Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 53-2] Jauh dari Ekspektasi


__ADS_3

Apa yang kusaksikan, teramat sangat jauh berbeda, dari apa yang kubayangkan. Markas bajak laut ini sama sekali tidak pas, jika disandingkan dengan kata seram dan angker.


Jika di kebanyakan film, pangkalan tempat para bajak laut berkumpul itu seringkali digambarkan angker, banyak pria menyeramkan berkelahi, mabuk-mabukan, main perempuan, atau segala macam hal tabu lain. Akan tetapi, di sini semua berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Seakan julukan sebagai bajak laut kejam dan barbar di laut wilayah selatan, hanyalah sebuah isapan jempol belaka.


Kota terapung ini sungguh tertata apik dan bersih. Tidak ada latar kotor dan jorok. Begitu nyaman dipandang mata, dan nikmat menghirup udara segar nan lembabnya.


Begitu turun dari kapal ini pun, aku tercengang melihat bagaimana si kapten rambut merah itu, sangat dihormati oleh para penduduk. Padahal awalnya aku pikir akan banyak orang yang tidak suka akan kedatangannya.


Dari situ aku mendapati sisi lain dari Hovler, yang bersikap tegas dan bermulut tajam selama mengomandoi kapal. Alih-alih bersikap jumawa, sok menjaga wibawa, dia justru membaur dengan para penduduk. Tidak ada sosok sangarnya ditunjukkan, bahkan tanpa sungkan dia menggendong, bercanda, dan bermain, dengan para bocah yang mengerumuninya.


"Hei, ini benar markas bajak laut kan?" tanyaku kepada Leo.


"Seharusnya seperti itu. Bukankah mereka juga memberi tahu seperti


itu saat di kapal, Tuan Margo."


"Yah ... tapi ini terlihat seperti kota biasa. Lepas dari keunikannya. Tempat ini sama sekali tidak cocok disebut sebagai markas bajak laut. Tempat wisata malah lebih pas." Aku memandang ke sekeliling wilayah, yang mereka sebut sebagai kota Grabul.


Yenz menepuk pundakku. "Tidak usah terlalu dipikirkan. Bukankah kalau begini artinya bagus?"


Aku menoleh. Memandang Yenz dengan dahi berkerut. "Maksudmu bagaimana?"


"Kita bisa tahu seseorang dari lingkungan dan interaksinya dengan orang lain. Sejauh ini bagus, dan itu berarti kita masih ada kesempatan untuk keluar hidup-hidup dari tempat ini."


Omongannya horror. Meski benar, tapi tetap saja menakutkan. Dasar tak punya akhlak!


"Kalian! Ikuti aku!" Arza berjalan melewati kami.

__ADS_1


Oh ya. Arza adalah nama pemuda berambut tembaga tersebut. Tipe lelaki yang banyak digilai perempuan. Sikap dingin dan tenang, ditambah tatapan mata yang tajam di wajah tampannya. Pasti tidak cewek yang bisa berkutik di hadapannya.


Yah ... satu level lah di bawah pesonaku.


Kami bertiga dituntun menuju ke tenggara pulau terapung oleh Arza. Melewati jembatan gantung, dan berjalan pelan di atas balkon yang mengapung. Berjalan memutar seperti tak tentu arah, seakan kami sengaja disesatkan.


Itu hanya dugaan, karena memang sepertinya jalan di pulau ini sengaja dibuat berliku. Diperlukan seorang penunjuk jalan untuk menuntun pendatang seperti kami, kalau tidak mau tersesat di sini.


Aku yakin semua ini punya maksud dan tujuan. Mungkin saja bertujuan untuk pertahanan. Membuat musuh yang berani mendarat dan menyerang, akan kebingungan mencari jalan di tempat ini.


"Di sini, kalian jangan sampai berkeliaran sendiri tanpa dituntun oleh warga pulau, apalagi di saat malam hari." peringat Arza.


"Memang kenapa begitu?" tanya Leo.


"Kalian lihat kabut di sekeliling pulau?" Kami mengangguk. "Itu adalah teritori Mochatu, yang di saat malam akan melebar sampai ke tengah pulau."


Aku merinding saat mengingat tentakel berwarna abu-abu di dalam kabut tebal lautan. Apa mungkin monster itu akan muncul saat malam dan mencari mangsa? Apa mereka tidak takut dengan monster tersebut?


"Kalian tunggulah di dalam. Tidak lama lagi Kapten Hovler dan Baba Ruska akan datang." Pemuda itu berlalu setelah membuka pintu rumah yang ada di tengah panggung terapung. Ujung tenggara pulau.


Kami dibuat takjub saat memasuki bedeng kecil setinggi tiga meter itu. Dibangun dari kayu yang direkatkan menggunakan tanah lempung, hingga terbangun konstruksi yang unik. Sebuah hunian yang sekilas terlihat sempit, tetapi terasa luas begitu memasukinya.


Satu petak ruangan ini berisi lengkap perabota, seperti kursi beserta meja bundar di tengah ruang, lentera unik yang berbentuk bulat, lemari di pojok kanan, dan tangga penghubung ke ranjang, yang terpasang di dinding.


Unik, tapi agak ngeri juga jika harus tidur di sana. Konyol kan jika sampai terjungkal jatuh dari ketinggian dua meter, saat sedang asik bermimpi.


"Ternyata di luar ada bilik kamar mandi," celetuk Leo, usai memeriksa pintu belakang.

__ADS_1


"Leo, ingat kau tidak boleh berkeliaran sembarangan!" ucapku dari kursi di tengah ruangan. Memperingatkannya.


"Tenang, Tuan. Aku hanya memantau keadaan saja kok," jawabnya dengan senyuman lebar.


Aku mengangguk kecil, sambil terus memantau pergerakannya. Bersiap memberikan peringatan keras, kalau sampai Jamet itu nekat menjelejahi pulau labirin ini sendirian. Setidaknya sampai dia bergabung dengan kami di sekitar meja bundar.


"Sepertinya aku tahu tempat ini. Jalan di sini tidak terlalu rumit sebenarnya, jika tahu rumus struktur bangunannya."


Celetukan Leo itu membuat aku dan Yenz mendelik. Ucapannya mungkin seperti seorang bocah edgy sok tahu biar dibilang keren, tetapi menilik dari perjalananku dengannya di goa Talse, aku tidak bisa menuduhnya asal bicara, apa lagi berbohong.


Tak berlanjut pembahasan celetukan itu, karena pintu depan telah diketuk seseorang, sebelum dibuka perlahan oleh tangan berjari jenjang.


Aku terperangah saat pintu tersibak. Menampakkan sosok wanita tinggi semampai dengan wajah oval dan pipi tirus yang dibingkai rambut putih panjang tergerai. Kecantikan memikat yang diselimuti misteri dari senyum dinginnya.


Aku sungguh terpesona, dan ingin sekali menghampirinya untuk sekadar berkenalan. Bagus jika bisa menjabat tangan seputih saljunya. Tapi, sepertinya itu hal yang mustahil dilakukan.


Pertama. Leo adalah mata-mata Manika. Dia tidak akan segan-segan memutilasi masa depanku, jika sampai berani menggombali cewek lain.


Kedua. Sangat bodoh jika aku nekat melakukannya, sementara dia dikawal ketat oleh dua orang paling ditakuti di kapal Nokhtra. Kapten Hovler dan wakilnya Arza.


Dia pasti orang penting di pulau ini.


Perhatianku teralih karena suara menghentak kursi yang digeser. Leo berdiri dengan mata membelalak, dan tangan yang terkepal erat.


Ya Tuhan! Mau apa bocah ini? Jangan bilang dia mengetahui isi hatiku, dan berniat melabrak wanita cantik itu, demi mengemban titah dari kakak ketemu gedenya.


Aku harus menghentikannya, sebelum keadaan menjadi kacau!

__ADS_1


__ADS_2