
Satu minggu pelayaran. Yenz tetap bungkam setiap aku bertanya soal tujuan asli perjalanannya. Pintarnya dia, selalu bisa mengalihkan topik atau kabur saat aku mulai bertanya.
Satu waktu dia berpura-pura sakit perut, lalu lama tidak kembali. Di lain waktu, dirinya malah pergi ke geladak untuk mengepel lantai. Pernah juga dia pura-pura tidur dengan dengkur yang dibuat-buat.
Walau begitu, aku bersyukur karena perkara ini tidak berkembang menjadi keributan, seperti waktu di Lapalasa. Selain itu, soal luka yang didapatkanya sewaktu pelarian juga sudah sembuh, hanya dalam waktu semalam.
Luka di bahunya benar-benar sembuh, dan bisa dia gerakkan, seperti tidak pernah mengalami cidera serius. Bagus memang, tetapi hal itu justru membuatku jadi menambah daftar pertanyaan untuknya.
Meski menyebalkan dengan tingkah menghindarnya yang tidak jelas, dari sana akhirnya aku tahu bagaimana mereka bisa bertemu dan mengenal Pud’e.
Pria pendek tersebut, ternyata bukannya tidak datang pada pengadilanku, tetapi dia tidak diperbolehkan masuk ke ruang sidang. Bahkan sebelumnya, di hari penangkapanku, dia sampai mendatangi kantor gubernur untuk menjelaskan duduk persoalan. Di sanalah dia bertemu Yenz dan Leo.
__ADS_1
Tahu benar nyawaku dalam bahaya oleh kebobrokan sistem hukum di Velbar, Pud’e bersama Yenz menyusun rencana untuk membebaskanku.
Aku terkejut saat mengetahui, kalau orang tua multi talenta itu ternyata juga pemimpin dari pergerakan Pulau Velbar, yang masih berhubungan dengan Radish. Pantas saja dia ngeh soal kancing milik Apak Lapo.
Dengan menggunakan pengaruh besarnya, Pud’e menjalankan rencana pembebasan. Memanggil bajak laut Hovler untuk menyerang pulau, sementara para relawan menyabotase kapal juga pelabuhan, tempat armada Velbar berada. Memberikan keleluasaan kapal merah untuk menggasak daratan.
"Tuan, aku yakin kita akan bertemu lagi. Sampai saat itu tiba, teruslah melangkah di jalan kebenaran." Itu pesan Tuan Pud’e yang disampaikan oleh Yenz.
Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengannya.
Aku heran oleh ketulusan pemuda itu. Justru dia yang meminta maaf terlebih dahulu, karena telah membuatku berpikiran buruk. Padahal, kalau tanpa dia melakukan itu, aku pasti sudah mati di tiang gantungan.
__ADS_1
Begitulah kami di dalam kapal selama sepekan. Ditambah pekerjaan bersih-bersih yang diberikan si gendut penjilat. Tidak terlalu terasa berat tugas tersebut kukerjakan, karena walau berstatus sebagai bajak laut, para kru kapal bisa dibilang memiliki sikap yang ramah.
Ketakutanku seketika lenyap oleh perlakuan baik mereka. Sebagian besar begitu bersahabat, meski ada beberapa pula bersikap menyebalkan. Mungkin dari pelayaran yang sudah aku lalui, kapal merah marun inilah bagian terbaik dari cerita.
Di ujung pelayaran, kami memasuki lautan penuh kabut. Mematikan giyeni, dan hanya mengembangkan satu layar, di tengah hembusan pelan angin asin nan lembab.
Pikiranku mulai kacau, karena terbayang soal perkara menakutkan, yang mungkin muncul dari balik kabut ini. Apalagi Jako, salah seorang kru bajak laut, memperingatkanku agar jangan bersuara saat kapal melintasi perairan ini. Pasti bukan hal bagus yang akan menghampiri, jika sampai aku melanggarnya.
Setengah jalan terlewati. Mulutku langsung dibebat keras oleh Jako, karena hampir saja menjerit manja, saat melihat lengan gurita raksasa mencuat dari dalam lautan.
Sepertinya kalau aku sampai mengeluarkan suara, gurita itu akan menyerang kapal ini dengan ganas. Masuk akal.
__ADS_1
Kabut mulai menipis. Sesak karena tekanan menyeramkan yang tadi kurasakan, perlahan mulai berkurang. Sampai akhirnya uap putih itu menghilang sepenuhnya. Menampakkan pemandangan dari sebuah pulau kecil, yang di sekelilingnya terpasang jembatan apung, penghubung balkon-balkon bangunan bercat putih keabu-abuan.
Inilah pulau bajak laut, yang menjadi tempat persembunyian kru Bajak Laut Hovler. Poin aman kami di akhir pelarian.