
Runtuh tiang pondasi kastil diterjang si monster. Untung kedua bersaudara itu sudah melompat ke arah terpisah demi menghindarinya. Selamat dengan dengan sedikit luka gores akibat lentingan bebatuan yang dihasilkan serangan sang monster.
"Kakak! Biar aku hadapi dia. Kau ambil tombakmu dulu di atas sana!" Pata memasang ancang-ancang kokoh dengan pedang saktinya tergenggam erat menggunakan kedua tangan.
Tura mengangguk lalu segera berlari menuju tangga, yang untungnya masih dapat didaki walau hancur di banyak bagian. Menuju tombak perak yang tadi berhasil menggores dangkal pundak si monster. Tertancap di dinding kastil. Dia memburu waktu, karena walau pun yakin akan kekuatan adiknya, tetapi dia tahu kekuatan monster itu sangatlah besar, dan tidak mungkin dapat dikalahkan seorang diri.
"Hei, monster jelek! Hadapi aku!" bentak Pata demi menarik perhatian lawan. Memberi waktu bagi Tura sampai ke tujuan dan mengambil senjatanya kembali.
Wuk!
Monster itu begitu cepat menghampiri Pata yang baru selesai berucap. Mengayunkan tangan besarnya yang lekas dihindari dengan menundukan badan. Dia merinding merasakan angin dari ayunan tangan raksasa itu. Begitu kencang, membuat tubuhnya bergeser sesenti. Entah akan patah jadi berapa bagian tulang belulang di badannya, jika terkena langsung serangan itu.
Srat!
Pedang cakar merah mengayun dan menorehkan segaris luka di tubuh si monster hijau. Sebuah luka yang teramat dangkal untuk senjata yang mampu membelah besi tebal bagai tahu. Padahal Pata melancarkan serangan sekuat tenaga sambil melompat, memanfaatkan posisinya yang sedang berjongkok.
Sadar dia tidak akan mudah mengalahkan monster berkulit tebal itu, Pata memutuskan untuk mundur dan mengatur jarak aman demi menanti celah melepaskan serangan. Menjadi satu-satunya cara untuk melawan tanpa resiko mati konyol. Pun sekaligus memberi waktu lebih bagi kakaknya.
Si monster geram, lalu penuh nafsu mengejar mangsanya sambil melepaskan serangan bertubi-tubi.
Blam! Blar! Duar!
Hancur berkeping-keping segala permukaan yang terkena serangan si monster. Hantaman tangan, terjangan kaki bertapal keras, dan tandukan yang disertai lahapan mautnya, dihindari Pata sambil terus menyarangkan serangan balasan. Begitu terus berulang bagai tanpa akhir.
"Mati kau!" teriak Tura yang langsung melompat dari lantai dua dengan mata tombak siap menghujam.
__ADS_1
Jrat!
Punggung liat itu tertembus ujung tombak. Tetapi, hanya beberapa senti dan sama sekali tidak fatal. Malah kini Tura yang berada di kondisi berbahaya, karena tangan si monster mengayun ke belakang demi menghantamnya. Begitu elastis seperti terbuat dari karet.
Blugh!
Serangan itu mengenai dirinya sendiri, karena Tura sudah terlebih dahulu mencabut tombaknya. Melompat demi menghindari kematian.
Konyol. Monster itu jatuh terjerembab karena ulahnya sendiri. Memberikan waktu bagi mereka berdua untuk mengambil napas.
"Kerja bagus, Dik," puji Tura.
"Berita bagus dan buruk, Saudara." Tura menoleh ke arah Pata di sebelahnya dengan mata terpicing. "Bagusnya, serangan monster ingus itu sangat polos dan mudah untuk dihindari. Buruknya, luka yang kita berikan sama sekali tidak berpengaruh kepadanya. Lihat. Luka-luka itu langsung menutup tanpa bekas sama sekali."
Lemas Tura mendengar itu semua. Tidak mungkin menampik fakta yang tersaji jelas di depan mata. Batinnya memaki keras.
"Dia tidak berbohong. Kita memang mengalahkan si raja lalim dengan tombak dan pedang ini. Tetapi, bukan monster penggabungannya dengan permata lazarus. Salah kita yang tidak langsung menghancurkan batu itu setelah menumbangkannya."
"Sialan! Jadi harus bagaimana sekarang!?"
Wush!
Si monster langsung menghampiri dan menyerang begitu sudah sepenuhnya bangkit.
"Ingat nasihat ibu!" Jawab Pata seraya menghindari serangan maut.
__ADS_1
Ucapan Pata sampai di telinga Tura. Sedetik dicerna. Dia paham apa yang ingin disampaikan adiknya.
"Jangan pernah menyerah. Kesempatan menang akan terbuka dan dapat diraih, bagi mereka yang terus berjuang," nasihat ibu saat mereka bersedih setelah kalah dalam lomba menangkap ikan.
Keduanya menerjang dari dua sisi berbeda. Menghajar dan menyerang lebih ganas. Dengan tetap menjaga ritme agar tidak melakukan gerakan ceroboh yang berujung pada kematian.
Kombinasi sempurna dua bersaudara yang mampu mengimbangi ganasnya serangan si monster lalim. Namun, tetap saja itu tidak cukup. Karena mau seberapa keras pun mereka berusaha menyerang. Sedikit pun tidak berefek sama sekali di tubuh lawan.
Tenaga mereka mulai terkuras habis. Berbanding terbalik dengan si monster yang memiliki stamina tak terbatas. Lelah dan penuh luka. Napas mereka sudah tersengal-sengal. Tubuh mereka menjadi berat. Tangan mereka sudah melepuh dan gemetar menahan beban di pegangan senjata. Buntu tanpa jalan.
"Sekarang atau tidak sama sekali! Kita serang bersama-sama!" usul Tura.
Keduanya melesat dengan segenap sisa tenaga. Menyasar si monster hijau yang tengah kebingungan setelah terkecoh gerakan tipu keduanya.
Pedang mengayun besar. Tombak melesat kuat. Berisi harapan tipis untuk dapat menumbangkan musuh terburuk mereka. Bahkan bagi dunia.
Jauh arang dari api. Serangan terakhir itu dapat dengan mudahnya digagalkan. Tidak sesuai ekspektasi bahkan harapan mereka. Monster itu menangkap senjata yang diarahkan kepadanya. Menggenggam kuat hingga bergeming. Seakan itu hanyalah selaras senjata mainan.
"Gralian ... graw! Mragti!" ucap si monster untuk pertama kalinya.
Pata dan Tura melongo mendengarnya. Sadar kalau monster idiot itu telah berkembang. Pantas perkiraan mereka tentang serangan terakhir yang seratus persen masuk bersarang, justru bisa digagalkan oleh gerakan yang sama sekali tidak terduga.
Wush!
Monster itu mengayunkan tangannya kencang. Melempar kakak beradik itu beserta senjatanya, jauh hingga menghantam dinding di seberang ruangan. Berjarak tiga puluh meter dari titik si monster berada.
__ADS_1
Keduanya tumbang dengan kesadaran yang makin menipis. Pasrah sudah menerima takdir dari jalan pembalasan yang mereka ambil. Berharap masih ada secercah harap entah dari mana.