yenz. Enteng.


Memang mengesalkan pria berbibir ranum itu. Tetapi jujur saja, tanpa dirinya, mungkin perjalananku sudah tamat semenjak awal.


Sesaat aku teringat lagi soal pertanyaan yang belum dijawab olehnya. Tentang hal ganjil di Kota Jarless, yang urung dia lanjutkan karena kedatangan Tuan Lapo. Aku penasaran, walau kejadian itu sudah lewat di belakang.

__ADS_1


"Yenz. Ingat soal hal ganjil, yang tidak jadi kau katakan saat kita di motel?"


Yenz terdiam sesaat sebelum mengatakan, "Ya. Memang kenapa?"


"Apa sebenarnya hal ganjil yang kau maksud?"


"Astaga! Kau masih tidak sadar sampai sekarang? Gunakan otakmu, Marg!"


Orang ini, kapan sih bisa menjaga bibirnya! Suka sekali bikin orang kesal.


"Kau mau jawab atau tidak, hah!?"


Yenz tertawa begitu lepas. Puas melihatku kesal. "Jadi begini, Marg. Dari awal kita memasuki tempat itu saja, seharusnya kau sudah curiga. Sebuah kota di tempat terpencil, hanya diisi oleh lelaki urakan, dengan kondisi yang sangat menyedihkan dan tak terawat. Menurutmu bagaimana?"


Aku mengerutkan dahi. Berusaha berpikir demi menyambungkan petunjuk dari Yenz.


"Di sana tidak ada perempuannya. Begitu?"


Yenz menghela napas mendengar jawabanku.


"Oh ayolah. Katakan saja sejelas-jelasnya, jangan malah dibuat berputar-putar."


"Ok. Dengarkan baik-baik! Pertama, untuk kota terpencil macam Jarless, seharusnya memiliki penduduk dengan sifat komunal. Saling bergantung satu sama lain, dan membentuk peraturan yang disetujui bersama. Karena tanpa itu, kota dengan bangunan terstruktur dan tertib, tidak mungkin bisa terbangun. Ingatkan, bagaimana Jarless tersusun? Tidak mungkin dapat dibuat oleh sebelas orang serampangan seperti mereka. Paling hanya sebuah gubuk reot yang ada di sana, jika benar para begundal itu yang membuatnya."


Aku mengangguk kecil. Setuju dengan apa yang dikatakan Yenz.


"Kedua. Selain penginapan dan tempat ibadah, bangunan yang ada di sana, dibuat dengan ukuran lebih besar dari ukuran hunian normal, yang hanya ditempati satu orang atau keluarga saja. Walau belum pernah melihat ke dalamnya, aku yakin, bangunan itu dihuni oleh sekumpulan warga. Tetapi, dari yang kita lihat, hanya ada sebelas orang tidak bertanggungjawab tinggal di sana."


Aku makin tertarik dengan penjabaran Yenz.


"Ketiga. Untuk sebuah kota yang dibangun bersama, tempat itu sama sekali tidak terawat. Secara akal sehat, sangat amat tidak mungkin, bagi penduduk yang telah bersusah payah membangun kotanya, akan menelantarkannya begitu saja. Kecuali ada kejadian besar yang telah menimpa."


Aku tidak bisa membantah analisa Yenz.


"Keempat. Jika kita berpikir menggunakan nalar umum, kota dengan penghuni di dalamnya, tidak mungkin hanya mengandalkan sebuah motel saja sebagai pendapatan. Apa lagi tempat itu berada di daerah yang terpencil. Akan sangat susah mendapat pelancong sebagai tamu. Pasti ada pekerjaan lain seperti pedagang, berkebun, atau mungkin berternak, untuk dapat mencukupi kebutuhan kota dan orang di dalamnya. Akan tetapi para anak buah Twisky, hanya berleha-leha sepanjang hari, tanpa sedikitpun melakukan pekerjaan."

__ADS_1


Kalau aku ingat-ingat memang ada benarnya juga.


"Terakhir. Tuan Lapo yang berbeda dari mereka semua, berikut ketakutannya saat berhadapan dengan Twisky, dan kondisi dalam motel yang sangat berbanding terbalik dengan keseluruhan isi kota. Itu saja sebenarnya cukup untuk menimbulkan kecurigaan, kalau ada yang salah di kota Jarless."


Aku ber-oh pelan sambil mengangguk. Mengerti sekarang dengan maksud ganjil yang dikatakan Yenz, dan mungkin juga sama pengertiannya dengan ganjil yang dikatakan Tuan Lapo, sewaktu aku menyangkanya sebagai hantu penghuni motel.


"Kau hebat bisa menganalisis dan tahu hal seperti itu. Tidak kusangka kau ternyata pintar juga."


"Bukannya aku pintar. Orang yang mau memakai otaknya, pasti sejak awal akan curiga saat memasuki kota itu."


Iya juga sih. Memang kota Jarless sudah mencurigakan, dari sejak pertama kali kami memasukinya. Tapi ... tunggu sebentar!


"Perkataanmu tadi soal ’pakai otak’ itu kau tujukan kepadaku, hah!? Kurang ajar sekali kau!"


Yenz terkekeh pelan. "Kau hanya terlalu perasa, Kawan. Yah, walaupun dirimu memang seharusnya mulai belajar berpikir lebih cermat."


Itu namanya penghinaan terselubung! Memang kurang ajar si lambe kemayu ini!


Dari situ aku mulai adu mulut, yang ujung-ujungnya malah membuat kami bergelut, hingga membuat si coklat meringkik kesal.


"Cukup! Kau lupa, terakhir kali seperti ini, kita terjatuh dari atas kuda," ucap Yenz, saat lehernya berhasil aku piting.


Bisa-bisanya dia beralasan. Padahal aku yakin itu hanya caranya agar bisa lepas dari kuncianku. Tapi maaf saja, tidak akan aku lepaskan sampai dia meminta maaf.


"Cukup bercandanya, Tuan-tuan. Lapalasa sudah ada di depan mata. Berbenahlah, dan pastikan wajah kalian tidak terlihat. Ada banyak petugas yang berpatroli di kota dagang besar negara Vajal itu."


Dari kejauhan. Aku menatap berbinar kota yang dikelilingi tembok putih itu. Sayup-sayup dapat terdengar suara camar, dan debur ombak. Sebuah kota pelabuhan sekaligus perdagangan, yang banyak disinggahi oleh kapal juga orang, dari berbagai negara dan pulau seberang.


"Bisa kau lepas sekarang kuncianmu di leherku ini?" tanya Yenz. "Bau ketekmu membuat hidungku tersiksa!"


Dasar lambe kemayu! Bukannya mengiba memohon maaf, ini malah lanjut menghina!


Kami kembali bergelut, sampai akhirnya, si Coklat yang mungkin sudah kesal--karena punggungnya dijadikan arena pertengkaran--melonjak keras sambil meringkik. Kembali kita berdua jatuh dari tunggangan hewan tak berbudi itu.


Kami kesakitan, si Coklat kurang ajar melenggang terus tak acuh, dan Tuan Lapo malah tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Sial memang!


__ADS_2