
Akhirnya, sampailah kami di pulau Velbar. Tempat singgah yang harusnya sehari lalu sudah rombongan Andapala masuki, guna mengisi stok makanan dan beristirahat sejenak.
Apa mau dikata. Sudah bisa selamat dari ganasnya kapal besar itu saja, sudah menjadi suatu keuntungan besar. Selamat berkat badai buatan, yang idenya berasal dariku.
Camkan itu!
Usai berhasil membuat karam kapal yang tidak dapat dikaramkan itu, kami terseok-seok berlayar dengan lima kapal tersisa, yang kemudian berkurang lagi satu armada di tengah jalan. Sudah tidak sanggup lunasnya--kayu memanjang di bawah lambung yang menjadi penyanggah seluruh kapal--membawa beban, sementara terjangan ombak begitu keras di dekat perairan Pulau Velbar.
Sisa empat Armada dari Sunkalopa, plus satu kapal hitam milik Kapten Sando. Berlabuh di dermaga Velbar, yang terletak di negara Lasto. Sekutu Kerajaan Andapala.
Kalau bukan karena pertempuran gila-gilaan kemarin, tempat dengan iklim tropis yang teduh ini, tentu bisa aku nikmati sepenuhnya.
Suasana yang santai dan tenang, ditambah keramahan penduduk setempat. Tempat ini memang tepat sekali menjadi destinasi wisata, untuk turis dari berbagai negara.
Turun dari kapal, kami disambut penuh keramahan, oleh kepala daerah beserta rombongannya. Diberikan sambutan meriah sebagai tamu kehormatan.
Wajar sih, karena Andapala dan Lasto menjalin hubungan erat di berbagai bidang, bahkan memiliki akar rumput sejarah yang sama. Begitulah menurut pidato penyambutan, oleh kepala daerah, yang perutnya sama buncit dengan Falcoa.
Aku agak membatin kesal, saat para tamu dipersilakan untuk beranjak ke penginapan. Bukan karena hanya disediakan sedikit kendaraan, untuk mengangkut awak kapal ke tempat tujuan, tetapi karena sikap Leo yang kembali tak mau acuh kepadaku.
Iya, sikapnya sewaktu di kapal itu masih berlanjut. Cuek masa bodo kepada aku dan Yenz--pria pirang itu ikut dalam rombongan kereta kencana--dan malah mengekor Falcoa, walau si Buncit itu menjadikannya bagai kacung tanpa harga diri.
Anehnya. dia betah diperlakukan seperti itu. Benar-benar membuatku kesal. Tidak aku sangka dia punya bakat alami sebagai penjilat!
Memang, dia diberikan makanan, pelayanan, dan fasilitas lain yang lebih baik dari orang lain. Naik kereta kencana mewah di gerbong sang Gubernur Sunkalopa. Tapi, apa itu sebanding dengan perlakuan kasar yang diterimanya?
Ah, masa bodo lah. Pikiran itu malah membuat badanku, yang sudah remuk redam ini, semakin menjerit kesakitan.
Jarak dari pelabuhan menuju penginapan, memang tidak terlalu jauh, tetapi dengan kondisi badan yang tidak fit, jelas membuat perjalanan pendek ini begitu menyiksa.
"Tuan, butuh pijatan?" Ucapan dari seorang pria pendek, mengenakan kemeja pantai tak dikancing, membuat langkahku terhenti.
"Maaf, tidak perlu. Aku sekarang hanya butuh beristirahat, dan tidur yang lama," jawabku kepada pria bercelana pendek, dengan kepala botak atas, yang mengenakan ikatan kepala bermotif. Hiasan khas daerah sini sepertinya. Karena, banyak penduduk pulau, termasuk kepala daerah tadi, juga mengenakan benda seperti itu.
"Jangan sungkan, Tuan. Aku jamin Anda akan puas dengan pijat plus-plus saya." Omongannya yang asal celetuk itu, malah makin membuatku membulatkan tekad untuk menolak tawarannya.
Apa pula maksud plus-plusnya itu. Yang aku tahu dari internet, makna kalimat tersebut biasa digunakan untuk menunjukkan hal yang tabu.
"Maaf, aku tidak butuh," tolakku sesopan mungkin.
"Ayolah, Tuan. Tarifku murah. Hanya lima puluh kep saja. Itu pun masih bisa Anda tawar lagi. Tolonglah, Tuan. Saya butuh uang ini untuk makan. Sudah lama saya tidak bekerja, sejak bajak laut mulai datang ke perairan di dekat sini. Mohon bantulah aku, Tuan."
Sial! Mendengar dia mengiba, membuat aku jadi terenyuh. Memang kurang ajar para bajak laut itu. Karena ulah mereka, banyak orang jadi sengsara. Termasuk aku di dalamnya.
"Ok, baiklah kalau begitu. Tapi aku peringatkan kau! Jangan berani macam-macam! Apalagi soal plus-plus yang kau bilang tadi!" Aku berkata sambil menatapnya langsung dengan mata yang terpicing.
Pria bergigi jarang itu tertawa mendengar ancamanku.
__ADS_1
"Tenanglah, Tuan. Saya pekerja profesional. Maksud plus-plus tadi adalah, tambahan layanan saat sedang memijat. Anda boleh menyuruh saya bercerita, mendongeng, bernyanyi, walau suara saya tidak lebih bagus dari ringkikan kuda, atau sekadar mengobrol. Kalau Tuan ingin, bahkan saya bisa menjadi pendengar curhatan yang baik. Dijamin, cerita Tuan akan saya simpan dan bawa mati sampai ke dasar lautan sekalipun."
Tenang hatiku mendengar itu.
Pria lokal asli penduduk pulau Velbar, bernama Pud'e itu, menuntunku ke dekat pantai. Digelarnya tikar yang sejak tadi dia bawa dalam apitan tangan. Di antara pepohonan rindang berbatang kurus--cemara udang nama pohon itu kalau kata Pud'e--yang ditanam apik, di sepanjang garis luar pantai.
Aku membuka baju sesuai instruksinya. Agak ragu sih, karena masih teringat soal kalimat plus-plusnya. Tapi masa bodo, lah. Toh kami sedang berada di pantai, yang mana memang, mayoritas lelaki di sini, tidak ambil peduli walau bertelanjang dada.
Kalaupun dia berani macam-macam, jotosan Margo tentu bisa membuat dirinya kelenger.
Aku tidur dalam posisi tengkurap, dengan kedua tangan terlipat sebagai bantalan. Nyaman juga bisa beristirahat seperti ini di alam bebas. Badanku yang sakit, rasanya mulai sedikit terobati, oleh energi positif yang dikeluarkan oleh suasana pantai asri ini.
Tangan kurus Pud'e mulai membalurkan minyak hangat di atas punggungku. Aku harap dia tidak geli bercampur jijik, saat melihat dan menyentuh tubuh berbulu Margo yang bagai gorila.
Jujur saja. Aku sendiri pun, merasa risih setiap kali mandi dan melihat hutan bakau tumbuh subur, di badan besar pria brewok ini.
Sesi pijat dimulai. Beberapa kali aku meringis atau berteriak tertahan. Tidak menyangka kalau orang dengan postur tubuh kecil itu menyimpan tenaga yang besar. Tidak terlalu kaget sih, karena sudah sering juga melihat kekuatan ajaib, dari si pemuda jamet penjilat kurang ajar itu.
"Sepertinya Tuan telah melakukan perjalanan panjang yang berat ya?" tanya Pud'e sambil menekan tulang belikatku.
Aku meringis sebelum menjawabnya. "Begitulah. Banyak hal yang telah aku lalui beberapa bulan ini."
"Jelas sekali. Sendi di tubuh Tuan memang banyak yang menegang. Untung Anda bertemu saya. Tuan akan merasa seperti baru dilahirkan, setelah nanti malam tidur dengan nyenyak."
Aku tertawa mendengarnya. "Kau ini seperti peramal saja. Tapi aku akui, pijatanmu memang mantap punya."
"Memang begitu seharusnya, Tuan. Lagi pula, untuk seorang pemijat berpengalaman seperti saya ini, membaca pelanggan lewat tubuhnya, bukanlah hal yang mustahil dan sulit."
Aku mulai tertarik mendengar ocehannya. "Membaca bagaimana maksudmu?"
"Hampir seperti peramal, tetapi bukan ilmu supranatural yang dimiliki dukun. Hanya prediksi dan tebakan dari melihat kondisi tubuh Tuan."
Ah, sepertinya aku paham yang dia maksud. Mungkin seperti keahlian yang dimiliki tokoh detektif cangklong dari Inggris itu. Pun, walau cerita fiksi, tetapi aku percaya ada orang yang bisa melakukannya.
Bukan apa-apa. Karena, aku sudah beberapa kali melihat dan mengaguminya langsung. Keahlian hebat yang disebut hot reading atau cold reading itu.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Tama. Dengan keahliannya itu, dia bisa dengan mudah mengetahui niat tersembunyi kami--aku dan Wanara--dan membalasnya dengan keusilan, yang membuat kami hanya bisa mendongkol.
Nah, untuk kalian yang kemarin bertanya, "Loh kok Tama tahu Wanara bakal begitu?" Di arc pertama buku ini, maka itulah jawabannya.
Paham kan? Ya sudah, biar kulanjutkan cerita hebatku ini.
"Lalu bagaimana kau membacaku?" Aku makin tertarik dengan kehebatan Pud’e.
Aku melenguh saat pundak ini dia remas kencang.
"Tuan ini adalah orang yang diberkahi dengan keberuntungan besar. Sayangnya, Tuan seringkali merasa ragu dan takut dalam mengambil keputusan. Sehingga, di banyak kesempatan, Tuan justru kehilangan momen bagus, yang mungkin bisa diambil."
__ADS_1
Tunggu sebentar! Orang ini sedang membaca Margo atau diriku, sebenarnya? Lepas dari soal keberuntungan, ucapannya soal sifatku ada benarnya.
"Percayalah, Tuan, akan keputusan yang Anda ambil. Selama Tuan masih berpegang pada nilai kebaikan, maka nantinya tidak akan ada sesal di penghujungnya."
Pud'e berpindah memijat tanganku.
"Melihat kondisi Tuan yang seperti ini, aku yakin akan ada peristiwa besar yang menanti Anda di kemudian hari. Percayalah pada keputusan yang Tuan buat, dan juga teman yang menyertai Anda."
Aku tersentak mendengar itu. Sosok pemuda jamet dengan jambul iluminatinya, terbayang samar di pelupuk mata.
"Kalau begitu, bagaimana dengan teman yang begitu saja menjauh, demi mendapat kemewahan?" tanyaku. Hendak mulai meng-gibahi prilaku aneh Leo.
Dia tidak langsung menjawab. Berpindah ke sisi satunya lagi, untuk memijit tanganku yang lain.
"Saya percaya dan memegang prinsip sebab akibat. Tidak ada suatu kejadian tanpa ada pemicunya. Mungkin sebelum Tuan menghakimi orang lain, Tuan coba mengoreksi diri sendiri. Bukan bermaksud menggurui, tetapi terkadang kita alpha akan sikap kita kepada orang lain."
Omongannya mulai menyebalkan. Lagi pula, sejauh yang aku ingat, sampai sekarang tidak pernah tuh Leo aku risak, atau berbuat seenaknya pada dia. Berbanding terbalik malah dengan perbuatan Falcoa.
Yah, memang sih, selama dua minggu di Kalopa, dia seringkali aku suruh-suruh. Tetapi, aku lakukan dengan sopan dan baik.
"Tetapi, manusia itu adalah makhluk yang rumit. Terkadang ada maksud dan tujuan tersembunyi dari perbuatannya. Jika memang begitu, maka Anda harus melihat, bagaimana dia memperlakukan Tuan, di saat kondisi yang benar-benar genting."
Tunggu! Jika benar Leo mau menjauh atau sakit hati atas sikapku, lalu kenapa dia sampai berjibaku untuk menolongku saat insiden melawan kapal merah? Bisa saja, kan, dia menyuruh orang lain untuk menyelamatkanku? Atau mungkin pergi begitu saja tanpa memperdulikan aku lagi.
Aku masih terdiam dijejali banyak tanya, sampai pijitan di kedua kaki usai dilakukan. Akhir sesi perawatan badan berbulu ini. Dan, tetap tidak aku temukan jawabannya.
"Baiklah, Tuan. Aku yakin, besok kau akan kembali segar dan fit, bagai bayi yang baru lahir. Dan, satu hal lagi. Sebagai after servis." Pud'e mengambil botol bening berisi serbuk berwarna coklat. "Campurkan ini untuk air hangat berendam Tuan. Satu botol ini, bisa digunakan untuk tiga kali pakai. Dijamin ampuh menyegarkan tubuh Anda, dan menyempurnakan pijatanku."
Aku mengambil botol itu, setelah selesai mengenakan pakaian. Baik betul pria ini.
'Terima kasih, Tuan Pud'e. Oh iya." Aku merogoh saku dan menyodorkan uang yang sekenanya saja aku ambil untuk diberikan kepadanya.
"Ini kebanyakan, Tuan. Dua puluh tiga dem. Tarifku hanya lima puluh kep." Dia terperangah.
"Untuk servis plus-plus yang telah dirimu berikan, jumlah segitu sangat pantas untuk kau dapatkan." Lihatlah, ibu. Anakmu ini mengikuti apa yang telah engkau ajarkan. Untuk memberi lebih kepada orang yang telah ikhlas membantu kita. Lagi pula itu adalah uang mudah, yang diberikan oleh Falcoa kepadaku selama di Kalopa.
Pud'e menyalamiku sambil terus menghaturkan rasa terima kasih. Ramah betul orang ini. Mungkin jika lain kali kami bertemu, akan aku minta dia untuk memijatku lagi.
"Satu hal lagi, Tuan. Aku berdoa untukmu, agar terus diberkahi keberuntungan. Karena, apa yang Anda tuju sekarang, adalah tempat penuh jerat godaan dan bahaya laten tak terbilang."
Aku tercenung mendengar hal itu. Kali ini aku yakin, ucapannya bukan semata dari pembacaan. Bahkan terkesan seperti omongan seorang cenayang.
Aku menoleh ke belakang, demi dapat melihatnya yang belum lama berlalu. Sayang, aku kehilangan jejaknya, di tengah rombongan turis yang banyak berlalu-lalang di sekitar pantai.
Aku mulai yakin kalau Pud'e punya kekuatan meramal, macam orang lndigo. Kalau ketemu lagi, akan aku suruh dia ikut acara televisi, untuk menciumi nasib orang dengan kekuatannya.
Pekerjaan seperti itu tentu lebih menghasilkan banyak uang, dari sekadar tukang pijat di pinggir pantai.
__ADS_1