
"Hei, baji*ngan! Sudah menjadi kadal tanpa otak kah kau sekarang!? Hentikan rengekkanmu, dan lawan aku! Kita selesaikan pertarungan kemarin."
Arson mendesis. Menjulurkan lidahnya dengan ujung bercabang--seperti ular. Menatap Mog menggunakan mata reptilnya yang nanar, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Keluarlah, jika kau memang ingin dikalahkan lagi, pecu*ndang!" tantang Arson dengan suaranya yang mendesis.
Arson mengangkat sebelah tangannya sebagai perintah, yang membuat para kadal berangsur mundur. Membentuk arena untuk duel ulangnya melawan Mog.
Lelaki berwajah sangar itu, dengan tenangnya melangkah melewati kubah pelindung. Keluar dari suaka gaib, untuk memasuki wilayah musuh yang haus darah. Akan tetapi--dari yang aku lihat--tidak seraut pun garis ketakutan terukir di wajahnya. Senyum lebar yang dia tarik penuh, bagai seringai jemawa seekor harimau lapar, yang menemukan mangsa.
"Woofy, Shege, bersiap menyerang kalau seandainya para kadal menerjang Mog!" perintahku dengan suara berbisik. Kedua hewan mistis itu merendahkan posisi tubuh. Bersiap untuk beraksi, jikalau syarat perintah dariku terpenuhi.
"Bersiaplah untuk aku pecundangi lagi. Kali ini aku pastikan kau tidak akan selamat seperti sebelumnya. Mati dengan cara yang paling mengenaskan!" Seringai Arson, penuh percaya diri.
"Oh ya? Apa wujud monster itu juga turut menambah keahlian berpedangmu? yang hanya satu tingkat di atas nenek tua berpenyakit encok!" Mog tertawa terbahak-bahak.
Mendengar pelecehan yang begitu mengena dari mulut lawannya, Arson meradang dan langsung menerjang kalap. Menyerangnya dengan tebasan dari atas. Hendak membelah batok kepala lawan, sepenuh kekuatan.
Mog sigap menghunus pedangnya. Diayunkan ke atas demi menyambut tukikkan pedang terkutuk. Bersamaan dengan itu, kilau berpendar putih mengiringi gerakannya.
Trang!
Kedua pedang bermuatan gaib beradu. Pendar ungu yang dingin, dan sorot putih yang hangat, saling menekan satu sama lain. Bergesekan menciptakan percikan api dan loncatan listrik statis.
Kami bergidik menontonnya. Seakan ada kesiur angin beku beradu panas yang merembes melewati dinding gaia. Menerpa dan meremangkan bulu tengkuk setiap pasang mata. Mungkin efek dari kekuatan sihir yang bersemayam di dalam kedua senjata itu.
Sedetik berlalu. Kaki Mog terangkat untuk kemudian dihentakkan sekencang mungkin. Menendang keras ulu hati bangsawan kadal yang menjadi lawannya. Mog terdorong mundur beberapa langkah, demi mencari titik keseimbangan yang hilang. Sementara, di sisi lain, Arson terpental dengan jerit teredam.
"Sialan!" umpat Arson yang disusul dengusan kesal. Dia berdiri dan langsung menyerang, tanpa ancang-ancang dilakukan sebagai awalan.
Sepertinya wujud Arson sekarang, benar-benar membuat tubuhnya lebih kuat. Kalau orang biasa pasti akan langsung muntah darah, jika terkena tendangan keras di bawah dada seperti itu. Namun, bahkan sekarang dia bisa lanjut menyerang, seperti tanpa merasakan kesakitan barang secuil jua.
Meluncur tubuh setengah kadalnya menerjang lawan. Begitu pasti dan kokoh, tanpa ada kegoyahan, walau dilakukannya secara mendadak dan serampangan.
Trang!
Kedua pedang bercahaya itu kembali beradu. Berkali-kali untuk saling jual beli serangan. Menciptakan rentetan bunga api dan loncatan listrik statis, berikut suara tumbukan logam yang membahana, saat keduanya berbaku hantam.
__ADS_1
Seandainya ini semua hanyalah film action, sudah barang tentu aku akan menikmatinya sambil memakan semangkuk besar berondong jagung, dan segelas minuman bersoda. Melahapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar pertunjukkan. Bagaimana tidak, duel mereka seperti pertarungan pedang cahaya antara dua Mister Joday, di film Gelut Bintang yang terkenal itu. Bahkan aku merasa ini lebih seru dan menegangkan.
Setelah satu lagi aduan senjata, Mog menggeser posisinya dengan langkah kaki berputar setengah lingkaran. Berpindah ke samping lawannya. Begitu cepat dan lihai, hingga mata kadal Arson tidak mampu mengikuti. Memberi jeda singkat yang dimanfaatkan pria bongsor berotot tebal itu, untuk menyarangkan tebasannya ke tubuh lawan.
Srat!
Pedang berpendar putih menyabet dada si siluman kadal. Tidak dalam memang, tetapi cukup untuk jadi permulaan dari rentetan serangan telak yang dihujamkan Mog. Begitu deras dan hampir tanpa jeda.
Wuk!
Satu tebasan terakhir berhasil dihindari Arson dengan melentingkan tubuhnya ke belakang. Jatuh terguling, namun selamat dari serangan fatal yang menyasar batang lehernya.
"Wuargh!" Dia memekik keras penuh kemarahan.
Mog urung untuk menyergap, karena melihat keganjilan yang terjadi pada tubuh lawan.
Sisik-sisik hijau tumbuh bermunculan dari balik kulit manusiawinya. Tubuh Arson kemudian mengembang dengan otot-otot liat sebagai penyanggah. Bagian punggung baju perangnya robek ditembus sirip-sirip bertulang tajam. Merambat ke tangan yang akhirnya memiliki bentuk serupa, dengan ukuran dua kali lebih besar.
Kakinya menekuk ke depan, seiring pembesaran tidak wajar yang tengah terjadi. Mengoyak sepatu besi yang dia kenakan. Menampakkan telapak seukuran nampan, yang di keempat jarinya mencuat kuku besar berujung runcing. Sampai akhirnya, sejulur tulang berlapis urat dan gumpalan otot merah menerobos pinggul belakang. Mengejang membesar, lalu dirambati sisik menutupinya. Sempurna dia menjadi ekor reptil, yang sanggup merengkah tanah dengan ayunan kencangnya.
Sosok lelaki itu sudah sepenuhnya berubah, menjadi seekor manusia kadal setinggi dua meter lebih. Berkepala manusia dengan mata berselaput seperti reptil, dan lidah berujung terbelah yang sesekali terjulur mengecapi udara. Sedikit berbeda dari kadal yang lainnya.
Wush!
Siluman itu menghentak sebelah kakinya. Dia meluncur sangat cepat, hingga dalam sekedipan mata sudah berada di hadapan Mog.
Pedang kembali beradu. Mog berhasil menangkisnya, walau sambil terkejut. Tetapi, sayangnya hal itu justru membuat tubuh berotot pria codet itu terpental, hingga jatuh terjerembab.
Arson tidak mengendorkan serangannya. Dia menyergap Mog yang baru saja hendak berdiri. Pedang pendar ungu terayun dengan nafsu tinggi membelah lawan di bawahnya.
Sadar maut sedang mendekat dengan cepat. Mog sigap melompat ke samping, demi menghindari kematian. Dia berhasil lolos, walau hanya seinci saja lagi tebasan bakal mengenainya.
Mog berguling menyamping, dan langsung menghentak badannya berdiri. Memaksa, meskipun napas masih memburu, menggedor paksa kantung paru-parunya.
Arson tidak memberi kesempatan lawannya untuk bernapas. Dia kembali menerjang, dan menyabetkan pedangnya. Ujung tajam senjata itu merobek pundak Mog. Mengiris dalam hingga menyemburkan darah. Sangat cukup untuk menghantarkan kutukan ke dalam tubuh, dan membuatnya membatu.
Buk!
__ADS_1
Tendangan keras menumbuk dada Mog. Dia terpental dengan literan darah yang menyembur dari celah luka, hidung, dan mulut.
"Mog!" Aku menjerit panik.
"Jangan, Tuan Pahlawan! Ini pertarunganku!" balasnya sambil berusaha bangkit dengan bantuan pedang. Menahanku untuk bergerak menolongnya.
Sialan! Aku ingin membantu, tetapi aku juga tahu, Mog tidak akan suka jika duelnya diganggu. Di awal tadi, kenapa pula aku tidak memberikan pisau batu untuk digunakannya. Kalau sudah seperti ini, dia hanya bisa pasrah menyambut kematiannya seperti kemarin.
Eh, tunggu sebentar! Aku merasa ada sesuatu yang janggal di sana.
"Phechun-dhang ... mahtih!"
Si kadal Arson berjalan mendekat, menghampiri mangsanya yang terluka. Pedangnya terangkat tinggi, hendak dihujamkan sekuat tenaga.
Mog terengah-engah dengan kaki tertekuk--setengah jalan untuk berdiri--dibantu pedang sebagai tumpuan. Menatap tanpa berkedip malaikat maut yang mendatanginya. Sekilas aku melihat kilat keteguhan di sana. Bukan seperti orang yang pasrah menanti mati.
Pedang pendar ungu terayun. Sudah dapat dipastikan tubuh kekar itu akan terbelah dalam satu tebasan. Aku menjerit dan berlari sembari menarik pedang dari sarungnya. Bersama beberapa orang lain, yang sudah tidak tahan melihat Mog akan dihabisi riwayatnya.
"Huagh!"
Teriakan itu menggelegar, keluar dari mulut Mog. Dia meloncat dengan menghentak kedua kaki, sebelum pedang Arson benar-benar turun mengenainya.
Jras!
Pedang yang telah diberkati Artapatu itu telak menghujam dada kiri siluman kadal. Arson menjerit, dan serangannya terhenti di tengah jalan.
Tepat seperti dugaanku. Entah karena kekuatan pedang yang diberkati Artapatu, atau karena efek batu gaia yang masih tersisa--bisa jadi keduanya. Kutukan dari pedang berpendar ungu Arson, dari sejak awal tidak sekuat kemarin. Malah mungkin tidak berpengaruh kepadanya.
Luka di dada Arson mulai bersinar dan melebar, seperti sedang menginfeksi tubuh bersisiknya. Namun, belum jauh cahaya itu menyebar, ekor kadalnya menyabet Mog hingga dia terpelanting keras. Membuat pedang bercahaya putih di genggaman tangan ikut tercabut.
Tubuh kekar itu tergeletak tak sadarkan diri, di jarak satu depa dari kubah perlindungan gaia.
Arson terjengkang jatuh dengan luka yang tepat mengenai jantungnya--jika memang letak jantung siluman kadal sama dengan manusia. Kedua tangannya diletakkan menekan dada. Menahan aliran cairan hijau yang mengucur deras dari lubang di badannya.
Kadal lainnya memekik kencang setelah lama bungkam. Entah karena bersedih, atau justru kesenangan karena bisa mengamuk lagi tanpa halangan. Atau, mungkin saja bernafsu memangsa tubuh besar yang masih menggeliat kesakitan di sana.
"Woofy, selamatkan Mog!" perintahku, saat melihat para kadal hendak memulai lagi serangan.
__ADS_1
Sedenting. Seluruh benua Suno seakan diguncang getaran hebat. Berasal dari pekikan Mitara di singgasananya.
Para kadal terdiam seluruhnya. Begitu pun kami yang sadar, kalau kejadian tadi bukanlah hal yang baik. Mungkin ini akan menjadi awal dari akhir peperangan Benua Suno.