
Kayu bergemeretak dilalap api. Bagai sedang dikunyah perlahan, untuk akhirnya habis menjadi abu, atau terbengkalai dalam wujud menghitam setumpuk arang.
Kayu bekas tiang penyanggah, pecahan genting yang berserakan, papan kusam alas bangunan, dan segala ornamen lain. Terpanggang tak lolos dari ganasnya kobaran merah. Tak tahu, bagaimana nasibnya yang ada di bawah timbunan.
Aku yang tercenung menatap gejolak merah di hadapan, serta merta memekik kaget, saat tumpukan puing itu berguncang. Bukan gempa menjadi penyebab, tetapi dari sesuatu yang terkubur di sana.
Bagai sebuah ledakan. Puing dan banyak serpihan yang berkobar, terpelanting berhamburan. Didobrak keras oleh sosok besar di tengah tumpukan reruntuhan.
Siderun Twisky, dalam wujud zombie menyeramkan. Mayat hidup yang terpanggang, dengan tubuh penuh borok, luka besar membusuk, hingga kulit mengelupas, dan daging tercoak. Menampilkan tulang belulang, berikut jeroan di dalamnya.
Sosok menyeramkan itu menggerakkan rahangnya, hingga terdengar gemeretak tulang yang beradu.
"Jangan ... kira kau ... bisa lolos ... dariku!" Kalimat itu terlontar dengan vibra penuh kesakitan. Seakan kerongkongannya sedang dicekik erat.
Merangkak dirinya dari dalam lubang, dan merayap gontai di dalam lautan api. Bergemeretak tulangnya saat bergerak. Menimbulkan ngilu di sekujur tubuh.
Aku gemetar ketakutan. Menggigil bagai kedinginan, walau api besar tak berjarak jauh di hadapan.
Hilang tenaga untuk bergerak. Kosong pikiran tak tahu harus berbuat apa. Hanya dapat diam membatu, walau begitu besar keinginan mengambil langkah seribu. Dari jangkauan Twisky yang makin mendekat. Hendak mencekikku menggunakan sepasang tangan busuk terpanggangnya!
"Mati ... kau ... Brewok!"
"Tidak!"
Hening setelah jeritanku. Dua pasang mata, yang hanya berselang sedepa, menatap aku tak berkedip. Yenz dan Tuan Lapo.
Ah ya ... tadi itu hanya mimpi buruk, yang saja mungkin terlahir, dari akumulasi rasa bersalah Aku dan Margo.
Konyol memang kedengarannya. Merasa bersalah kepada orang jahat, yang hampir membuat kami celaka. Hanya saja, aku merasa itu bukan jalan yang benar. Walau memang, kematiannya bukan sepenuhnya kesalahanku.
"Akhirnya kau bangun juga. Aku kira dirimu sedang hibernasi macam beruang madu." Kalimat itu keluar dari balik bibir ranum Yenz, yang tersimpan lidah tajam mengesalkan.
"Bagus sekali ocehan dari mulut orang yang hanya bisa diam, lempar botol, lalu sembunyi ketakutan saat adu tembak terjadi. Terima kasih," balasku. Sengit.
"Kalau bukan karena lemparan botolku, kau sudah berakhir jadi sarang lebah, dengan banyak peluru melubangi tubuh jumbomu."
"Iya, tapi kalau bukan karena jasa Tuan Lapo, kau mungkin akan terus melongo di teras motel. Menjadi penonton budiman yang menyaksikan aku mati, tanpa berbuat apa-apa. Bahkan, kalau bukan karena Tuan Lapo dan nampan besinya, aku sudah kena tembak oleh anak buah Twisky."
Kami bersitatap tegang melempar kekesalan. Tidak berlangsung lama, karena sedetik kemudian, terdengar tawa, dari mulut pria tua berjenggot kambing. Tuan Lapo.
__ADS_1
"Aku iri dengan semangat muda kalian. Mengingatkanku saat dulu, sewaktu rambut di kepala ini masih penuh." Tuan Lapo menunjuk kepalanya sendiri, yang hanya ditumbuhi rambut tipis di sekelilingnya.
Kami melengos. Aku menatap api unggun, yang di atasnya terdapat panci untuk memasak makan malam. Dibuat spesial oleh koki handal berumur sepuh.
Di sinilah kami bertiga. Bermalam di pinggir oasis, setelah seharian berkuda, yang di setengah perjalanannya aku tertidur--posisinya aku diboncengi Yenz--hanya terbangun sebentar saat sampai di oasis, untuk akhirnya kembali tidur. Begitu kelelahan setelah pertempuran besar berakhir kebebasan.
Pergi dari kota bobrok Jarless, yang masih terus terbakar. Meninggalkan para penjahat, yang entah bagaimana nasibnya di sana. Menuju Lapalasa yang menjadi tujuan awal.
"Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan. Karena, sosok hebat Tuan Damarion, dan pesona kecerdasan Tuan Yenz, mungkin adalah jawaban atas doa-doaku selama menjadi tawanan di Jarless," ujar Tuan Lapo, sembari mengaduk sup beraroma lezat di dalam panci. Memecah keheningan dingin gurun pasir.
Melambung bangga hatiku saat mendengarnya.
"Sudah berapa lama Anda menjadi tawanan komplotan Twisky?" tanya Yenz, tanpa basa-basi.
Tuan Lapo mendesah berat. Wajar saja, karena siapa sih yang senang diperbudak oleh penjahat? Di kota bobrok bau pesing seperti itu pula.
Tangan tuanya menaruh gagang centong untuk mengaduk sup di dalam tumpukan mangkuk. Samping gembolan berisi alat dan bahan masakan, juga beberapa benda lain, yang dia persiapkan sebelum duelku dan Twisky dimulai.
"Hampir sebulan aku berada di sana, setelah dengan bodohnya mau ditipu untuk memasuki kota Jarless," tutur Tuan Lapo.
"Jadi hampir sama seperti kami? Anda ditipu oleh Twisky untuk datang ke kota bobrok itu?" tanyaku.
Aku tergugu mendengar fakta itu. Agak tidak enak hati juga sudah menyebutnya kota bobrok.
"Akan tetapi, enam bulan lalu, ternyata Twisky dan komplotannya menyerang ke sana. Mereka merusak sarang kadal karnivora, untuk meneror penduduk kota. Mengurung mereka agar tidak bisa pergi meminta pertolongan. Setelah kota lemah, karena suplai makanan menipis, dengan kejamnya para penjahat itu membantai setiap orang yang ada di Jarless. Sadisnya, mayat mereka diumpankan kepada kadal karnivora, untuk menghilangkan jejak."
Aku bergidik mendengar cerita keji itu. Ngeri sekaligus marah.
"Kabar soal penyerangan itu tidak pernah terdengar, karena memang Jarless bukan kota resmi, yang biasanya akan ada di dalam peta. Apa lagi, tempat itu berada jauh dari jalur perjalanan yang aman."
Tuan Lapo menghela napas kembali. Menatapku beriring senyuman teduh.
"Bukan ditipu pula oleh Twisky, Tuan Damarion. Sebenarnya aku adalah rahib di rumah ibadah yang ada di Lapalasa. Hampir sebulan yang lalu, seseorang yang mengaku utusan dari Jarless datang, dan memintaku pergi ke sana. Tanpa menaruh curiga, aku menerima permintaannya, karena dia bilang kalau rahib di kota Jarless meninggal dunia, dan aku diberikan mandat oleh almarhum untuk menggantikannya sementara."
Aku menggaruk kepala, dan sedikit tertunduk. Meskipun Margo bukan orang yang agamis--tidak denganku yang selalu ikut peribadatan bersama ibu dan ayah--tetapi tidak enak hati juga, karena sebelumnya pernah bersikap agak tidak sopan, kepada pria tua yang ternyata tokoh agama itu.
"Akan tetapi, sesampainya di sana, aku terkejut melihat kondisi kota tersebut. Saat itu pula, mereka menangkapku untuk dijadikan tawanannya. Puji Tuhan. Aku masih dilindungi dan tidak dibunuh, karena Tuhan memberikan petunjuk untukku. Lebih bersyukur lagi, karena doaku dikabulkan, dengan kedatangan kalian berdua. Tuan Damarion, dan Tuan Yenz."
Kembali melesat tinggi kebanggaan di hatiku, karena lagi-lagi diberi pujian, oleh sesepuh yang ternyata seorang tokoh agama. Termasuk prestasi menurutku.
__ADS_1
"Kenapa sampai Anda ditargetkan oleh Twisky?" Yenz menyela dengan nada yang dingin.
Tuan Lapo menoleh, dengan tetap mempertahankan senyumannya. "Selain sebagai rahib, aku juga mendirikan serikat dagang, yang mewadahi pedagang kecil, nelayan, peternak, dan sebagainya. Ada ketidaksukaan dari serikat pedagang besar yang selama ini memonopoli di sana. Dan, begitulah akhirnya. Terima kasih untuk kalian berdua. Terutama engkau, Tuan Damarion, yang berjuang menjadi ujung tombak perlawanan, dan berhasil mengalahkan Twisky beserta komplotannya."
Lepas dari ketidakpahaman soal serikat dagang dan monopoli. Aku seharusnya kembali merasa senang, karena mendengar pujian itu. Akan tetapi, semua tertutup begitu saja oleh rasa bersalah.
Hancurnya kota Jarless, dan kematian Twisky beserta komplotannya. Meninggalkan bekas yang mendalam. Bagai rasa getir di langit-langit mulut.
"Sudah matang!" ujar Tuan Lapo. Menyela kegundahanku.
Tak berapa lama kemudian, semangkuk sup kental beraroma menggoda, disodorkan tangan kurus keriput di hadapan. Aku mendongak sambil tersenyum dipaksakan. Mengambil tawaran makan malam itu.
"Tuan Damarion. Rasa bersalah bukanlah hal yang buruk, malah itu menunjukkan kalau dirimu adalah orang berhati baik. Tidak untuk dihilangkan, justru harusnya dipertahankan, sebagai berkah dari Tuhan bagi manusia." Ucapan Tuan Lapo yang bagai bisa membaca pikiranku itu, merasuk hangat ke dalam sanubari. Sama hangatnya dengan semangkuk sup dalam tangkupan tanganku. "Engkau mungkin merasa bersalah karena kematian Twisky. Ya, membunuh memang perbuatan yang tidak dibenarkan. Namun, terkadang hal itu harus dilakukan walau berat. Bukan dengan serampangan merebut kehidupan, yang menjadikan orang lebih rendah dari seekor binatang. Akan tetapi, tetap berpegangan kepada norma kebenaran. Seperti yang kau lakukan, Tuan Damarion.
"Te-tapi, Tuan Lapo ...." Kalimatku tertahan di tenggorokkan. Tak mampu untuk diucapkan.
Hening sesaat. Pria tua dengan sorot mata teduh itu, menepuk pundakku, lalu berkata, "Itu yang ditakdirkan Tuhan untuknya. Bukan tanpa proses, karena selama aku berada di sana, selalu di setiap kesempatan, kuberikan mereka tuntunan berikut wejangan, agar mengubah jalan hidupnya. Tetapi, tidak pernah mau mereka terima. Dan, mungkin apa yang terjadi kepada dirinya di Kota Jarless, adalah hukuman dari Tuhan."
Tuan Lapo menghirup napas panjang, sebelum melanjutkan ucapan, "Lagi pula, mungkin itu satu-satunya jalan, agar kejahatan mereka berhenti. Melenyapkan kekejian kawanan Twisky, yang bahkan hampir tak tersentuh hukum."
Aku memicingkan mata. Merasa janggal dengan bagian terakhir ucapan Tuan Lapo. "Maksudnya bagaimana dengan tidak tersentuh hukum?"
Pria tua itu tersenyum lebar. "Akan panjang jika aku jelaskan sekarang. Sup lezat daging kadal itu akan keburu membeku kalau tak segera dihabiskan, Tuan Damarion."
Inginnya sih membantah penolakan Tuan Lapo, tetapi perutku tidak setuju dengan ide itu. Lambung di dalamnya sudah protes, karena tak kuat lagi menahan godaan aroma lezat, dari sup kental bikinan rahib berwibawa tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, Tuan Lapo, panggil saja aku Margo. Lebih enak didengarnya jika engkau yang menyebutkan?"
"Lebih bagus jika panggil saja dia brewok kutuan," sela mencela dari Yenz.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Bibir kemayu?" balasku.
"Kau panggil aku apa tadi?"
Pertengkaran kami berlanjut. Dengan Tuan Lapo yang riangnya tertawa, dan baru menghentikannya saat dia rasa sudah agak berlebihan.
Sepanci sup lezat tandas mengisi perut kami bertiga. Tetap ada tawa dan sedikit pertengkaran, di tengah obrolan ringan mengelilingi hangatnya api unggun. Sampai mengantuk akhirnya. Tanda kami harus segera bergelung ke dalam selimut. Merebahkan diri di atas alas kain sebagai ranjang.
Ini menjadi malam terhangat. Mungkin hal terbaik dari sejak aku memasuki dunia ini. Semoga saja tidak cepat berakhir. Aku harap.
__ADS_1