
Tanpa ada yang menyadari, aku menyelinap melewati pagar balok kayu berjung runcing. Sulit melewati barikade berlapis itu, apalagi semuanya dipasang mati dengan memendam bagian bawahnya di tanah.
Untung badan Sam termasuk atletis, sehingga aku bisa melompati balok yang diikat kuat bersilangan itu. Walau agak ngeri juga melihat ujungnya yang runcing tepat berada di depan mukaku.
Lepas dari barikade berlapis itu, aku berlari kecil ditemani Shege dan Woofy. Menerobos reruntuhan kota yang hanya diterangi sisa selengkungan cahaya rembulan. Tidak banyak membantu. Beberapa kali aku tersandung dan hampir saja terjatuh.
Perjalanan pendek malam hari ini aku lakukan, semata-mata demi mencari tempat yang tersembunyi. Sebisa mungkin jauh dari perhatian orang-orang yang berkumpul di istana. Maksudku, agar mereka tidak panik melihat Shege dan Woofy berubah wujud. Takutnya, para warga dan pejuang akan menyangka, aku melakukan hal itu karena ada bahaya yang datang.
Semua ini sebenarnya didorong rasa penasaran setelah mendengar jawaban Kord. Ada yang ingin aku pastikan dan gali lebih dalam lagi. Tentang rasa yang aku dapatkan saat menunggangi mereka. Ditambah prilaku ajaib Woofy saat di istal tadi.
Sampailah kami di sebuah tempat berbidang luas, dengan beberapa tembok rumah masih berdiri di sekitarnya. Rusak, tetapi setidaknya sanggup menutupi keberadaan kami di sini. Menghalangi pandangan mata orang-orang dari fenomena gaib saat perubahan, berikut sosok raksasa keduanya setelah itu.
"Berubahlah kalian, tetapi lakukan dengan tenang," pintaku, kepada mereka berdua yang berdiri di hadapan.
Keduanya merespon baik perintah yang aku berikan. Hanya dalam hitungan detik, tubuh mereka bertransformasi menjadi gumpalan bulu berpendar, dan pusaran angin dengan helaian merah berpusing di dalamnya. Untuk akhirnya, berganti menjadi sosok serigala perak raksasa, dan naga bersisik merah delima. Semua dilakukan tanpa membuat kebisingan berarti.
Mereka bergerak perlahan mendekatiku. Menyodorkan kepalanya saat kedua tanganku terangkat. Mengarah maju demi dapat saling bersentuhan.
Di tangan kiri aku merasakan lembutnya helaian bulu yang menggelitik, di telapak kanan aku menyentuh bertumpuk-tumpuk sisik yang licin. Namun, kedunya sama-sama merembeskan ketenangan yang hangat. Menelusup melewati pori-pori.
Terus aku meresapi semua itu. Membiarkannya menyebar jauh lebih dalam lagi. Memasrahkannya membuka setiap sekat dan rongga yang ada di tubuh. Merasuk ke tiap kerut otak, juga bercampur bersama partikel darah dan oksigen yang terpompa. Membiarkan rasa itu sepenuhnya menyatu denganku.
Selentingan. Aku merasakan hentakan yang berasal dari dalam diri. Tarikan yang akhirnya mempertemukan jiwa kami. Aku dan mereka, para wadah haswa.
Aku merasakan juntaian menggelayut yang menghalangi terpaan angin malam langsung ke kulit. Dan, aku pun mendapati rongga dalam tubuh yang menggelegak hangat.
Sedetik kemudian aku sengaja memejamkan mata. Namun, yang kudapati bukanlah gelap. Panorama malam di sekitar yang terlihat. Satu sisi bagai penglihatan menggunakan kacamata infra merah, di sisi lain begitu terang, seakan ada nyala lampu sorot yang menerangi.
Sadar aku. Ternyata jiwa kami menyatu. Saling berbagi rasa dan kekuatan yang sama. Aku adalah Shege dan Woofy di saat bersamaan. Begitupun mereka.
Aku melepas sentuhan tangan di kepala keduanya. Tersenyum lebar menatapnya bergantian, sampai akhirnya aku tergelak penuh kepuasan. Menemukan easter egg--semacam rahasia tersembunyi--seperti ini benar-benar memberikan kepuasan tersendiri. Sebuah tambahan dari fitur yang terselip dan terlihat tidak terlalu penting. Namun, aku yakin, hal ini akan berarti besar di peperangan nanti.
Tubuhku limbung, karena kaki ini mulai gemetaran. Lemas menopang bobotku sediri. Terjatuh tanpa daya, yang untungnya, dengan sigap langsung ditadahi ekor panjang Woofy yang lembut. Membuatku tidak begitu saja terjerembab menghantam tanah berserakan banyak puing.
__ADS_1
Aku lemas, seperti telah mengeluarkan banyak tenaga. Mungkin efek dari penyatuan dengan mereka berdua secara bersamaan, ditambah kelelahan setelah di awal tadi banyak mengalami ketegangan, yang masih juga dilanjutkan evakuasi dan persiapan peperangan.
Ah, tidak perlu ambil pusing. Aku yakin dengan beristirahat sebentar, tenagaku akan pulih. Toh, dengan ini, kemungkinan menang kami akan semakin besar.
***
Malam baru sedetik terbenam. Semburat cahaya fajar, bandel menerobos barikade awan hitam dari timur cakrawala. Kami, segenap kekuatan tempur kerajaan Capitor, telah bersiap mengangkat senjata. Bersiaga di posisi yang sudah ditentukan. Menunggu kedelapan pilar yang sudah mulai redup itu untuk sirna. Akhir perlindungan yang diusahakan Artapatu. Tanda bagi kami untuk memulai pertempuran besar, penentu nasib benua ini.
Deru napas, dan detak jantung kami mengalun bersinergi. Bersamaan memompa semangat, hingga terasa terdengar jelas di telinga, bagai simfoni orkestra yang menggema dalam gedung teater luas.
"Kau siap, Pahlawan?" tanya Mog yang berdiri di sebelahku.
"Mau tidak mau," jawabku singkat. Memegang erat sebilah pedang dan sebuah tameng besi, yang entah diperlukan atau tidak.
"Hahaha ... santai saja, kami akan selalu mengiringimu dengan sekuat tenaga. Sampai tetes darah penghabisan ini, akan kami pastikan kau sampai ke singgasana sang penyihir," Mog sesumbar sambil menepuk dadanya yang dilapisi chain mail--zirah yang dibuat dari jalinan rantai kecil.
"Kau yakin hanya membawa pedang itu?" Aku mendelik menatap pedang tersarung yang tergantung di pinggang. Pedang yang kemarin dipakainya untuk melawan Arson. Satu-satunya senjata yang dia bawa.
"Sangat yakin. Bukan masalah jumlah senjata untuk memenangi pertempuran, tetapi keahlian dalam menggunakannnya. Satu pedang terbaik ini cukup, apalagi sudah diberkati oleh Tuan Artapatu." Mog menarik sejengkal pedangnya. Pendar cahaya putih memancar dari sana.
Yah, seperti Kord yang ditempatkan di bagian belakang. Mengenakan baju zirah yang penuh menutupi tubuhnya, berikut pedang dan tameng besar, yang dia genggam erat sedari awal. Tetapi aku berani bertaruh, senjata itu tidak akan benar-benar berguna di tangannya .
Ingatkan, kejadian mengesalkan saat di goa waktu itu?
Iseng aku menoleh untuk melihatnya. Di sana dia sedang mengobrol dengan Putri Asaru. Terlihat asik walau di balik helm besi itu wajahnya sudah deras dibanjiri keringat. Aku sedikit iri, karena dari sejak kami berkumpul di sini, gadis itu sama sekali tidak menyapaku. Malah terkesan menghindar. Entah kenapa, padahal aku merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya.
Waktu terus merayap pasti, tanpa menungguku menemukan jawaban atas sikap putri aneh itu. Membawa kami ke ujung gerbang peperangan besar, yang mulai mengayun terbuka.
Cahaya kedelapan pilar mulai menyusut. Arakan awan hitam yang dihiasi sambaran kilat mulai berani memasuki wilayah kota. Berarak merayap, berusaha menutupi sinar mentari yang masih redup memancar di ufuk.
"Bersiap!" Perintah dari masing-masing pimpinan pos terdengar bersahut-sahutan. Merambat melingkari istana, sebelum berakhir terdengar saat Mog di sebelahku turut pula meneriakkannya.
Woofy yang sejak tadi terus berdiri di sampingku, dengan Shege bertengger di kepalanya, mulai merendahkan posisi tubuhnya. Menekuk keempat kaki kecil dengan cakar mencuat sambil menggeram pelan. Tahu dia bahaya besar akan segera datang.
__ADS_1
"Growl!" Teriakan itu serentak terdengar di sekeliling kota. Suara penuh nafsu membunuh yang keluar dari moncong siluman kadal, bawahan Mitara.
Merinding kami mendengarnya. Menggedor keras nyali yang sudah para pejuang pupuk kuat sejak semalam. Hampir-hampir saja membuatnya rontok.
Delapan pilar cahaya akhirnya hilang tanpa jejak. Sekejap saja, kumpulan awan hitam mulai menutupi langit di atas kami. Sempurna menyelimuti seantero kerajaan Capitor dengan kegelapan. Hanya sambaran kilat di langit, dan cahaya obor di sekitar yang kini menjadi penerang di tengah kegelapan mencekam.
Pekik ngilu para kadal terlontar, bercampur dengan derap menggoncangkan daratan benua.
Dari kejauhan kami melihat bagaimana para siluman kadal seukuran manusia, mendobrak gerbang, hingga memanjat dan meloncati tembok kota. Melewati halangan tinggi itu tanpa kesulitan berarti.
Lebih mengerikan lagi, saat rombongan kadal bersayap, terbang bergerombol menyusul kawanannya di bawah. Kilat yang menyambar memantul di ujung tajam trisulanya. Terasa menusuk dengan gelegar menembus ulu hati.
Semua itu masih ditambah teror gerombolan kadal raksasa. Dengan sepasang pedang golok sebesar atap rumah, yang digesek dan diadu dengan sengaja. Menciptakan bunyi-bunyian sumbang, bagai suara gemeretuk malaikat kematian.
Blar!
Dinding kokoh yang telah menjaga Kota Capitor selama ratusan tahun akhirnya hancur. Luluh lantak dibebani massa ratusan siluman kadal berbaju besi, yang disusul sepakan kencang kaki raksasa bersisik hijau.
Semua terjadi saling susul menyusul di sekeliling kerajaan. Rebah semua susunan bebatuan cadas itu hingga menjadi kerikil berdebu. Dilumat kaki-kaki para penyerang haus darah tak berprikemanusiaan.
"Serangan datang!" teriak para pemanah di menara-menara, hingga balkon istana.
Para kadal itu masuk menyerbu ke dalam kota. Mereka menerjang dari segala arah, bagai sapuan bencana gelombang ombak tsunami. Meluluh-lantakkan bangunan yang menghalangi lajunya, hingga rebah tak bersisa. Terus bergerak maju menuju ke istana, tempat kami berada. Mencoba bertahan dengan seutas harapan tipis, yang dititipkan Artapatu kepadaku.
"Formasi!" Lagi perintah dari para pemimpin terdengar. Lapisan luar bergerak maju tiga langkah dengan senjata teracung. Terlihat wajah-wajah pias nan tegang di sana. Ekspresi campuran antara rasa takut dan geram membaur satu.
Aku yang berada di garis depan ikut bergerak maju. Melangkah lebih jauh dari mereka, bersama Woofy dan Shege, yang menjadi kekuatan utama kami. Umat manusia di Benua Suno.
"Di peperangan ini, mengamuklah sebuas kalian! Babat habis para kadal, dan usahakan jangan sampai ada yang mendekati pelataran istana. Kita menangkan bersama perang ini, sobatku!"
Woofy menggongong sambil menggoyangkan ekor tanpa menoleh--konsentrasi penuh kepada lawan yang akan tiba--sementara Shege terbang berkicau mengelilingiku, untuk akhirnya bertengger di pundak.
Kami bertiga diam menatap jauh ke depan. Mencoba tegar menyambut kedatangan pasukan musuh yang haus darah. Berusaha menancapkan pijakan agar tidak surut, walau kilat mata para kadal terlihat membara. Terbakar nafsu lapar pembantaian.
__ADS_1
Sekarang atau tidak sama sekali. Ini pertempuran penghabisan di dalam buku terkutuk pemberian Tama!
"Woofy, Shege!" Terselip harapan untuk kemenangan dalam pekikku.