
Aku benar-benar merasa seperti telah dilahirkan kembali.
Kemarin, setelah sesi pijat plus-plus, dengan Pud'e sebagai terapisnya, aku kembali melanjutkan perjalan ke penginapan.
Tidak disangka, begitu memasuki gedung mewah berlantai tiga, dengan patung Dewi Air di kanan dan kiri pintu masuknya itu, aku langsung disambut juga diantar oleh pelayan menuju kamar, yang terbilang mewah. Itu semua dilakukannya tanpa aku minta, seakan sudah dipersiapkan sebelumnya.
Walau masih agak heran dengan pelayanan hebat hotel ini, aku tidak mau ambil pusing, dan langsung masuk ke kamar mandi. Berendam air hangat di bathtube, demi menghilangkan sisa minyak urut yang menempel di badan. Mengikuti saran Pud’e.
Kalaupun nanti aku diminta membayar untuk fasilitas ini, uang dari si Falcoa tentu lebih dari cukup untuk melunasinya.
Bau rempah yang menyegarkan menguar ke seluruh kamar mandi. Sekujur tubuhku berasa dimanjakan, oleh campuran bubuk misterius pemberian Pud'e. Jauh dari ekspektasiku yang mengira, serbuk itu akan mengeluarkan bau aneh memuakkan.
Satu hal yang akhirnya terjawab. Alasan pelayan penginapan langsung mengantarku ke kamar tanpa diminta, dan bahkan sebelum aku bicara. Seratus persen aku yakin, hal itu dapat terjadi, karena Leo yang sudah terlebih dahulu memberitahukannya.
Terbukti saat aku sadar tidak punya pakaian salin seusai mandi. Di atas nakas kayu samping tempat tidur, telah tergeletak tas berisi baju dan beberapa perlengkapan lain, yang aku tahu kalau sebelumnya tersimpan di dalam tas besar si Jamet.
Makin bingung aku dengan sikapnya. Satu sisi dia bersikap tak acuh, bahkan terkesan tidak peduli, tetapi di lain waktu, dia bagai Leo yang biasanya.
Pertanyaan itu akhirnya tenggelam bersama lelapku, yang bablas sampai pagi di hari berikutnya. Benar-benar sesi tidur berkualitas tinggi.
Tidur yang bagai hibernasi itu, ternyata membuat perutku keroncongan. Untungnya, restoran penginapan dengan view laut ini, telah menyediakan makanan prasmanan untuk tamunya. All you can eat!
Dari meja panjang yang ditata sederet wadah, diisi berbagai macam jenis makanan. Setumpuk penuh aku ambil dan membawanya ke meja persegi di teras restoran. Mulai menyantapnya demi menenangkan protes keras perutku.
Di saat sedang nikmat menyantap makanan, sambil memperhatikan aktifitas para wisatawan di pantai, seorang pelayan restoran datang untuk menyampaikan pesan. Dia memberitahukan, kalau siang nanti, akan ada pesta perayaan oleh Tuan Barrety Falcoa, di rumah kepala daerah--tempat si Buncit beserta Leo, dan mungkin juga Yenz, menginap sejak awal kedatangan.
Sepertinya pesta itu sengaja dihelat, sebagai perayaan karena kami berhasil telah berhasil selamat dari serangan kapal merah.
Agak malas sebenarnya aku untuk memenuhi undangan sang Gubernur Buncit. Pesta yang diselenggarakan oleh bangsawan seperti dia, pastinya akan membosankan dan kaku, dengan banyaknya orang-orang tajir saling pamer. Sama sekali bukan gayaku.
Tapi, apa mau dikata. Demi menghormati beliau, yang telah sangat baik memberiku uang banyak dan juga tempat tinggal selama di Kalopa, aku sudah seharusnya memenuhi undangan tersebut.
Lagi pula, sedikit banyaknya, atas jasaku tentang ide badai itu, yang membuat kami bisa sampai di sini. Sudah sepantasnya kan aku datang sebagai tamu kehormatan.
Waktu sampai pesta dimulai masih beberapa jam lagi. Aku memilih berjalan-jalan di pantai untuk menghabiskan waktu. Menyusurinya tanpa tujuan jelas mau ke mana.
Sepanjang perjalanan, aku sesekali coba mencari sosok kurus pendek, yang kemarin sudah membuat badanku segar dengan pijat plus-plusnya.
Hampir satu jam aku mencari, tapi batang hidung Pud'e sama sekali tidak nampak. Sehingga aku memutuskan untuk bertanya kepada penduduk lokal, yang mempunyai profesi sebagai tukang pijat pinggir pantai. Berharap, orang yang memiliki profesi sama dengan orang tua itu, bisa memberi tahu di mana keberadaannya.
Aku mengalami hal unik saat bertanya soal Pud’e. Awalnya aku menanyakannya kepada seorang pemijat, yang menghampiriku untuk menawarkan jasa. Bukannya langsung menjawab, orang itu malah balik bertanya soal diriku.
Konyolnya lagi, dia kemudian memanggil temannya yang lain, saat sesi intrograsi absurd tersebut masih berjalan. Terkumpulah tujuh orang yang mengerubungiku, dan terus melontarkan bermacam-macam pertanyaan. Membuat kesabaranku mulai terkikis habis.
__ADS_1
Untungnya, belum sampai emosiku meledak, salah seorang dari mereka mengatakan, kalau kemarin Pud’e bercerita soal pria baik hati, yang memberikan banyak uang sebagai bayaran jasanya.
Dari situ, barulah mereka mau buka suara untuk memberitahukanku, tentang keberadaan Pud'e, berikut letak tempat tinggalnya.
Karena itu, aku akhirnya bisa tahu mengenai Pud’e, yang ternyata sedang berlibur, karena hari ini adalah jadwalnya mencari tanaman obat di hutan.
Mereka menjelaskan pula, kalau mau bertemu dengannya, aku bisa pergi langsung ke rumah Pud’e di bagian belakang pulau. Daerah Velbar yang dikhususkan untuk menjadi pemukiman penduduk lokal. Suku Ratafu.
Aku lekas pergi, dengan diiringi tatapan tidak bersahabat, dan bisik-bisik rahasia di antara mereka. Jadi tidak mengerti aku dengan kelakuan penduduk pulau ini. Padahal aku kira mereka akan sama ramahnya dengan Pud’e.
Aku berjalan mengikuti petunjuk dari Persatuan Pemijat Julid Tepi Pantai. Melewati komplek penginapan, menuju ke distrik perbelanjaan.
Sejenak langkahku berhenti, begitu melintasi daerah pelabuhan. Terbesit keinginan untuk melihat proses perbaikan kapal tumpangan kami.
Sampai di dalam pelabuhan, aku disajikan kesibukan para pekerja dermaga. Mereparasi empat kapal putih Armada Andapala, dan satu kapal hitam milik Kapten Sando, di dalam galangan.
Melihat dari kerusakannya, aku yakin perbaikan keempat kapal itu, akan memakan waktu panjang dan biaya yang besar.
Tidak masalah bagiku menghabiskan banyak waktu di sini, karena setahuku--dari cerita Wanara--waktu di dunia ini, dan dunia asalku terpaut jauh. Mungkin hanya beberapa jam saja, sampai aku kembali ke kamar Wanara, setelah menyelesaikan cerita di buku ini.
Masalahnya. Aku merasa kalau di dunia ini, keamanan dan kedamaian, adalah sesuatu yang berharga mahal. Hampir mustahil aku bisa hidup tenang, sampai perbaikan kapal selesai.
Aku yakin, entah kapan waktunya, pasti akan ada kejadian konyol sampai tragis, yang bakal menimpaku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seseorang dari belakang. Suara familiar, yang selama di kapal, selalu bersikap tidak ramah kepadaku.
Aku menoleh dan mendapati pria setengah baya berjanggut putih, menatapku dengan pandangan garang. Dia Kapten Guter Hargo, sobat dekat Tuan Mashet, yang sikapnya berbanding terbalik dengan pria berkumis nyentrik tersebut.
"Tidak. Aku hanya ... berjalan-jalan di sekitar sini," jawabku dengan nada yang sengaja aku buat tinggi.
"Lebih baik kau bersiap untuk perayaan. Kehadiranmu di sini tidak diperlukan. Pergi kau sekarang!"
Jutek sekali orang itu. Memang aku berbuat salah apa kepadanya? Apa dia cemburu, karena teman dekatnya banyak menghabiskan waktu bersamaku, saat masih di Kalopa?
"Hei! Perlu kau ingat. Aku paling tidak suka dengan buronan macam kau itu. Kalau bukan karena perintah, tidak akan sudi aku menyelamatkan dan membawa kalian sampai di sini."
Emosiku jelas terbakar hebat. Tapi, terserah dia saja lah. Malas meladeni orang macam dia itu.
Aku menghela napas, lalu melangkah pergi, tanpa ada keinginan menggubris lagi orang mengesalkan itu.
Aku akhirnya pergi keluar pelabuhan dengan perasaan mendongkol. Melanjutkan perjalanan ke tujuan awal, yang hendak kusambangi.
Sampai aku di distrik perbelanjaan, yang ramai lalu-lalangnya oleh para pelancong. Berbelanja di toko, stan makanan jalanan yang berjajar, atau sovenir di pedagang kaki lima.
__ADS_1
Aku terus berjalan, sambil menahan keinginan hati untuk berbelanja. Takut saja kebablasan, lalu tidak jadi mengunjungi kediaman Pud’e, karena lupa waktu keasikan belanja.
Sampai akhirnya aku di jalan masuk hutan, dekat deretan pertokoan. Aku masuk jalan kecil di antara apitan rimbunnya pepohonan. Terus mengikuti jalur, sampai di persimpangan, dan mengambil jalan ke kiri. Hanya beberapa meter lagi perlu melangkah, maka akan sampai di perkampungan penduduk lokal pulau Velbar.
Begitulah arahan yang diberikan oleh para tukang pijat. Masalahnya, entah mereka keliru memberikan petunjuk, atau aku yang salah dengar. Karena, saat itu mereka berbicara secara serempak. Ketujuh orang itu mengatakan kiri juga kanan, dalam waktu yang bersamaan.
Aku tersesat di tengah hutan belantara tropis sekarang!
Maunya sih kembali menelusuri jalan setapak yang tadi aku lalui, tetapi masalahnya, aku sudah bingung harus ke mana, karena tadi tanpa sadar, aku melewati beberapa persimpangan jalan. Berlagak yakin bin sok tahu kalau mengambil arah yang tepat.
Walau masih siang hari, tetapi di hutan lebat ini, terasa bagai sudah mendekati malam, karena cahaya mentari terhalang rimbunnya dedaunan. Menjadikan suasana bercahaya remang-remang yang mencekam.
Suara gemerisik dedaunan, cicit binatang pengerat, kicauan burung di pohon, atau sekadar hembusan sepoi-sepoi angin dingin, sungguh membuat hati ini ketar-ketir. Takut saja kalau tiba-tiba ada macan yang menerkam, atau ular pohon beracun jatuh di pundak.
Sedikitnya aku bersyukur, karena mengikuti insting Margo, untuk tetap membawa senjata, walau kondisi di sini terbilang aman.
Kalau pun nanti ada ba*bi hutan yang terusik, lalu dengan penuh kemarahan mengejarku, aku masih bisa melawannya menggunakan revolver.
Dengan tangan siaga memegang gagang senjata, yang tersampir di sisi kanan badan, aku mencoba terus menyusuri jalan setapak yang mengarah entah ke mana.
Sial! Aku sepertinya semakin jauh masuk ke dalam hutan. Lihat. Tempat ini semakin rimbun saja. Kondisi remang-remang, yang menguarkan atmosfir menakutkan.
Aku hendak berbalik arah, demi mencari peruntungan, akan tetapi langkah ini tertahan oleh seberkas cahaya pijar, yang menguar dari sela semak-semak belukar. Beberapa meter jauhnya dari tempatku berada.
Ada apa di sana sebenarnya? Orangkah, atau setan gundul? Tapi iya masa ada yang iseng tinggal di tempat semenyeramkan ini? Aku sih ogah.
Penasaran sih dengan misteri cahaya pijar tersebut. Tetapi, aku tidak mau ambil resiko. Instingku mengatakan kalau di sana ada, bahaya besar sedang menunggu.
Keputusanku bulat. Meninggalkan tempat ini secepatnya. Kembali ke hotel, dan berjanji tidak akan pernah lagi kembali memasuki hutan ini, tanpa ditemani penduduk sekitar.
Aku berusaha melangkah secepat dan sesenyap mungkin. Takut kalau siapapun yang berada di sana, akan terusik dengan kehadiranku.
Baru beberapa meter jalan terambil, terdengar samar-samar suara gemeresik dedaunan. Seketika bulu kudukku meremang. Sinyal tanda bahaya untuk memperingatkan diri ini, akan adanya bencana yang mengintai dari belakang.
Tanpa pikir panjang, aku menarik senjata yang tersampir, dan seturutan itu pula berbalik. Memasang kuda-kuda menembak, yang membidik ke arah semak rimbun, dengan revolver terkokang.
Benar. Ini bukan sekadar sinyal kosong yang lahir dari ketakutan berlebih. Di remangnya cahaya, aku bisa menangkap jelas biasan sinar jingga, yang terpantul berpijar. Bisa jadi itu adalah teropong pembidik dari senapan laras panjang.
Dugaanku tidak salah, karena sedetik kemudian, terdengar suara kokangan senjata yang dilakukan perlahan.
Aku mematung di tengah baku bidik dengan seseorang yang entah siapa. Mengukur kemungkinan yang akan terjadi, untuk menemukan celah menuju keselamatan. Karena aku yakin, hanya butuh satu tembakan, untuk dapat menentukan akhir.
Entah bidikanku bisa tepat mengenainya, di tengah medan gelap yang asing, atau peluru orang itu akan mengakhiri kisahku, di dalam rimbunnya hutan rimba ini.
__ADS_1
Sial! Aku tidak mau membunuh, tapi juga takut terbunuh. Jadi harus bagaimana?