
Tanganku kebas. Terlalu lama melingkari tubuh besar Kord dari belakang, demi membekap mulutnya. Ya, lambe-nya yang sedari awal terus memotong cerita Putri Asaru. Cerita yang katanya sangat penting dan berhubungan dengan misi kami. Menyelamatkan kerajaan Capitor beserta benua Suno.
Oh ya. Kami bisa selamat dari kejaran wanita bergaun ungu itu dengan bantuan Artapatu yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Kami bertiga sampai di goa dengan kondisi menyedihkan. Kelaparan, penuh luka, kotor, dan masih menyimpan trauma atas rentetan kejadian sebelumnya. Beruntung, di ceruk dinding goa, sudah petapa sakti itu siapkan segala macam stok kebutuhan. Makanan, baju ganti, obat-obatan, dan lain sebagainya. Jadi setidaknya kami tidak perlu mencarinya ke luar, sementara masih ketakutan akan ditemukan si wanita penyihir dan antek kadalnya.
Seharian penuh kami memulihkan semua luka dan menghilangkan rasa lelah. Merawat Woofy dan Shege, yang begitu sadar langsung makan dengan lahap, berikut si beruntung Kord. Lukanya sudah sembuh, yang mungkin atas bantuan Artapatu, setelah sebelumnya, menurut pengakuan dia, dirinya hampir memasuki alam baka. Akan tetapi, sebelum sempat dia melangkah masuk ke tanah kematian, arwah si gendut itu disentak kembali oleh sengatan listrik yang besar. Jadi bisa dibilang, serangan si wanita bergaun ungu yang hampir membinasakan kami berempat, malah menjadi seperti alat kejut jantung--kalo tidak salah namanya defribrilator seingatku--bagi dirinya. Beruntung sekali kan.
"Lepaskan lah bekapanmu dari Kord, Sam. Kasihan dia sudah susah bernapas," pinta Putri Asaru yang langsung aku turuti saat itu juga.
"Sialan kau, Sam! Kalau badanku tidak lemas, sudah aku hajar kau." Dia menyusulku duduk bersandar dinding goa.
Lengang sejenak. Kord mengatur napas sambil memegangi lukanya, yang kata dia masih terasa sakit. Putri Asaru menatap ke arah tepi kolam di mana Woofy dan Shege, dalam bentuk imutnya, tengah tertidur pulas. Sementara aku menatap stalaktit di langit-langit goa yang bersinar menerangi kami. Mencerna cerita panjang si putri, cerita yang sedikit banyak sudah diketahui Sam, tetapi baru pertama kali ini kudengar. Mencoba mencari benang merah antara petualanganku sejauh ini dengan ceritanya.
"Aku sudah mendengar kisah sang raja lalim ratusan kali, dengan banyak versi, dari ibu, ayah, dan juga dalang yang suka berkisah di tengah pasar dengan boneka kayunya. Tetapi, versi ini baru pertama kali aku mendengarnya." Kord membuka percakapan.
Perhatian kami teralih kepada dirinya. "Bukan bermaksud menghinamu, putri. Tetapi dari yang aku tahu, dongeng yang kau kisahkan tadi adalah penggabungan dari cerita ’Si Raja Lalim’ yang menjadi kisah bagaimana kerajaan Capitor terbentuk, dan seharusnya juga, raja lalim itu mati oleh pedang Tura, si pendekar hebat yang akan menjadi raja pertama di kerajaan ini. Bisa dibilang kakek buyutmu. Tanpa penyihir reptil, yang seharusnya ada di cerita ’Kutukan Penyihir Penuh Dendam’, juga dua bersaudara berikut petapa jahat di cerita ’Petualangan Dua Bersaudara Di Rimba Gelap’. Oh iya, dan juga dua buah senjata yang menjadi lambang kerajaan itu juga berasal dari kisah tentang awal benua ini dengan judul, ’Sepasang Pahlawan Pembebas Benua’ dan itu tanpa adanya cerita tentang batu lazarus seperti di ceritamu."
__ADS_1
Itu alasan kenapa aku membekap mulutnya. Andai kata dia dibiarkan, mulut cerewetnya itu tidak akan berhenti memotong cerita Putri Asaru dengan pendapat-pendapat (sok) jeniusnya.
"Kau benar, Kord. Memang kisah yang aku ceritakan adalah penggabungan dari kisah-kisah tersebut. Tetapi, sebenarnya lebih tepat kalau dibilang kalau cerita yang aku dengar dari Tuan Artapatu itu adalah cerita sebenarnya sebelum dipotong, dipisahkan, lalu diubah untuk disesuaikan."
"Hah? Jadi maksudnya hal itu disengaja? Begitu?" tanya Kord dengan mata terpicing.
Putri Asaru menghela napas berat. "Sebenarnya, cerita itu masih ada satu bagian lagi untuk melengkapinya. Ya, kisah ’Kutukan Penyihir Penuh Dendam’ seperti yang Kord katakan tadi." Putri Asaru berpindah posisi ke sebelahku. Ikut bersandar dengan mata menerawang ke langit-langit. "Tura bukanlah raja pertama kerajaan Capitor, seperti yang diketahui oleh seluruh penduduk kerajaan. Pata lah yang pertama kali diangkat menjadi raja setelah si raja lalim mati."
"Apa!? Hei, lalu bagaimana dengan Tura?" sambar Kord.
"Tunggu sebentar. Tiga hari? Bukannya sebelumnya kau bilang kalau obat itu membuat mereka tertidur selama tujuh hari?" sela Kord, yang aku hadiahi sikutan kencang di lengannya. Dia kesakitan, putri tertawa.
"Dulu aku juga bertanya seperti itu kepada Tuan Artapatu. Dia bilang, mereka bisa lebih cepat bangun karena peran kekuatan senjata legendaris yang melindungi." Kord ber-oh pelan, "Mirala yang bertugas sebagai perawat mereka, melarang warga yang ingin tahu untuk masuk. Walhasil, penduduk tidak tahu siapa pahlawan sebenarnya. Hal itu yang membuat Tura mengusulkan ide konyol. Dia menyuruh Pata mengakui kalau hanya dia sendiri yang mengalahkan raja lalim. Pata menolak, tetapi karena Tura terus memohon, akhirnya Pata mengabulkannya."
"Kenapa dia menolak? Padahal kalau dia melakukannya, mungkin para penduduk akan menjadikannya raja. Secara dia lebih tua dari Pata. Jadi raja itu kan enak. Tinggal suruh sana dan sini, masalah selesai. Makanan enak bisa dimakan kapan pun yang dimau. Dihormati banyak orang, dan tidak perlu kerja keras menggarap pertanian atau mengembala hewan ternak."
__ADS_1
"Diamlah, Kord! Biarkan Putri Asaru menyelesaikan ceritanya! Mau kau, aku bekap lagi seperti tadi!?" ancamku karena sudah kesal dengan kecerewetannya.
"Hahaha. Tidak apa-apa, Sam. Aku juga akan menjelaskan alasan kenapa Tura melakukan itu." Tawa renyah itu menurunkan emosiku. "Tura memutuskan seperti itu karena memang dia tidak mau kalau sampai diangkat menjadi raja. Takut ke depannya berselisih paham mengenai kekuasaan dengan adiknya. Selain itu, dia juga tahu kalau banyak pekerjaan memusingkan, yang membuat kebebasannya menjadi hilang. Dia ingin kembali ke lembahnya dan membangun gubuk mereka lagi. Bertani dan berternak, sambil menjaga makam ibu mereka."
"Karena alasan itu, Pata mengiyakan permintaan kakaknya. Singkat cerita, Pata menjadi raja dengan Mirala yang dinikahinya sebagai ratu. Sementara Tura kembali ke lembah dan menjalani kehidupannya seperti dulu. Di sana pula lah, dia bisa bertemu Azara. Si gadis burung yang cantik. Nenek buyutku."
"Maaf, Putri, tetapi jangan bilang kalau itu dari kisah "Pangeran dan Gadis Burung" yang setahuku tokoh prianya adalah pangeran dari kerajaan jauh, dan bukan Tura."
"Woofy, kemari!"
Anjing kecil itu langsung bangun mendengar panggilanku. Membuat Shege yang tidur di atas tubuhnya terjatuh. Burung berbulu merah menyala itu terbang demi dapat mematuk Woofy. Marah karena tidurnya terganggu. Woofy tidak peduli dan langsung berlari mendatangiku sambil menggonggong dan menggoyangkan ekor.
"Woofy, kau berjaga di sini. Jika Kord berani menyela ucapan Putri Asaru, langsung kau gigit bokongnya. Mengerti?" Woofy menyalak menjawab perintahku. Menatap tajam Kord, sehingga membuat dia yang sudah lama tidak menyukai anjing, berjengit ketakutan.
Shege bertengger di pundak Putri Asaru yang tengah tertawa. Menyaksikan Kord yang seketika diam seribu bahasa.
__ADS_1