Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
Prolog 2


__ADS_3

Derap kuda dipacu dengan pecut keras dari tali kekang yang terpasang erat. Berulang kali, demi melejitkan kecepatan tunggangan, bermotorkan empat kaki kokoh bertapal besi.


Menerobos tirai dingin angin malam, yang di titik awal peristiwa, berbaku tindih dengan kalor tinggi dari kobaran besar. Membumbung merah membara. Gelora jilatan lidah api tanpa ampun, yang melahap rumah megah bertingkat dua. Sebuah istana bangsawan yang perlahan-lahan luruh keangkuhannya. Secara pasti meranggas jadi debu tanpa harga.


Berjarak jauh dari kobaran api. Desing peluru bersahut-sahutan, dari sekumpulan pria berkuda, dengan pakaian seragam berwarna biru tua--tersemat tanda pangkat di pundaknya. Menargetkan sosok berponco coklat lusuh--pakaian seperti mantel yang hanya memiliki satu lubang untuk memasukkan kepala--dengan syal merah terlilit longgar menutupi setengah bagian muka.


Sang buronan yang diburu, begitu lincah mengendalikan tunggangannya. Bergerak menghentak, mengubah lajur yang diambil seketika saja.


Melewati pepohonan pinus berbatang besar, demi mengecoh para pengejar. Membuat bidikan bermodal keberuntungan mereka semakin kacau. Tak terarah ke mana timah panas dilontarkan.


Sungguh sangat sulit melepaskan tembakan, di atas punggung kuda yang berguncang keras. Ditambah lagi dalam kondisi malam mati, tanpa adanya bantuan pencahayaan sinar rembulan.


Namun, semua itu seakan tidak berarti bagi sang buronan. Dengan hanya sekilas lirikan tepi mata, dia mengangkat revolver melewati pundak.


Dia menekan pelatuknya beruntun, yang membuat ujung palu senjata, dua kali menghantam cepat primer selongsong. Menyulut mesiu, yang mendorong kencang proyektil berbahan timah, dengan ledakan membahana.


Dua penunggang berseragam terjengkang, karena terjangan telak peluru di pundak dan sisi perut. Memberikan efek domino terhadap tiga petugas lain di belakangnya. Menjungkalkan mereka, berikut kuda yang ditunggangi.

__ADS_1


Tersisa tiga petugas lagi mengejar buruan. Geram melecuti kudanya. Bernafsu besar meringkus buronan, yang baru saja melakukan kejahatan besar.


Tembakan kembali terdengar dari senjata aparat berseragam biru. Menanggapi serangan yang tertuju kepadanya, sang buronan bukannya menambah kecepatan, malah justru melambatkan laju tunggangannya.


Bukan tanpa alasan dia melakukan hal tersebut, karena baginya yang sudah bertahun-tahun hidup di daerah itu, telah mahfuz betul dirinya dengan medan yang sedang dijelajahi.


Di ujung hutan pinus itu. Dia mendadak berbelok dengan tarikan kuat di satu sisi kekang si tunggangan.


Naas bagi para abdi hukum. Bukan hanya peluru mereka yang meleset dari sasaran, tetapi ketiganya juga gagal menahan laju kuda, di sekian detik saat sadar, kalau selepas hutan pinus itu terbentang aliran sungai lebar.


Tercebur mereka secara bersamaan di arus deras beralaskan bebatuan kerikil, yang untungnya masih dapat diatasi, tanpa terseret menuju air terjun tinggi di ujung aliran. Ketiganya berhasil berpegangan di bebatuan pinggir sungai.


Begitu lihai tanpa keraguan. Mengarahkan moncong senjata laras panjang, dengan kedua tangan tiada goyah, sementara kuda tetap melaju kencang menjalarkan guncangan. Membidik sang buronan, yang akhirnya tersadar, saat sedetik sebelum pelatuk ditekan pasti.


Menggema suara letusan, yang mendorong peluru untuk meluncur lurus memuntir udara. Cepat dan akurat menerjang pundak sang buronan, sehingga dia terjungkal dari sadel. Terpelanting lepas, lalu terjun bebas memasuki arus deras sungai berhujung jeram tinggi.


Sang mayor tersenyum puas melihat tembakannya berhasil menumbangkan buruan.

__ADS_1


Seringai bagai seekor serigala buas di wajah tirusnya, seketika padam saat bawahannya--tak berselang lama datang menghampiri--membisikkan sebuah kabar.


Ditariknya kekang kuda demi berbalik arah dan melaju menembus hutan pinus.


Dipacunya kencang tunggangan bertapal besi itu. Bagai orang kesetanan menerobos semak belukar, melompati halang rintang pepohonan tumbang, dan berkelit tak berselang jauh dari rapatnya apitan pepohonan.


Semua dilakukan tanpa ada niat sedikitpun mengurangi kecepatan. Menjelaskan bagaimana lihainya dia, memacu kuda di medan penuh halang rintang. Tidak jauh berbeda keahliaannya dari sang buronan.


Sampai dia bersama serombongan petugas berkuda lain, yang menyusul di belakang--terlihat bersusah mengejarnya. Berhenti di depan kediaman yang dahulunya kokoh menjulang angkuh. Berlantai marmer dan berdinding granit, dengan tiang-tiang besar dari kayu oak tua berumur ratusan tahun. Hunian mahal milik bangsawan besar, yang kini perlahan reras oleh si jago merah.


Di halaman rumah itu, berselang jauh dari sumber api yang membara. Dikelilingi para pelayan berjumlah puluhan--yang sibuk melakukan hal percuma dengan coba memadamkan api, menggunakan berember-ember air secara estafet--seorang pria gendut, bersama istri dan tiga anaknya--kesemuanya mengenakan pakaian tidur berbahan sutra--meraung-raung sedih, meratapi bangunan beserta isinya, yang selama ini mereka bangga-banggakan, musnah sudah tanpa harapan bisa diselamatkan.


Si pria gendut menoleh, begitu mendengar ketukan tapal kuda mendekat. Nanar matanya yang dibingkai ekspresi murka, terarah kepada mayor muda yang baru saja turun dari pelana.


Satu laporan terucap dari petugas bertulang pipi menonjol tersebut, demi menjawab pertanyaan sang bangsawan. Bukan pujian yang didapatnya, malah bentakan berhias makian yang diberikan.


"Aku tidak mau tahu! Kau temukan bangkai baji*ngan itu! Atau kubuat kau menjadi petugas kebersihan di selokan kota!"

__ADS_1


Sang mayor berbalik dengan dengkus keras bermuatan emosi membara. Sepanas kobaran api di belakangnya. Menyemburkan perintah kepada bawahan, untuk bergegas mencari tubuh sang buronan. Sebuah perintah, yang tanpa dia ketahui akan membuka gerbang menuju petualangan besar penuh mara bahaya.


__ADS_2