Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 11-2] Malam Remang Menakutkan


__ADS_3

Setelah makan enak dengan beberapa kali menambah porsi, demi mengisi kantong perut yang kempis, setelah banyak tenaga terkuras oleh peristiwa dikejar kadal barbar, tentu tidur menjadi pilihan tepat untuk dilakukan. Tidak peduli, walau waktu baru memasuki awal sore.


Terlelap aku di kamar nyaman dengan dua ranjang berseberangan, yang dipisahkan oleh nakas tempat menaruh tempat lilin. Pas posisinya di tengah memepet tembok, dengan jendela ruangan berada di atasnya.


Berbeda denganku. Yenz justru terjaga. Asik sendiri memandangi peta yang dia minta dari Tuan Twisky. Entah apa yang ingin dia cari di peta itu.


Aku berusaha tidak peduli, karena seperti katanya, nanti kita akan berpisah setelah sampai di kota Lapalasa.


Hal terakhir yang aku sadari sebelum sepenuhnya terlelap adalah, Yenz keluar kamar dengan tetap membawa tas jinjing kumalnya. Tak tahu ke mana.


Aku terlelap nyenyak sekali. Sampai akhirnya terbangun oleh panggilan alam penuh tekanan, yang memberikan sinyal agar aku segera menuju ke kakus terdekat.


Suasana kamar telah menjadi remang. Hari sudah gelap, dan ruangan hanya diterangi nyala api sepasang petromak, yang tergantung di kedua dinding samping pintu kamar.


Mungkin Yenz yang menghidupkannya.


Cahaya dari kedua suluh terbakar itu, jauh memang jika dibandingkan terangnya lampu listrik di kamarku. Tetapi, cukuplah untuk di dunia jaman dahulu, yang ada dalam buku ajaib tak jelas ini.


Aku mengangkat badan hingga terduduk di kasur. Menguap lebar dan mengucek mata, yang kemudian menangkap ranjang kosong tanpa penghuni, di seberang tempatku berada.


Ke mana perginya cowok cantik itu? Aku mulai khawatir, dia akan berbuat ulah berdasarkan prasangka, soal keganjilan kota ini.


Tidak sopan, kan, menuduh orang yang telah menjadi penolong, tanpa bukti pasti.


Selintasan. Aku mulai terpikir soal Wanara. Apa bocah tengil itu juga menyusulku masuk ke dunia ini?


Bisakah dia melakukannya, sementara kami tidak mengetahui, apakah buku kiriman Tama itu mempunyai peraturan, yang memperbolehkan lebih dari satu orang memasukinya.


Kalau seandainya bisa, akan jadi siapa si belah tengah songong itu di sini?


Tuan Twisky, si koki tua Hadak, Saudagar Golbar, bandit gurun Borex, atau mungkin salah satu kadal karnivora? Semoga bukan tiga sosok yang kusebutkan terakhir.


Akan tetapi, bisa jadi juga dia memerankan tokoh Yenz. Meskipun, sepertinya sangat tidak mungkin. Karena selain sifat menyebalkan, hal lainnya sangat tidak mirip.

__ADS_1


Semoga saja bukan. Enak sekali dirinya memerankan cowok itu. Jenis lelaki idaman banyak wanita, jika dilihat secara fisik. Enak saja! Sementara aku dapat peran sebagai om-om jomblo berbulu lebat.


Tak tahu lah. Aku bimbang. Mungkin ada baiknya aku bertanya langsung kepadanya nanti. Semoga sistem dunia ini membolehkannya. Sekarang, aku harus segera keluar untuk menemukan kamar mandi. Seperti rencana awal.


Aku beranjak dari ranjang. Langsung menuju pintu keluar. Menghela napas panjang saat melihat lorong penginapan begitu gelap, karena hanya satu lampu petromak saja yang tergantung sebagai penerang.


Aku menutup pintu--berjaga-jaga saja karena tidak tahu kan, mungkin saja ada hantu pembunuh di dunia ini--dan berniat memgambil petromak yang tergantung di dinding.


Saat akan melaksanakan niat itu, tak sengaja, tepi mata ini melihat lilin di dalam mangkuk logam bergagang, masih ada di meja. Mungkin Yenz tidak menggunakannya saat keluar tadi. Atau mungkin, dia belum kembali dari sejak aku tertidur.


Tak tahu lah.


Aku beranjak menuju nakas. Urung mengambil petromak di dinding, karena memikirkan si cowok cantik itu akan kegelapan dan ketakutan, kalau kuambil salah satu sumber penerangan kamar ini.


Baik hati, kan, aku.


Baru tangan ini menyentuh pegangan dingin tempat lilin bersarang, bulu kudukku begitu saja meremang, karena dari balik jendela aku melihat setitik cahaya melayang. Di dekat pagar kayu yang mengelilingi kota Jarless.


Rambut pirang panjang tergerai, tubuh langsing, dan walau samar aku melihat pula tas kain kumal tersampir di pundak. Sudah pasti itu Yenz.


Mau apa dia berada di sana malam-malam begini?


Didorong rasa ingin tahu, aku terus memperhatikan dengan mata tak berkedip. Setiap gerak-gerik mantan anggota bandit gurun Borex tersebut. Was-was dia akan berbuat sesuatu yang membahayakan.


Usai menaruh petromak di pasak yang menyusun pagar, Yenz merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak kayu beserta botol minum kulit.


Setelah sumbat tampungan air di tangan kanan terbuka--dia melakukannya menggunakan sebelah tangan dengan dibantu gigi untuk menarik gabusnya keluar--dengan penuh kehati-hatian, dirinya menuangkan air ke atas kotak kayu, yang seingatku terdapat cekungan di tengahnya.


Aneh bin ajaib. Air yang dia tuangkan begitu banyak, tetapi ceruk di kotak itu terus dapat menampungnya. Tanpa berakhir meluap, meskipun habis cairan di dalam kantong tercurah.


Aku terperangah, karena setitik cahaya biru muncul. Berputar mengelilingi ceruk, sampai akhirnya melambat dan berhenti di satu titik, yang lama membuat perhatian Yenz tersita.


Kepalanya menoleh ke arah di mana berkas cahaya itu menunjuk. Sekilas kemudian, dia menutup mulut kantong air dengan gabus sumbatnya--yang sejak awal terus dia gigit--dan memasukkan kembali benda itu ke dalam tas.

__ADS_1


Sejenak. Dirinya menempatkan tangan dalam tas kumal terjinjing di pundak. Lamat-lamat aku lihat dirinya seperti mencari sesuatu. Tangannya bergerak mengaduk-aduk isi tas tersebut.


Penasaran aku dengan apa yang hendak dilakukannya.


Masih tersita perhatianku ke bagian belakang kota. Tak dikira, tiba-tiba saja pintu di belakangku berbunyi menghentak. Mengagetkan. Tanda ada orang di luar kamar, yang meminta izin agar pintu dibukakan.


Tapi siapa, dan apa maunya bertamu di jam segini?


Berkali-kali orang di luar itu mengetuk cepat, dengan suara yang tidak begitu keras. Agak horor jadinya. Membuat imajinasiku mulai bekerja tidak karuan.


Semoga saja ini bukan jump scare konyol macam di film horor.


Aku melangkah ragu-ragu mendekati pintu. Napas terasa berat, seakan ada seonggok bola bowling terganjal di paru-paru. Jangan tanya soal jantung. Berdetak kencang tak beraturan, seakan sedang menggedor hendak melompat keluar.


Lebih-lebih saat tanganku mulai menggenggam tuas pegangan pintu. Keringat dingin mulai mengucur keluar dari pori-pori muka, dibarengi dengan bulu kuduk yang meremang.


Ketukan kembali diulang.


Didorong perasaan, antara penasaran dan ketakutan yang bertabrakan, tanganku tanpa sadar menekan tuas pintu dalam cengkraman.


Dengan tangan gemetaran, aku buka menjeblak pintu kamar dalam satu ayunan.


Sosok berkulit keriput, yang sebagian wajahnya tersorot cahaya jingga, sedang menyeringai di luar kamar.


Aku kontan melonjak ketakutan, dan hendak berteriak. Akan tetapi, sosok menyeramkan itu telah lebih dahulu menerjang. Membekap mulut dan dan hidungku tanpa ampun. Mungkin bermaksud membuatku mati kehabisan napas.


Aku ingin memberontak dari sergapannya, tetapi segenap tenagaku hilang. Dilenyapkan oleh rasa takut yang menjadi-jadi.


Beginikah akhir dari kisahku, di cerita pelayaran yang tanpa berlayar? Harus tamat di tangan hantu pembunuh tanpa bisa melawan.


Siapa saja, tolong aku! Aku tidak mau mati mengenaskan dengan status sebagai jomblo tulen!


Sudah begitu om-om berbulu pula!

__ADS_1


__ADS_2