
Kami menerawang jauh dengan mata membelalak lebar. Di atas kawah itu melayang sosok yang menyeramkan, sekaligus menyedihkan. Mitara sang ratu penyihir, kini hanya seonggok tubuh bernyawa.
Wajahnya ***** hingga tidak lagi tersisa jejak kecantikan. Tubuhnya pun lumer dan gosong--aku berjanji tidak akan makan keju mozarela lagi, setidaknya sampai bisa melupakan pemandangan ini--dan di banyak titik, menampakkan tulang, bahkan organ tubuhnya yang tak lagi terlapisi. Paling gila dari semua itu adalah; fakta kalau dia masih hidup, walau dengan raga yang terkoyak.
Mungkin itu adalah azab bagi dirinya, karena tadi menghabisi Arson tanpa perikemanusiaan. Ah, judul sinetron Mama.
Mulutnya yang tanpa daging dan kulit menutupi, bergerak kacau. Bergemeretak mengadu giginya, yang hanya tersisa beberapa saja.
Cahaya ungu memancar menyilaukan dari dada kirinya, tempat sekepalan jantung masih memaksa berdetak. Dari sana pula mulai muncul tulang, dan daging, yang kemudian dilapisi sisik hijau sebagai pengganti kulit.
Terus merambat demi melengkapi tubuhnya yang koyak. Menjadikan wajahnya berbentuk reptil dengan moncong melancip, yang di dalamnya berderet gigi runcing saling berimpitan.
Proses mengerikan itu masih berlanjut. Menambahkan kedua tangannya yang buntung, menjadi lengan dengan telapak mencuatkan empat jari berujung runcing. Mengubah bagian bawah tubuhnya yang hilang dengan juntaian ekor panjang. Hingga lengkap wanita itu berbentuk siluman reptil bermata nanar.
"Grah!"
Mitara memekik kencang. Pendar ungu di dadanya semakin terang dan menyilaukan. Otomatis kami serentak menutup mata.
Salah kalau aku mengira sosok reptil setengah ular, setengah manusia itu telah sempurna wujudnya. Karena, setelah cahaya ungu sirna, terasa debum kencang mengguncang tanah.
Kami membuka mata, dan melihat di seberang sana, telah muncul teror tulen. Ular raksasa bersisik hijau, yang dilingkari sepasang spiral berwarna ungu. Mulai dari ujung ekor, hingga ke dada kirinya. Tempat jantung yang berpendar ungu berada
Wujud siluman Mitara membesar. Dua kali lipat ukurannya dari Woofy, yang sekarang menggeram marah. Dibalas desisan dan tatapan dingin menusuk mata reptilnya.
Ekor Woofy yang menggelung aku bersama Shege--dia tertidur pulas dalam tangkupan tanganku--ditarik cepat, setelah menempatkan kami di pelataran istana.
Seketika Woofy melesat tanpa perintah. Dia mungkin sadar, kalau siluman raksasa itu bisa menjadi ancaman terbesar benua Suno, jika tidak segera dituntaskan.
Keduanya berlari menyambut satu sama lain. Beringas dengan taring dan cakar siap untuk merobek tubuh lawannya. Pertarungan dua raksasa yang akan bergulir tanpa ampun.
Woofy menerjang, hendak menerkam. Serangan pembuka dari bentrokan besar mereka.
Mitara sang ratu reptil sigap menyambut serangan itu. Jari-jari lancip tangan kanannya, memercikkan lonjakan listrik ungu yang dia hentakkan. Hendak menghujam lawan. Namun, Woofy tak kalah cerdik. Sebelum sampai cakar kematian itu menancap di kepala, ekor panjangnya--dia gelung ujungnya menjadi gumpalan keras--telah lebih dahulu mendarat menghantam wajah reptil lawannya.
Mitara terjungkal ke belakang, sementara Woofy memanfaatkan tenaga dorongnya untuk menjauh. Dia mendarat mulus dengan keempat kaki kokohnya, saat tubuh reptil raksasa terjatuh keras.
Tidak mau membuang kesempatan besar di depan mata. Woofy lekas melaju, lalu melompat demi menerkam mangsanya yang masih terkapar.
Syut!
Jebakan! Tubuh ular Mitara ternyata sanggup merayap di tanah. Bergeser meliuk selicin belut, menghindari cakar dan taring Woofy.
Selekasnya menegakkan badan. Mitara langsung mencoba menghujamkan lagi cakarnya. Mengarah tubuh berbulu perak yang masih terpaku.
__ADS_1
Jrash!
Kami yang menyaksikannya menjerit tertahan. Melihat ujung lancip keempat jari itu, menembus daging berselimut bulu perak. Darah membuncah deras dari sana.
Untungnya, woofy sanggup melompat menjauh sebelum jari-jari itu masuk lebih dalam--meminimalisir luka yang didapatkan. Mendarat limbung lalu menggeram marah, menahan kesakitan.
Mitara melanjutkan serangan. Dia mencambukkan sulur listrik yang keluar dari telapak tangannya. Bergantian, kiri dan kanan.
Serangan brutal itu dihindari Woofy, dengan melompat zig-zag sembari berlari memutar. Mengincar titik buta lawannya di belakang. Sayangnya, hal itu ternyata sulit dilakukan, karena Mitara dapat dengan mudah mengikuti gerakannya.
Wush!
Dengan satu gerakan ekor menghentak tanah, Woofy melaju lebih cepat. Menerjang Mitara dari belakang. Hendak menancapkan taringnya ke ekor si siluman ular.
Berhasil! Mitara memekik kesakitan saat gigi tajam Woofy menancap di ekor bersisik keras.
Lekas Woofy menarik ekor itu. Bermaksud menghempaskannya. Tetapi, ternyata dia menahan hentakan lawan, dengan cara menancapkan cambuk listriknya menghujam tanah. Mereka adu kuat saling menahan.
Sialnya, ternyata Mitara masih menyimpan satu senjata rahasia lagi.
Ulir ungu di sisiknya berkilauan. Bagai menjalar dari ujung ekor hingga ke dada kiri yang menjadi pangkalnya. Plasma ungu dengan lonjakan listrik, keluar dari mulutnya yang terbuka lebar. Ditembakkan kencang bersama jerit memekakkan.
Bola plasma itu menghantam Woofy, dan mendorongnya dengan diikuti lonjakan listrik--mencambuknya menembus lapisan bulu perak yang tebal.
Bum!
Bola plasma itu meledak menghantam daratan, dan menciptakan sebuah kawah super besar. Menimbulkan gelombang energi yang menghempas kencang. Bahkan sampai kepada kami yang berjarak beberapa kilometer.
Hampir saja aku--dengan tubuh lemas-- terhempas. Kalau saja, Kord tidak sigap menahan dan memegangiku sekuat tenaga.
"Woofy!" teriakku, saat melihat dia tengah bersusah payah berdiri. Kondisinya menyedihkan, dengan sebelah sisi badan yang gosong. Tanpa ada bulu perak lagi menutupi.
Woofy berhasil lolos dari hantaman telak bola plasma. Di tengah luncuran dia menghentakan tubuhnya sekencang mungkin, dengan cara menghantam tanah menggunakan ekor yang tergelung.
Woofy memang berhasil selamat, tetapi itu tidak cukup, karena Mitara telah bergerak untuk menyerang.
"Kau mau ke mana, Sam?" Putri Asaru menghampiriku yang hendak melangkah.
"Tolong pegang Shege, putri. Aku akan ke sana untuk membantu Woofy."
Putri Asaru hendak berkata, saat aku menyerahkan si burung berbulu merah, ke atas tangkupan tangannya. Namun, dia urung saat tatapan kami saling bertumbuk.
Aku berbalik lalu berusaha berlari walau terseok-seok. Tidak peduli panasnya tanah, seperti akan melelehkan alas kaki yang aku kenakan. Tujuanku hanya satu, menghampiri Woofy dan bersatu dengannya, demi dapat memberikannya kekuatan tambahan.
__ADS_1
Entah akan membantu atau tidak. Mengingat kondisiku yang sudah habis-habisan, setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga, demi melakukan serangan pamungkas bersama Shege.
Aku jeri melihat Woofy yang dicambuki tanpa ampun. Andai sedari awal aku menungganginya, hal itu tentu tidak perlu terjadi. Kekuatan kami akan berlipat ganda. Tetapi, sekarang Woofy malah menjadi bulan-bulanan Mitara si ratu siluman reptil.
"Hei! Hentikan!" Aku mengacungkan jari penuh tantangan ke arahnya.
Mitara berhenti demi menoleh ke arahku. Mulutnya terbuka, dan ulir ungu di badannya mulai berkilau. Menjalar naik menuju jantung. Ancang-ancangnya sebelum menembakkan bola plasma.
Mati aku!
Secuil bola plasma dimulutnya terlepas. Meluncur cepat untuk akhirnya meledak di angkasa. Mitara menjerit kesakitan karena perutnya digigit oleh Woofy. Membuat serangannya terlepas sebelum sempurna dipersiapkan.
Ctar! Ctar!
Buntut Mitara mencambuki Woofy. Berulang kali tanpa ampun. Namun, serigala perak itu tetap terus bertahan. Menggigit tubuh bersisik lawannya hingga menorehkan luka lebar. Seakan hendak mencabut sekerat dagingnya lepas.
Dan, aku paham Woofy melakukan itu semua demi menyelamatkan sobatnya. Dengan sisa tenaga yang bersemayam di tubuh penuh luka.
Mitara yang meradang marah, akhirnya membalas Woofy dengan menggigit punggungnya--tubuh siluman wanita itu bisa melentur bagai tanpa tulang. Gerigi di mulut siluman ular itu menembus tubuh Woofy, hingga dia melepas cengkraman moncongnya dari badan Mitara, karena kesakitan.
Mitara mengangkat tubuh Woofy dengan moncongnya. Sisik ungu yang mengulir mulai berkepilan. Sedetik kemudian, tubuh Woofy terlempar didorong ledakan plasma, yang menghancurkan setengah badannya.
Bugh!
Aku berlari sekencang mungkin demi mendatangi Woofy. Dia terkapar di sana dengan kondisi yang menyedihkan.
Erangan pelan kesakitan terdengar. Aku memeluknya sambil berurai air mata.
Entah Sam atau Aku, tetapi bagi siapa pun juga, ini adalah kesedihan, kan. Melihat sobat terbaikmu meregang nyawa. Sobat sehidup semati yang selalu setia, bahkan tidak segan mengorbankan dirinya.
Sialan! Harus beginikah semua berakhir?
Ayo, Woofy, bangkit! Ambil energi yang tersisa di dalam tubuhku. Hisaplah sebanyak yang kau butuh. Bangkit dan hiduplah, Sobat!
Percuma ... tidak aku rasakan sedikitpun juga kehangatan, atau kesakitan yang dideritanya. Cukup, Woofy! Jangan dipaksakan! Izinkan aku tersambung dan menanggung sebagian kesakitanmu.
Tetapi kau bergeming. Kau kan yang menahannya agar kita tidak tersambung.
Ya, Tuhan, tubuh Woofy semakin dingin dalam pelukanku. Tolong kami dengan kekuatan-Mu. Aku mohon!
Sinar ungu membias menerobos mataku yang terpejam dipenuhi tangis. Entah dari mana aku rasakan titik-titik dingin, yang kemudian menjalar di tubuh. Lalu, semua menggelegar.
Duar!
__ADS_1
Beginikah rasanya mati? Begitu lembut dan hangat.