
Langkahku sampai di ambang pintu toko roti Madam Fonte, yang sudah luluhlantak di banyak bagian. Tetap dengan pikiran mengambang yang banyak memberikan tusukan rasa bersalah. Dari misi yang gagal aku jalankan, dan efek yang dihasilkannya. Kehancuran kota berikut korban jiwa yang banyak bergelimpangan.
"Jangan sok keren dengan merasa kalau semua ini adalah kesalahanmu, Nak." Aku tersentak begitu mendengar suara teguran yang dalam dan berwibawa tersebut. Membuyarkan lamunan dengan perkataannya yang seakan bisa membaca pikiranku.
Entah dari mana dia muncul. Waktu sampai di toko roti terkenal ini, aku yakin kalau tidak ada satu pun orang di sana. Bahkan seekor tikus pun tidak. Tetapi, tanpa ada angin atau hujan, tiba-tiba saja sosok lelaki tua tersebut sudah terlihat duduk di depan meja bundar pojok toko. Tengah memakan roti ditemani segelas susu hangat. Seakan sudah lama berada di sana.
"Kemarilah! kita bicara," ajaknya sambil mencelupkan potongan roti ke susu.
Aku menghampiri dan duduk di hadapannya. Sesaat terdiam menatapnya memakan roti keras itu dengan penuh kenikmatan. Dikunyahnya pelan-pelan sambil memejamkan mata. Lama, hingga di akhirnya dia mendecap penuh kenikmatan. Senyum puas terkembang di wajahnya. Seakan itu adalah makanan ternikmat yang pernah dia rasakan.
Lucunya, melihat hal itu, jauh di dalam lubuk hatiku, ada sedih yang merembes. Tertuju kepada pak tua, dengan banyak tingkah misteriusnya.
Ya ampun, kenapa pula aku jadi secengeng ini. Dirundung perasaan sedih, persis seperti dulu, sewaktu ayah akan pergi lama ke luar kota. Urusan pekerjaan yang penting.
"Ini semua bukan kesalahanmu, Nak. Misi yang kalian jalankan itu adalah rencana cadangan paling akhir, saat semua rencana yang aku susun tidak berhasil." Fokusku langsung teralihkan kepadanya.
"Seharusnya, kau bisa dengan mudah sampai ke kastil, tetapi ternyata dihalangi dan terpisah dari Woofy. Semestinya saat kau sampai di kastil, Putri Asaru muncul dan menjelaskan semua kepada para pejuang sayembara dan mengajak mereka bertempur melawan Mitara dan pasukan kadalnya. Tetapi, ternyata Arson mengagalkan hal itu dengan pedang ungunya. Kalaupun, Mitara muncul mengejar kalian, aku harusnya bisa mengalahkannya dan membuat kalian lebih mudah memenangkan pertarungan. Aku salah perhitungan. Dia menjadi jauh lebih kuat sehingga justru aku yang terluka parah. Jadi, apa yang kau anggap kegagalan itu adalah akumulasi kesalahanku, yang naif mengembalikan Arson kepadanya. Alih-alih menjadikan pria itu sebagai sandera."
Segumpal perasaan bersalah yang mengganjal terangkat dari benak. Walau masih tersisa, tetapi setidaknya bebanku menjadi lebih ringan.
__ADS_1
"Kau ingat? Roti ini yang menjadi penyebab awal kita bertemu. Makanlah." Artapatu menyodorkan roti dan menggeser gelas susunya mendekat kepadaku.
Saat aku hendak menyobek roti, tangan keriput itu sengaja melepaskannya. Membiarkan seluruh roti bundar itu terambil olehku.
"Habiskan. Sebagai peneman dirimu mendengarkan ocehan pak tua ini."
Entah kenapa aku menurutinya. Mengambil sekerat roti, lalu mencelupkannya ke susu sebelum dimakan. Bukan sihir, tetapi seperti ada dorongan untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakannya. Mungkin dorongan dari Sam.
"Di jalan saat kau terburu-buru datang ke alun-alun kerajaan, demi mendengarkan sayembara. Saat itulah pertama kali kau bertemu denganku. Akan tetapi, sebenarnya sudah jauh-jauh waktu aku berusaha menemukanmu, Nak."
Aku tersedak mendengarnya. Meminum seseruput susu demi melancarkan tenggorokan yang tersumpal gumpalan roti. Disebabkan rasa penasaran yang begitu saja menghentak muncul, mendengar ucapannya.
"Kau tentu sudah mendengar cerita tentang Tura dan Pata dari Putri Asaru kan?" Aku menjawabnya dengan anggukkan.
"Begitulah sebenarnya kisah yang pernah terjadi di benua ini. Akan tetapi, awal mula cerita ini, sebenarnya dimulai seribu tiga ratus tahun yang lalu. Di mana pada saat itu, manusia hidup di wilayah kecil yang dilindungi oleh kekuatan batu gaia, atau inti hutan, begitulah kebanyakan orang lebih mengenalnya sekarang. Terlindung dari para monster ganas di luar wilayah mereka menetap. Hidup dengan Aman dan tentram, tanpa kekurangan satu apa pun.
"Namun, walau sudah mendapat berkah sebesar itu, mereka tetap tidak puas dengan bagian yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Mereka ingin mengambil bagian lain dari benua, walau sadar tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukannya."
"Demi meluluskan nafsu keserakahan itu, mereka mulai membuat ritual pengorbanan manusia yang dipersembahkan kepada gaia. Berharap batu itu akan semakin kuat dan memperlebar cakupan wilayahnya. Berpuluh-puluh orang mati menjadi tumbal, tetapi tetap sang batu pelindung bergeming. Bukannya berhenti mengikuti nafsu iblis itu, mereka malah semakin gencar melakukannya. Membuat banyak penduduk ketakutan dan marah."
__ADS_1
"Sampai di suatu malam. Meteor besar menumbuk dan menghancurkan sebagian wilayah tempat tinggal mereka. Membuat barikade pertahanan batu gaia, menghilang untuk sesaat. Kesempatan yang dimanfaatkan para monster untuk menerjang masuk. Banyak yang menjadi menjadi korban, sampai akhirnya, para ksatria bisa menghabisi semua monster yang masuk dan menyerang pemukiman. Menggunakan senjata yang telah diberkati cahaya gaia."
"Mereka merasa kalau bencana tersebut adalah hukuman dari Tuhan. Seluruh penduduk menyalahkan para tetua pemimpin wilayah, karena telah melakukan ritual tabu. Hampir-hampir saja terjadi bentrokan besar, kalau saja mereka tidak menemukan wujud sebenarnya bencana tersebut. Isi dari batu langit, yang ternyata menyimpan sepasang batu sakti. Lazarus dan haswa."
"Seperti yang kau tahu. Dari batu itulah tercipta senjata legendaris, yang berhasil menghabisi para monster di benua ini. Hingga, memberikan para manusia akses bebas untuk menjelajah, dan menempati setiap sudut daratan. Terlepas dari sangkar emasnya yang sempit."
"Sayangnya, nafsu tidak pernah berhenti merongrong. Pemilik permata lazarus hendak menguasai seluruh wilayah benua. Dia merasa pantas, karena dirinya adalah keturunan dari sang penemu benua. Sebuah ambisi yang dipicu oleh pengaruh buruk lazarus. Awal dari perang besar yang mengubah warna batu itu menjadi hitam. Peperangan berlangsung lama, yang tentu saja dengan banyak korban jiwa. Sampai akhirnya, dengan usaha keras yang hampir saja merenggut nyawa mereka, pemilik tombak taring perak dan pedang cakar merah, dapat mengalahkan pemegang permata lazarus."
"Usai pertarungan pamungkas terjadi. Dia kabur ke pulau terjauh bersama segelintir pengikut setianya. Membawa dendam dari luka yang membuat fisiknya cacat. Berjanji akan membalas dendam dengan membinasakan seisi penghuni benua."
"Kedua pahlawan yang tersisa akhirnya sadar. Meteor yang jatuh membawa sepasang batu sakti ternyata bukanlah berkah dari ritual penumbalan manusia yang dilakukan pimpinan mereka. Itu adalah kutukan yang diturunkan untuk menghukum para manusia yang dipenuhi nafsu keserakahan. Karena hal tersebut, mereka akhirnya sepakat untuk menyembunyian senjata legendarisnya, setelah sebelumnya menciptakan pelindung di sekitar benua untuk menghalau datangnya tulah dendam permata lazarus. Mengasingkan diri demi membuang gelar pahlawan yang disematkan para penduduk, lalu menikah dan memiliki keturunan."
"Waktu berjalan. Beberapa abad berlalu, benua terus diisi kedamaian. Sampai akhirnya cucu buyut dari sang pemilik lazarus berhasil datang memasuki benua. Menembus penghalang yang diciptakan oleh sepasang pahlawan dengan kekuatan batu haswa. Dialah Mirala."
Aku tidak terlalu kaget mendengarnya, karena dari awal memang aku sudah menduga seperti itu.
"Dari sinilah jawaban atas pertanyaanmu akan terjawab. Bukankah kau pernah bertanya; kenapa kau yang bukan siapa-siapa, malah terpilih melakukan tugas berat ini?"
Aku kembali mengangguk. Anggukan yang dipenuhi buncah tanda tanya.
__ADS_1