
Semua akhirnya menjadi jelas. Setelah kedatangan tiga perahu berisi para pelaut berwajah sangar, pasukan Kapten Sando mati-matian digempur. Banyak dari anak buahnya yang gugur dibedil dan disabet pedang, membuat mereka terpaksa mundur menyelamatkan diri.
Tunggang langgang para pemburu, yang seketika menjadi mangsa putus asa. Meninggalkan kami di tepi pantai berbatu cadas. Selamat tanpa mengalami cidera berarti.
"Kalian, cepat naik, atau kami seret paksa!" perintah seorang pria gendut berperut buncit dan berbadan pendek.
Kalau bukan karena terpaksa demi menyelamatkan diri, sudah aku tampol orang sok itu. Nada memerintahnya angkuh sekali.
Singkat cerita. kami naik ke perahu dayung milik para penjemput misterius. Aku yakin adalah jemputan yang dimaksud oleh Pud’e. Duduk di tengah gerombolan pria berbau amis, di atas perahu kecil yang bergoyang-goyang, tentu bukanlah hal menyenangkan. Kalau bisa, sudah muntah aku dari tadi.
Kapan sih terakhir kali mereka mandi?
Tapi, bukan itu yang menjadi pemikiranku sekarang. Apa yang aku takutkan, ternyata benar-benar terjadi. Tebakanku soal mereka benar adanya.
Perlahan tapi pasti, kapal ini didayung mendekati kapal merah marun, yang masih menembakkan meriamnya ke pulau Velbar.
__ADS_1
Jadi, jemputan yang dimaksud oleh Pud’e, adalah para bajak laut ini!? Sungguh aku benar-benar bersyukur, dari dasar lubuk hati penuh ketakutan. Aku berharap mereka tidak akan menanyakan soal angin topan yang menjungkirbalikkan kapal ini, beberapa hari lalu.
Toh, aku hanya memberi saran. Jadi, kalau mau membalas dendam, ya Yenz lah orang yang harusnya jadi sasaran.
Di atas kapal besar yang juga ditenagai mesin giyeni ini, kami langsung digiring menuju palka. Menuruninya dengan pengawalan ketat dari belakang.
"Hidupkan mesin! Cepat, sebelum armada Lasto datang!" teriak seseorang, yang dilanjutkan dengan banyak suara langkah bergegas.
Itu suara terakhir dari dek atas yang bisa aku dengar, sebelum kami diperintah masuk ke ruangan kosong di lambung kapal.
Kami--aku dan Leon--hendak membantu, tetapi dengan tegas dia menolak. Jadi, sepanjang beberapa menit, kami hanya bisa meringis melihat dirinya mencoba mengeluarkan peluru, yang menembus bahu, menggunakan ujung pisau membara panas.
Perlu usaha keras baginya untuk melakukan tindakan nekat operasi mandiri itu. Aku tahu pasti--tepatnya sih Margo--karena pernah melakukannya, sewaktu terkena tembakan Juan.
Setelah usaha kerasnya yang gigih, sebutir timah penyok meloncat keluar dari pundak, berkeletuk saat terjatuh di lantai, lalu bergulir dimainkan gerak mengayun kapal.
__ADS_1
Bersamaan. Aku dan Leo, meluncur maju demi menangkap tubuh Yenz, yang terkulai kehilangan tenaga. Aku tahan pundak dan kepalanya, agar tidak terantuk lantai kayu geladak, sementera Leo sigap menangkap tangannya dan menyingkirkan barang-barang yang ada di sekitar. Terutama petromak yang masih menyala.
"Menyingkirlah! Aku akan membalut luka ini," perintah Yenz dengan nada songongnya yang khas.
"Mau aku keplak kepalamu? Bahkan untuk mengangkat badan pun sudah susah payah. Leo, balut luka Yenz!"
Tanpa protes, si Jamet itu mengiyakan perintahku. Membongkar isi tas Yenz, dan mengeluarkan perban beserta kawan-kawannya.
Aku menyingkir dan membiarkan mereka sedikit bergulat, sebelum akhirnya Yenz menyerah oleh cekalan kuat tangan Leo.
Aku merasa beruntung bisa dipertemukan mereka berdua. Teman perjalanan yang begitu baik dan tanpa pamrih. Setelah ini aku akan meminta maaf karena sudah meragukan mereka, sekaligus bertanya soal banyak hal hingga semua ini bisa terjadi.
Soal sikap Leo yang begitu saja berubah, soal bagaimana mereka bisa mengenal Pud’e, dan hal lainnya yang berkenaan dengan itu.
Tetapi, sekarang aku terlalu lelah. Memejamkan mata sebentar akan bagus untuk memulihkan tenaga.
__ADS_1