Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 22-2] Masa Lalu dan Dendam


__ADS_3

Kaki ini tidak mau lagi mengayun. Terpaku oleh suara familiar, yang bergema penuh amarah dari kejauhan.


Aku sama sekali tidak pernah bertemu dan mengetahui siapa pemilik suara itu. Tetapi, dari ingatan Margo yang tiba-tiba saja menderasi pikiran, tanpa ragu, diri ini yakin kalau mengenali orang bersuara serak tersebut.


Juan Morales, nama orang itu. Pria yang membokongku saat pelarian di sungai--kalau lupa, baca lagi gih bab prolog di awal. Tak diragukan lagi itu pasti dia.


"Kalian pergilah lebih dulu!"


Eh ... kenapa aku berbicara seperti itu? Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Yang tadi berbicara itu Margo, bukan aku!


Mereka berdua diam menatapku.


Ya Tuhan! Kenapa harus begini? Bagaimana bisa aku menghadapi sendirian, orang yang berdasarkan ingatan Margo, memiliki kemampuan menembak yang hebat. Tidak mungkin, kan, apa lagi dia seorang berpangkat Mayor dalam jabatan petugas hukum. Mati aku kalau sampai dia membawa banyak anak buah!


"Apa yang kalian tunggu lagi!? Pergi sekarang! Biar aku yang menghadapi dan menahan mereka!"


Lagi-lagi mulut ini mengoceh sendiri. Ingin aku gampar bibir Margo dengan wajan gosong!


Mereka masih terdiam. Mengapitku dengan dua ekspresi yang berbeda. Satu menatap kagum, dengan mata berbinar dan napas tertahan. Seorang lagi mendelik, dengan bibir atas sebelah kiri terangkat penuh.


Benar. Orang pertama itu Leo, dan satunya lagi si cowok cantik yang minta ditabok. Yenz.


"Kau sakit?" tanya Yenz.


"Apa maksudmu?" balasku.


"Ingat kejadian di gurun, saat kita dikejar kadal karnivora?"


Kalau dibilang tidak, berarti aku bohong. Kejadian menakutkan di mana kita saling berpegang tangan.


Sebenarnya sih aku yang memeganginya biar tidak kabur. Tapi, hei ... yang kita hadapi adalah monster ganas berjumlah banyak. Sangat tidak mungkin, kan, melawan mereka, hanya dengan sepucuk revolver, dan amunisi yang terbatas.


Oh iya, kalau kalian lupa, bisa baca lagi kok di bab 9-2. Kalian akan sadar kalau yang kulakukan itu wajar adanya.


Malas aku menjawab dan menatap wajahnya. Aku menoleh ke arah Leo, demi mengalihkan pandangan dari orang menyebalkan itu.


"Kau hebat, Tuan! Berani menghadapi pasukan sebanyak itu sendirian." Leo menjulurkan tangan, dengan telunjuk teracung melewati badanku.

__ADS_1


Aku menoleh, lalu tercengang melihat sebarisan pasukan pihak berwajib, yang mengenakan seragam biru dongker panjang, sedang berjalan menderap. Mendekat, dengan senjata laras panjang tersampir di pundak.


Ya Tuhan! Demi kehidupan yang hanya berlangsung sekali. Bagaimana caranya aku menghadapi mereka semua? Yang setelah kuhitung cepat, ada kurang lebih tujuh belas orang petugas hukum di bawah komando si Mayor Juan.


"Tuan Margo. Kau tidak mungkin, kan, menghadapi mereka sendiri dengan sepucuk pistol? Untungnya, tadi Apak Lapo menitipkan ini kepadaku, untuk diberikan kepadamu."


Saat aku menoleh, dia dengan gesitnya memutar tas punggung, dan menaruhnya di atas lantai pelabuhan. Membuka tutup teratas yang terkancing, untuk mengeluarkan seutas ikat pinggang kulit berkantung.


Bukan gesper biasa. Selain aku yakin kualitasnya bagus--kelihatan mengkilap waktu terkena cahaya lentera jalanan yang tergantung di tiang tinggi--di ikat pinggang itu juga bersemayam sepucuk revolver bongsor. Berlaras lebih panjang dan besar, dibandingkan senjata sejenisnya. Ditambah bonus tas kantong kecil terjahit di sisi, yang isinya bergemerincing. Aku yakin bermuatan butiran peluru.


Itu adalah senjata terbaik di jenisnya. Revolver magnum, yang telah lama diimpi-impikan Margo. Senjata dengan daya hancur dan akurasi yang begitu hebat.


"Diam di tempat, dan angkat ...."


Aku berbalik dengan memutar badan, yang bertumpu kaki kanan beralas sepatu bot hitam. Bersamaan dengan itu, aku menarik tuas pemukul, dan langsung menyentak pelatuk di belakang telunjuk. Menghentikan ocehan Juan, yang aku tahu bagaimana lanjutannya.


Peluru yang kutembakkan berhenti di dalam lantai beton pelabuhan. Melesak masuk, menebarkan kepulan debu dan serpihan batu. Hanya beberapa senti jaraknya dari lelaki tirus, bertulang pipi menonjol tersebut.


Pasukan di belakangnya mengambil senjata yang tersampir di pundak. Hendak mengokang, untuk selanjutnya mengarahkan moncong senjata kepada kami. Aku khususnya, yang telah mengancam mayor kesayangan mereka, dengan tembakan peringatan.


Namun, sebelum senjata sempat terangkat, Juan telah lebih dahulu merentangkan kedua tangan. Tanda agar mereka tidak meneruskan aksinya.


"Kalian pergilah sekarang juga!" Bisikku. Menyampirkan gesper kulit itu di bahu kanan, melintangi dada. Sedikit memutarnya, agar si cantik magnum revolver berada pas di sisi badab.


"Kau yakin?" tanya Yenz.


Kenapa masih juga dia tanyakan? Menghadapi sepasukan terlatih begitu sendirian. Ya jelas lah tidak!


Kau gila, apa? Kalau bukan karena dorongan kuat emosi Margo, sudah barang tentu aku akan lari sedari tadi. Tetapi, kaki, tubuh, bahkan pikiran ini sangat kuat menolaknya!


"Semoga beruntung, Tuan! Aku yakin kau bisa melawan pimpinan petugas baru itu, yang katanya sangat jago dalam urusan menembak" ujar Leo sambil menepuk pundakku, lalu berlari bersama Yenz tanpa ragu!


Beruntung kepalamu penyok! Dari pada ucapan basa-basi itu, lebih baik kalian memberiku bantuan menghadapi mereka, dari pada lari dan meninggalkanku seperti sekarang!


Dari jarak seratus meter--kira-kira saja--aku lihat salah satu anak buahnya memerotes, karena membiarkan dua buronan lain melarikan diri. Ujaran pendapat yang berhadiah sebuah hardikan keras.


Selama menyaksikan drama para petugas berwajib di hadapan, tanganku bergerak sendiri mengisi senjata. Begitu lancar dan alami, tanpa perlu meliriknya barang sekalipun jua.

__ADS_1


Awalnya menaruh telapak tangan kiri di bawah senjata, sambil menggeser tonjolan di bawah tuas palu, menggunakan ibu jari tangan kanan. Disusul jari tengah dan manis kiriku menekan silinder, hingga terlepas keluar sarang peluru dari bingkai.


Senjata berpindah ke tangan kiri. Aku gerakkan, hingga moncong senjata menghadap ke atas. Menekan bilah besi yang menyatu dengan tabung, sehingga selongsong kosong yang bersarang di dalamnya, terdorong keluar semua.


Satu persatu aku ambil peluru, yang tersimpan di kantong kecil sabuk di pinggang, yang tersisa enam buah. Pas dengan jumlah lubang di revolver, yang kini kumiringkan menghadap ke bawah, demi dapat memudahkan sewaktu mengisinya. Memasukkan sekaligus tiga peluru, ke lubang silinder yang kosong. Dua kali saja kulakukan untuk membuatnya penuh.


Semua proses itu terjadi kurang dari sepuluh detik. Mungkin hanya delapan hitungan.


Belum selesai omelan si mayor bermata coklat tajam itu termuntah semua, aku telah menuntaskan pengisian, dan mendorong kembali tabung yang sudah terisi penuh. Masuk terkunci di dalam bingkai.


Juan menghentikan makiannya, begitu mendengar suara kokangan senjata. Aduan kait besi saat pemukul primer peluru kutarik.


"Kau mau melawan kami, Margo? Lihat perbandingan kita! Dengan para bawahan yang kuajarkan langsung, bagaimana kau bisa memenangkan adu senjata ini?" Juan berkata sambil mengambil senjata laras panjang yang disodorkan anak buahnya.


Dia bertanya seperti itu kepadaku. Lalu, kepada siapa aku bertanya untuk menemukan jawabannya? Aku sendiri pun tak tahu akan bagaimana, sialan!


Kalau bisa, aku memilih kabur, dari pada bertarung melawan kalian!


Satu-satunya hal yang membuatku berani berdiri di sini, sembari menodongkan senjata dengan kedua tangan terjulur, semata-mata karena dorongan emosi menggelegak di sanubari Margo. Hanya itu. Tidak lebih.


"Aku berikan kau penawaran. Letakkan senjatamu, lalu menyerahlah secara damai. Maka akan aku perlakukan kau secara baik. Mengingat hubungan kita selama ini."


Ah ... tawaran menarik. Mau sih aku terima. Tapi, setelah itu apa? Aku dimasukan ke penjara, dan terancam mati dieksekusi di tiang gantungan. Atau, bisa jadi dipenjara seumur hidup, lalu mati tanpa bisa keluar dari buku jahanam ini!


Jawabannya tentu saja tidak!


Ok. Situasinya sekarang, aku berada di alur cerita tanpa jalan keluar. Hanya ada satu cara penyelesaiannya, yaitu dengan melawan. Hasilnya, entah aku bisa keluar hidup-hidup, atau mati konyol sebagai buronan, dengan nilai hadiah yang kalah telak dari si cowok cantik itu!


Didorong satu hal yang aku percaya di dunia ini, yang membuat gemetaran di tanganku mereda. Keahlian menembak Margo yang sangat mumpuni. Kalau mau ditambah satu lagi, mungkin hanya soal pengalamanku dalam menyelesaikan game komputer dengan skor yang tinggi.


Ah, benar juga! Itu mungkin bisa dipakai!


Lone Samurai in Evil World. Sebuah game petualangan dengan tingkat kesulitan di atas "mimpi buruk". Aku berhasil menyelesaikan level terakhirnya, yang oleh banyak orang, dibilang sebagai siksaan emosi dalam dunia game komputer.


Cara yang sama untuk mengalahkan raja terakhir di game itu, akan aku gunakan pada pertarungan hidup mati ini. Aku harap bisa berhasil.


Kalau tidak, ya sudah. Berarti kalian akan kecewa, karena tidak bisa lanjut mengikuti ceritaku yang hebat ini.

__ADS_1


Maka dari itu, doakan aku ya, pembaca!


Awas kalau tidak!


__ADS_2