Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 27-2] De Javu Pulau Talse


__ADS_3

Daratan! Setelah perjalanan di atas kapal, yang berlangsung selama satu bulan lebih sedikit, akhirnya kakiku bisa mendapatkan pijakan konkret, yang tidak bergoyang-goyang dan bikin mual, apalagi setelah makan.


Oh ... daratan, ingin aku menciummu, untuk mengekspresikan rasa syukur membuncah di hati. tapi enggak jadi deh. Di depanku ada seekor anj*ing buduk lagi ngeden enak soalnya.


Lupakan soal anj*ing itu! Kita kembali ke topik yang utama.


Kurang lebih dua minggu lalu. Untungnya, prasangkaku kalau kami akan dibuang ke laut oleh Kapten Sando, ternyata tidak sampai terjadi. Memang benar Yenz membuat keributan di ruang komando, yang ternyata memiliki WC pribadi!


Sialan!


Aku, Leo, dan beberapa ABK, mendatangi ruangan kapten. Mencari tahu sumber pangkal keributan tersebut.


Mereka masih adu mulut saat kami menerobos masuk. Dari sana, tahulah kami masalah yang mereka ributkan. Soal jalur pelayaran kapal ini.


Yenz tidak setuju dengan keputusan Kapten Sando, yang akan terus membawa kapal menuju kerajaan Andapala, setelah menurunkan muatan di pulau Talse. Sebuah pulau kecil, yang berada di ujung negara Vajal.


Entah ada apa dengan Yenz. Kenapa pula dia meributkan hal kecil seperti itu? Padahal kalau menurut Leo, Talse dan dan Andapala itu tidaklah begitu jauh. Hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk sampai ke sana.


Lagi pula, yang aku tahu dari kru kapal, pergi ke Andapala adalah permintaan dari Apak Lapo, yang disetujui oleh Kapten Sando, karena memang ke sanalah tujuan awal mereka. Hal itu diminta oleh sang sepuh baik hati, semata agar aku bisa tinggal di sana, yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Vajal.


Lalu apa salah dan masalahnya coba? Sebegitu pentingnya kah perjalanannya? sampai tidak mau berhenti barang sebentar saja.


Terpikirkan olehku. Berdasarkan judul buku ini, mungkinkah tempat yang mau dituju Yenz adalah benua yang hilang? Dan, itu juga berhubungan dengan kotak kayu aneh miliknya?


Tak tahulah. Terakhir aku membahasnya, malah berakhir dengan keributan, dan dia jadi merajuk begitu macam bocah!


Di sisa perjalanan, Yenz tidak lagi mau mendekati anjungan kapal. Lebih memilih berdiam diri di kamar. Sesekali dia memeriksa kondisi lukaku, atau menghabiskan waktu dengan membaca buku yang terdapat di tas Leo. Terkadang dia betah mendengarkan ocehan si Jamet, yang tidak jelas juntrungannya, dibandingkan mengobrol denganku.


Lepas tengah hari, kami berlabuh di perairan pulau Talse. Menurunkan jangkar, lalu pergi ke pantai menggunakan perahu kecil. Sampai di daratan yang sekitarnya dipenuhi pepohonan dan tumbuhan lebat, bagai hutan rimba, kami bersiap menjaga pos sebagai tim penyambut barang muatan, yang diangsur oleh perahu, dari kapal hitam.


Aku takjub melihat Leo, yang sendirian bisa mengangsur setengah lebih muatan di perahu. Itu dia lakukan secara cepat dan rapi, dengan hanya membuat dirinya sedikit berkeringat.


Jangan tanyakan soal Yenz. Lelaki kurus lemah itu, hanya mampu membawa beberapa karung dan kotak, untuk kemudian beristirahat lama dengan napas terengah-engah.


Selesai kami menurunkan barang. Tidak lama kemudian, Kapten Sando yang awalnya telah terlebih dahulu memasuki hutan rimba, di seberang pantai, kembali datang bersama beberapa orang.

__ADS_1


Aku tebak, mereka itu adalah penghuni asli pulau ini. Orang-orang berkulit coklat itu, berpostur kekar pendek, yang kesemuanya bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana di atas lutut, yang terbuat dari kulit hewan.


Kami sebagai tim yang sudah berada di daratan, pergi memasuki hutan rimba. Tidak jauh di dalamnya, terdapat jalan setapak lebar. Aku agak kaget dan takut begitu sampai di sana, karena segerombolan anjing hutan sudah menunggu dalam posisi siaga.


Sedikit lega aku, saat diberitahu salah satu kru kapal, kalau anjing-anjing itu adalah peliharaan orang desa. Hewan berkaki empat tersebut, bertugas menjaga perkampungan, peternakan, ladang, dan kebun dari binatang lain, seperti ****, ular, dan hewan buas berbahaya.


Aku bersama rombongan meneruskan perjalanan. Masih dengan sedikit was-was, karena takut para ajag (anjing hutan) berbulu coklat, yang terus mengawal kami di sisi kanan dan kiri itu akan menerkam.


Berbeda dari orang-orang kekar tadi, yang dengan santainya beriringan bersama ajag, membawa barang muatan dari pantai dengan langkah cepat. Aku pikir tenaga mereka mungkin sebanding dengan Leo.


Cukup jauh kami melangkah di jalan setapak, hingga akhirnya sampai ke perkampungan yang lumayan luas. Sangat tertata, rapi, juga bersih.


Tidak seperti perkiraan awalku, yang menebak kalau tempat tinggal suku pedalaman ini akan kumuh, kotor, dan berantakan. Berlumpur juga penuh kotoran, dengan banyak anjing, ****, juga binatang ternak berkeliaran atau berkubang.


Ternyata jauh dari bayangan--bukan harapan ya--perkampungan ini begitu tertata. Rumah-rumah huniannya yang berbentuk oval, dibangun dari kayu, dengan atap jerami, dan pintu unik, yang seperti dibuat dari susunan ranting. Diikat satu sama lain, sampai berbentuk persegi panjang.


Hunian itu semua, diberikan pagar kayu dan tersusun menjadi blok-blok, berukuran tiga kali tiga, dengan bagian tengah kosong, yang dipakai untuk beberapa kegiatan bersama. Dijelaskan kalau biasanya di satu blok itu, tinggal orang-orang yang masih berkerabat dekat.


Di antara dua kubu susunan blok perumahan kayu yang tersusun rapat memanjang, terdapat jalan setapak. Di awalnya sempit dengan sisi kiri dan kanannya dibatas pagar bambu--di beberapa bagian terpasang tiang panjang yang berfungsi sebagai obor saat malam--untuk kemudian semakin melebar sampai ke ujung. Berakhir di sebuah rumah panggung besar. Tempat pemimpin desa tinggal.


Seorang sepuh botak berjanggut abu-abu, dengan tubuh bongkok disanggah tongkat, keluar dari pintu rumah panggung tinggi di depan kami.


Sedang asyik aku mencuri pandang ke arah si gadis, yang mengenakan pakaian terusan selutut, dengan celana panjang sebagai bawahannya, rusukku tiba-tiba saja disenggol si Jamet usil.


"Tuan, engkau tahu apa istilah untuk keadaan, di mana kita pernah merasa ke suatu tempat, padahal tidak pernah ke sana sebelumnya?"


Aku mengerutkan dahi menatap pemuda itu. Kesal bercampur heran dengan pertanyaannya.


"De Javu maksudmu?"


Pemuda itu mengangguk dengan mata berbinar. "Iya benar. Aku sedang merasakan hal itu sekarang."


Makin heranlah aku akan tingkah si pemuda nyentrik itu.


Aku hendak balik bertanya, saat Kapten Sando--sebelumnya dia beramah tamah terlebih dahulu dengan sang tetua suku--menyuruh kami untuk naik ke rumah panggung.

__ADS_1


Kami disambut dan dipersilakan masuk, saat sudah berada di teras rumah, oleh orang tua bernama Perota itu. Sang sesepuh, sekaligus tetua desa. Suaranya lirih, dengan logat aneh yang bagai mengeluarkan ucapan dari hidung. Sengau.


Oh iya. Sebelum kalian berpikiran aneh-aneh. Perlu aku garis bawahi. Orang-orang di suku ini, sama sekali tidak primitif--untuk ukuran zaman di dunia ini--dan semuanya menggunakan pakaian lengkap.


Jamak bahannya menggunakan kain tenun yang dominan berwarna gelap. Lelaki biasanya menggunakan kaos dan celana panjang berwarna polos, sementara perempuan, menggunakan daster bermotif unik seperti lukisan bunga atau hewan. Pakaian itu, dilengkapi kain besar, yang melingkar di pinggang. Seperti kimono mungkin.


Orang-orang yang mengenakan celana pendek di atas lutut, dari kulit bintang itu, adalah penduduk desa yang sedang bekerja di ladang. Bisa dibilang, itu adalah seragam mereka saat sedang mengolah lahan dan juga berternak.


Di dalam rumah panggung itu, kami duduk bersila membentuk lingkaran, dan langsung dijamu dengan olahan makanan unik barbau harum.


Di atas alas dari anyaman kulit kayu, kami mulai menyantap hidangan besar yang menggoda. Menggunakan piring yang terbuat dari daun, nasi berwarna kuning, dan lauk yang sesukanya sendiri boleh kami pilih. Seungguk penuh diambil, untuk akhirnya habis kami santap.


Sungguh benar-benar nikmat. Makanan terenak, setelah sebelumnya aku hanya dapat jatah makanan hambar, yang dibuat oleh koki kapal.


"Terima kasih atas kedatangannya, Tuan-tuan sekalian. Silakan beristirahat, atau jika ingin melihat-lihat sekitar desa, kalian bisa meminta tolong kepada para pemuda yang berjaga di sekeliling rumah panggung ini, untuk jadi pemandu." Sang tetua desa mulai beranjak, dengan dibantu oleh si gadis manis. "Tuan Sando, silakan ikuti saya. Untuk para tamu lainnya, mohon maaf jika jamuan yang kami berikan kurang berkenan. Nikmati waktu kalian."


Aku awalnya merasa aneh, kenapa hanya Kapten Sando yang diajak oleh ketua suku, sementara kami ditinggalkan. Setelah aku pikir-pikir, mungkin saja itu urusan bisnis antara mereka. Tidak ada urusannya denganku.


Di saat perut sudah kenyang, paling enak langsung berbaring. Beranjak aku ke tepi ruangan besar rumah panggung ini, yang telah disediakan sejulur kasur lipat. Aku yakin akan nikmat sekali, apa lagi udara sejuk daerah ini sangat membuai.


Mataku baru tertutup setengah, saat aku rasakan bunyi menderit lantai kayu. Perlahan aku angkat kepala, dan menemukan Yenz, yang mulai beranjak dari pembaringan.


Mau berulah apa lagi dia? Di saat semua orang sudah jatuh terlelap karena lelah bercampur kenyang, lelaki cantik itu malah memanfaatkannya untuk pergi menyelinap.


Inginnya sih aku tidak acuhkan, tetapi mengingat kejadian di kapal, benakku makin gelisah. Bisa jadi, buntut kelakuan dia nanti, malah membuat kami celaka.


Aku ikut beranjak akhirnya. Mengindik menggunakan ujung kaki, untuk mengikuti dia dari belakang, yang sedang menuju pintu samping. Tempat tadi Tetua Perota dan Kapten Sando keluar.


Aku mengutuk dalam hati, karena tanpa sengaja, menginjak bagian lantai kayu yang menimbulkan derik keras. Yenz menoleh dengan mata melotot nanar menatapku.


Tanpa suara dia menggerakkan bibir tipis ranumnya. Berkata sebaris kalimat tanpa suara. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu, yang jika tebakanku benar, adalah seperti ini, "Wahai lelaki yang gagah dan tampan, kenapa kau mengikutiku!?" Sepertinya begitu.


Aku bingung harus menjawab apa. Malas berdebat tanpa suara, aku gerakkan naik tangan kanan, dan menempelkan jari telunjuk, di depan bibir yang kumajukan. Mendesis, sebagai tanda agar dia tidak berisik.


Yenz menepuk teredam jidatnya sambil menggeram. "Kembali kau! Jangan ikuti aku, Sialan!" Hardiknya, dengan suara tertahan. Tangannya menunjuk ke arah kasur.

__ADS_1


Sifat bossy-nya keluar. Bagiku itu sangat menyebalkan. Hendak aku membalas perkataannya, saat suara teguran menyentak, dari barisan kasur di seberangku terdengar.


******! Mencelos rasanya jantungku. Kami akan mendapatkan masalah besar lagi pastinya! Dan, lagi-lagi ini semua gara-gara Yenz!


__ADS_2