
Mereka pergi ke luar kota setelah membunuh kesepuluh prajurit tanpa sisa. Bukan karena takut, tetapi diusir oleh para penduduk yang marah. Sebab, ulah kedua bersaudara itu dapat mendatangkan bencana bagi kota Rucil, yang telah menjadi wilayah jajahan kerajaan Domglar.
Mereka melangkah pergi dengan ganjalan di hati. Bukan takut karena telah menjadi buronan kerajaan tetangga, tetapi disebabkan rasa tidak puas dari pembalasan yang mereka lakukan.
Memang penyebab kematian ibu mereka adalah kesepuluh prajurit yang sudah mereka bunuh. Tetapi, dalang semua itu adalah raja lalim penguasa kerajaan Domglar. Dia lah yang memberikan perintah untuk melakukan penyerangan. Ke wilayah kerajaan tetangga, termasuk ke tempat tinggal mereka.
Putus asa dalam pelarian, Tura berniat nekat menyambangi kastil tempat sang raja lalim berada. Menyelinap untuk membunuh penguasa kerajaan Domglar. Apa pun yang terjadi.
"Kau gila, Kak! Bisa apa kau kalau ketahuan menyusup dengan maksud membunuh raja? Ratusan, bahkan ribuan prajurit akan serentak menyerang dan membunuhmu." Pata coba menghalangi niat nekat Tura, "Lagi pula, tidakkah kau dengar, kalau sang raja lalim memiliki permata lazarus? Batu legenda dengan kekuatan besar, yang dahulu dipergunakan Dav untuk menguasai benua ini sebelum kalah oleh Gav dan Val."
"Kau percaya cerita hisapan jempol untuk menakut-nakuti bocah seperti itu!?"
"Kalau begitu jelaskan bagaimana bisa istana kerajaan Turamp hancur tanpa bekas? Hanya meninggalkan kawah lebar di tempatnya dulu berdiri?"
Tura bungkam mendengar fakta yang telah mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Beberapa hari lalu, saat sedang menghindari kejaran prajurit Domglar.
"Lalu harus bagaimana?" gumam Tura.
Lama mereka terdiam, lalu terlelap tanpa kata di bawah atap langit malam. sampai bulan baru tepat berada di atas kepala. Saat Tura terbangun dari mimpinya yang berisi kilasan ingatan.
__ADS_1
"Kita cari dua senjata legendaris, yang dahulu digunakan Val dan Gav, untuk mengalahkan Dav!" usul Tura, setelah membangunkan Pata.
"Di mana? Ratusan tahun orang-orang mencari, dan tidak pernah menemukannya. Sudahlah, pikirkan cara lain yang paling masuk akal, sebelum mengganggu tidur orang lain."
"Petapa bijak! Kita kembali ke Rimba Gelap untuk menanyakan kepadanya! Aku berani bertaruh, dia tahu di mana letak senjata itu berada. Dia sudah hidup lama, dan tahu banyak hal yang orang lain tidak ketahui."
Pata mengangguk menyetujui, walau di lubuk hatinya terendap ragu. Namun, keoptimisan saudaranya itu menyalakan harapan kecil yang layak dicoba.
Menjelang fajar, mereka pergi untuk kembali ke kerajaan tempat tinggalnya dulu. Menempuh perjalanan panjang sejauh puluhan kilometer. Niat mereka hanya satu, menemui sang petapa bijak, yang dahulu menolong keduanya saat sekarat setelah membunuh beruang raksasa penjaga hutan.
Keputusasaan kembali menyambangi benak mereka. Di hutan lebat dengan banyak binatang buas dan alam yang ganas, sudah terhitung tiga hari mereka berusaha menemukan sang petapa. Namun, seiris kecil jejaknya pun tidak dapat mereka temukan, walau seisi hutan sudah mereka jelajahi.
"Ikuti aku!" Setitik cahaya kunang-kunang berpendar di hadapan mereka. Merambatkan suara merasuki indera pendengaran.
Tanpa ragu, Tura dan Pata mengikuti perintah dari suara yang telah mereka kenal tersebut. Suara ringkih, namun dalam penuh wibawa. Milik sang petapa.
Jalan yang diarahkan sang kunang-kunang kecil tidaklah mudah. Penuh aral rintangan hutan rimba tak bertuan, di tengah gelap gulita pelumpuh netra. Beberapa kali, dua saudara itu terjatuh atau menghantam batang pohon selama perjalanan. Mengikuti kunang-kunang yang terus terbang meluncur tanpa niat menunggu. Hingga akhirnya mereka melangkahi jalan menurun terjal yang menuntun sampai ke dalam goa terang berbentuk kubah. Tempat sang petapa sedang duduk bersila menunggu mereka.
"Apa yang kalian cari?" tanya sang petapa tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Cara mengalahkan sang raja lalim. Menggunakan dua senjata legendaris, yang dulu dimilik Gav dan Val," jawab Tura. Tegas.
Sang petapa menghela napas kecewa. "Aku kira kalian mau bertemu denganku. Untuk sekadar berterima kasih, atau menemani si tua ini mengobrol."
"Eh, ya ... maksud kami ...," Pata coba menengahi percakapan yang sedang berlangsung, tetapi tawa si petapa membuatnya terdiam.
"Hahaha. Aku tahu apa yang kalian cari. Pembalasan dendam atas kematian ibu kalian." Dia berdiri dengan satu hentakan. Sangat ringan layaknya bulu. "Setelah pembalasan terwujud, lalu apa yang akan kalian lakukan? Karena, setelah lunas dendam terbayar, kehidupan kalian tidak akan bisa lagi sama. Dua bujang yang tinggal damai di dasar lembah kecil."
Pata dan Tura terdiam lama. Tidak mampu menjawab pertanyaan sang petapa bijak. Sampai akhirnya Tura mengangkat kepala. Dengan mata tidak berkedip dia berkata, "Entah apa yang nantinya akan terjadi. Saat ini yang kami inginkan hanyalah keadilan. Pembalasan atas kekejaman yang mereka lakukan."
"Benar, petapa. Lagi pula, seandainya sang raja lalim dibiarkan saja, sudah barang tentu akan banyak yang menderita." Pata memperkuat argumen kakaknya.
Sang petapa bijak tertawa. "Asal kalian tahu, permata lazarus bukan hanya memberikan kekuatan, tetapi juga kutukan yang mencemari hati pemiliknya. Menjadikan mereka penuh ambisi menguasai. Pun, permata jahat itu memiliki tuah pemikat yang memastikan dirinya untuk terus dimiliki dan digunakan. Menyebarkan kejahatan yang tersimpan di dalamnya." Desah berat keluar dari mulutnya, "Pemikiran kalian masih teramat sempit. Masih berpikir kalau semesta berputar dengan kalian sebagai porosnya. Tetapi, tidak ada gunanya kan jika aku melarang kalian?"
Tura dan Pata mengangguk yakin.
"Baiklah, jika memang itu kemauan kalian. Walau sebenarnya apa yang kalian cari, inginnya aku berikan kepada pemuda yang lebih pantas." Sang petapa berbalik untuk kemudian berjalan sampai ke ujung goa. "Di ujung Barat dan Selatan. Tombak Taring Perak dan Pedang Cakar Merah berada. Dua senjata pusaka yang dapat menandingi kekuatan permata lazarus. Temukanlah, dan pergunakan dengan bijak."
Dinding goa terbuka merekah saat si petapa tua bijak mengayun tangannya ke belakang. Tanpa disuruh lagi, kedua bersaudara itu menghampiri. Berpamitan sambil berterima kasih dengan wajah riang, untuk selanjutnya memasuki pintu yang telah dibukakan oleh sang petapa. Menuju petualangan baru, demi menemukan senjata legendaris.
__ADS_1