Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 13-2] Yenz si Pembuat Ulah


__ADS_3

Sungguh nikmat! Bisa bangun kapanpun sesukanya, untuk kemudian buang air besar dan melanjutkannya dengan mandi koboi--asal jebur yang penting basah. Masa bodo walau airnya agak berbau tengik. Dari pada badan ini lengket berkerak, karena endapan keringat dan tumpukan daki. Hasil dari banyak kejadian gila kemarin.


Setelah itu, aku bergabung dengan Yenz, yang sudah sedari tadi menuntaskan santapannya di meja bundar lantai bawah. Menu yang disajikan tetap sama, tetapi harus aku akui, nikmatnya tidak berkurang sama sekali. Hanya minus di bau kotoran yang tertata apik sepanjang jalanan kota.


Selama makan, ada dorongan kuat untuk bertanya kepada Yenz, perihal kotak kayunya berikut kejadian semalam. Sangat besar keinginan itu. Tetapi, melihat dirinya yang sedang sibuk membaca peta, aku makin enggan melontarkan pertanyaan.


Sedikit tebakan. Alasan dia meminjam peta itu kemarin, pasti berhubungan dengan kotak kayu miliknya. Bisa jadi, titik cahaya yang semalam tadi menarik perhatian lelaki bermata hijau itu, adalah arah menuju tempat yang ingin didatanginya.


Jadi kepikiran, apa mungkin peti kayu itu adalah kompas ajaib, yang menunjuk langsung ke pulau Ngakak, tempat Wantis tersimpan? Ah, sepertinya tidak mungkin ya. Beda cerita juga kok.


Akan tetapi, seperti yang dia katakan kemarin. Buat apa juga aku tahu urusannya? Toh nanti kami akan berpisah jalan. Dia dengan kotak kayunya, dan aku demi misi mencari kebebasan bagi Margo, agar dapat segera keluar dari sini. Dunia buku ajaib penuh kesialan!


Tak perlu waktu lama, aku tuntas melahap bubur kental, roti keras, dan seekor kadal berdaging jusi. Tanpa sisa masuk ke dalam perut Margo, yang ternyata menonjol enam kotak. Bentuk perut yang sudah lama aku idam-idamkan sebagai Zacky.


Cukup lama aku terdiam memerhatikan Yenz mengutak-atik peta di atas meja. Tapi, semakin lama, rasa penasaran ini makin tidak bisa ditahan.


"Yenz, boleh aku bertanya?" ucapku, memecah keheningan.


Mata hijaunya bergerak melirikku. Beralih dari peta dan kompas di atas meja. "Tentang apa?"


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu turun ke bewok lebat, yang sepertinya ada satu atau dua perkemahan kutu di sana. Tak tahu lah.


"Begini ... soal semalam itu ...."


Yenz mengeluarkan desisan panjang, dari bibir merahnya yang ditempeli telunjuk. Menghentikan ucapanku, yang baru saja memulai kalimat pembuka.


"Apa yang aku lakukan semalam, tidak seperti yang kau pikirkan. Bukan sebuah perbuatan rendahan, tetapi ancang-ancang, jikalau terjadi sesuatu seperti yang kutakutkan," bisiknya, dengan tubuh dicondongkan ke dekatku.


Aku diam menatapnya tanpa kedip. Masih tidak mengerti apa yang dia maksud.


Ah ... sepertinya ada salah paham di sini. Mungkin dia mengira kalau aku mau bertanya soal dirinya, yang kupergoki tengah mengutil beberapa botol minuman keras, dari dalam gudang.


Ya, kejadian saat aku keluar dari kamar mandi itu.


Sebenarnya aku ingin menasehati dia terkait hal itu dari semalam, tetapi ternyata dia sudah terlebih dahulu tidur saat aku sampai di kamar. Telat, karena aku sebelumnya mencari tuan Lapo, untuk mengembalikan koin dan handuk kecilnya, tapi tidak ketemu.


Rencananya sih, aku mau menasehati dia hari ini. Tetapi lupa, dan malah lebih kepikiran soal kotak kayu misteriusnya.

__ADS_1


"Bagaimana pagi kalian, Tuan-tuan?" Tuan Twisky bergabung dengan kami di kursi kosong yang tersedia. Menghentikan niatku untuk meluruskan kesalahpahaman tadi.


"Oh ... sempurna, Tuan. Aku sungguh berterima kasih atas kebaikan yang kau berikan." Aku tersenyum lebar membalas tatapannya.


Tuan Twisky tertawa keras sambil menepuk-nepuk pundakku. Agak mengesalkan sebenarnya, karena mungkin tanpa sadar dia mengeluarkan tenaga berlebih saat melakukannya. Sakit bercampur panas, membekas di bekas tabokan beruntun itu.


Tapi, yah ... aku pikir sih, mungkin itu caranya untuk berlaku akrab, jadi tidak terlalu masalah.


"Tidak usah dipikirkan. Kalian nikmati saja semua yang ada di sini. Anggap saja rumah sendiri. Karena bagiku kalian adalah tamu kehormatan, yang sudah sepantasnya mendapatkan pelayanan terbaik."


Aku tersenyum lebar mendengarnya. Merasa beruntung karena telah bertemu orang baik seperti Tuan Siderun Twisky.


"Terima kasih atas keramahan dan kebaikanmu, Tuan. Kalau boleh, bisakah engkau beritahu jalur aman menuju kota Lapalasa? Seperti yang kau bilang kemarin." Yenz mengembangkan senyum dingin.


Sesaat hening. Lengkung riang di atas dagu petak itu menghilang sesenti. Sepertinya perkataan Yenz, menyinggung Tuan Twisky.


"Kenapa terburu-buru, Tuan? Apakah pelayanan di penginapan ini kurang berkenan? Biar aku beri tahu si Tua Lapo nanti, kalau ada sesuatu yang engkau inginkan." Suara Tuan Twisky agak berat tertahan.


Yenz menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak, Tuan. Jujur, tempat ini sangat memuaskan. Hanya saja, saat ini saya sedang melakukan perjalanan, dan berniat secepatnya sampai di sana."


Tuan Twisky menepuk pundak Yenz sambil tertawa. Seperti yang dia lakukan kepadaku tadi. Agak kasihan sekaligus lucu, melihat si pirang itu meringis dengan tubuh tersentak. Aku yakin di punggungnya sudah tercetak cap telapak tangan yang besar.


"Terima kasih banyak. Tapi maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini, Tuan Twisky. Percayalah, dalam perjalanan nanti, akan aku promosikan kota Jarless ini kepada orang-orang, agar lebih banyak lagi tamu yang datang."


Ucapan dan nada suara Yenz berbanding jauh. Walau kata-katanya termasuk sopan, tapi nada suaranya berisi tekanan, yang seakan memprovokasi lawan bicara. Bahkan dia sengaja berbaku tatap dengan Tuan Twisky, menggunakan mata terpicing tajam.


Runyam sudah! Si pirang sialan itu, kenapa tidak terima saja sih tawaran Tuan Twisky. Tidak ada ruginya kan? Lagi pula hanya perkara sehari atau dua hari, tentu perjalananya tidak mungkin akan terganggu.


Senyum pria itu semakin pudar. Hanya menyisakan seinci garis lengkungan di sebelah bibirnya.


"Baiklah jika itu mau Anda, Tuan. Tapi aku harap kau mampu membayar tagihan satu juta Dem, untuk penyelamatan di gurun dari kadal karnivora, biaya penginapan, makan, minum, air, bahkan sewa peta yang kau pinjam itu. Oh, tidak lupa, beberapa botol tuak yang sudah kau curi dari gudang."


Aku kaget mendengar ucapannya itu. Ok lah kalau masalah tuak yang dicuri Yenz. Tetapi apa masuk akal, sebegitu besarnya biaya yang dia tagihkan, untuk menginap hanya satu hari. Di kota bobrok bau pesing ini.


Kini di sebelahku, tidak ada lagi pria ramah berhati emas, bak pahlawan super tanpa kostum spandex, yang dia tunjukkan dari kemarin. Semua terasa bagai sebuah sandiwara pepesan kosong. Sekarang dirinya malah terlihat seperti baji*ngan tukang peras tak berakhlak.


"Akhirnya kau menunjukkan wujudmu yang sebenarnya. Seperti dugaanku sedari kemarin. Saat memasuki kota bobrok ini." Dengan tenang, Yenz melipat kembali peta yang ada di meja. "Sayangnya, aku tidak punya uang sebanyak itu, Tuan Siderun Twisky, jadi apa yang bisa kau perbuat? Membunuh aku dan Margo, atau menjadikan kami budak di penginapan busuk ini, seperti Tuan Lapo Hadak?"

__ADS_1


Meja bundar di hadapanku melonjak, saat genggaman Tuan Twisky menangkap pergelangan tangan Yenz, yang hendak memasukkan peta ke dalam tas.


"Tahan tanganmu tetap di meja, Tuan. Aku tahu pasti apa yang mau kau lakukan." Yenz mendecap kesal. "Tenangkan dirimu, aku tidak mau melukai lumbung uang sepertimu. Ya, awalnya aku berencana menjual kalian di pasar budak. Dengan wajah tampanmu itu, tentu harga delapan ratus Dem, akan banyak yang berminat. Tetapi, ternyata aku akhirnya tahu, kalau bisa mendapatkan lebih dari itu. Dua orang buronan bernilai besar ternyata telah datang ke kota tercintaku ini. Kau yang dihargai satu juta lima ratus dem, dan si brewok idiot itu dengan nilai enam ratus ribu dem. Lebih besar nilainya dari sekadar menjual kalian di pasar gelap, yang untung-untung bisa menghasilkan sembilan ratus ribu dem."


Perasaanku campur aduk antara marah dan terkejut.


Terkejut karena mengetahui cowok langsing berwajah cantik itu adalah seorang buronan bernilai besar--lebih dari Margo yang sudah membakar rumah seorang bangsawan--padahal tidak terlihat kalau dirinya punya perangai bengis.


Mungkin nilai segitu dia bisa dapatkan, karena sempat menjadi anggota komplotan Bandit Gurun Borex. Tebakku.


Lain lagi marahnya aku, yang terpicu, bukan hanya disebabkan rasa sakit hati karena sudah ditipu, tetapi juga perkara dia mengatai idiot, dan hargaku di pasar gelap yang hanya seratus ribu dem!


Sialan memang orang itu!


Aku menggebrak meja, dan berdiri dengan sikap menantang. Melotot menatap Twisky, yang menoleh kaget ke arahku.


"Lepaskan tangamu dari temanku, Cambang sialan!" semprotku. Menumpahkan kekesalan.


"*******, kau! Hei!"


Makiannya itu ternyata menjadi kode pula, yang memanggil tujuh orang lelaki masuk. Mereka mengelilingi kami, dengan senjata terkokang siap ditembakkan. Kepadaku dan Yenz.


Lemas lutut ini melihat kondisi kami sekarang. Bagai berada di dalam sarang buaya lapar, dan siap dicaplok tanpa belas kasihan, demi memuaskan nafsu kelaparan mereka yang biadab.


"Aku paling tidak suka ada yang menghina cambang kebanggaanku ini!"


Selintasan. Telapak tangan besar mengayun kencang. Menghantam pipi kiriku. Serangan mendadak itu kontan membuat aku tersungkur di atas meja. Membubarkan kumpulan piring kotor yang ada di sana. Sebagian besar terpelanting keras ke lantai.


"Sudah saatnya aku beristirahat. Kalian ikat dan taruh mereka di dalam rumah ibadah. Jaga mereka sampai ketiga teman kalian datang, bersama para petugas, yang membawa uang hadiahnya." Twisky sialan itu tanpa rasa bersalah hendak melangkah pergi. Ringan tanpa beban.


Sekarang emosiku benar-benar sudah tidak tertahankan lagi.


Tak peduli walau kepala masih pusing karena tamparan tadi, aku berdiri dengan sebelah tangan bertumpu di meja. Menarik panjang napas, lalu berkata dengan suara lantang, "Sialan! Jangan kabur kau dagu petak pengecut!" makiku dengan seluruh kemarahan dan kedongkolan di hati.


Dia berbalik, dan menatapku nanar. Mendekat sampai dada kami saling berbaku himpit. Begitu dekat, hingga bisa kurasakan hembusan napas baunya saat berbicara, "Apa katamu? Pengecut? Siapa yang pengecut, Sialan!"


Aku menelan ludah berat. Takut. Akan tetapi, entah dari mana datangnya dorongan itu, sampai aku berani berkata, "Y-ya ... ka-kau itu pengecut! Tidak akan be-berani, kan, duel melawanku!"

__ADS_1


Di titik inilah aku merasakan sesal yang teramat sangat. Jelas hanya kematian yang akan aku dapatkan dari ucapan itu. Di ruangan ini, dengan menggunakan berondongan peluru anak buahnya, atau nanti kalau duel kami benar-benar terjadi.


__ADS_2