
Kami sampai di tepi hutan. Memposisikan diri di balik pohon besar. Aku turunkan tubuh ringannya bersandar di batang kokoh, yang ukurannya mungkin sepelukan dua orang dewasa. Aku memicingkan mata saat melihat ekspresi Putri Asaru yang dipenuhi ketakutan. Makin besar dorongan untuk bertanya kepadanya. Tentang teriakan tertahan beriring ketakutan yang dia alami.
"Putri, apa yang terjadi?" tanyaku.
Bukannya menjawab, gadis bermata hijau itu justru meringkuk. Menekuk kaki lalu memeluknya erat sambil gemetaran.
Wush!
Kesiur angin menerpa kencang, seperti hendak membumbungkanku ke angkasa. Hanya sekilas, tetapi cukup membuat jantung ini berdetak tidak karuan. Urung aku mendesak pertanyaan kepada Putri Asaru.
Seperti yang aku sangka, hembusan angin tadi berasal dari kedua tokoh sakti di tengah panggung laga. Dari yang aku lihat, keduanya hanya berdiri mematung saling melempar tatapan tajam. Hanya seperti itu yang terlihat secara kasat mata.
Akan tetapi, lamat-lamat kulihat ada baku tanding kekuatan di antara keduanya. Percikan bunga api, batu yang terangkat kemudian pecah berkeping-keping di tengah udara, ranting-ranting dan dedaunan yang lebur menjadi partikel, juga merekahnya tanah di sekeliling mereka. Aku yakin itu adalah pertarungan tenaga dalam tingkat tinggi. Seperti yang ada di film-film fantasi.
Takut, sudah barang tentu. Tetapi, rasa takjub lebih besar karena dapat menyaksikan langsung pertarungan ghaib dua orang sakti. Aku gemetar, dan tak bisa mengalihkan pandangan mata.
Grep!
Aku kaget karena tahu-tahu tangan ramping itu menggenggam dan menarik leher bajuku. Aku menatapnya, dan kulihat ketakutan yang ada di dirinya semakin membesar.
"Apa yang terjadi, Putri? Kamu kenapa?" Aku menggenggam kedua tangannya yang bergetar hebat.
"Pergi ... kita pe-pergi dari sini. Aku mohon." Dengan mata yang basah dia mengiba kepadaku.
Ini bukan pertanda baik. Wanita setegar putri Asaru sampai jadi seperti ini. Apakah mungkin sosok wanita bergaun ungu itu penyebabnya? Jika memang seperti itu, siapa dia sebenarnya?
Pertanyaan belum terjawab, dan permohonan putri kepadaku pun belum terpenuhi, saat terjangan angin kencang kembali berhembus. Dari dasar membumbung ke atas.
Pohon yang memagari kami berderak diangkat kekuatan besar. Kepingan dan butiran tanah turut terlempar ke atas, seiring mencuatnya akar besar yang menjadi pondasi pohon. Aku bersiaga dengan memegangi rerumputan, walau tahu hal tersebut bisa dibilang mustahil bisa menyelamatkan di situasi seperti ini. Tetapi, apa lagi yang bisa aku lakukan?
Wush!
Hembusan terakhir yang paling kuat. Kakiku sampai terangkat seinci dari tanah. Sesaat semua tenang. Aku menatap Putri Asaru yang meringkuk membenamkan dirinya di tanah. Tidak berhenti gemetaran.
Aku pegang pundaknya, lalu mendorongnya perlahan sampai pandangan kami bertemu. "Tenanglah, Putri. Kita akan selamat. Ada Artapatu di sini," ucapku coba menenangkan.
Dia menggeleng. Mulutnya bergerak terbuka dan menutup cepat tanpa suara, seakan ingin mengatakan sesuatu. "Tidak." Dari gerak bibirnya yang terbaca, aku menangkap kata penolakan itu diucap berulang kali.
Tidak apa?
Jeglar!
__ADS_1
Belum ada jawaban atas pertanyaanku, ledakan besar dengan cahaya menyilaukan dari langit sudah menyambar. Bumi seakan bergetar. Pohon di belakang putri Asaru rompel setengah bagian, lalu berderak semakin kencang. Doyong hendak rubuh.
"Putri!" Gegas aku memeluknya. Berusaha menghindar sebelum akhirnya pohon itu tumbang. Lantak jatuh tercabut ke akar-akarnya.
Di panggung pertempuran itu aku melihat Artapatu berdiri tegak di tengah kawah besar yang mengepulkan asap. Seakan serangan besar tadi tidak berpengaruh sedikitpun terhadapnya. Dia mengangkat tongkat di tangan kanannya, untuk kemudian dihujamkan kuat ke tanah.
Seketika. Tubuh kurus itu terpelanting tinggi ke atas langit. Berbarengan dengan retakan tanah yang bergerak cepat dari bekas hujamamnya menuju ke si Wanita bergaun ungu.
Bum!
Ujung retakan itu meledak. Sangat besar dan kuat. Tepat di bawah pijakan si wanita. Seandainya ini ada di dunia nyata, sudah barang tentu tidak akan ada yang bisa selamat terkena ledakan sebesar itu. Akan tetapi, ini dunia fiksi dalam buku terkutuk. Selamat dari ledakan yang mampu menghancurkan sebuah tank, tentu bukan masalah.
Dar!
Benar dugaanku. Wanita itu selamat, dan langsung membumbung cepat menyusul Artapatu.
Di atas sana, dua sosok bertarung menyibak gumpalan awan hitam menggantung. Baku hantam dengan gerakan dan serangannya yang membahana. Adu kekuatan mistik yang saling terjang dan hadang. Menghasilkan rentetan ledakan di antara mereka.
"Sam!" panggil Putri Asaru kembali. "Dia ... dia terlalu kuat untuk ... Tuan Artapatu. Kita tidak akan selamat."
Aku membelalak. Sudah kuduga dia mengenal wanita itu. Menilai dari ucapannya.
Duar!
Dari lubang besar itu, melompat Artapatu. Kedua tangannya menggenggam tongkat yang kemudian dia ayunkan kencang ke atas.
Bola cahaya putih meluncur keluar dari ujung tongkatnya. Cepat, dan terus membesar seiring lajunya yang makin tinggi. Untuk sekilas, daerah sekitar menjadi terang bagai siang hari.
Bum! Matahari buatan itu meledak di angkasa. Gelombang ledakannya menyapu seisi hutan.
Artapatu memutar tongkatnya di atas kepala. Menciptakan pusaran angin yang kemudian menjadi kubah. Membesar sampai menjangkau tubuh gendut Kord, Woofy dan Shege--sudah kembali ke wujud imut--yang terkulai lemas, bahkan bangsawan Arson di sana--minus prajurit bawahan si bangsawan, yang zirahnya sudah gosong.
Hanya sampai di sana yang bisa aku lihat. Karena selanjutnya, daerah sekitar menjadi gelap begitu saja tanpa setitik cahaya sedikitpun. Bahkan untuk melihat putri Asaru yang masih ada dalam dekapanku pun tidak mampu. Penglihatanku buta bagai ditutupi tirai hitam.
Begitu setidaknya sampai selarik cahaya ungu turun dari angkasa. Menghujam ke titik di mana aku yakini menjadi tempat Artapatu berada.
Duar!
Ledakan besar meletup ganas di hadapanku. Suaranya bagai merobek gendang telinga untuk kemudian merambat masuk menggedor otak.
Kesadaranku terhempas. Berada di antara kondisi sadar dan tidak. Tubuh dan syarafku lumpuh, dengan sedikit kesadaran tersisa. Entah berapa lama.
__ADS_1
"Kerja bagus, Nak," ucap Artapatu. Begitu dekat, bercampur dengan kesiur angin.
Usapan lembut yang diiringi cahaya berkilau di sekujur kepala, seketika mengembalikan semua kesadaran dan indra perasa di tubuhku.
Setelah dapat mengingat yang terjadi sebelumnya, hal pertama yang kulihat di hadapan adalah pemandangan yang bergerak cepat. Seperti saat berada di bangku depan mobil yang melaju kencang.
"Akh!" jeritku saat melihat ke bawah. Kakiku mengatung tanpa pijakan.
Artapatu tertawa pelan. Aku menoleh ke samping, dan mendapati lelaki tua itu sedang mengusap kepala Putri Asaru. Menggunakan tangannya yang berpendar putih.
Aku lihat, sepuh sakti itu dalam kondisi yang mengenaskan. Baju dan jubah putih yang dia kenakan kotor oleh banyak noda. Sudah rusak dengan hadirnya sejumlah robekan dan bolong terbakar di sana-sini. Memperlihatkan luka-luka yang menghitam, bahkan beberapa terlihat sudah membusuk. Mungkin itu efek serangan maha dahsyat si wanita bergaun ungu.
Aku akhirnya sadar kalau kami sedang berada di tengah pelarian. Bergerak begitu cepat di dalam bola angin, yang mungkin perwujudan dari kubah ciptaan Artapatu tadi. Sesaat sebelum kegelapan datang.
Kami yang aku maksud mencakup Kord, Woofy, Shege, juga Arson! Apa yang dipikirkan orang tua itu dengan membawa si bangsawan idiot. Tidak tahukah dia, kalau orang itu jelas-jelas berniat membunuh kami?
"Wah!" jerit putri Asaru. Memutus niatku untuk bertanya kepada Artapatu perihal si bangsawan berengsek.
Gadis bergaun putih--yang juga sudah kotor dan robek di beberapa bagian--itu memeluk Artapatu. Ketakutan. Kaget karena menyadari kakinya tidak menapak.
"Hahaha. Tenanglah, Nak. Di sini aman." Artapatu mengelus rambut putri Asaru.
"Ba-bagaimana dengan dia, Tuan Artapatu?" tanya Putri Asaru.
Artapatu menghela napas pelan. "Aku bisa menahannya sebentar setelah tadi dia mengeluarkan serangan pamungkas. Entah berapa lama lagi dia akan menyusul kita. Tetapi, tenang saja, akan aku pastikan kalian selamat."
"Tapi ... tapi dirimu sudah seperti ini."
"Hahaha. Jangan khawatirkan orang tua ini, Nak. Dibandingkan aku, kalian justru lebih parah. Tidak usah cemas. Aku sudah menduga semua ini. Lagi pula, bukankah kita sudah membicarakan segalanya tentang kemungkinan dan rencana untuk menyelesaikan kisah ribuan tahun ini?"
Putri Asaru mengangguk lemas. "Tetapi, kalau seperti ini ... tidak adakah rencana lain yang lebih baik? Tanpa ... tanpa meng ...."
Belum sempat Putri Asaru menyelesaikan ucapannya, Artapatu dengan gerakan halus memutar tubuhnya. Membawa serta Putri Asaru yang masih dalam dekapan, untuk kemudian dihempaskan kepadaku.
"Jagalah putri Asaru baik-baik. Nanti tanyakanlah padanya langkah yang harus diambil. Bola udara ini akan membawa kalian sampai ke goaku. Sembuhkanlah diri kalian dan beristirahatlah. Semoga kalian menjadi pahlawan bagi kerajaan Capitor dan benua Suno." Artapatu menjulurkan tangannya. Tubuh Arson tersentak bergerak sampai ke dalam pelukannya. "Nak Sam. Ingatlah, jangan pernah meragukan takdir yang diembankan kepadamu."
Aku mengerti sekarang, alasan Artapatu membawa serta Arson. Sebagai jaminan untuk kami, agar selamat dari si wanita sakti bergaun ungu. Entah apa hubungan mereka berdua. Namun, saat itu juga aku merasakan ada beban berat yang diembankan di atas pundak. Aku yakin ucapannya barusan bukanlah kalimat kosong sambil lalu.
Ya Tuhan, sampai kapan ini semua akan berlangsung?
"Tuan ...!" pekik putri Asaru dengan tangan terjulur, saat Artapatu melesat keluar bola udara buatannya, dengan Arson dalam rangkulan.
__ADS_1
Bum!
Ledakan cahaya putih dan ungu terlihat, tak lama setelah Artapatu meninggalkan kami. Pertarungan ronde kedua dari sepasang orang sakti kembali dimulai. Sementara kami pergi menjauh, membawa beban, tanya, dan tangisan yang entah di mana akan bermuara.