Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 47-1] Malamku Bersama Putri Asaru


__ADS_3

Ada kehilangan besar yang kami rasakan. Dari kepergian sosok yang ternyata telah menjaga kerajaan dan benua ini selama ratusan tahun. Orang yang seharusnya menjadi kekuatan besar bagi Capitor, untuk menghadapi teror laten dari dendam sang penyihir sakti Mitara.


Artapatu. Dia yang menghilang menjadi partikel cahaya, setelah berjuang hampir seumur hidupnya. Meninggalkan kami setelah memberikan sepucuk harapan, untuk sepenuhnya membebaskan daratan benua ini dari kutukan para pendahulu.


Putri Asaru yang paling terpukul atas kehilangan itu. Dia menangis dalam pelukanku. Meratapi kepergian orang yang selalu menguatkan dan menghiburnya setelah kematian sang ibunda tersayang. Kehilangan beruntun orang-orang yang dia sayangi, dalam satu hari penuh darah. Meninggalkan luka menganga, berikut sisa perjuangan yang tak tentu hasilnya.


Namun, dia benar-benar pantas disebut sebagai wanita berhati baja. Dalam kukungan kesedihan itu, dia masih mampu bergerak dan memberikan perintah menanggapi peringatan terakhir Artapatu.


Suara lantang dan wajah menggurat garis tegas, dengan mata berkilatan cahaya obor yang mulai dinyalakan--Menyambut malam yang semakin menghitam. Putri Asaru memerintahkan para pria mulai mendirikan pagar kayu berujung runcing yang ditempatkan mengelilingi istana sebagai penghalau terjangan musuh. Beberapa yang lainnya, dikomandani untuk membuat lubang besar, guna menguburkan masal korban jiwa yang menggunung.


Tidak tersisa sedikit pun jejak duka di wajahnya, saat sang raja dikuburkan bersama korban lainnya. Walau aku tahu dia lama menahan napas, demi membendung tangisan yang merongrong minta dikeluarkan.


Anak-anak, wanita, orang tua, dan mereka yang terluka diungsikan. Dimasukkan semuanya ke istana, dan beberapa diperintahkan masuk ke ruang bawah tanah, yang dahulunya difungsikan sebagai penjara. Menutup rapat dan menguncinya berlapis, bahkan diperkuat lagi dengan menaruh penghalang di belakang pintu besi tersebut. Semua itu semata-mata demi menghalau para kadal, jika seandainya saja berhasil menerobos masuk barikade di luar Istana. Skenario terburuk, yang jamak diharapkan tidak akan pernah terjadi.


Gudang senjata istana dibuka. Pedang, tombak, perisai, dan segala jenis senjata berikut baju perang dikeluarkan. Tidak kurang kuda-kuda simpanan kerajaan digiring keluar kandang, bahkan para warga pun menyumbangkan kuda terbaiknya. Semua itu dibagikan, untuk siapapun juga yang sanggup berperang, dan mempunyai nyali untuk menghadapi monster kadal bersenjata lengkap. Tapi, ternyata simpanan itu masih kurang, karena banyaknya yang maju bersedia ikut berperang. Akhirnya, mereka yang tidak mendapat senjata, mengambil alat-alat pertanian, dan segala yang bisa digunakan sebagai penggantinya.


Entah karena apa mereka sampai mau seperti itu. Dorongan karena kecintaannya terhadap kerajaan, keinginan pamer unjuk kekuatan, atau yang paling mungkin, mereka merasa percuma bersembunyi, karena mau bagaimanapun juga, jika Mitara menang, maka bisa dipastikan tidak akan ada satu nyawa manusia pun bisa selamat.


Menjelang tengah malam, para prajurit dan relawan selesai menyusun barikade. Menempati posnya masing-masing, seperti yang sudah ditentukan. Dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugasnya sendiri-sendiri. Di sekeliling istana, hingga di menara-menara menjulang yang kokoh. Khusus untuk para pemanah.


Usai semua persiapan. Makanan dan minuman pun dihidangkan. Pesta dimulai dengan penuh riang tawa, di sekeliling api unggun yang menyala menguarkan kehangatan. Kebahagiaan dan kesenangan terakhir, sebelum kami menghadapi peperangan, yang menentukan nasib umat manusia di benua Suno.


Sejenak aku ikut berpesta bersama mereka. Mendengarkan canda juga guyonan konyol yang bersahutan satu sama lain. Di tengah kerumunan itu aku coba membaur, tetapi pikiran dan hati tetap gelisah memikirkan satu perihal yang belum tersampaikan.


Tanpa berpamitan lagi, aku akhirnya menyelinap keluar keramaian. Melangkah bertudung gelap malam, untuk sampai di muka istana. Memasukinya dengan satu tujuan pasti.


Sejak kepergian Artapatu, ada keinginan aku berbicara empat mata dengan Putri Asaru. Lama aku tahan, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sekarang waktu yang tepat. Di mana tidak ada lagi tugas untuk dikerjakan.


Setelah lama mencari. Di lorong istana yang jauh dari kerumunan dan kebisingan pesta. Tanpa ada pula hilir mudik pengungsi. Putri Asaru duduk meringkuk bersandarkan pilar besar. Ditemani Woofy dan Shege yang telah tertidur pulas sehabis melahap banyak makanan.


Dia bergeming, walau langkahku menimbulkan gema di ruang lengang tempat kami berada.


"Putri Asaru. Maaf jika aku mengganggumu." Gadis itu mengangkat kepalanya pelan, dengan tetap memeluk erat kakinya yang terlipat.


"Duduklah di sini." Tangannya menepuk lantai yang ada di sisi kanan.


Aku mengangguk. Menuruti permintaannya. Duduk berdekatan di sebelahnya. Jujur saja membuat jantung ini berdetak kencang.


Sebagai catatan. Itu murni reaksi dari Sam, bukan aku. Toh jantungnya juga milik dia. Ya kan?

__ADS_1


Grep!


Hampir meloncat jantung ini dari tempatnya, karena begitu aku duduk bersila di lantai, Putri Asaru langsung memelukku erat. Dia kembali menangis. Kencang, hingga terisi tiap sudut lorong dengan kesedihannya.


Aku tahu dia terpukul dan masih sangat bersedih sepanjang hari. Tetapi, karena didorong rasa tanggung jawabnya, dia menyimpan rapat perasaan tersebut. Terus bergerak mempersiapkan peperangan yang akan datang. Sebagai pengalih dirinya dari terbenam ke dalam duka yang menggenang.


Lama dia menangis di pundakku. Terus memeluk erat, enggan untuk dilepaskan. Seakan berusaha menahanku agar tidak pergi meninggalkannya, seperti Artapatu.


"Terima kasih karena telah meminjamkan pundakmu, Sam." Putri Asaru mengangkat kepalanya. "Aku senang kau selalu ada untukku. Seperti seorang kakak yang selalu aku inginkan."


Ada detak menusuk saat mendengar ucapan Putri Asaru. Entah kenapa bisa begitu. Aku bukan ahlinya kalau soal percintaan. Tapi ya sudahlah, toh itu masalah Sam, bukan aku.


"Putri Asaru. Kau sudah tenang sekarang?" tanyaku dengan nada datar.


"Ah ... oh iya. Bukankah kau ingin berbicara denganku. Maaf, aku terlalu terbawa perasaan." Dia mengusap sisa air matanya sambil berusaha tersenyum. "Maafkan aku. Katakanlah, Sam."


Aku menarik napas panjang dan menahannya sesaat sebelum berkata, "Kau berlindunglah, dan jangan ikut perang nanti."


Putri Asaru membelalakkan mata. Rahangnya mengeras dan urat di leher jenjangnya menonjol keluar. Terlihat kesal, tetapi berusaha keras menahannya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu!? Apa karena aku wanita, makanya kau menyuruhku bersembunyi juga seperti yang lain!? Aku memang wanita, tetapi aku juga adalah keturunan Tura, sang pahlawan benua yang mengalahkan sang raja lalim! Darahnya mengalir di dalam nadiku! Aku memang tidak jago berpedang dan melepaskan panah. Tetapi ... tapi ... Shege! Hanya aku yang bisa menungganginya untuk membantu dalam pertempuran nanti, dan itu sesuatu yang harus dilakukan, karena dengan kekuatannya, kesempatan menang kita semakin besar!"


"Karena itulah aku memintamu untuk tidak ikut berperang nanti."


"Maksudmu?"


Aku menghirup napas panjang.


"Sebelum kepergiannya, Artapatu menceritakan kisah lengkap dari petualangan Tura dan Pata. Bagian-bagian yang tidak dia ceritakan kepadamu."


"Hah? Maksudmu Tuan Artapatu menyimpan rahasia dariku? Dan itu rahasia penting yang hanya diceritakan kepadamu?"


"Sangat penting, namun akan sulit jika dia mengatakannya sendiri."


"A-apa yang sebenarnya disembunyikan Tuan Artapatu? Ceritakanlah kepadaku!" desak Putri Asaru.


Detik berikutnya aku mulai menceritakan semua yang diberitahu oleh Artapatu di dalam toko roti. Berurutan sesuai yang tadi dia ceritakan, secara lengkap tanpa ada yang tertinggal satu apa pun juga. Sesuai kesanggupanku.


Putri Asaru langsung bungkam seribu bahasa. Menyandar lemas di pilar dengan mata menerawang kosong ke langit-langit tinggi lorong istana. Jelas dia terpukul mendengar kenyataan itu. Tura yang dibanggakan ternyata memiliki sisi kelam seperti itu.

__ADS_1


"Jadi kakek buyutmu yang harusnya memegang kedua senjata itu?" Putri Asaru menoleh ke arahku. Pelan aku mengangguk. "Lalu, kenapa saat latihan, Woofy tidak mau mendengarkanmu, dan tadi saat penyerangan, Shege mau menurutiku?"


"Aku pikir karena kami belum melakukan penyatuan dan kekuatan mereka belum bangkit. Pata dan Tura pun awalnya tidak terpengaruh oleh senjata legendaris, tetapi setelah kekuatannya bangkit, Pata mulai memiliki ambisi buruk yang diperparah oleh permata lazarus. Begitupun Tura, dia mulai dikuasai oleh ambisi jahat setelah memegang lagi senjata legendaris." Aku menatap kedua hewan yang masih nyenyak tertidur di depan Putri Asaru. "Dan, mungkin saja dia mau menurutimu karena aku sudah menyetujui rencana yang akan kita jalani. Dengan kamu diharuskan berpartner bersama Shege."


Dengan mana terpicing, putri terus menatapku. Mendengus pelan sebelum berkata, "Begini. kita coba saja. Bagaimana kalau kita sama-sama memberikan perintah kepada Shege. Lihat siapa yang diturutinya."


Ada seutas harap di balik tantangannya yang terucap. Namun, di hatiku juga terbit rasa tak tega. Bukan sombong atau sok yakin, tetapi jika merunut cerita Artapatu--yang sampai saat ini selalu terbukti kebenarannya--aku merasa sudah tahu pasti hasilnya. Tetapi, mau bagaimanapun juga, harus aku lakukan, agar tidak ada keraguan lagi di dirinya. Juga diriku.


"Baiklah. Shege, bangunlah!" Burung itu seketika bangkit menuruti perintahku. "Kita lakukan secara bersama. Aku akan menyuruhnya agar bersuara. Terserah nanti apa yang ingin kau perintahkan. Kita lakukan dalam hitungan ketiga."


"Baiklah!" Putri Asaru mengangguk tegas.


Berurutan aku menyebutkan angka. Di setiap iringan hembusan napas. Dari satu hingga akhir ucapan angka ketiga. Dengan tetap ujung mata ini melirik Putri Asaru di sebelahku, yang fokusnya tak lepas dari si burung merah.


"Terbanglah, Shege!"


"Berkicau!"


Perintah itu meluncur dari mulut kami secara bersamaan. Sedetik kemudian Putri Asaru menitikkan air mata. Pandangannya kosong menatap burung berbulu merah, yang terus diwariskan dari nenek buyutnya itu, sedang berkicau dengan riang. Tidak peduli akan tangisan sang putri, yang sudah bertahun-tahun seiring sejalan bersamanya.


"Hentikan, tolong hentikan!" Putri Asaru menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Terisak teredam mendengar kicauan si burung berbulu merah.


Lorong hanya terisi tangisan untuk sesaat, setelah Shege menghentikan kicauannya dan kembali tertidur. Terus instrumen duka itu menggema, sampai Putri Asaru mengangkat kepalanya sambil menghapus jejak air mata.


"Ya sudahlah kalau memang begitu." Jelas terlihat dia berusaha keras mengembangkan senyum. "Tetapi, bukankah susah jika harus memberikan perintah kepada Shege dan Woofy secara bersamaan. Izinkan aku untuk membantu. Setidaknya akan meringankan pekerjaanmu."


Aku menggeleng. "Tidak, Putri Asaru. Perang yang akan kita hadapi ini akan penuh ketidakpastian. Kamu bisa saja terbunuh di tengah pertempuran, atau aku yang lebih dahulu mati dan membuat mereka berdua kehilangan kendali. Shege bisa saja mengamuk dan mencelakaimu jika itu terjadi. Aku tidak mau kau terluka."


"Kenapa?" Semu merah itu kembali merona di wajahnya. Tetapi, kali ini dia sama sekali tidak membuang muka. Terus menatapku dengan mata berbinar yang tidak berkedip.


Aku tahu dia ingin aku mengatakan sebuah alasan. Tapi apa? Bukankah sudah jelas kalau aku tidak ingin dia celaka? Alasan apa lagi kalau begitu? Ah, sial! cewek memang sulit dimengerti.


"Yah ... anu ... itu .... Oh iya! Kakak. Bukankah sebagai seorang kakak, dia harus selalu melindungi adiknya. Bukankah kau bilang tadi kalau sudah menganggapku sebagai seorang kakak?" Yah, itulah jawaban terbaik yang bisa aku berikan. Seperti nasihat Mama saat Chiya sedang berulah tak jelas.


Sesaat membeku datar, sebelum ekspresi wajahnya terkembang senyuman yang dipaksakan.


"Baiklah kalau begitu. Aku merasa beruntung memilikimu sebagai seorang kakak, Kakak Sam yang baik hati!" Putri Asaru berdiri dan langsung membalikkan badan. "Aku akan beristirahat di kamar. Aku akan menuruti permintaanmu, Kakak Sam, dengan tidak menunggangi Shege. Tetapi, bukan berarti aku tidak boleh bertarung di barisan belakang kan? Bersama para penduduk yang siap berjuang melawan para kadal. Biar begini aku juga pernah berlatih menggunakan pedang. Boleh kan, Kakakku Sam?"


Tanpa menunggu jawaban, dia pergi meninggalkanku begitu saja. Aku heran dan kebingungan, karena merasa kalau nada ucapannya tadi begitu menusuk dan penuh tekanan. Salah apa aku sebenarnya?

__ADS_1


Dasar aneh.


__ADS_2