Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 34-2] Labirin Kematian


__ADS_3

Aku sudah kembali membidik, walau baku tembak sempat tertahan sesaat, setelah perintah Juan mengudara.


Kali ini aku sulit untuk bisa memfokuskan diri. Benakku dikukung rasa was-was yang meraja. Berkali-kali tembakanku meleset jauh, karena bidikan yang tidak dapat aku mantapkan arahnya. Pikiranku terbagi!


Mungkin hanya aku yang merasakan kekhawatiran itu, karena sedari tadi, para penduduk desa bersikap tenang, bagai tanpa ketakutan. Padahal, posisi kita sedang berada di ujung tanduk.


Yenz menepuk pundakku. Menekannya pelan beberapa kali, untuk mengajakku merendahkan badan. Bersembunyi di balik gelondongan kayu.


"Marg, tenanglah. Kau hanya harus percaya kepada rekanmu, saat sedang berada di medan perang. Aku tidak tahu apa yang mereka miliki, tetapi melihat rona tenang di wajah para penduduk, aku yakin ada senjata rahasia yang Suku Tastal simpan untuk menghadapi peperangan ini."


Argumen Yenz, aku akui masuk akal. Tetapi, senjata apa?


Kalau menilai dari fakta, bahwa mereka adalah suku pedalaman, apakah mungkin senjata rahasia yang dimaksud itu adalah sihir, santet, voodoo, atau guna-guna istri muda?


Membuat pasukan Vajal terkena penyakit aneh, seperti muntah darah bercampur belatung, sebagai ganjaran karena mereka masih berani menyerang.


Sepertinya tidak. Kalau mereka memang punya ilmu seperti itu, kenapa pula tidak sejak awal dikeluarkan.


Pikiran buruk tidak berhenti bermain di kepalaku. Praduga-praduga jelek mulai bermunculan. Seperti; sebenarnya mereka sudah pasrah karena tahu tidak akan bisa menang.


"Prajurit! Dalam aba-abaku!" Juan kembali berteriak, di tengah lautan para bawahannya.


Pria kurus itu sengaja menjeda perintah, dan tidak langsung memberikan tanda pergerakan. Membiarkan para kroconya membentuk formasi barisan. Membuat hatiku yang sudah gundah, semakin tidak karuan.


******! Tidak lama lagi, serangan sporadis besar-besaran akan dilakukan.


Dengan pikiran kalut, aku berjalan meninggalkan pos tengah peperangan, bermaksud menuju ke sisi pertahanan. Mungkin bisa membantu mereka untuk menghadapi gempuran lawan.


Baru beberapa meter melangkah, seseorang dengan suara berat dan keras memanggil namaku. Entah dirinya bermaksud membentak marah, atau sekadar menegur dengan teriakan.


Dari mendengar suaranya, aku tahu siapa orang tersebut. Bahkan, sebelum aku membalikkan badan untuk melihat.


"Hendak ke mana kau, pria pemberani?" tanya pria yang menjadi panglima perang Suku Tastal, dan mungkin juga, sekaligus tangan kanan Tetua Perota.


"Maksudmu? Lagi pula, siapa dirimu sebenarnya?" gumamku. Masih meraba maksud panggilannya itu. Murni pujian atau ledekan satir.


"Ah, benar ... aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Langda Lethova. Panglima perang Suku Tastal, sekaligus orang kepercayaan Tetua Perota. " Tebakanku ternyata benar. Dan, kalau menilik dari namanya, dia mungkin ada hubungan kekeluargaan dengan Manika. "Kau boleh memanggilku Langda saja, calon saudara ipar. Aku sangat salut pada keberanianmu, karena telah bisa menaklukan sepupuku, Manika. Sebuah kemustahilan yang akhirnya terwujud. Aku saja akan berpikir dua kali jika disuruh berhadapan dengannya."


Senang aku mendengar pujiannya, tetapi sekaligus berduka untuk Margo.


Bagaimana tidak. Pria berbulu ini akan menjadi suami dari seorang wanita, yang bahkan sosok seperti Langda pun segan menghadapinya.


"Ah ... terima kasih. Tapi, aku sepertinya harus segera pergi. Lain kali saja kita mengobrolnya."


"Tunggu! Mau pergi ke mana dirimu sebenarnya?"


Ya Tuhan! Bisa sesantai itu dirinya di tengah kecamuk, yang mungkin menjadi akhir bagi desa dan sukunya. Padahal dia itu berpangkat panglima perang.


"Aku mau membantu bagian sisi, karena di sana pertahanannya lemah. Kita tidak akan bisa bertahan, kalau mereka melakukan gempuran besar-besaran!"


Alih-alih berpikir, pria berkuncir itu justru tertawa. Bikin gondok di hati saja. Untung kau masih terhitung calon iparnya Margo. Kalau tidak, sudah kutembak jidat jenongmu itu!


Langda mendekat, lalu merangkulku. Dia akan angkat bicara, saat suara letusan senjata terdengar. Tanda kubu lawan akan memulai gempuran besar dari segala arah.


Sial! Sudah dimulai.


"Tenang, saudaraku." Langda menahan erat gerakanku dalam rangkulannya. "Kau lebih dibutuhkan di jalan utama, dengan keahlian hebatmu dalam menembak."

__ADS_1


"Tapi ...."


"Kau tahu, apa sebutan hutan dan komplek perumahan ini saat kondisi perang?" Jelas aku menggeleng. "Labirin kematian. Itu nama yang diberikan Noktalius, seorang jenius hebat, yang berjasa merancang arsitektur desa ini."


Siapa pula Noktalius itu?


Ah, tidak penting juga memikirkan siapa dirinya. Sekarang para prajurit terlatih dari Vajal, sudah bergerak memasuki komplek dan hutan. Tidak lama lagi pasti mereka akan dengan buasnya diserang anj*ing ....


Sebentar!


Jelas sekali terdengar gonggongan anjing sahut menyahut. Menggeram dan menyalak tiada henti, diikuti jerit histeris dan ketakutan. Terlebih lagi, letusan senjata dari garis lawan, lebih banyak datang dari kedua sisi sayap medan pertempuran.


Jelas sekali terdengar, kalau senjata api itu dilantakkan secara terburu-buru, dan berisi penuh kepanikan. Tidak presisi juga tanpa perhitungan. Berbeda jauh dari yang terjadi di daerah tengah medan laga.


Aku menoleh, dan melihat senyum besar terkembang di paras lelaki berwajah tegas, yang masih merangkulku.


"Bukan tanpa sebab komplek perumahan dan hutan disebelahnya disebut sebagai labirin kematian. Ajag yang atas saran Tuan Noktalius harus kami kembang biakkan dan melatihnya, adalah kunci utama dalam pertahanan desa. Dengan tubuh mereka yang kecil dan lincah, ditambah naluri predatornya yang kuat. Daerah sempit dengan medan yang rumit, adalah tempat paling sesuai, untuk mereka dapat membantai lawan yang mencoba memaksa masuk teritorinya."


Aku sadar akhirnya. Tata letak blok rumah yang tidak simetris, dibuat agar penyerbu jadi kebingungan dan kesulitan dalam bergerak. Mudah untuk mereka tersesat, lalu terkepung ajag yang lincah, apalagi dalam kondisi panik karena terkejut.


Itu di dalam komplek. Entah bagaimana dengan hutan, yang pastinya lebih tidak tertebak lagi.


Satu kata untuk itu semua; jenius!


Jadi penasaran aku, dengan sosok Noktalius yang dikatakan Langda.


"Kau tidak usah cemas. Kembalilah ke pos, karena mereka lebih membutuhkan bantuanmu. Lihat, tanpa kehadiranmu, musuh lebih mudah untuk maju. Tolong bantu kami lagi. Aku akan perintahkan seseorang untuk memastikan dirimu, agar tidak sampai kehabisan amunisi."


Langda berlalu ke belakang. Mengatakan sesuatu kepada seorang remaja, yang bertugas dalam penyediaan suplai, sambil menunjuk-nunjuk diriku.


Satu kecemasan terbesarku hilang. Dengan langkah ringan, aku kembali ke belakang balok kayu di sebelah Yenz.


Masa bodo lah. Sekarang lebih penting menahan serbuan para prajurit di bagian tengah medan laga, yang sudah semakin jauh menerobos.


Kali ini mereka menggunakan taktik tidak manusiawi, yang menjadikan mayat rekannya sebagai tameng.


Aku yakin ide itu berasal dari Juan.


Aku menarik napas panjang, lalu menahannya. Mencoba memasuki dunia hening, tempat di mana segala sesuatu bisa terlihat lebih jelas.


Satu putaran tembakan aku lepaskan berturutan, dan sukses merobohkan lima orang penyerang terdepan, yang menggunakan senapan genggam, agar tangan satunya dapat memegangi mayat rekannya. Melindungi dirinya dan temannya pembawa bedil panjang, agar tidak terkena terjangan peluru kami.


Kondisi mereka semakin terdesak, dan kurang lebih setengah dari personilnya, telah tumbang. Ada yang lumpuh, mati diterjang peluru, atau sekarat dengan tubuh penuh bekas luka gigitan dan cabikan.


Mereka kembali mundur. Kulihat, di balik persembunyian kubu lawan, terjadi kerisuhan, berakhir dengan beberapa kali suara tembakan, yang berhasil meredamnya. Tak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Juan.


Sejenak semua terkendali di bawah keunggulan kami. Akan tetapi, hatiku merasa tidak tenang. Merasa kalau akan terjadi sesuatu yang mengerikan setelah ini.


Yenz menepuk pundakku. "Bersiap untuk mundur. Perasaanku tidak enak dengan ketenangan ini ...." Belum tutup ucapannya, tiba-tiba saja dari kedua sayap medan pertempuran, terjadi ledakan beruntun.


Orang gila! Ini pasti perintah Juan. Dia sama sekali tidak memedulikan bawahannya, yang masih tersisa di labirin kematian.


Serangan edan dengan ledakan itu, ternyata juga hendak dilakukan di bagian tengah medan laga. Beberapa prajurit berlari dengan bom di tangan. Memaksakan diri demi dapat mendekat, untuk sampai di titik lemparan, yang memungkinkan bahan peledak di tangannya, bisa melambung sampai ke sasaran.


Apa yang mereka rencanakan tidak pernah tercapai, karena sebelum sampai ke tempat yang dituju, dirinya sudah lebih dahulu terkena tembakan. Tumbang, lalu meledak.


"Bertahan! Mereka tidak akan sampai ke sini! Pertahanan kita solid!" pekik Langda. Aku yakin dia mencoba tegar, walau dari getar suaranya, terasa benar ada kecemasan. Jelas saja. Dari ledakan itu, banyak ajag yang mati, atau kabur ketakutan.

__ADS_1


"Bom datang!" teriak seseorang.


Aku yang tadi bersembunyi dari ledakan bom bunuh diri, melompat berdiri, dan melihat enam tongkat dinamit, tengah melambung menuju ke arah kami.


"Lari, kawan!" Yenz menarik pundakku.


Lari? Ya, aku mau lari, tetapi di belakangku ada Rumah Junjung, yang di dalamnya bersembunyi Malika bersama Tetua Perota. Bagaimana jika efek ledakan akan melukai mereka?


Aku tepis tangan Yenz. Membuang senapan laras panjang yang hanya tersisa satu peluru. Memasuki dunia hening, untuk kemudian menarik revolver, dan beruntun aku tembakkan tiga peluru mengarah ke atas.


Ledakan susul-menyusul membahana di udara. Bagai kembang api di perayaan tahun baru.


Semua perhatian tersita kepadaku. Membuat diriku agak malu untuk mengembangkan senyum. Orang-orang kemudian bersorak--kecuali Kapten Sando. Merayakan keberhasilanku menghindarkan kami dari kematian.


"Kembali ke pos kalian. Kita gempur mereka, dan ...!"


"Berhenti!" Ucapan keras dari Rumah Junjung memotong kalimat Langda.


Manika melompat turun dari teras, dan langsung mendekati sepupunya yang menjadi pimpinan perang.


"Tetua memerintahkan untuk mundur. Bakar rumah, dan pergi ke bungker di gunung. Langda, kau bawa kakek ke sana, aku akan mengantar Kapten Sando dan yang lain menuju goa."


"Apa maksudnya? Kita sudah hampir menang! Tinggal sedikit lagi mereka akan mundur dari sini!" bantah Langda.


"Tidak! Tetua sudah memperkirakannya. Dia bilang tidak lama lagi serangan bom akan semakin gencar, dan pertahanan kita pasti tertembus. Labirin kematian tidak dibuat untuk menahan gempuran seperti itu."


Langda seperti akan membalas kata-kata Manika, tetapi urung, lalu berbalik dan memberikan perintah untuk mundur.


Selanjutnya, satu rentetan tembakan dan ledakan terakhir terdengar, sebelum obor-obor dilemparkan ke atap rumah, dan balok-balok kayu disiram minyak tanah. Turut dibakar untuk memblokade lajunya lawan.


Rombongan Kapten Sando, termasuk aku, Yenz, dan Leo, yang sebelumnya keluar sambil menggendong Kakek Perota, berlari memasuki hutan belakang. Ke bagian barat, yang belum lama ini hendak Yenz jelajahi.


Melewati jalan setapak, lalu meniti jembatan kayu di atas sungai kecil. Manika menuntun kami menuju goa besar di sebuah bukit kecil.


Rombongan kapal hitam memasuki goa itu tanpa ragu. Aku berpikir di sanalah tempat pembuatan retnap berada.


Tebakanku sepertinya benar, karena jelas aku dengar gema hujatan Yenz, yang telah masuk terlebih dahulu. Aku tidak dapat memastikannya langsung, karena Manika menahan diriku dan Leon, yang ada di barisan paling belakang.


"Leonal, tolong kau jaga Tuan Margo. Aku mempercayaimu." Remaja itu mengangguk dengan senyuman lebar. "Masuklah lebih dulu, dan tunggu di dalam. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya sebentar."


"Baiklah, kakak."


Sebentar! Sejak kapan mereka bisa seakrab itu? Bukankah tadi keduanya hampir saling bunuh.


"Tuan ...." Manika mendatangiku dengan wajah bersemu. Kami bersitatap sejenak, sebelum dia melengos dan mengambil sesuatu dari belakang badannya. "Simpanlah. Belati ini adalah peninggalan ayahku. Aku ...."


Dia terdiam dengan tangannya mengapit kepalanku, yang menggenggam belati pemberiannya.


Kami terdiam cukup lama, sampai gadis bermata sayu itu mengangkat kepala, dengan wajah merona merah.


Sepasang tangan kecil Manika terjulur melingkari leherku. Menariknya mendekat, hingga bibirku dapat merasakan kehangatan lembut yang manis menyentuhnya.


Pikiranku kosong, dihantam serangan mendadak sepenuh hati, dari si gadis berbibir ranum.


Seperti hanya sekilasan lewat. Manika melepas dekapan berikut ciumannya. Dia memunggungiku selepas itu.


"Berjanjilah untuk kembali. Aku akan selalu menunggumu." Manika berlari beberapa meter, sebelum kembali menoleh dan berkata, "Da-dan ... dan jangan pernah cukur brewokmu!"

__ADS_1


Eh ... kenapa?


__ADS_2