Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 6-2] Rencana Dijalankan


__ADS_3

Beberapa saat selanjutnya, kami mulai membicarakan soal rencana untuk kabur dari tahanan para bandit. Tetapi, si bangkot Golbar malah membuat kami kesal setengah mati. Terutama aku.


Bagaimana tidak. Bukan hanya menolak rencana kabur yang dijabarkan Yenz, dia bahkan juga mengancam akan menggagalkannya.


Alasan dia bersikap seperti itu, karena kalau kami menjalankan rencana Yenz, maka tidak mungkin baginya membawa muatan karavan saat melakukan pelarian, terutama karung yang tadi satu gerobak denganku--entah apa isinya sampai sebegitunya ingin dibawa. Sementara, dia sudah dijanjikan oleh Borex--pimpin para bandit--akan dibebaskan berikut barang dagangannya.


Hampir-hampir aku beri bogem mentah ke wajah pria sialan itu. Sudah mana menyalahkan aku karena tertangkap oleh bandit gurun, sudah begitu dia mengaku--keceplosan sebenarnya--kalau sudah "menjualku" demi kebebasannnya.


Ternyata, itu alasan dia dimasukkan belakangan ke gubuk ini. Sebelumnya. Di rumah kayu yang menjadi markas para bandit, dia melakukan negosiasi alot dengan Borex dan komplotannya. Membicarakan tawaran ide soal menyerahkan aku ke pihak berwajib. Memberikan kepada kawanan Borex duit hadiahnya, sementara dia dilepaskan dengan membawa setengah barang dagangannya.


Sudah sepantasnya, kan, orang kurang ajar itu diberi pelajaran? Aku cukup yakin dengan fisik Margo--yang bertangan kapalan ini--mampu membuat si kurus Golbar kelenger kena hantam.


"Apa kau yakin mereka akan melepaskanmu, setelah kau menyerahkan uang hadiahnya? Mereka adalah bandit yang picik dan serakah. Apa kau pikir mereka akan puas hanya dengan itu saja?" Ucapan Yenz membuat Golbar mengubah pendiriannya, sekaligus membuatku urung melayangkan bogem berbulu serabut.


Berjam-jam setelahnya. Kami gotong royong menjalankan rencana Yenz. Ya, rencana nekat sekaligus brilian. Menurutku.


Di ruangan seluas lima meter persegi ini--kira-kira ya--kami bertiga mulai menggali tanah berpasir dari lantai kayu yang longgar, dan dapat dilepas, di pojok ruangan.


Aku menggali, Golbar memindahkan tanah ke dalam peti kayu kosong, yang bertumpuk di sudut ruangan--mungkin itu peti kayu bekas barang rampasan mereka--sementara Yenz berjaga dengan melihat kondisi di luar ruangan, dengan mengintipnya dari celah dinding kayu. Kami bergantian melakukan ketiga tugas itu.


Di setengah perjalanan rencana. Pekerjaan dihentikan sementara, agar bandit yang berpatroli tidak menaruh kecurigaan atas keadaan kami di dalam sekapan, yang semenjak tadi diisi suara-suara yang jelas mencurigakan. Hal itu sekaligus menjadi langkah, agar mereka tidak menemukan lubang besar di belakang gubuk, yang memang belum tergali.


Saat jeda istirahat berlangsung. Yenz mulai merobek ponco kumal milikku. Walaupun ingin, tetapi aku sama sekali tidak bisa protes, karena hal itu bagian dari rencana. Pun, kain itu sudah terlalu lusuh untuk digunakan.


"Apakah aku boleh membawa sedikit saja barang daganganku?" tanya Golbar. Tak menyerah.


Aku mendelik, dan mulai berpikiran lagi untuk menjotosnya. Seberapa berharga sih dagangan itu dibanding nyawanya?


"Aku tidak bisa menjanjikannya, tapi kalau kau berkeras, resikonya kau tanggung sendiri." Yenz menghentikan pekerjaannya sebentar.

__ADS_1


"Yah, tapi barang-barang itu sangat berharga. Bahkan itu adalah tiketku agar bisa membayar hutang kepada rentenir, yang memberikan pinjaman berbunga besar, kepada mantan istriku yang boros," ucapnya dengan nada memelas.


Aku sedikit tertarik dengan perkataannya. Benda berharga apa yang tadi hampir sepanjang perjalanan ada bersamaku di gerobak karavan. Lagi pula, kalau sebegitu mendesaknya terlilit hutang rentenir, kenapa tidak jual saja tiga buah gigi emas di mulutnya itu?


Iya, si Rusty Golbar itu mempunyai gigi emas. Aku baru sadar tadi, saat cengirannya di bawah lampu petromak, dibarengi dengan sorotan mengkilat menyilaukan mata.


Sayangnya, belum sempat aku bertanya, suara kayu palang pintu digerakkan terdengar. Tanda ada bandit penjaga yang akan masuk.


Kami bergegas memulai sandiwara, seperti yang sudah direncanakan. Yenz duduk di pojokan gelap, demi dapat menyembunyikan lantai kayu yang sudah tidak terpasang dengan benar. Golbar bergaya gelisah sambil memerhatikan kami--ya, awalnya tadi dia disuruh Borex untuk menjadi mata-mata di dalam gubuk. Dan, aku meringkuk menggigil di pojokan. sebuah akting sakit bernilai sebuah piala oskar.


Seperti yang dikatakan Yenz. Di sekitar awal malam, akan ada penjaga yang datang membawakan makanan--bubur encer menjijikkan. Dia sama sekali tidak curiga, walau sempat lama melihatku dengan mata terpicing--mungkin terpukau dengan aktingku.


Menjelang tengah malam, kami melanjutkan penggalian. Membuat lubang seukuran badan--patokan badanku, karena paling besar di antara mereka berdua. Namun kini, kami mulai memindahkan pasir ke peti kosong yang ditempatkan di depan pintu. Berguna sebagai barikade agar tidak ada bandit yang bisa masuk.


Tuntas lubang terbuat. Yenz mengambil satu petromak dan mematikan apinya. Membuka tabung berisi minyak tanah, dan mulai mencipratinya ke sekeliling ruangan.


Golbar sudah menelusup keluar saat Yenz sedang menyimpul longgar petromak yang menempel di dinding papan. Ya, menggunakan tali yang dibuat dari robekan ponco kumalku.


Saat menelusup melewati lobang sempit--untuk ukuran Margo--aku jadi ingat sewaktu melihat seekor anjing liar, yang menyelinap melewati pagar rumah kosong, setelah sebelumnya membuat lubang kecil di sana. Dan, sekarang aku melakukannya juga. Ah, konyol sekali cerita di dalam buku ini!


Was-was kami menunggu Yenz keluar. Apalagi, sekali waktu ada seorang bandit yang berjalan di gunung batu terjal. Pas di seberang kami berada. Untung saja malam ini sedang waktunya bulan mati, sehingga kegelapan menutupi kami berdua yang sedang meringkuk ketakutan. Menempel di dinding gubuk.


Suara gesekan pelan dan teratur, kemudian mengalihkan perhatian kami. Dengan lihainya, Yenz kelur dari lubang dengan kaki terlebih dahulu. Iya, seperti bayi yang dilahirkan sungsang--jadi ingat pelajaran biologi waktu itu. Menggerak-gerakkan badannya secara cepat ke kiri dan kanan, untuk akhirnya kami bantu dengan menarik kakinya yang tersembul.


Dia sengaja keluar dengan cara seperti itu, agar dapat menjaga tali yang tersimpul di petromak menjadi tidak terlalu menegang, tetapi tetap dapat diulur sampai keluar.


Berhasil. Setelah dia membetulkan posisi mantelnya kembali ke belakang, Yenz memberi kode agar aku dan Golber mulai bergerak.


Aku mengintip di ujung gubuk, untuk kemudian berlari menyeberang ke gubuk satunya--berjarak kurang lebih tiga meter. Ya, rumah kayu yang ternyata berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang jarahan para bandit tersebut.

__ADS_1


Lepas kami bersembunyi di belakang gubuk satunya, Yenz segera menarik tali yang dipegang.


"Hei, apa itu!?" jerit seorang penjaga. Mendengar suara benda pecah.


Sedikit aku intip, bandit plontos yang masih mengenakan topi tinggi itu hendak membuka pintu gubuk, tempat kami (tadi) ditahan. Sayangnya, usaha yang dilakukannya sia-sia, karena pintu tersebut sudah dibarikade tumpukan peti bermuatan pasir yang berat.


Dia meloncat panik saat asap hitam yang disusul api mulai menyelimuti gubuk tersebut. Panik pria plontos itu berteriak memanggil dan memberitahu teman-temannya kalau terjadi kebakaran.


Sontak, buru-buru kawanan bandit itu mendatangi tempat kejadian kebakaran. Semua kepala yang ada di sana--kecuali kami tentunya--teralihkan fokusnya kepada gubuk, yang mereka pikir masih terdapat para tawanan berharga.


Tidak mau membuang-buang waktu dan kesempatan, kami segera melanjutkan pergerakan. Memasuki gudang secepat mungkin, dengan tetap berusaha agar tidak terlihat.


"Baiklah, seperti yang kita rencanakan. Kalian tunggu di sini, sementara aku melepaskan ikatan para kuda. Keluarlah dari sini, begitu terdengar suara ledakan. Setelah itu, tergantung keberuntungan kalian. Bisa menaiki kuda yang sedang panik, atau tidak."


Aku mengangguk sambil menelan ludah berat. Tak tahu bagaimana nasibku nanti. karena sampai sekarang, tidak pernah sekalipun aku menaiki kuda. Apalagi mengendarainya. Sudah begitu dalam kondisi panik pula.


Dalam kegalauan bercampur sedikit penyesalan, karena menerima tawaran kabur si Yenz yang jenius itu. Selintas aku teringat ucapan Wanara, kalau di dunia ini kita akan mendapatkan keahlian dan kekuatan fisik tokoh yang diperankan.


Mengingat ucapan Wanara, tiba-tiba saja muncul keyakinan dan kepercayaan diri. Yakin kalau Margo dapat melakukannya.


Semoga saja, dan tidak menambah traumaku.


"Anu ... bagaimana soal barang-barangku?" tanya Golbar. Jelas membuatku naik pitam.


"Barang apa sih yang begitu berharga sampai kau berkeras mau membawanya!? Bukankah kalau kau bisa keluar dari sini, dirimu bisa mencarinya lagi di pasar!?" bentakku dengan suara tertahan.


"Kalau begitu, aku tidak akan seperti ini. Asal kau tahu, barang bawaanku itu lebih berharga dari pada emas, dan tidak dijual bebas di pasaran! Bijih angin in ...." Dia menutup mulutnya sendiri. Menahan ucapan yang akan keluar.


Melirik kami bergantian, yang menatapnya dengan mata terpicing.

__ADS_1


Meski aku tidak pernah mendengarnya, tetapi Margo sedikit tahu tentang benda itu. Barang tambang yang nantinya, sedikit banyak akan membumbui cerita ini.


Apakah itu? Penasaran ya? Kuy sana lanjut baca bab berikutnya!


__ADS_2