Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 20-2] Perang Dingin Bawah Tanah


__ADS_3

Kami tidak saling bicara lagi, setelah bertengkar perkara kotak kayu sialan itu, yang untungnya berakhir tanpa adanya kekerasan. Baik fisik ataupun verbal.


Aku menjauh darinya setelah kepergian Leo si Jamet. Mengambil makanan di nampan yang ditinggalkan, lalu mandi setelah usai bersantap.


Tidak ada lagi sapaan, atau sekadar obrolan kecil di antara kami berdua. Bahkan di saat Apak Lapo datang, karena laporan "sesat" si pemuda metal, aku dan Yenz tidak sekalipun mau berkomunukasi. Melirik saja enggan.


Singkat aku meluruskan soal kesalahpahaman, atas peristiwa yang kebetulan disaksikan Leo, tanpa sedikitpun menyinggung perkara kotak ajaib, milik si bibir melentik. Sumber prahara di kamar bawah tanah ini.


Apak Lapo beranjak pergi, setelah menepuk pundak kami berdua. Dia sepertinya mengerti, kalau ada masalah di antara tamunya. Meninggalkan kami dengan pesan agar segera beristirahat. Biar menjadi tenang, dan esok bisa membicarakan soal tujuan keberangkatan kami.


Selepas kepergian Apak Lapo, aku merebahkan diri, usai bersalin baju, menggunakan pakaian yang dibawakan langsung sesepuh penuh wibawa itu.


Perang dingin kami masih berlanjut, bahkan pada saat tuan rumah datang di awal hari. Bersama Leo--dia berkali-kali meminta maaf karena telah salah sangka--yang membawakan tiga porsi sarapan di nampan.


Beliau sengaja ikut sarapan bersama di kamar bawah tanah. Diselinginya dengan melempar pertanyaan, guyonan--keseringan garing--atau beberapa cerita dari beragam nara sumber.


Aku tahu itu dilakukan Apak Lapo, agar kami berdua dapat kembali berbaikan. Tetapi sori saja. Cowok cantik itu yang pertama kali membuat masalah. Pantang aku meminta maaf kepadanya, sebelum dia duluan yang mengatakannya.


Usaha sesepuh tak membuahkan hasil. Beliau bungkam usai membereskan peralatan makan, dan menaruhnya di luar kamar. Sampai akhirnya topik berganti ke pokok pembicaraan, yang sedari kemarin sudah diberi tahu.


Yap, benar sekali. Mengenai lanjutan perjalanan kami, yang aku sendiri tidak tahu ke mana tujuan pastinya.


"Kalau begitu, izinkan aku untuk membantumu, Tuan Margo. Bolehkah?" Usulan Apak Lapo itu langsung kusetujui, karena aku masih bingung dalam menentukan tujuan perjalanan selanjutnya.


Berbeda dariku, Yenz justru meminta Apak Lapo untuk berbicara di luar. Lumayan lama mereka meninggalkanku di kamar tanpa kerjaan. Membicarakan entah apa, yang mungkin saja tetap dalam tema, soal tempat yang ingin dituju si pria pirang sialan itu.


Aku hampir tertidur saat mereka kembali ke kamar. Setelah berpamitan, Apak Lapo meninggalkan kami, yang melanjutkan perang dingin tak berfaedah ini.


Sumpah, rasanya seperti dulu saat aku dan Wanara bertengkar. Masalah terbesarnya adalah, kami sekarang berada di dalam satu ruangan, tanpa bisa ke mana-mana. Demi menghindari berurusan dengan banyak petugas, dan incaran entah berapa orang pemburu hadiah di luar sana.


Seharian, aku hanya bisa tidur-tiduran, makan, mandi--aku dibawakan beberapa setel pakaian oleh Leo--lalu tiduran lagi, hingga benaran terlelap. Hanya bangun di saat jam makan siang, untuk kemudian kembali bingung mau melakukan apa.


Mau mengajak Leo mengobrol pun, pemuda itu sepertinya sangat sibuk dengan banyak pekerjaan.


Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk mengisi waktu, adalah dengan memanggil Leo lewat pipa bercorong. Memintanya mengambilkan alkohol, beberapa kain bersih, sikat, dan tongkat kecil.


Kalau kalian berpikir aku akan membuat bom molotov, untuk dilempar ke kepala Yenz, maka kalian salah. Walau sebenarnya, aku tergoda untuk melakukannya.


Aku hanya ingin membersihkan revolver bergagang putih, yang saat di Jarless, telah banyak berperan menyelamatkan nyawaku. Mungkin nanti akan aku berikan nama, agar ada ikatan batin di antara kami.


Dengan mengandalkan ingatan dan keahlian Margo, revolver mulai kubersihkan. Melepas tabung tempat peluru bersarang. Mengelap selongsong dengan bantuan kayu, untuk mendorong kain yang dibasahi alkohol.


Dilanjutkan membersihkan keenam lubang silinder tanpa amunisi. Mengelap frame-nya menggunakan kain lain yang juga dibasahi alkohol. Terakhir, menyikat bagian dalamnya, untuk akhirnya aku poles semua bagian menggunakan lap kering.


Tidak sampai satu menit, aku memasang kembali silindernya. Mengisi ulang lima peluru dari enam lubang yang ada. Ya, hanya lima, demi keamanan. Karena, walaupun tidak seperti milik Twisky, tetapi bukankah lebih baik berjaga, dari pada hal buruk terjadi tanpa disengaja. Benar, kan?


Begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Margo.


Entah sudah berapa lama aku berada di kamar bawah tanah, dan semakin bosan karena tak ada kerjaan. Akan tetapi, seperti kata Leo, kami harus bisa bersabar, sebab Apak Lapo sedang mengurusi semua keperluan. Itu dilakukan agar aku dan Yenz yang cantik itu, dapat pergi dari sini dengan aman sentosa.


Hal itu dikatakan Leo, setelah mengantarkan kami cemilan sore, beberapa jam lalu.


Melamun aku melihat Yenz di meja kerjanya. Mencorat-coret peta yang sudah lusuh itu di atas meja baca. Entah apa yang dibuatnya.

__ADS_1


Pintu tiba-tiba saja terbuka. Leo masuk mengiringi Apak Lapo, yang kini mengenakan baju terusan berwarna abu-abu, dan kupluk kain dengan tepian tersampir tiga bulu burung berwarna hijau. Pakaian kebesaran pemuka agama di dunia ini.


Leo yang membawa tas punggung besar, mengambilkan kursi untuk Apak Lapo yang sekilas melemparkan senyum dipaksakan. Raut wajahnya terlihat benar sedang diliputi kekhawatiran.


"Pembicaraan kita kali ini sepertinya tidak akan lama, Tuan-tuan. Aku mohon kalian berdua bisa memahaminya, jikalau nanti aku terdengar kasar atau memaksa." Mau tidak mau, fokusku juga Yenz--sepertinya--teralihkan seluruhnya kepada pak tua itu.


"Kenapa begitu?" Penasaranku tidak bisa ditahan lagi.


Apak Lapo menghembuskan napas berat. "Aku mendapat kabar dari seorang jamaat, kalau pihak berwenang hendak menggeledah tempat ini. Mereka mendapat laporan, kalau ada buronan yang memasuki kota ini, sehingga dengan sangat terpaksa, waktu keberangkatan kalian harus dipercepat."


"Loh kok bisa? Bukankah selama perjalanan tidak ada yang mengenali kami?" Aku kembali melontarkan tanya.


Apak Lapo menggeleng. "Ada yang mengenali kita. Ketiga anak buah Twisky kemarin."


Tertahan napasku mendengar perkataan itu.


"Bagaimana mungkin penjahat seperti mereka melaporkan kita? Seharusnya mereka yang diringkus, tanpa dipercayai omongannya," geram aku berucap.


Apak Lapo menggeleng. "Tidak, Tuan Margo. Bukankah mereka ke sini juga demi menjalankan perintah Twisky, untuk memanggil petugas yang akan menangkap kalian?"


"Eh ... ya ... benar juga sih. Tapi ...." Aku bingung untuk melanjutkan omongan.


"Kelompok Twisky bukanlah gembong kejahatan biasa. Mereka tidak hanya melakukan perampokan dan penjarahan, sebagai mata pencarian utama. Kawanan Twisky juga bekerja sebagai penyedia jasa, untuk melakukan hal kotor dan kejahatan lain, sesuai permintaan pemesannya. Kebanyakan adalah pejabat dan para bangsawan."


Aku menegakkan badan, demi dapat lebih fokus mendengarkan ucapan Apak Lapo.


"Dikarenakan hal itulah, mereka hampir tidak tersentuh hukum. Bebas melakukan kejahatannya, selama membayat upeti kepada petugas, dan tidak bergesekan dengan kepentingan para petinggi. Mereka dipelihara, sebagai alat bagi para penguasa, untuk melakukan tindakan melawan hukum, yang tidak mungkin dilakukan para petugas berseragam. Termasuk menyingkirkan aku, yang secara rahasia sudah ditargetkan oleh mereka."


"Tunggu sebentar!" Yenz menjeda. "Bukankah itu artinya petugas berseragam juga menjadi musuhmu?"


Mendengar itu, ingatan Margo memberiku sebuah informasi. Tentang arti "Pergerakan Radish" yang disebut oleh Apak Lapo.


Pergerakan Radish, adalah sebuah sebutan untuk disematkan kepada para *******, yang banyak melakukan serangan anarkis. Tindakan para separatis global, yang merugikan banyak orang beserta negara.


Mereka adalah kelompok kejam, yang menghalalkan segala cara, demi dapat menanamkan idealisme kejinya. Menentang pemerintahan Dewan Dunia, demi berkuasa sepenuhnya.


"Tuduhan yang kejam sekali! Tidak mungkin, kan, kau anggota pergerakan ******* itu?" Aku berkata geram.


"Apa yang mereka tuduhkan memang benar." Apak Lapo tersenyum getir.


Aku jelas melonjak kaget. Orang tua itu pasti bercanda. Selera humornya buruk sekali.


"Pergerakan Radish, sebenarnya adalah kelompok damai, yang ingin mencegah peperangan sepuluh tahun lalu terjadi. Perang besar yang melibatkan banyak negara di gugusan kepulauan. Pergerakan itu mulai membesar, setelah peperangan sepuluh tahun selesai, dengan pihak Utara sebagai pemenangnya. Penyebab paling utama pergerakan itu bisa bertumbuh, karena Radish banyak memberikan bantuan kepada korban perang, dan selalu mengkampanyekan tentang perdamaian."


Aku semakin tidak mengerti tentang cerita di buku ini! Kenapa bertabrakan seperti ini sih plotnya!?


"Pergerakan Radish, langsung masuk ke daftar merah--daftar hal berbahaya yang harus dimusnahkan--begitu Dewan Dunia terbentuk. Alasannya sederhana. Pergerakan Radish banyak melakukan aksi di Selatan, yang menjadi daerah jajahan, dan sapi perah Negara Utara beserta korporatnya, agar mereka terbebas dan kembali menjadi negara merdeka."


"Ja-jadi, tuduhan teror dan segala macamnya itu hanyalah fitnah, supaya Pergerakan Radish dibenci?" Aku perlahan mulai bisa menebak arah cerita ini.


"Benar, Tuan Margo. Mereka adalah sekumpulan orang yang menginginkan kedamaian, dengan melawan penjajahan yang dimotori Dewan Dunia." Apak Lapo menatapku tanpa berkedip. "Aku bergabung dengan Pergerakan Radish, karena perang sepuluh tahun lalu itu, telah membuat istri dan anak-anakku terbunuh. Aku sangat menyesal, karena awalnya, diriku sangat mendukung perang tersebut. Menyumbangkan banyak harta kepada koalisi, yang pada akhirnya malah mengabaikan, bahkan menjadikan keluargaku sebagai tameng dari serangan balik Pasukan Selatan."


Meleleh air mata di pipi tirus keriput itu. Hanya beberapa rinai, sebelum Apak Lapo mengusapnya menggunakan lengan baju.

__ADS_1


Ditariknya napas panjang begitu berat, hingga akhirnya dia bisa terlihat tenang dan tersenyum. Walau aku tahu itu dipaksakan.


"Pergerakan Radish, adalah ancaman besar bagi Dewan Dunia. Karena, mereka berusaha mencegah kekuasaan tirani itu, menjadi besar dan absolut di muka bumi. Melakukan perlawanan, sekaligus menghalanginya dari merebut harta yang hilang." Apak Lapo menatap lurus si pirang sialan. "Tuan Yenz, tentu kau tahu tentang semua itu kan?"


Aku menoleh ke arah pria cantik di meja baca. Dia bergeming, walau lamat aku lihat dia mengeretakkan gigi, hingga rahangnya mengeras.


"Bagaimana bisa kau berkesimpulan begitu?" tanya Yenz. Tajam.


"Dari yang aku ketahui, pintu itu terbuka sepuluh tahun lalu, saat puncak peperangan terjadi, setelah ratusan tahun lamanya tertutup rapat. Dan, di malam setelah aku hampir dipergoki Twisky, saat memberikan peringatan kepada Tuan Margo, tak sengaja aku melihat Anda memegang kotak kayu ...."


Meja digebrak keras oleh Yenz. Membuat kompas, pensil, jangka, dan gelas berhamburan. Sampai-sampai lilin dalam cawan kuningan pun ikut terguling.


Untungnya. Leo, yang sejak tadi berdiri mematung, sigap mengambil dan memindahkan suluh api itu, sebelum sempat menyulut peta. Membuatnya terbakar.


"Berani-beraninya kau, Pak Tua ...!" Yenz berdiri, sembari Membentak Apak Lapo.


Benar-benar tidak tahu sopan santun si Lambe Kemayu itu. Seenaknya saja membentak dan menunjuk-nunjuk orang, yang telah berbaik hati kepadanya.


"Sebenarnya ada apa dengan kotak itu, hah!? Kenapa kau begitu sensitif saat kami menyinggungnya!?" debatku. Ikut berdiri penuh emosi.


"Tenanglah. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk mengintip, apalagi mau ikut campur urusan tuan. Itu semua adalah takdir, yang diberikan Tuhan, demi menuntunku mendapatkan pencerahan." Bagai tidak terusik dengan perilaku kasar Yenz, Apak Lapo tetap berbicara dengan nada lembut.


Sesaat terdiam. Menurunkan tensi yang meninggi. Sampai akhirnya Yenz kembali duduk.


"Tuan Yenz. Entah bagaimana kau bisa mendapatkannya, tetapi aku dapat menyimpulkan dan yakin, kalau kau pernah menginjakkan kaki di sana." Apak Lapo tersenyum. "Aku minta kepadamu, Tuan Yenz, tolong engkau bantu kami--Pergerakan Radish--dengan membujuk mereka, agar sekali lagi membawa kedamaian di dunia ini. Aku percaya kepadamu, karena tahu jika dirimu memiliki hati yang bersih."


Semakin aku tidak mengerti dengan perkara yang terjadi di hadapan. Tetapi, di saat itu pula--masih belum mendapat jawaban dari kebingungan--corong pipa di dinding berhembus, membawa kata-kata samar yang terhalang penutup.


"Waktu kita habis. Bergegaslah pergi dari sini bersama Leo. Percayalah, dia akan banyak membantu kalian dalam perjalanan." Apak Lapo berdiri dengan raut wajah tegang.


"Eh ... jadi dia akan ikut kami?" kataku. Menunjuk pemuda yang tengah tersenyum lebar tersebut.


"Jangan khawatir, Tuan Margo, karena walau masih muda, dia sangat bisa diandalkan." Tangan Apak Lapo mengusap rambut Leo, diiringi mata sayunya yang berkaca-kaca.


Aku yakin sangat berat bagi orang tua itu, untuk melepas anak asuhnya. Walau Leo--dari perkiraanku--sudah memasuki masa akhil baligh.


"Tuan Margo, aku sudah mengatur perjalananmu, agar dirimu sampai di wilayah, yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Vajal. Akan tetapi, jika suara hatimu menolak untuk berdiam diri dalam kedamaian semu, Aku mohon kepadamu, temanilah Tuan Yenz dalam perjalanannya. Percayalah, takdir dan jodoh seringkali tergaris unik, untuk seseorang yang sedang mencari kebenaran."


Aku dan Yenz saling bertukar pandang sesaat.


"Tidak mungkin!" Kami mengucapkan itu secara bersamaan.


"Hahaha ... lihat, kalian bisa serasi seperti itu. Sekarang, kalian tidak perlu banyak protes. Ikutilah Leo, dan segera pergi dari sini. Aku titipkan asa perjuangan Radish kepada kalian."


Aku menghela napas. Tidak bisa membantah ucapan sesepuh bijak tersebut. Hanya saja kemudian, muncul perasaan melankoli mengaduk-aduk isi benak.


Aku yang merasa telah banyak berhutang budi kepada Apak Lapo, mendekat dan memeluknya, sebagai salam perpisahan. Merasa berat meninggalkan orang tua itu, yang pastinya akan terlibat masalah besar dengan petugas hukum Lapalasa.


Sedetik pelukan terlepas. Aku teringat kancing berkaki, yang dia berikan kepadaku di kamar motel. Aku mengambil benda berulir benih itu, yang tak tahu kenapa selalu bisa aku simpan di saku celana.


"Benda ini adalah lambang dari Pergerakan Radish. Aku berikan untukmu, Tuan Margo. Simpanlah, dan jaga selalu, karena aku yakin akan berguna di perjalananmu nanti," tolaknya, atas sodoran benda kecil, yang ternyata memiliki makna besar tersebut.


Perkataan itu menjadi kalimat terakhir, sebelum kami beranjak dari kamar bawah tanah. Aku tidak dapat membalas ucapan Apak Lapo, karena tangan Leo sudah menarikku begitu kuat.

__ADS_1


Aku melangkah pergi, walau sepetikan kurasakan sedih bercampur takut, saat terakhir kali melihat wajah teduh, dengan senyuman tipis dari Apak Lapo.


Orang tua baik hati, apakah kita bisa bertemu lagi nanti?


__ADS_2