Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 54-2] Nona Rushka


__ADS_3

Telat! Leo sudah keburu bergerak, sebelum sempat tanganku terangkat untuk menahannya.


Wajahku pucat begitu dia mulai mengayun langkah, layaknya hendak menerjang. Membuat dua lelaki di sisi wanita berambut putih itu memasang kuda-kuda, demi menyambut serangan brutal yang akan menghambur.


"Nenek Cantik!" teriak Leo, yang jelas mengagetkan. Bukan hanya aku, tetapi juga Yenz, Hovler dan juga Arza.


Pemuda kelakuan bocah itu melompat melewati meja dalam satu kali hentakan. Berlari riang dengan tangan terentang, lalu memeluk si wanita cantik berambut putih, yang membalasnya tanpa sungkan!


Ada apa ini sebenarnya!? Apa mungkin wanita itu adalah ibunya Leo? Tapi kenapa dia tadi memanggilnya nenek? Padahal mau dilihat dari manapun, wanita itu masih terlihat muda.


Sejenak mereka bercengkrama dalam dekapan, sebelum melepas pelukan hangat, yang bagai penuh kerinduan.


"Kau sudah bertambah besar, Leonal. Bagaimana, kau sudah bertemu dengan si tua Perota di Tasla kan?" tanya Baba Rushka.


Sedikit terkejut aku mendengar nama kekeknya Manika disebut. Tidak salah lagi, pasti mereka memiliki hubungan.


Leo mengangguk. "Ya, dan setelah itu beliau mengatakan ’dindin tak dindin’, tiba-tiba saja kepalaku menjadi sakit. Tetapi, saat itu aku mulai ingat banyak hal. Tidak banyak, tetapi terus bertambah setiap waktu."


"Tak perlu khawatir. Itu adalah kata kunci yang aku berikan kepadanya, untuk melepaskan penghalang ingatan yang kubuat. Kau tidak marah kan?"


Leo menggeleng cepat beberapa kali. "Tidak apa-apa, Nenek Cantik, karena aku tahu kau melakukan itu juga demi kepentinganku."


"Baguslah. Tapi, aku minta kau berhenti memanggilku Nenek. Khusus untukmu, panggil saja aku Nona Rushka," pinta wanita berambut putih itu sambil mengelus rambut Leo.


"Oh ... baiklah Nekna Rushka."

__ADS_1


Entah dia sengaja meledek, atau memang bodohnya sedang kambuh. Ucapannya itu membuat si cantik menepuk keningnya bersama helaan napas panjang.


"Kau tetap mengesalkan ya. Sudah, sana kembali ke kursi dekat temanmu."


Leo bergegas menuruti perintah wanita berpipi tirus merona tersebut. Diekori dari belakang, sampai di tengah ruangan, tempat kami berada.


Sigap Kapten Hovler menarik kursi dan mempersilakan si wanita berambut putih untuk duduk. Beradab sekali dia ternyata, walau congornya agak kasar.


Sejenak kami terdiam saling melempar pandang. Mulai timbul pemikiran di benak, yang datang dari kejadian lalu hingga selang beberapa detik tadi.


Mungkinkah dia Baba Rushka? Aku kira akan dipertemukan dengan seorang nenek tua bongkok, yang wajahnya penuh keriput, dan berjalan pelan dengan tongkat sambil dituntun oleh Hovler. Kenyataannya berbanding terbalik. Dia nampak bagai wanita dewasa imut pertengahan tiga puluhan, yang pintar merawat diri. Loliable!


"Selamat datang para Tuan Petualang. Akhirnya, hari yang aku nantikan tiba. Para pemeran kunci telah berkumpul, untuk membuka gerbang yang menyimpan satu kepingan jawaban atas banyak pertanyaan." Kata sambutan puitisnya itu, diakhiri dengan senyum yang menampakkan gingsul di belakang barisan giginya.


Aku mengangkat tangan. Macam siswa yang minta izin bertanya--atau pergi ke toilet karena kebelet. Wanita cantik di hadapanku itu mengangguk, dan memberikanku izin untuk menyampaikan unek-unek di hati.


Baba Rhuska tertawa pelan sambil menutupi mulutnya. Usai itu dia berkata, "Aku bukan seorang peramal, Tuan. Bahkan nama kalian pun aku tak tahu, sampai Tuan Farsa Hovler memberitahukannya kepadaku. Diriku hanyalah seorang pembaca dan pengamat, yang bertugas memberikan prediksi paling tepat, dari analisa atas kejadian yang berlangsung, dengan tujuan mengetahui kemungkian yang akan terjadi ke depannya." Pandangannya beralih ke Leo di sebelahku. "Kalau soal si bocah degil ini, aku sudah lama mengenalnya, saat dia sedang dalam ampuan sahabatku, Noktalius, dua belas tahun lalu."


Noktalius. Nama itu pernah kudengar saat di pulau Talse. Dia kalau tidak salah adalah orang yang merancang konstruksi desa Lasete.


Sebentar. Sepertinya aku mulai bisa mendapat benang merahnya.


"Maksudmu tuan jenius itu, Baba Rhuska?" sela Holver yang berdiri di sebelah wanita berambut putih itu.


"Benar. Orang yang merancang konstruksi Hajoh, pulau terapung ini."

__ADS_1


Sudah aku duga. Nama orang itu lagi di balik rumitnya bentuk jalan di pulau ini. Dan, dari mendengar itu semua, aku jadi paham kenapa Leo waktu itu bilang, kalau tahu tempat ini, dan apa maksud arti de javu saat kami ada di pulau Talse.


Tapi tunggu sebentar. Kenapa Leo bisa melupakan tempat dan orang yang pernah ditemuinya? Apa karena dia masih kecil waktu itu? Tetapi apa alasannya sekarang dia bisa mengingatnya dengan jelas?


"Apa alasanmu menyegel memorinya?" ucap Yenz. Tajam.


"Sama seperti alasanmu mengunci ingatanmu sendiri, Tuan." Aku lihat jelas wajah Yenz menjadi pucat pasi. "Tanpa perlu penjelasan, sepertinya kau sudah tahu, dan bisa menebak siapa aku sebenarnya. Mungkin hanya Tuan Brewok Manis ini yang masih kebingungan dengan alur cerita yang dijalaninya. Bukan begitu, Tuan Margo?"


Mau tidak mau aku mengangguk. Apa yang dikatakan nona manis itu memang benar adanya.


"Tuan Margo, kau miliki takdir yang unik di bawah naungan keberuntungan yang besar. Engkaulah di alur cerita ini, yang mengemban tugas sebagai titik simpul penghubung semua harapan. Benih, guntur, dan bilah penyambung asa. Satu insan pemegang tiga harap. Tak akan berhenti jalan walau terjelajahi ujung dunia. Sampai temukan kebenaran dan kedamaian sesungguhnya."


Dia bilang kalau dirinya bukan peramal? Apa yang dia ucapkan jelas mirip, dengan apa yang dikatakan Pud’e. Bahkan syair tadi, aku ingat betul adalah syair yang pernah diucapkan kepadaku oleh Nona Kreta. Bagaimana dia bisa tahu, sementara jarak mereka terpisah ribuan mil, dan jelas sekali di sini tidak ada internet atau telepon.


"Simpan terus ketiga harap itu, yang nantinya pasti akan bertambah. Pegang mereka saat kau kehilangan arah, agar tidak terperosok dirimu ke jurang penyesalan. Ingatlah itu, Tuan," lanjutnya dengan mata yang menatapku erat.


Aku terdiam. Jelas terkejut bercampur bingung. Banyak yang ingin aku tanyakan, tetapi semua berjejalan, hingga susah untuk bisa mengeluarkannya.


"Jika kau memang berasal dari sana, kau tentu bisa menjelaskan kenapa dia memanggilku kembali," ujar Yenz dengan nada tinggi.


Nona Rushka menggeleng. "Aku adalah penghuni luar. Sudah bertahun-tahun tidak pernah kembali. Walau aku tahu, suatu saat akan ada yang mengubah arus palung lautan, dan kalian terlibat di dalamnya."


"Kau kah sang pembaca?" Tanya Yenz, dengan mata membulat.


"Ya dan tidak. Pembaca bukan merujuk pada aku, tetapi kami. Kami yang memprediksi akan jalur takdir dari Sang Maha. Dan, kami yang bertugas mempersiapkan kalian untuk menyelesaikan tugas, demi kebaikan dunia."

__ADS_1


Setelah mendengar perkataannya, instingku berkata, kalau petualangan di dalam buku terkutuk ini masih panjang. Pastinya juga bakal berisi banyak bahaya, yang aku rasa juga, tidak akan sedikit membahayakan nyawaku.


Di titik ini aku menyesal, kenapa dulu waktu di Kalopa justru berpikir untuk melanjutkan perjalanan. Bodohnya aku.


__ADS_2