Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 47-2] Di Atas Panggung Kematian


__ADS_3

Di dalam sel pengap penjara bawah tanah itu, aku sama sekali tidak dapat tertidur lelap. Selain karena serangan kutu busuk, yang dengan bia*dab menyebrang mencari mangsa segar di luar teritorinya, ditambah serbuan nyamuk kelaparan, hal yang paling membuatku membatin, adalah surat dari Yenz.


"Beristirahatlah setelah menggunakan obat, dan kuatkan diri untuk menghadapi eksekusimu besok. Semoga beruntung!" Hanya itu tulisan yang tertoreh di kertas!


Jadi apa mau dia sebenarnya? Meledekku, atau berniat memberikan motivasi, bagai motivator super kondang di televisi. Dalam kondisiku sekarang, jelas salah alamat!


Aku melangkah diseret petugas berseragam ke alun-alun kota, yang sepanjang perjalanan, tidak pernah absen dihujani pandangan mata mencemooh, dari orang-orang yang berkumpul.


Di lahan kosong luas, berjarak lima puluh meter dari penginapan, dan hanya beberapa langkah dari kediaman gubernur. Sudah terpasang panggung kayu, yang di tengahnya terpancang tiang berbentuk huruf "L" terbalik. Siap terikat mati tali tambang tergantung. Tempat aku nanti akan dieksekusi.


Cacian dan makian deras terlontar, saat aku dibawa membelah kerumunan orang, menuju panggung eksekusi. Tidak sekali dua kali pukulan dan tendangan dilayangkan kepadaku, tanpa bisa aku membalasnya.


Sampai di atas panggung, leherku langsung dikalungkan tali tambang. Dibebat kencang, hingga aku hampir tidak bisa bernapas.


Tidak berperasaan sekali petugas sialan itu!


Semua itu masih ditambah rentetan hinaan dan caci maki, beriring lemparan berbagai benda. Telor busuk, keju basi, tomat benyek, dan lain-lain.


Untungnya tidak ada yang melempar kritik dan saran.


Aku masih berusaha tidak memedulikan semua. Dari tempat tinggi ini, aku menyisir pandang ke segala penjuru. Mencari batang hidung ramping si pria cantik. Yenz.


Sedikit berharap. walau di suratnya hanya tertulis kalimat motivasi tiada guna, si biang rusuh yang nekat itu, pasti tidak akan tinggal diam melihat hal ini.


Biasanya memang begitu, kan. Jalan pikirannya susah untuk ditebak.


Masalahnya, sedari tadi aku tidak bisa menemukan sosok berambut pirang itu, walau sudah seteliti mungkin mencarinya. Lalu, apa benar surat yang dia berikan itu hanya sebagai salam perpisahan? Kalau begitu untuk apa juga dia menyertakan obat ajaib di dalamnya?


Seorang pria naik ke atas panggung. Berhenti di sampingku, dan mulai berbicara dengan suara keras. Memaparkan biodata, kesalahan, dan kejahatan yang telah aku lakukan--beberapa darinya adalah dusta yang dibuat-buat. Masa iya menempelkan upil di bawah meja termasuk kejahatan--sampai akhirnya ditutup dengan penjelasan soal hukuman yang akan aku terima.


Padahal tidak usah dia bilang pun, orang sudah tahu nasibku akan habis di tiang gantungan. Mati kehabisan napas, dengan leher yang patah. Tragedi yang sangat pasti terjadi, apabila si cowok cantik itu benar-benar tidak datang untuk menolongku.

__ADS_1


"Dan, eksekusi ini dilakukan oleh yang terhormat, Tuan Leo van Leon bin Leonal. Atas permintaannya sendiri, yang didorong oleh keluhuran budi, dan rasa keadilan tinggi." Ucapan itu ditutup beriring sorak kumpulan massa.


Sumpah! Seketika darahku berdesir, tubuhku kebas, dan tungkai kakiku gemetar lemas. Tersesap semua tenaga oleh rasa sakit hati yang mendera begitu saja.


Leo, apa yang kau mau sebenarnya? Ok, aku memang beberapa kali meremehkanmu, dan menyuruh-nyuruhmu seenak hati, tetapi apa sebegitu mudahnya kau berpaling? Padahal selain kekayaan dan kekuasaannya, Falcoa tidak lebih baik dariku!


Dengan cengirannya yang menyebalkan, pemuda jamet itu naik meniti tangga ke atas panggung. Begitu ringan dan tanpa beban.


Sumpah! Mau aku menerjang si Jamet itu, atau sekadar memberikan pukulan di wajah tirusnya. Beruntung dia, karena aku dalam keadaan terpasung. Nekat bergerak, yang ada malah leherku kecekik duluan sebelum eksekusi dimulai.


Dengan muka tanpa dosa, dia melintasiku menuju tuas di pojok kanan panggung. Pengungkit yang jika digerakkan, maka akan membuka lubang di papan yang menjadi pijakanku. Membuat badan besar berbulu ini tertarik ke bawah oleh gaa gravitasi, dan seketika itu pula leherku terjerat oleh tali tambang yang disimpul melingkar.


Alamat game over!


Aku menoleh dengan jantung berdebar. Melihat si Jamet itu telah menempatkan tangannya memegang tongkat tuas. Membuat penonton barbar di sekitar panggung mulai bersorak kencang.


"Leo! Aku mohon kepadamu. Tolong jangan kau tarik tuas itu. Kau tahu kan, kalau semua ini adalah kesalahan. Ka-kau tahu kan aku tidak mungkin membunuh orang!"


"Tuan-tuan dan nyonya juga nona, mohon bersabar." Leo berjalan ke muka panggung dengan tangan terangkat untuk menenangkan penonton. "Mari kita jalanani parade penegakan keadilan ini dengan khidmat."


Turun tensi para penonton, Leo berbalik menghampiriku. Membuat emosi yang sudah sampai di ubun-ubun ini makin memuncak.


"Tenanglah, Tuan. Aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Anda tidak perlu cemas."


"Ka-kau ...!"


"Anda sudah memakai obat ajaib pemberian Tuan Yenz, kan?"


Pertanyaan yang memotong ucapan penuh kemarahanku itu, jelas membuat diriku tergugu keheranan.


Bagaimana dia bisa tahu?

__ADS_1


Saat aku masih belum bisa mencerna ucapannya, tiba-tiba saja benda bulat dengan sumbu menyala, mendarat di atas panggung. Membuat perhatian banyak orang teralih ke sana.


Dengan gerakan tangan yang cepat, Leo mengambil pisau pendek dari balik sepatu bot yang dikenakan. Memutus tali tambang yang menjeratku, dan saat tabir asap dari bom kertas itu menguar mengisi panggung, Leo berlari ke arah tuas, lalu menendangnya.


Aku menjerit manja saat pintu lantai terbuka. Membuat gravitasi menarikku jatuh ke bawah panggung. Gemetar kakiku waktu mendarat di tanah berumput, yang berjarak satu meter lebih dari lantai panggung.


"Tuan Margo!" Pud'e ternyata sudah menungguku di sana. Membawa tas, beserta ikat pinggang berisi sepasang revolver, juga pisau pemberian Manika.


Bagaimana dia bisa mendapatkannya? Itu kan barang bukti, yang pastinya disimpan oleh pihak berwajib!


"Ayo pergi!" ujar Leo, yang menyusul turun dari lubang lantai.


Serius aku bingung. Bagaimana mungkin Leo yang akhir-akhir ini menjadi ajudan terpercaya Falcoa, bisa berubah seratus delapan puluh derajat, dan malah menolongku?


Suara ledakan membahana di luar sana. Membuatku urung melemparkan tanya. Mengikuti ajakan dan langkah Leo beserta Pud’e, merayap menuju ujung kolong panggung.


Sambil terbatuk, aku menembus tirai asap yang semakin tebal. Berlari dengan pandangan berair, mengekor langkah kedua lelaki di hadapan.


Sampai kami di pinggir pantai. Membuatku tercengang saat melihat kapal besar berwarna merah marun, membombardir pulau ini.


Gila! Apa-apaan ini? Kami sekarang menjadi roti lapis, yang diapit oleh dua kekuatan tempur besar. Terjepit di tengah peperangan yang kebetulan terjadi.


"Waktu kita tidak banyak. Kalian pergilah ke Timur pulau, di sana kalian akan dapat pertolongan untuk kabur dari sini." Pud’e menepuk lenganku.


"Lalu bagaimana dengan dirimu?" tanyaku.


"Menyelesaikan apa yang sudah lama aku mulai. Menjalankan takdir yang telah aku pilih, untuk membebaskan pulau ini. Begitupun kalian, Tuan-tuan. Pergilah. Aku berdoa berkah keberuntungan selalu bersamamu."


Pria berkulit sawo matang itu pergi tanpa menoleh lagi. Sengaja memasuki ladang ledakan, untuk pergi entah ke mana.


"Tuan Margo. Ayo kita juga pergi. Tuan Yenz pasti sudah menunggu," ucap Leo beriring senyum khasnya. Sebuah gestur yang kini tidak lagi terlihat menyebalkan.

__ADS_1


Ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan. Akan tetapi, aku sadar bukan sekarang waktu yang tepat. Tidak mungkin, kan, mengobrol santai di tengah situasi perang seperti sekarang.


__ADS_2